
Hari bergulir kian cepat membawa harapan setiap diri dengan segera dapat meraih apa yang telah di cita-citakan hari kemarin.
Namun tidak dengan Berlian yang semakin hari semakin tidak rela, karena waktu pertunangannya akan segera tiba. Apa lagi kedua keluarga telah bertemu kembali beberapa hari lalu untuk menentukan tanggal pertunangan mereka.
Dari hasil rapat kedua keluarga, rencana pertunangan itu akan di gelar di salah satu hotel mewah di ibukota dan akan di hadiri oleh orang-orang penting, keluarga dan relasi dari kedua belah pihak tersebut.
Segala persiapan telah mereka lakukan hanya tinggal beberapa persen saja. Dan yang mengurusi semuanya adalah Jodi. Bagaimana tidak sesak dadanya, bagaimana tidak tertusuk hatinya, lelaki itu mempersiapkan sebuah pesta besar namun pesta itu untuk kekasihnya dengan lelaki lain.
Dengan mengumpulkan kekuatan yang ada ia berusaha tegar agar semuanya berjalan dengan lancar meski sesungguhnya ia tak rela. Namun ia tak mampu berbuat apa-apa, karena jika ia membuat kekacauan tentunya akan membuat banyak pihak kecewa, bahkan mungkin akan membuka tabir rahasia cinta mereka.
Hari ini Jodi dan Berlian sedang berada di hotel yang akan menjadi tempat untuk pertunangan Berlian.
Jodi tengah mengurusi segala hal untuk mendukung acara pertunangan tersebut dengan manajer hotel itu. Setelah selesai Jodi dan Berlian naik ke atas rooftop hotel tersebut,
“Papa…”
“Iya sayang.”
“Kenapa papa tak berbuat sesuatu?.”
“Sesuatu apa?.”
“Semakin bertambah hari aku semakin takut papa.”
“Tenang sayang, jangan seperti ini nanti mereka curiga.”
“Tapi aku tidak bisa papa… aku ingin menggagalkan pesta pertunangan ini.”
“”Hey… jangan kau lakukan itu sayang. Bukankah aku sudah bilang padamu, ikutilah dulu jalan mainnya, nanti pada saat waktu yang tepat, aku akan membebaskanmu dari belenggu ini. Jika kau melakukannya sekarang, sama saja kau telah mencoreng arang di wajah keluargamu sendiri. Lihatlah opa mu sayang. Dia telah baik pada kita, jika kita mengecewakannya tentunya akan membuat ia terluka. Bukan kah kita sudah janji mengorbankan perasaan kita berdua demi kebahagiaan mereka? Dengar baik-baik sayang, kau jangan gegabah. Percayalah padaku, aku akan memperjuangkanmu tapi tidak saat ini.” Jelas Jodi.
“Hiks… hiks… ini salahku, harusnya waktu itu aku menolak saja, bukankah saat itu opa memberiku pilihan?.”
“Sekarang sudah terlanjur sayang.. undangan pertunanganmu sudah tersebar, jika kau melakukan sesuatu, itu hanya akan membuat malu opamu sayang. Kau tahu? Apakah aku tidak sakit dengan semua ini? Apakah aku tidak terluka mengurusi pesta untuk kekasihku dengan lelaki lain? Ini sangat menyakitkan sayang… tapi aku tahan agar semua terlihat baik-baik saja. Bukan kah kita sudah sepakat untuk menutup rapat semua ini sampai waktu yang tepat?.” Kata Jodi dengan mata yang berkaca-kaca.
“Hiks… bawa aku pergi papa…” Peluk gadis itu seraya menangis.
“Aku akan membawamu tapi nanti… sekarang kau bersabarlah… kita hanya menunggu waktu sebentar saja.” Balas Jodi seraya mendekap erat gadisnya.
“Aku tidak mau menunggu waktu lama papa.”
“Aku janji… tidak akan lama. Kau dengar?! Tidak akan lama… sekarang mari kita mengalah pada keadaan. Waktu akan membawa kita menunjukan pada dunia bahwa kita layak hidup bersama. Percayalah.”
Jodi memeluk gadis itu dengan pandangan yang meremang. Sementara gadis itu terus terisak karena ia baru tersadar bahwa pertunangan ini hanya akan menambah rasa sakit hatinya saja.
Dalam bayangannya adalah ia hanya ingin berada di pesta dengan kekasih yang ia cintai bukan dengan lelaki yang sama sekali tidak ia bayangkan sebelumnya.
“Hiks… papa aku hanya ingin menikah denganmu.”
“Ini hanya pertunangan sayang… bukan pernikahan… Ya kita akan menikah nanti walau kau harus bertunangan dulu dengan si Menara itu.” Hibur Jodi pada gadisnya.
__ADS_1
Ditengah perbincangan mereka Menara menghampiri.
“Om.” Sapa Menara yang kala itu ia datang dari arah belakang. Mendengar suara seseorang dengan cepat Jodi melepaskan pelukannya.
“Hei… Menara kamu ada disini?.” Jodi berbalik, ia sedikit kaget karena Menara ada di sana.
“Tadi manager hotel ini memberi tahu kalau om ada di atas sini.”
“Iya Menara, kami sedang melihat-lihat suasana dari atas sini, kau suka tempat ini?.” Tanya Jodi, dan Menara menganggukan kepala, lalu ia melihat ke arah Berlian yang terlihat seperti habis menangis.
“Kenapa Berlian om?.”
“Dia hanya baper saja Menara, nanti juga akan membaik.” Ucap Jodi memalingkan pandangannya jauh kedepan.
“Aku tahu Berlian tidak siap om, dia hanya mencintai om. Kita memang tidak memiliki perasaan cinta satu sama lain. Kita menerima pertunangan ini hanya karena ingin membahagiakan orang tua kita. Tapi jika memang ini masih bisa di batalkan, batalkan saja dari pada nanti menyesal.” Jelas Menara.
Sejenak hening diantara mereka, kemudian
“Saya rasa sudah tidak bisa di batalkan lagi Menara karena waktunya tinggal beberapa hari lagi. Jadi saran saya, biarkanlah acaranya berjalan sesuai rencana. Dan kau harus tetap menjaga rahasia ini. Bagaimana dengan kekasihmu?.” Tanya Jodi dan Menara terdiam, kemudian,
“Urusan dia adalah urusan saya om. Dan semuanya sudah dapat saya atasi.” Jawab Menara.
“Syukurlah kalau begitu. Oya ada keperluan apa kamu datang ke hotel ini? Bukan kah semuanya saya yang urus, jadi kamu tenang saja.”
“Sebenarnya saya datang kesini di suruh mama untuk membawa Berlian ke desainer yang membuat gaun Berlian untuk acara tunangan itu.”
“Oh ya sudah Berangkatlah.” Kata Jodi. Tapi Berlian tidak mau pergi.
Melihat Berlian hanya terdiam, Menara mengerti bahwa Berlian tidak mau pergi kalau tidak bersama Jodi.
Sesampainya di tempat yang di tuju, mereka bertiga memasuki butik desainer kondang itu, Jodi dan Menara duduk pada kursi ruang tunggu saat asisten dari desainer itu memanggil Berlian untuk fitting gaun pesta yang akan di pakai pada acara pertunangannya.
Pada saat Berlian tengah berada di ruang ganti pakaian, tiba-tiba Ponsel Jodi berbunyi, setelah ia lihat pada layar ponselnya, anggota tim nya memanggil.
“Boss, jam berapa mau ke markas?.” Suara di balik ponsel.
“Kan gue udah nyuruh Riksa kesana.”
“Tapi sepertinya Riksa juga kurang jelas mengenai formasi pengawalan kita untuk acara pertunangan putri Boss nanti.”
“Ya udah gue bentar lagi otw kesana.”
“Ok. Siap Boss.”
Pada saat Jodi hendak mengakhiri sambungan ponselnya, saat itu juga Berlian keluar dari ruangan ganti dengan tubuh yang sudah dibalut dengan gaun yang indah.
Sesaat Jodi dibuat tercengang, matanya tak henti menatap wajah cantik dengan tubuh langsingnya di balut gaun yang indah, berdebar hatinya dan ia semakin tidak rela gadisnya harus berada di pesta pertunangan itu bersanding dengan lelaki lain meski ia tahu lelaki itu tak mencintai gadisnya.
‘Gadisku… betapa indahnya segala yang ada pada dirimu… aku bangga kau mencintaiku, namun, aku belum bisa berada di sisimu… kau tahu? Sesungguhnya aku tidak rela kau bersanding dengan lelaki lain walau ini bukanlah pesta pernikahan… aku semakin sakit sayang…’ Bathin Jodi.
Begitu pun dengan apa yang di rasakan Menara kala melihat Tubuh Berlian dibalut dengan gaun indah itu. Untuk pertama kalinya Menara berdebar kala melihat Berlian dengan penampilan yang berbeda. Sepertinya mulai tumbuh di dalam hatinya perasaan yang lain, tanpa ia sadari ia mengagumi calon tunangannya itu.
__ADS_1
‘Ternyata keindahanmu seperti namamu.. harusnya aku menjadi orang yang sangat beruntung menjadi tunanganmu… tapi sayang… hatimu bukan untukku.’ Bathin Menara yang terus menatap gadis itu.
Tanpa sadar Jodi perlahan mendekati Berlian. Mendekatkan tubuhnya dan perlahan menyentuh wajahnya, “Sayang… kau wanita tercantik di hatiku.” Bisiknya hingga Menara pun tak mendengarnya. Namun entah mengapa saat itu Menara merasa tidak suka melihat kedekatan mereka yang ia lihat itu.
“Sayang… aku akan pergi dulu menemui tim ku untuk merencanakan pengawalanmu nanti, kau pulanglah bersama Menara, tunggu aku di rumah.” Sambung Jodi yang tak henti menatap gadisnya itu. Terlihat wajah Berlian meremang.
“Papa jangan lama-lama perginya.” Ucap lirih gadis itu.
“Iya sayang… secepatnya papa akan pulang.” Kata Jodi seraya melepaskan tangannya dari tubuh gadis itu, kemudian ia mendekati Menara.
“Saya titip Berlian sama kamu untuk mengantarnya pulang karena saya ada urusan sebentar.” Kata Jodi pada Menara.
“Baik om… jangan khawatir saya akan antar Berlian sampai rumah.” Balas Menara.
“Ok, makasih Menara.” Kata Jodi seraya pergi meninggalkan mereka berdua, sebelum pergi Jodi mencium Berlian terlebih dahulu dan entah mengapa lagi-lagi melihat itu dada Menara merasa panas.
“Sayang… cepat ganti pakaianmu. Langsung pulang, jangan kemana-mana dulu.” Bisik Jodi setelah mencium bibir ranum Berlian.
“Baik papa.”
Kemudian Jodi pergi hingga tubuhnya luput dari pandangan Berlian.
Lalu Berlian hendak masuk ke ruangan ganti, namun tiba-tiba asisten sang desainer menahannya, “Tunggu dulu nona, boleh saya mengambil fotonya dulu? Oya apa mau dengan pasangannya di fotonya? Mari tuan muda tampan, anda berganti pakaian dulu?.” Kata sang asisten.
Namun saat itu Menara melihat Berlian seperti merasa keberatan dan lalu, “Tidak usah… lain kali saja.” Kata Menara dengan nada kecewa.
Akhirnya sebelum Berlian berganti pakaian, sang asisten mengambil foto Berlian sendiri.
Singkat cerita Berlian sudah berganti pakaian dan meninggalkan butik itu bersama Menara.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil sport Menara.
“Kau lapar?.” Tanya Menara.
“Aku makan di rumah saja kak.”
“Apa sebaiknya sebelum pulang kita makan dulu?.”
“Tidak kak, papa menyuruhku langsung pulang.”
“Aku calon tunanganmu jadi dia tak akan marah.”
“Tapi dia kekasihku, mungkin saja dia akan kecewa kalau aku tak mematuhinya.” Jawab Berlian.
Mendengar kata-kata itu Menara sedikit kecewa namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Sepertinya mulai muncul di hati Menara rasa yang lebih pada Berlian setelah melihat Berlian memakai gaun indah tadi. Namun ia ingat akan komitmennya bahwa tunangan yang akan mereka lakukan adalah hanya sebuah sandiwara untuk membahagiakan orang tua mereka saja.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
__ADS_1
Jangan lupa Like, favorite, vote dan hadiahnya ya readers tersayang😍
Makasih🥰