
Sang pajar menyingsing menyinari awal pagi. Semua makhluk yang akan melakukan aktivitas paginya bersiap dengan doa dan semangatnya.
Begitu pun pada salah satu rumah mewah di sudut ibu kota. Jodi yang akan berangkat ke kantor telah siap dengan stelan jas nya, begitupun dengan asistennya Riksa.
Riksa bergegas menuju ruang makan, sementara Jodi berjalan menuju kamar Berlian terlebih dahulu.
Nampak di dalam kamar, Berlian tengah merias wajahnya, Jodi perlahan mendekat kemudian mengambil sisir dan menyisiri rambut gadis itu.
“Jangan terlalu tebal riasan di wajahmu sayang.”
“”Gak kok papa.. aku hanya pakai bedak tipis dan lipstik warna bibir.” Jawab Berlian seraya berdiri kemudian menghadapkan tubuhnya dan merapikan dasi yang melingkar pada leher Jodi.
“Papa ganteng.” Sambung gadis itu.
“”Kau juga cantik.” Jodi menyelipkan bagian rambut pada belakang telinga gadis itu. Kemudian, “Ayo kita turun sarapan, Riksa sudah menunggu kita di bawah.” Ajak Jodi, namun Berlian meminta menunggunya sebentar.
Ia balikan tubuhnya menghadap kaca tepat di depan Jodi. Perlahan ia raih kedua tangan Jodi dan meletakan pada pinggangnya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Jodi.
Keduanya melihat penampakan tubuh mereka berdua pada cermin di hadapannya.
“Kau sudah besar sekarang sayang.”
“Apa aku sudah pantas punya kekasih papa?.”
“Kenapa? Kau ingin punya kekasih?.”
Berlian tersenyum memandangi wajah Jodi pada cermin dihadapannya itu.
“Coba papa lihat pada cermin, bukan kah kita pantas? Sudah seperti pasangan kekasih?.”
“Apa pasangan prianya tidak ketuaan?.” Tanya Jodi.
“Tidak.. dia terlihat lebih muda dari usianya.”
“Apa yang kau suka dari nya?.” Tanya Jodi menunjuk dirinya sendiri dengan wajahnya pada cermin.
“Kehangatan dan kelembutannya yang membuat aku nyaman.”
“Aku kira di luar sana masih banyak lelaki muda yang dapat memberikanmu lebih ketimbang lelaki ini.”
“Aku tidak mau yang lain. Aku hanya ingin lelaki ini.” Tunjuk gadis itu dengan tatapannya pada cermin.
“Apa tidak terlalu berlebihan menyukai pria yang usianya seusia dengan ayahmu?.”
“Kenapa memangnya? Adakah aturan yang melarang itu?.”
“Tidak.. tetapi mungkin dunia sekitar akan menolaknya.”
“Aku tidak perduli walau seluruh dunia akan menolaknya, yang penting lelaki ini menerimanya.” Kemudian Berlian mengangkat wajahnya dan mencium ceruk leher lelaki itu.
“Jangan seperti ini sayang.. aku tidak ingin ibumu nanti melihatnya.” Jodi hendak melepaskan pelukan itu namun lagi-lagi Berlian menahannya.
“Jangan lepaskan… tunggu sebentar saja.” Kemudian Berlian membalikan tubuhnya hingga mereka berhadapan. Lalu,
“Sayang… kau masih muda, aku tidak bisa seperti ini. Banyak di luar sana lelaki yang pantas untukmu.” Kata Jodi, dan kata-kata Jodi rupanya membuat Berlian kecewa dan mulai memperlihatkan matanya yang berkaca-kaca.
“Aku tidak ingin siapapun hiks… hiks… aku hanya inginkan om.” Tangis Berlian.
“Sayang tolong jangan seperti ini, kau sudah ku anggap sebagai anakku, bagaimana mungkin ada sesuatu diantara kita!, Aku menyayangimu seperti sayang ayah terhadap putrinya, tidak lebih!.” Jelas Jodi.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan pernah mau dekat dengan lelaki manapun seumur hidupku.”
“Cukup Berli!!! Cabut ucapanmu itu! Tidak sepantasnya kau berkata begitu!.”
“Kau menolakku! Maka aku pun akan menolak siapun yang datang dalam hidupku hiks.”
“Sayang.. tolong jangan menangis.. please aku tak bisa melihatmu menangis.” Kata Jodi seraya memeluk gadis itu kemudian menyeka air matanya dengan jemarinya.
Setelah lama berfikir, akhirnya dengan berat hati Jodi mengabulkan keinginan gadis itu. “Baiklah sayang.. kita akan mencobanya.”
“Apa kita bisa memulainya dari sekarang?.” Tanya Berlian mendekatkan wajahnya pada Jodi. Seketika wajahnya berubah berbinar.
“Maksudmu?.”
“Memulai menjalin hubungan seperti orang dewasa.”
“Apa itu akan membuatmu bahagia??.”
“Tentu saja. Menjadi kekasihmu adalah kebahagiaanku.”
“Baiklah, tapi ada syaratnya.”
“Apa?.”
“Kau jangan katakan pada orang lain termasuk ibumu.”
“Baiklah.. aku akan mengunci rapat mulutku. Akan ku pastikan tidak akan ada orang yang tahu.”
“Baiklah, sekarang mari kita turun, aku tidak mau orang lain curiga kita berlama-lama di kamar. Hapus air matamu dan rapikan kembali wajahmu.”
“Ya.. tapi aku ingin kau menciumku dulu papa.”
Bagi Berlian itu adalah ciuman pertamanya yang ia lakukan bersama Jodi dalam keadaan saling membalas, sementara Jodi merasakan bahwa ciuman itu adalah ciuman pertamanya setelah ia bercerai belasan tahun yang lalu.
Mereka saling menikmati ciuman itu, saling meraup dan saling menyesap dengan sadar dan dengan rasa yang berbeda yaitu rasa yang begitu membuat keduanya nyaman. Hingga kemudian perlahan Jodi melepaskannya.
“Cepat rapikan wajahmu dan pakai blazermu sayang… aku menunggumu dibawah.” Bisik Jodi kemudian ia berlalu meninggalkan gadis itu.
Jodi berjalan menuruni anak tangga dengan sedikit perasaan yang bercampur aduk. Kemudian ia duduk pada kursi yang berhadapan dengan Riksa. Sepertinya Riksa menemukan sesuatu pada wajah Jodi yang tidak Jodi sadari.
“Boss, hapus noda di bibirnya tuh, sebelum orang lain lihat hehe.” Kata Riksa sedikit berbisik seraya memberikan selembar tisue pada Bossnya itu.
Dengan cepat Jodi mengambilnya dan mengusap bibirnya dengan tisue tersebut. Benar saja ia lihat noda lipstik pada tisue itu, kemudian ia memasukan tisue itu pada kantong celananya, karena melihat Delima menghampiri mereka berdua dengan membawa sarapan untuk mereka.
“Kemana anak itu? Tumben belum turun.” Kata Delima.
“Mungkin masih berdandan.” Jawab Jodi sedikit gugup.
Tak lama Berlian pun turun dengan wajah cerianya. “Hai semua..” Sapa nya.
“Ceria banget anak ibu… seperti sedang jatuh cinta saja.” Kata Delima sembari meletakan toples kerupuk di atas meja makan.
“Ibu gak boleh lihat anaknya seneng aja, Ish.” Gadis itu duduk di sebelah Jodi.
“Memangnya apa yang membuatmu senang sayang?.”
“Ada deh…”
__ADS_1
“Udah mulai main rahasiaan ya sama ibu?.”
“Ah ibu kepo… yang jelas ini urusan kuliah bu bukan urusan yang lain.”
“Oh… ibu kira urusan hati.” Ledek Delima.
“Ibu pasti aja ujung-ujungnya kesitu.”
“Ya sudah ayo habiskan sarapannya. Ibu duluan pergi ya sayang?.”
“Ibu mau kemana?.”
“Kan ibu mau ke rumah yang di Bandung sayang, ibu harus membereskan perlengkapan ibu disana.”
“Oh… jadi ibu udah gak ngajar di kampus sini lagi?.”
“Gak sayang… ibu ngajar di sini sesekali saja jadi dosen istimewa.”
“Hati-hati ya bu Muach.” Berlian mencium pipi Delima, kemudian Delima pamit pada Jodi dan Riksa.
“Kak titip dia ya? Jangan sampai lengah, sekarang kan udah mulai banyak teman, aku khawatir gaulnya salah.” Kata Delima pada Jodi.
“Iya siap.” Jawab Jodi sembari menikmati sarapannya.
“Ibu aku gak mungkin salah gaul.. aku pasti cari teman yang bener.”
“Baguslah kalau begitu. Ya sudah ibu berangkat dulu ya?.”
“Iya hati-hati.” Jawab kompak mereka.
Tinggalah kini Berlian, Jodi dan Riksa diruangan makan itu yang masih menikmati sarapannya.
Riksa memperhatikan wajah mereka berdua, sepertinya Riksa sudah mengetahui apa yang terjadi diantara mereka karena melihat sikap mereka yang tidak biasa. Dimata Riksa Jodi terlihat seperti tidak biasanya dan Riksa bisa membaca pada ekspresi yang di tunjukan Jodi. Begitu pun ekspresi yang ia lihat pada wajah Berlian.
‘Seneng banget tuh bocah… abis cium-ciuman tuh sama papanya sumringah banget huhuy’ Bathin Riksa.
“Udah selesai sayang sarapannya? Yuk berangkat.” Ajak Jodi.
Akhirnya mereka bertiga memasuki kendaraan mereka yang siap membawa mereka untuk beraktivitas.
Berlian yang duduk di jok belakang bersama Jodi, seperti biasa selalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Jodi.
Riksa melihat pemandangan itu pada kaca spion dan menyunggingkan senyumannya.
Jodi menangkap pandangan Riksa pada kaca spion, sejenak mereka berpandangan kemudian Jodi menajamkan tatapannya seakan mengatakan untuk berhenti melihat kearah mereka. Dan Riksa pun membuang pandangannya.
Singkat cerita, mobil mereka pun sampai di halaman kampus tempat Berlian kuliah. Kemudian Berlian pamit pada Jodi dan kali ini ia mengecup bibir Jodi seraya berlalu keluar dari mobil tersebut.
Seperti biasa Maurin sudah menantinya di ujung halaman kampus. Kemudian mereka berdua pun masuk kedalam kelas mereka.
Setelah Berlian hilang dari pandangannya, Jodi pun memerintahkan Riksa untuk melajukan mobilnya kembali meninggalkan kampus tersebut.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Like, vote, favorite, komennya jangan lupa ya? Readers kesayangan🥰
Makasih 😍😘
__ADS_1
*