
Terlihat Jodi telah kembali dari halaman belakang rumah itu. Setelah melakukan pengecekan tadi, ia yakin di bawah sana lah bunker itu berada. Dan ia sangat yakin kalau istri dan putranya berada di bawah sana.
Dari bawah ia memanggil Riksa dengan mengisyaratkan tangannya untuk turun dan masuk kedalam mobilnya.
Di dalam mobil sudah berkumpul tim nya yang ia perintahkan tadi untuk memasang alat penyadap di sekitar rumah itu.
“Bagaimana Sal? Udah selesai semuanya?.” Tanya Jodi pada Faisal.
“Sudah Boss. Bisa kita cek sekarang ya?.” Kata Faisal seraya membuka sebuah alat yang di lengkapi layar monitor untuk mendeteksi frekuensi suara dari dalam rumah itu, lalu ia menggunakan airphone untuk mendengar hasil suara dari dalam rumah itu.
Terdengar jelas suara dari dalam rumah itu, mereka tengah mendengarkan percakapan Alfredo dengan seseorang.
“Boss, coba Boss pakai airphone yang satu lagi. Sepertinya si Alfredo tengah berbincang dengan seseorang di dalam sana.” Kata Faisal. Kemudian lekas Jodi memakai airphone tersebut dan mendengarkan perbincangan antara Alfredo dan seseorang di dalam sana.
Sementara itu di dalam rumah, Alfredo terlihat tengah berbincang dengan Andre di ruang tengah rumah itu.
“Setelah dia siuman dia tidak mengenaliku lagi Dre. Apa mungkin benturan di kepalanya membuat ia amnesia?.” Alfredo membuka pembicaraannya dengan Andre.
“Ya, sepertinya cindera akibat benturan di kepalanya itu mengakibatkan kerusakan pada bagian sistem limbik yang ada di otaknya. Sehingga ia tidak dapat mengingat kejadian yang telah lalu dan mengenali orang-orang di sekitarnya. Ini harus diperiksa lebih lanjut lagi Al. Akan lebih baik kamu bawa dia ke rumah sakit untuk memastikan amnesia jenis apa yang dia alami. Agar kamu tahu langkah-langkah pengobatannya seperti apa. Kalau untuk pemeriksaan neurologis (fungsi sistem saraf) aku rasa cara itu bisa kamu lakukan sendiri.” Jelas Andre.
“Ok Dre, terimakasih atas bantuannya. Maaf aku jadi merepotkan kamu. Tadi aku panik makanya langsung menghubungi kamu.” Balas Alfredo.
“Ya gak apa-apa. Kalau kamu mau bawa dia ke rumah sakit, hubungi aku saja. Nanti aku bantu untuk mengatur jadwal pertemuan dia dengan dokter yang menangani khusus penderita amnesia di sana.”
“Baik Dre nanti aku hubungi kamu kalau sudah siap datang ke sana.”
“Ya sudah aku permisi dulu ya Al.”
“Ok Dre. Sekali lagi makasih banyak ya.”
Kemudian Alfredo mengantarkan Andre menuju mobilnya yang terparkir dihalaman rumahnya.
Sepeninggalan Andre, Alfredo masuk kembali ke dalam rumahnya. Tersungging senyuman di sudut bibirnya menyiratkan kebahagian yang ia rasakan.
‘Kau amnesia Berlian… kalau kau tak dapat mengenali dirimu sendiri apalagi untuk mengenali lelaki tua itu haha… aku malah berharap kau selamanya amnesia sehingga kau hanya dapat mengingatku saja. Sekaranglah kehidupan barumu dimulai sebagai istriku. Dan namamu adalah Lolita Frederick haha.’ Bathin Alfredo.
Alfredo benar-benar merasa beruntung saat ini. Kondisi amnesia pada Berlian betul-betul sangat membantu dirinya dalam meluluskan rencananya untuk tetap selalu bersama wanita pujaannya itu.
Dengan mengakui dirinya sebagai suami Berlian, tentunya ia tak perlu lagi mengurung Berlian di dalam bunker itu. Malah ia berniat membiarkan Berlian tinggal di dalam kamarnya bersama putranya itu. Dan tentunya ia tidak perlu merasa khawatir kalau Berlian akan kabur dari tempat itu.
Sementara itu ditempat lain, Jodi dan tim yang mendengar percakapan Alfredo dan Andre, sangat sangat terkejut kala mengetahui dari pembicaraan mereka bahwa Berlian menderita amnesia karena mengalami cindera di kepalanya.
Lemas tubuh Jodi, meremang matanya yang berkaca-kaca itu seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bahwa istrinya tak mengenali dirinya sendiri. Terbersit dalam pikirannya, kalau dirinya sendiri saja sudah tak di kenali, apalagi untuk mengenali orang-orang yang hidup di masa lalunya. Termasuk dirinya sebagai suaminya.
Entah apa yang dirasakan hati Jodi saat ini, tentunya yang ada adalah rasa yang semakin khawatir akan sepak terjang Alfredo yang kini berada di sisi istrinya.
“Aaaaarrrgh…. Sial!!! Kenapa ini harus terjadi!.” Geram Jodi dengan mata merahnya dan melempar airphone yang ia lepas dari kepalanya.
Sementara Riksa dan tim nya yang lain tak dapat berkata apa-apa. Mereka semua terdiam membisu.
“Keadaan ini akan di manfaatkan oleh si dokter gila itu!! Gue gak akan membiarkan ini terjadi. Pokoknya gue harus membawa istri dan anak gue keluar dari rumah itu secepatnya sebelum dokter gila itu melakukan hal gila pada istri gue!!.” Geram Jodi.
“Ok Boss kita susun rencana apa yang akan kita lakukan nanti. Sekarang kita kembali ke hotel dulu untuk menyusun rencana itu.” Kata Riksa.
Jodi terdiam. Namun sesaat kemudian,
“Sal. Apa alat yang sudah kita pasang dapat di pastikan terjangkau sampai ke hotel?.” Tanya Jodi pada Faisal.
“Pasti Boss, signalnya mampu menjangkau puluhan bahkan ratusan kilo meter, jadi jangan kan kita berada di hotel, kita ada di Jakarta pun masih dapat mendengar aktivitas di dalam rumah itu.” Jelas Faisal.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu. Ayo kita balik ke hotel.”
Kemudian mereka pun pergi meninggalkan tempat itu menuju hotel tempat mereka tinggal.
Sementara itu, di dalam rumah putih. Nampak Alfredo masuk kedalam kamarnya, terlihat Berlian tengah memangku putranya. Lalu Alfredo duduk di sampingnya.
“Apa kau sudah menyusui putra kita?.” Tanya Alfredo dengan senyum manisnya.
“Sudah. Oya maaf aku lupa namamu juga nama putra kita. Bisa kau ceritakan masa laluku? Kenapa aku tidak ingat siapa diriku?.” Tanya Berlian.
“Baiklah, pelan-pelan aku akan cerita tentang masa lalumu dan masa lalu kita. Namaku Alfredo Frederick, aku suamimu dan pekerjaanku adalah seorang dokter ahli saraf.”
“Oya? Kau seorang dokter?.”
“Ya aku suamimu adalah seorang dokter. Dan putra kita, kau yang memberikan nama untuknya, nama dia adalah Noah.” Kata Alfredo seraya membelai kepala bayi kecil itu.
Ya memang Berlian menamai putranya jauh-jauh hari sebelum anak itu lahir kedunia adalah Noah Putra Jodi. Namun Alfredo memberi tahukan pada Berlian bahwa putranya itu bernama Noah Frederick.
“Benarkah aku yang memberinya nama?.”
“Ya kau sendiri yang ingin memberi nama putra kita itu bernama Noah.”
“Noah. Nama yang bagus. Lalu sejak kapan kita menikah?.”
“Sejak beberapa tahun yang lalu. Dan kita baru di karuniai anak tahun ini. Kita adalah keluarga yang sangat bahagia. Kita saling mencintai, ku harap kau mengingat itu.” Alfredo meyakinkan Berlian.
“Ya aku akan berusaha mengingat segalanya tentang kita. Lalu dirumah ini apakah kita hanya tinggal bertiga?.”
“Ya kita hanya tinggal bertiga.”
“Lalu dimana keluargamu dan keluargaku?.”
“Anak kita ini masih sangat kecil sekali, aku tidak ingat kapan aku melahirkannya.” Berlian masih merasa bingung dengan dirinya.
“Dia lahir belum empat puluh hari, makanya dia masih sangat kecil. Nanti aku akan mencari pembantu untuk membantu pekerjaanmu di rumah ini. Karena kita baru pindah ke tempat ini jadi aku belum sempat mencari orang untuk mengurus rumah kita ini. Awalnya kita tinggal di ibukota. Aku dipindahtugaskan ke kota ini, makanya sekarang kita tinggal disini.”
“Oh begitu. Oya? apa kata dokter yang memeriksaku tadi? Apa aku bisa sembuh?.”
“Tentu saja kau dapat kembali pulih, hanya saja perlu waktu. Kata dokter Andre temanku tadi, lambat laun ingatanmu akan kembali pulih.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Kau jangan khawatir, suamimu ini seorang dokter, aku dapat mengobatimu dengan tanganku sendiri. Jadi bersabarlah.”
“Ya. Aku akan bersabar. Aku bersyukur memiliki suami yang baik sepertimu.”
“Hehe.. aku juga bersyukur memiliki istri secantik dirimu dan kau adalah istri yang sangat patuh. Berjanji lah padaku, kau akan selalu mencintaiku dan tak akan pernah menghianatiku.”
“Ya aku berjanji. Aku akan selalu setia padamu.”
“Setelah usia putra kita 40 hari, aku akan mengajakmu jalan-jalan di kota ini. Kita sama-sama belum mengenal kota ini. Aku harap kamu betah tinggal di sini mendampingi tugasku sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit di kota ini.”
“Tentu saja aku akan selalu berada disisi suamiku dimana pun suamiku berada.”
“Terima kasih Lolita Istriku.” Ucap bahagia Alfredo seraya membelai wajah cantik Berlian.
“Suamiku, kepalaku pusing sekali, bolehkah aku istirahat sebentar?.”
“Ya tentu saja, Istirahatlah. Cidera di kepalamu jangan terbebani oleh banyak pikiran agar cepat pulih, jadi kamu harus banyak istirahat.”
__ADS_1
Kemudian Alfredo mengambil bayi kecil dari atas pangkuan ibunya dan meletakkan nya di samping ibunya. Lalu ia membantu Berlian merebahkan tubuhnya.
“Tidurlah.” Kata Alfredo seraya membiarkan Berlian beristirahat bersama putranya, sementara ia keluar dari kamar itu menuju ruangan komputer miliknya.
............
Jodi dan tim yang baru sampai di hotel langsung masuk kedalam kamarnya dan fokus pada alat yang terkoneksi dengan alat penyadap yang di pasang di rumah Alfredo.
Beberapa menit mereka memantau namun tak terdengar ada aktivitas di sana.
“Nanti akan gue koneksikan dengan ponsel Boss, jadi Boss dapat memantau melalui ponsel milik Boss.” Ujar Faisal.
“Sekarang Sal! Gue akan pantau istri gue 24 jam.” Kekeuh Jodi.
“Siap.” Jawab Faisal seraya melakukan setting alat penyadap tersebut.
Sementara itu, salah seorang tim memberitahukan pada Jodi mengenai aktivitas Alfredo di dalam sebuah situs terlarang.
“Boss. Dokter gila itu sekarang sedang melakukan interaksi dengan pengikutnya seperti biasa.”
Kemudian Jodi mendekat ke layar monitor yang dapat menyaksikan interaksi Alfredo dengan pengikutnya itu.
Kali ini yang terdengar mereka tengah membahas mengenai permintaan pengikut Alfredo agar Alfredo melakukan siaran langsung dengan manekin hidupnya itu. Mereka ingin Alfredo membuat konten dimana didalamnya melakukan Q&A dengan Berlian dan berinteraksi langsung dengan pengikutnya.
Namun sepertinya Alfredo belum dapat mengabulkan permintaan pengikutnya itu dikarenakan manekin hidupnya tengah sakit. Begitu alasan yang ia ungkapkan pada fans nya. Namun ia berjanji suatu saat ia pasti akan mengabulkan permintaan fans nya itu.
“Awas aja! Elo berani sekali lagi jadikan istri gue konten! Gue bunuh luh an*ing!!.” Geram Jodi.
“Sabar Boss. Kalau itu terjadi langsung aja kita gerebeg.” Ujar Riksa.
“Sialan memang tuh dokter sinting.. makin hari makin kelihatan aja kegilaannya.” Ucap Kesal Jodi.
Kemudian Jodi berlalu dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Betapa lelahnya pikirannya hari ini. Baru saja ia merasa lega karena sudah memastikan keberadaan istrinya, namun masalah baru muncul mengenai amnesia yang di alami oleh istrinya itu. Membuat kepalanya kembali berdenyut memikirkan solusi yang harus ia pikirkan mengenai kondisi terbaru dari istrinya itu.
Akhirnya ia menghubungi keluarga Berlian di ibu kota. Ia menceritakan segala yang terjadi pada Berlian dari mulai mereka dapat menemukan tempat Berlian berada, sampai kabar terbaru mengenai Berlian yang alami amnesia.
Tentu saja kabar yang Jodi sampaikan membuat keluarganya syok. Namun Jodi memastikan pada mereka, ia akan berusaha bagaimana pun caranya, akan membawa Berlian dan bayinya kembali pulang. Dan apa yang Jodi sampaikan itu membuat keluarganya sedikit tenang.
.............
Berlian terjaga dari terlelapnya. Ia bermimpi di datangi seorang lelaki yang mengaku suaminya,
‘Ya Tuhan… siapa sosok lelaki yang menggendong anak perempuan itu? Dia mengatakan padaku kalau dirinya adalah suami dan anakku. Lalu jika dia suamiku, siapakah Alfredo itu? Bukankah orang yang bernama Alfredo lah suamiku?… kenapa ada dua lelaki yang mengaku suamiku?’ Bathin Berlian.
Kepalanya semakin terasa sakit saat ia terus berusaha mengingat-ingat lelaki yang hadir dalam mimpinya itu.
Lalu pada saat ia memalingkan pandangannya pada bayi mungil di sampingnya, ia melihat sosok lelaki yang hadir dalam mimpinya itu mirip dengan bayi yang ada disampingnya.
‘Lelaki itu mirip dengan bayiku ini… apa benar dialah sebenar-benarnya suamiku? Lalu dimana dia sekarang? Kenapa dia tak ada bersamaku?… ah kepalaku semakin sakit saja. Mungkin aku jangan berpikir keras dulu karena semakin aku memikirkan dia, kepalaku semakin terasa nyeri saja.’ Bathin Berlian.
Kemudian ia kembali membaringkan tubuhnya di samping bayi mungilnya itu.
Ia terus pandangi bayi mungil itu lalu menciumnya dan memeluknya hingga ia terlelap kembali.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya reader tersayang🥰
Makasih 😍
__ADS_1