Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Tentang Faradina & Lucy


__ADS_3


Faradina Laras


Usia : 20 tahun


Putri dari Lucy Gayatri


Bekerja sebagai kasir di toko kue



Lucy Gayatri


Usia : 43 tahun


Bekerja sebagai guru SMA


........


Hari bergulir kian cepat melewati hari meniti jam, seakan memutar waktu mundur setiap usia dari semua Mahkluk bumi.


Di ceritakan Jodi dan Berlian juga Riksa, telah sampai kembali di tanah air tercinta.


Mereka kini telah berada di dalam mobil yang sengaja menjemput mereka di bandara setelah beberapa waktu lalu Riksa menelpon supir rumah mereka untuk menjemput ke bandara.


Terpancar senyum kebahagiaan dari wajah Berlian, Jodi yang melihat senyum indah pada wajah istrinya begitu senang melihatnya.


“Kau bahagia sayang?.” Tanya mesra Jodi pada istrinya.


“Iya papa aku bahagia sekali, meskipun perjalanannya begitu melelahkan tapi aku puas.”


“Syukurlah kalau begitu.”


“Oya sayang, mulai besok kau kuliah daring ya? Tidak apa-apa kan?.”


“Jadi aku tidak masuk kampus lagi?.”


“Untuk sementara tidak sayang, karena pekerjaanku akan menyita waktu dan pastinya aku akan sering meninggalkan rumah, jadi kemana pun aku pergi, aku harus membawamu.” Jelas Jodi.


“Baiklah. Tapi aku pasti akan merindukan temanku Maurin.”


“Kau kan bisa menyuruhnya main ke rumah sayang. Saat kau berada di rumah, kapan pun kau bisa menyuruhnya untuk datang ke rumah.”


“Boleh dia main ke rumah kita papa?.”


“Tentu saja boleh. Kapan pun kau boleh memanggilnya kerumah, kecuali kalau kita sedang berada di luar kota.”


“Baiklah kalau begitu.”


Singkat cerita mereka sampai pada rumah mereka, terlihat Budi dan Irma menjemput kedatangan mereka, Berlian heran karena tak menemukan ibunya dan mertuanya.


“Oma, ibu sama oma Eva kemana?.” Tanya Berlian pada Irma.


“Mereka pulang dulu sayang, nanti akan kembali lagi kok.”


“Oh, padahal aku bawa oleh-oleh buat mereka.”


“Kan bisa kau berikan nanti saat kalian bertemu lagi.”


“Baiklah.”


“Istirahatlah dulu sayang… kamu pasti capek.”


“Baiklah oma, aku ke kamar dulu ya?.”


Kemudian Berlian berlalu menuju kamarnya, sementara Jodi dan Riksa terlihat tengah berbincang dengan Budi opa nya Berlian di taman samping rumah mereka.


“Bagaimana urusannya Jod?.” Tanya Budi.


“Alhamdulillah lancar pak.”


“Syukurlah kalau begitu. Oya, karena kalian sudah kembali, sepertinya besok saya mau pulang dulu ke rumah Jod.”


“Baiklah pak.”

__ADS_1


“Saya titip Berlian ya Jod.”


“Iya pak, bapak tenang saja. Berlian aman bersama saya pak.”


“Terima kasih ya Jod. Kamu harus banyak sabar saja karena dia masih belum dewasa, kadang-kadang kelakuannya kekanak-kanakan, harap di maklum saja.”


“Iya pak, saya sudah terbiasa mengurusinya jadi bapak tidak usah khawatir.”


“Ya sudah kalau begitu, Istirahatlah, kamu pasti capek setelah menempuh penerbangan sehari semalam.”


“Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu pak.”


Kemudian Jodi beranjak pergi ke kamarnya meninggalkan Budi di halaman samping rumah itu.


Sesampainya di kamar, Jodi melihat istrinya yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya, kemudian ia mendekat dan duduk di sampingnya.


“Kau lelah sayang?.”


“Mh..” Suara kantuk berat keluar dari mulut sang istri.


“Istirahatlah.” Bisik Jodi seraya mengecup kening istrinya itu.


Kemudian ia membuka t-shirt nya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Ia mencoba berendam ke dalam bathtub untuk menghilangkan lelahnya hingga ia tertidur disana.


.........


“Bagaimana? Apa kau sudah menanyakan pada ibumu tentang seseorang yang bernama Jodi Pratama itu?.” Suara Arash di balik ponsel Faradina kala ia tengah melayani pelanggannya di toko kue tempatnya bekerja.


“Arash maaf saya masih kerja, telepon lagi saja nanti.” Kata Faradina yang hendak menutup sambungan ponselnya.


“Eh Fara tunggu! Kau kerja dimana?.”


“Toko kue H, udah ya Arash.”


“Eh toko kue H yang dimana itu?.”


“Di pusat kota, udah ya Arash.” Kata Faradina yang langsung menutup sambungan ponselnya, sembari ia melayani pelanggannya.


Setelah ia membereskan laporan hariannya, ia baru bisa beranjak meninggalkan tempatnya. Setelah pamit pada pemilik toko, akhirnya ia pun dapat menyelesaikan tugasnya.


Ia pergi meninggalkan toko kue tempatnya bekerja, baru beberapa langkah ia keluar dari pintu toko itu terdengar ada yang memanggilnya, pada saat ia melihat ke arah seseorang yang memanggilnya,


“Kau!!.” Saat Faradina melihat siapa yang datang.


“Ayo masuk ke dalam mobilku.” Arash menarik tangan Faradina.


“Mau apa lagi sih kamu?.” Faradina merasa malas menanggapi Arash.


“Hei… bukankah kita teman?.” Kata Arash seraya membuka kan pintu mobilnya, kemudian Faradina masuk kedalamnya.


“Iya tapi kau menggangguku tahu?!.”


“Yang benar saja aku mengganggumu? Bukankah aku menemuimu di saat kau sudah selesai bekerja?.”


“Iya tapi buat apa kamu menemuiku lagi hah?!.”


“Aku cuma mau menanyakan padamu, Bagaimana? Apa kau sudah menanyakan pada ibumu tentang seseorang yang bernama Jodi itu?.” Tanya Arash sembari fokus menyetir.


“Semalam sempat aku menanyakan pada ibuku, karena sudah malam jadi aku tak bisa memaksa ibuku. Ibuku hanya bilang nanti pada saatnya dia akan cerita mengenai seseorang yang bernama Jodi itu.”


“Apa kau tidak penasaran sama dia?. Kalau ibumu belum memberi tahumu, aku yang akan memberitahu terlebih dulu, bagaimana?.”


Faradina hanya diam tidak menjawab pertanyaan Arash meskipun dia memang penasaran dengan orang yang bernama Jodi Pratama itu.


“Ayo turun! Kita sambil makan biar relaks ceritanya.” Kata Arash seraya turun dari mobilnya di ikuti oleh Faradina di belakangnya.


Kemudian mereka masuk ke dalam restoran dan duduk berhadapan pada salah saatu meja yang terletak di lantai dua restoran tersebut.


Sembari menunggu makanan yang mereka pesan datang, Arash terus saja ngoceh mempengaruhi Faradina.


“Kau tahu Fara? Yang namanya Jodi itu brengsek! Aku tahu bagaimana dia. Katanya dia sewaktu muda adalah seorang casanova. Banyak wanita yang menjadi korbannya, salah satunya adalah ibumu. Tapi karena ibumu adalah wanita baik-baik, jadi sepertinya ibumu tidak menuntut banyak pada si Jodi itu. Padahal seharusnya dia bisa menuntut si Jodi untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan padanya. Apa kau tidak sakit hati Fara? Kau harus bekerja keras, bekerja banting tulang bersama ibumu, sementara dia hidup bergelimang harta. Malah aku dengar, sekarang dia menikahi seorang ABG yang kaya pula.” Arash mengarang cerita untuk membuat Faradina emosi.


Dan benar saja, Faradina sepertinya terpengaruh dengan apa yang di katakan oleh Arash. Terlihat ia mengeratkan giginya dan kedua tangannya mengepal kuat di bawah meja.

__ADS_1


Melihat air muka Faradina yang mulai tersulut emosi, Arash memicingkan matanya dengan senyum sinisnya.


“Kau tahu dimana Jodi itu tinggal?.”


“Tentu saja aku tahu Fara. Apa kau mau mendatanginya?.”


“Tentu saja aku harus menemuinya. Aku ingin menuntut hak ibu dan hakku padanya.”


“Apa perlu aku antar Fara?.”


“Tidak usah Arash. Aku tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahku.”


“Apa kau punya rencana untuk menemuinya dalam waktu dekat?.”


“Tentu saja! Secepatnya aku akan mendatangi dia.”


“Baiklah. Nanti aku akan kirim alamat tempat dia tinggal dan kantornya.”


“Baik Arash. Terima kasih atas bantuanmu. Tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu mau membantuku?.”


“Karena aku juga sama seperti kamu dan ibumu. Menjadi korban dari kelicikan si Jodi itu.”


Kemudian mereka menikmati makanannya setelah seorang pelayan mengantarkan makanan pesanannya.


........


Sementara itu pada kediaman rumah mewah Berlian. Nampak Jodi tengah sibuk bersama Riksa di ruang kerjanya.


Mereka tengah membahas pembentukan tim dalam menguak kasus musuh kliennya tuan Fu Shen.


“Jadi kita gak usah pergi ke Singapura Rik, biar tim kita aja dulu yang kesana, memastikan benar tidaknya mereka buka cabang disana.” Kata Jodi.


“Baik Boss.” Jawab Riksa.


“Jadi elo pantau aja kerja mereka melalui aplikasi. Walau pun memang sewaktu-waktu elo harus pergi kesana juga.”


Tapi di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba Berlian masuk dan langsung duduk di atas pangkuan Jodi yang tengah duduk di atas kursi kerjanya.


Betapa terkejutnya Jodi dan Riksa kala Berlian langsung saja menciumi suaminya serta membuka kasar kemejanya.


“Riksa!! Pergi!!.” Teriak Jodi. Yang tidak ingin asistennya melihat apa yang mereka lakukan itu.


Mendengar perintah Boss nya Riksa langsung pergi tunggang langgang.


‘Gila tuh bocah ya?…. Kayaknya kesambet ratu ular kali… gak lihat sikon.’ Gumam Riksa sembari masuk kedalam kamarnya dengan nafas yang terengah-engah.


“Hey… sayang kau kenapa?.” Tanya Jodi yang terus bibirnya di buru oleh istrinya itu. Tapi Berlian tidak mengindahkan kata-kata suaminya itu, ia malah terus saja mencumbui tanpa henti.


Namun semakin lama bibir wanita itu semakin liar menyesap, semakin membuat Jodi terbawa suasana hingga ia pun tak mampu bertanya lagi. Lalu ia membawa tubuh istrinya itu keluar dari ruang kerjanya menuju kamar tidurnya.


Ia baringkan tubuh istrinya itu di atas tempat tidur dengan bibir yang masih terpaut. Kemudian perlahan ia lepaskan dan tersenyum,


“Kamu kenapa sayang?.”


“Aku mau yang seperti kemarin papa.” Ucapnya malu-malu.


“Hehe… kau mau papa antar ke pintu surga sayang?.”


“Hm um.” Jawabnya pelan seraya kembali meraup bibir kokoh suaminya.



Sepertinya sang istri tengah dilanda gairah sehingga ia tak kuat menahan birahi yang memaksanya untuk melampiaskan hasratnya yang sudah hampir meledak.


Sang suami yang mengerti akan keinginan istrinya itu tentu saja menanggapinya dengan lapang dada.


Disambutnya lambaian itu hingga mereka berdua saling membalas dan meresapi penyatuan mereka walau hanya sekedar untuk membuat sang istri merasa puas akan keinginannya yang harus terlampiaskan saat itu juga.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Silahkan readers berimajinasi sendiri ya? Apa yang mereka lakukan😃


Jangan lupa tinggalkan jejaknya 😍


Terima kasih🥰

__ADS_1


__ADS_2