
Hari itu Jodi terlihat pulang agak siang karena ia tahu bahwa orang tuanya pulang dulu ke rumah mereka, dan Delima juga kembali ke Bandung, sehingga di rumah hanya ada oma Berlian saja, dan itu membuat dirinya khawatir kalau-kalau omanya Berlian merasa repot harus menjaga istri dan anaknya.
Jodi dan Riksa turun dari kuda besinya dan masuk kedalam rumahnya. Terlihat olehnya Irma tengah memangku Miriam, kemudian ia mengambil Miriam ke dalam pangkuannya dan hendak berlalu ke kamar istrinya.
“Dokternya masih ada bu?.” Tanya Jodi pada Irma.
“Masih Jod, ia sedang melakukan terapi pada istrimu di kamar.”
“Oh baiklah. Aku akan ke kamar.” Lalu Jodi beranjak menaiki anak tangga dengan Miriam dalam pangkuannya.
Sesampainya di kamar. Ia hanya melihat Istrinya yang bersandar di atas tempat tidur. Ada penampakan yang berbeda kala ia melihat wajah istrinya.
“Sayang… bagaimana perasaanmu sekarang?. Selangnya sudah dilepas ya sayang?.” Tanya Jodi pada istrinya lantas mencium bibirnya.
“Sekarang aku merasa lebih baik papa… iya tadi dokter sudah melepas selangnya.”
“Syukurlah.”
Penampakan itu terlihat oleh Alfredo yang kala itu ia tengah di area balkon, ia sedang merapikan alat terapi yang telah di pakai oleh Berlian.
Entah kenapa muncul rasa cemburu dalam hatinya tatkala ia melihat bahwa bibir merah pasiennya itu di cium oleh suaminya, serta kemesraan mereka membuat hatinya bergemuruh tak menentu.
‘Kenapa kalian melakukan itu tepat menusuk mataku… tidak bisa kah kalian melakukannya saat aku sudah tidak ada disini? Dan kau! Kenapa kembali cepat sekali? Aku tidak menyukaimu karena telah mengusik kebersamaanku dengan pasienku.’ Bathin Alfredo yang terus memandangi keakraban Berlian dengan suaminya.
“Papa pulang cepat hari ini?.” Tanya Berlian dengan suara pelo nya.
“Kebetulan kerjaan tidak begitu sibuk sayang… jadi papa bisa pulang cepat.”
“Syukurlah. Aku merasa bosan tidak ada mama dan ibu.”
“Ya mereka pulang dulu, mungkin dalam waktu dekat akan kembali lagi. Oya dimana dokternya?.”
“Di balkon, dia sedang membenahi alat terapi, tadi aku di terapi di balkon sana.”
Kemudian Jodi melihat ke arah balkon, dilihatnya dokter muda itu tengah merapikan alat.
Saat Jodi melihat kearahnya, Alfredo dengan cepat membuang pandangannya, melanjutkan merapikan alat terapinya yang sempat tertunda karena melihat kemesraan pasien dengan suaminya, ia berusaha menutupi rasa yang berkecamuk di dalam hatinya.
Kemudian Jodi berjalan mendekati Alfredo yang masih berada di balkon. Alfredo menyadari Jodi mendekat kearahnya, cepat-cepat ia menguasai dirinya.
“Dokter… bagaimana perkembangan istri saya sekarang?.” Tanya Jodi pada Alfredo.
“Cukup bagus tuan, kesehatan nyonya dapat dengan cepat terlihat, dan mulai hari ini selangnya sudah saya lepas, dan sepertinya ia sudah dapat mengkonsumsi makanan dan vitamin melalui alat pencernaannya.” Jelas Alfredo.
“Syukurlah… terima kasih dok atas bantuannya selama ini hingga istri saya semakin menunjukkan kemajuan yang signifikan.”
“Ya tuan, ini sudah kewajiban saya… mudah-mudahan secepatnya nyonya dapat menggerakkan tubuhnya dan segera dapat berjalan kembali.”
“Saya sangat berharap dokter dapat membantu istri saya sampai pulih benar.”
“Tentu saja tuan, saya akan berusaha semaksimal mungkin agar nyonya kembali seperti sedia kala.”
“Anda dokter yang hebat. Saya sangat beruntung dapat mengenal anda.”
‘Sama halnya dengan saya tuan… saya pun beruntung dapat mengenal anda hingga saya dipertemukan dengan wanita yang membuat saya merasakan cinta kembali. Dan wanita itu adalah istri anda… maaf jika saya menyukainya.’ Bathin Alfredo.
“Terima kasih atas pujiannya tuan.”
“Oya? Menurut perhitungan dokter, kira-kira kapan istri saya bisa sampai sembuh total?.” Tanya Jodi.
__ADS_1
Sebenarnya Alfredo bisa saja memprediksi kondisi Berlian, namun entah mengapa ia enggan mengatakannya.
“Kami belum tahu pasti tuan, karena zat kimia itu banyak merusak sel-sel saraf pada tubuh istri anda, jadi kami belum dapat memprediksinya.” Alfredo mulai tidak profesional akan tugasnya.
“Oh baiklah. Melihat istri saya sudah dapat berbicara dan makan saja, itu sudah merupakan kebahagiaan bagi saya.” Jawab Jodi seraya pandangannya menerawang kedepan.
Ia berdiri di depan Balkon dengan menopangkan kedua tangannya diatas pagar pembatas. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya. “Dokter tahu? Dulu dia adalah bayi kecil yang mungil, dia putri dari sahabat saya sekaligus boss saya di perusahaan, namun nasib nahas menimpa orang tuanya saat ia masih berusia balita, akhirnya saya yang menjaganya hingga ia dewasa. Tak pernah terpikirkan dalam benak saya kalau putri kecil saya kini menjadi istri saya. Saya sangat mencintainya dokter, meski usia kami terpaut cukup jauh, namun rasa cinta yang tumbuh diantara kami seolah membutakan kalau kami adalah dulu pasangan ayah dan anak.”
‘Ini terkesan lucu tuan Jodi… bagaimana bisa seorang anak yang masih belia kau jadikan istri.. seharusnya jika benar-benar kau sayang padanya, kau membiarkan ia menikmati masa mudanya. Tapi kau mengatasnamakan cinta untuk membunuh masa muda gadis sepintar dia. Aku kira kau lelaki jahat tuan Jodi.’ Bathin Alfredo.
“Entah bagaimana awalnya perasaan cinta kami mulai tumbuh di dalam hati kami masing-masing, semuanya terjadi begitu cepat. Banyak rintangan yang kami hadapi berdua saat dunia menolak kami. Namun kekuatan cinta telah mewujudkan semua impian kami. Sekarang yang hanya ingin saya lakukan adalah membuatnya bahagia.” Sambung Jodi.
‘Semakin lama kau mengigau aku semakin muak mendengar kicauanmu tuan Jodi… aku pikir bukan cinta yang kau rasakan padanya. Kau hanya lelaki yang memiliki kelainan jiwa. Kau tahu? Saat aku memandangi dirinya saja, aku tak dapat membayangkan bagaimana kau memperlakukannya diatas tempat tidur. Sungguh kau tidak memperlakukannya dengan baik. Kau menyiksanya dengan alasan buta.’ Bathin Alfredo kembali.
Alfredo hanya diam mendengarkan curahan hati Jodi meski hatinya terus berkecamuk membathin.
“Baiklah tuan Jodi, sepertinya terapi hari ini sudah cukup. Besok saya kembali lagi untuk melakukan terapi lanjutan.” Kata Alfredo yang ingin cepat-cepat pergi dari hadapan lelaki yang membuatnya muak itu.
“Oh, iya dokter. Terima kasih atas bantuannya.”
“Baik tuan. Saya permisi.”
Kemudian Alfredo meninggalkan kamar itu, sebelum ia melintasi pintu, ia juruskan pandangannya pada wajah pasiennya itu seraya berkata, “Aku permisi nyonya.” Dengan rasa hampa ia melenggang pergi.
Rasa yang selalu menariknya untuk kembali mendekat pada pasien istimewanya itu. Namun jurang di pelupuk matanya menghalangi keinginannya.
Jodi tidak tahu akan apa yang tengah Alfredo rasakan terhadap istrinya. Ia begitu menghargai dokter yang merawat istrinya itu. Entah apa yang akan ia lakukan seandainya ia tahu kalau dokter itu menaruh perasaan terhadap istrinya?.
Setelah dokter itu meninggalkan kamar mereka. Jodi mendekat ke arah istrinya. Dilihatnya wajah cantik itu bersama putrinya yang tengah terlelap di samping tubuh kaku itu.
“Sayang, aku bahagia melihat perubahanmu, mungkin besok atau lusa kau sudah dapat memeluk putri kita.”
“Hei kenapa kau bilang begitu sayang? Ini adalah cobaan untuk kita. Kita harus kuat menghadapi cobaan ini.”
“Aku khawatir papa merasa bosan padaku. Mungkin saja kan saat seseorang sudah bosan, dia akan meninggalkan kita?.”
“Tidak sayang… papa tidak bosan dengan semua ini, kalau papa ingin meninggalkanmu tentunya sudah papa lakukan sejak dulu.”
“Papa… apa tubuhku masing dapat membuatmu bergairah?.”
“Tentu saja sayang, kenapa kau tanyakan itu?…jangankan saat ini, saat kau masih koma saja aku mampu menghamilimu, bukannya itu cukup membuktikan kalau tubuhmu sangat membuatku bergairah kan?.. kalau kau tak percaya, ayo, kau mau coba sekarang? Tentunya saat ini kau lebih menggairahkan karena sudah dapat menyanyikan lantunan sorgawi hehe.”
“Tapi kata dokter Alfredo, kita jangan sering-sering melakukannya?.”
“Loh kenapa?.”
“Kata dia itu akan menghambat proses penyembuhanku.”
“Benar begitu?… ah tidak mungkin, pasti dia salah mendiagnosamu sayang… kau jangan dengarkan dia kalau urusan begitu. Kalau urusan begituan kau harus bertanya nya padaku hehe.” Kata Jodi yang sudah mulai mencumbui istrinya.
Pada saat mereka sudah mulai memanas, Irma masuk kedalam kamar mereka, ternyata Jodi lupa untuk menutup pintu kamarnya itu, sontak membuat Irma terkejut dan membalikan badannya meraih gagang pintu dan menutupnya.
‘Ya Tuhan… ceroboh sekali anak-anak ini ya… mau begituan bukannya dikunci pintunya, ini malah di biarkan terbuka lebar… bikin orang jadi pengen saja… bapak mana bapak ya? Ah bapak belum pulang lagi.” Bathin Irma sembari berlalu menuruni anak tangga.
...........
Sementara itu ditempat lain, terlihat Alfredo memarkirkan kedaraannya dengan kasar, dengan cepat ia keluar mobilnya dan bergegas masuk kedalam unit apartemennya.
Setelah sampai di dalam apartemennya ia merebahkan tubuhnya dia atas sofa memijat-mijat dahinya.
__ADS_1
‘Aaaaah… kenapa wajah anak itu selalu mengitari pikiranku?… ingat Alfredo! dia sudah bersuami. Bukankah kau paling anti pada wanita bersuami hah!…. Sadar! Kau hanya dokternya… untuk apa cemburu pada lelaki yang nota bene adalah suaminya.’ Bathin Alfredo terus berkecamuk.
Kemudian ia bangkit dan mengambil air mineral dan meneguknya untuk menetralisir pikirannya.
‘Aaaaarrgh!!! Kau terus menghantuiku nyonya kecil… kau terus menyiksaku… aku gila karenamu.’ Pekik Alfredo.
Tiba-tiba suara ponselnya mengusik gendang telinganya. Ia lihat layar ponselnya, Krista memanggil.
‘Mau apa lagi wanita itu menghubungiku! Bukankah dia lebih memilih aktor itu daripada aku!.’
Krista Adistya, adalah wanita yang telah ia pacari selama 3 tahun, namun hubungannya harus kandas karena setahun yang lalu Krista memutuskan untuk menikah dengan pria lain yang menurut kabar, pria itu adalah seorang aktor Hollywood.
Alfredo sangat mencintai Krista, seluruh harapannya ia gantungkan pada kekasihnya itu, namun sayang Krista lebih memilih pria lain dan langsung memutuskan menikah dengan pria itu.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Alfredo saat itu, ia begitu hancur dengan kenyataan bahwa kekasihnya tidak begitu benar-benar menginginkannya.
Alfredo tidak menerima panggilan ponsel dari mantan kekasihnya itu, justru ingatannya akan rasa sakitnya dulu malah membentang kembali bagai layar besar memutar kembali kisah masa lalu yang menyakitkannya.
Terdengar kembali panggilan ponsel itu seolah menggodanya untuk hanya sekedar mendengar suara yang pernah mengisi kehidupannya di masa silam, namun kembali Alfredo tidak menggubrisnya.
Ia malah membiarkan ponsel itu bernyanyi sendiri, ia lebih memilih pergi kedalam kamarnya, melucuti semua pakaiannya dan berlalu ke dalam kamar mandi dan membenamkan tubuh atletisnya kedalam bathtub.
‘Bukankah perpisahan ini yang kau mau Krista! Kenapa kau hubungi aku kembali setelah kau mencampakkan ku! Kau tahu? Setahun sudah cukup bagiku menutup hati ini untuk wanita. Kini aku telah menemukan penggantimu Krista. Meski dia bukan milikku tapi bisa jadi dia adalah jodohku.’ Bathin Alfredo dalam buaian air dingin.
...........
Ke esokan harinya.
Pagi itu Alfredo sudah bersiap untuk pergi ke rumah pasiennya. Ia terlihat tampan dengan stelan kemeja warna biru muda di padukan dengan celana kain warna navy lengkap dengan jas dokternya.
Ia pacu kuda besinya dengan semangat karena akan menemui pasien spesialnya.
Sesampainya di rumah pasien yang tiada lain adalah Berlian, ia masuk kedalam rumah itu, lalu salah seorang pelayan mengatakan kalau Berlian tengah berada di taman samping rumahnya, ia pun bergegas menuju taman itu.
Dilihatnya pasien kesayangannya itu tengah duduk diatas kursi roda menghadap ke arahnya.
Perlahan ia melangkahkan kakinya dan mendekat,
“Nyonya terlihat lebih cantik hari ini.” Pujian itu tercetus dari bibir kokoh sang dokter.
“Benar kah?.” Sang pasien dibuat malu sehingga pipinya menjadi kemerahan.
“Ya. Apa karena nyonya mendapatkan sesuatu hingga terpancar kebahagiaan dari wajah nyonya?.”
“Tidak dokter… hari ini saya hanya sedikit lebih bersemangat dari hari kemarin, saya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan dokter.”
Sontak saja apa yang dikatakan Berlian membuat jantung Alfredo hampir saja lepas dari tempatnya. Kata-kata yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya kini terlontar dari bibir mungil itu.
“Apa nyonya? Nyonya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan saya?.”
‘Oh Tuhan… apa artinya ini? Apa dia juga merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan saat ini?.’ Bathin Alfredo.
“Iya. Saya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan dokter. Karena saya ingin mengatakan sesuatu.”
Semakin berbunga hati Alfredo kala mendengar ucapan Berlian yang kedua kalinya. Rasa sukanya pada Berlian menutup mata dan hatinya. Ia lupa kalau wanita yang berada di hadapannya itu adalah pasiennya, ia lupa kalau wanita itu adalah istri orang lain, dan ia lupa akan tugasnya sebagai syareat penyembuh, yang ada dalam hatinya hanyalah perasaan yang harus terbalaskan.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Jangan lupa tinggalkan jejaknya gais🥰
__ADS_1
Terima kasih😘