Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Pertengkaran


__ADS_3

Sore itu cuaca sedikit mendung namun tak terlihat hujan akan turun. Berlian yang baru sampai di rumahnya, ia langsung bergegas naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya.


Setelah sampai di dalam kamarnya, bergegas ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu Jodi dan Riksa terlihat tengah berada di dalam ruang tengah, namun kebersamaan mereka di kejutkan oleh kedatangan seorang gadis belia berusia 20 tahunan. Ya… siapa lagi kalau bukan Faradina yang mendatangi kediaman Jodi, tentunya setelah Arash memberi tahu di mana Jodi kini tinggal.


Setelah Faradina di persilahkan masuk oleh salah satu pelayan dan di persilahkan duduk pada ruangan tamu, Jodi dan Riksa menghampiri dan duduk bersama di ruang tamu tersebut.


“Maaf, kalau boleh saya tahu, kamu siapa? Dan ada keperluan apa?.” Tanya Jodi pada Faradina.


Dengan bibir sedikit bergetar dan rasa gugup yang menyelimutinya, Faradina mulai membuka mulutnya, “Perkenalkan, nama saya Faradina Laras. Maksud saya datang ke tempat anda, saya ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Jodi Pratama.” Kata Faradina yang menundukkan kepalanya serta jari-jarinya yang terus memilin ujung kemejanya.


“Saya orang yang kamu cari. Sepertinya kita tidak saling kenal.” Kata Jodi dengan sopan. Kemudian Faradina pun mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Jodi yang duduk tepat dihadapannya.


“Ya tentu saja anda tidak mengenal saya karena ini adalah kali pertama kita bertemu.” Kembali Faradina menundukkan pandangannya.


“Lalu, untuk apa kamu ingin menemui saya?.”


“Saya hanya ingin mengenal anda lebih dekat.” Jawabnya pelan.


Kata-kata gadis itu sontak saja membuat Jodi dan Riksa mengernyitkan dahinya.


“Maksudnya bagaimana?.” Tanya Jodi heran.


“Apa anda telah lupa pada kami?.”


“Maaf… saya semakin tidak mengerti arah pembicaraan kamu. Tolong jelaskan langsung saja, ada keperluan apa kamu mendatangi saya?.” Tanya Jodi kembali, yang semakin di buat heran oleh tamunya itu.


“Baik. Sejak lahir saya tidak pernah mengenal ayah saya, ibu hanya sendiri membesarkan saya. Bahkan dalam akta kelahiran pun tak tercantum nama ayah saya. Ibu berjuang sendiri membesarkan saya, dengan susah payah dia bekerja untuk membiayai hidup saya, hingga saya pun tidak bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, karena kami kesulitan ekonomi. Ibu hanya seorang guru honorer di salah satu SMA Negeri. Betapa menyakitkannya hal itu bagi saya. Sementara orang yang seharusnya bertanggung jawab atas hidup kami, dengan se-enaknya menelantarkan kami, dia hidup serba berkecukupan bahkan lebih. Namun malah melupakan kami begitu saja.” Gadis itu berderai air mata menceritakan segalanya, sontak Jodi dan Riksa menjadi bingung di buatnya.


“Lalu apa hubungannya dengan kami? Kami tidak mengenal siapa kamu dan ibumu, bagaimana kami tahu penderitaan kalian.” Jodi berusaha menanggapi ucapan gadis itu.


“Benarkah anda tidak mengenali kami. Tolong ingat baik-baik. Jika memang kau punya hati, tentunya kau dapat mengingat kami setelah dua puluh tahun meninggalkan kami dan melupakan kami dengan mudahnya.” Kata gadis itu dengan menatap tajam pada Jodi.


“Saya? Kamu bicara pada saya?.” Jodi semakin tidak mengerti dan di buat heran kala gadis itu semakin jelas akan alasannya, terlebih menyangkut pautkan kehidupan pribadi gadis itu dengan dirinya.


“Ya… kenapa kau tega membuang kami begitu saja dalam kekurangan sementara kau hidup berkecukupan dan hidup bahagia.” Kata gadis itu dengan tatapan yang menyedihkan.


“Hei… tunggu sebentar! Mungkin kau salah masuk rumah orang. Saya tidak mengenalmu, bahkan namamu pun saja baru saya dengar.” Kata Jodi, sementara Riksa terus memperhatikan percakapan mereka berdua.


“Tentu saja kau baru mendengar namaku, bahkan kurang dari satu jam yang lalu kau baru saja mengenalku, karena dari sejak bayi kau telah meninggalkan aku dan ibuku!.”


“Apa!!!.” Betapa terkejutnya Jodi, begitu pun dengan Riksa.


“Apa kau bilang? Aku menelantarkan kamu dan ibumu? Memangnya siapa kalian?.” Tanya Jodi dengan penuh penekanan.


“Aku adalah anakmu yang telah lama kau tinggalkan.”


DUAR!!! Kata-kata gadis itu bagaikan petir di siang bolong yang menusuk telinga Jodi.


Betapa terkejutnya Jodi saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut gadis itu.


“Apa? Kau anakku?! Bagaimana mungkin aku memiliki anak! Sementara mantan istriku telah meninggal sejak lama dan kami tidak pernah memiliki anak!.”

__ADS_1


“Ibuku bernama Lucy Gayatri. Apa kau juga lupa dengan sosok wanita yang pernah ada dalam masa lalumu?.” Nada keras keluar dari mulut gadis itu yang tentunya membuat Jodi semakin terpancing.


“Apa-apaan ini?! Lucy Gayatri mana lagi? Aku benar-benar tidak mengenal kalian!.”


Dalam waktu yang bersamaan di ujung tangga terlihat Berlian menangis dengan berderai air mata, sepertinya Berlian telah lama berada di balik dinding tangga atas. Betapa terkejutnya Jodi saat melihat Berlian tampak kacau dengan air mata yang sudah memenuhi kedua pipinya.


“Ah ya Tuhan… .” Bergegas Jodi berlari ke arah Berlian sembari berkata pada Riksa, “Rik tolong urus dulu wanita itu, gue mau jelasin ke bini gue dulu.” Kata Jodi seraya mengejar Berlian yang berlari menangis sejadi-jadinya menuju kamarnya.


Jodi mengejarnya hingga pada saat Berlian masuk ke dalam kamarnya dan hendak menutup pintu kamar itu, dengan cepat Jodi meraih daun pintu dan berhasil masuk kedalam kamar itu.


“Kenapa papa bohong padaku! Kenapa papa tak pernah mengatakan semua ini padaku!.” Kata Berlian dengan deraian air mata dan melangkah mundur kala Jodi terus melangkah mendekatinya.


“Sayang… tolong dengar…. Papa tidak pernah berbohong padamu.”


“Bohong! Papa jahat! Papa menipuku!.”


“Demi Tuhan jangan katakan itu sayang.”


“Papa jahat! Kenapa papa lakukan ini padaku! Kau benar-benar telah menyakitiku.” Tangisannya semakin menjadi.


“Tolong dengar penjelasan papa dulu sayang.”


“Tidak mau! Tolong papa pergi… pergi… tinggalkan aku! Papa pikir aku tidak mendengar apa yang perempuan itu katakan! Laki-laki seperti apa kau ini! Yang telah tega meninggalkan istri dan anaknya. Lalu dekat denganku dan menjadikan aku istrimu..”


“Sayang tolong dengar! demi Tuhan papa tidak kenal dengan mereka!.”


“Dengan nama Tuhan juga papa menikahi aku! Lalu kau sebut nama Tuhan pula saat kau membohongi aku! Kau bajingan papa! Aku tidak mau lagi mengenalmu.”


“Jangan Memanggilku sayang… aku benci padamu papa… kau jelas-jelas telah berbuat jahat pada mereka lalu kemudian kau menjahatiku… kau tega menghancurkan aku…!”


“Cukup! Cukup Berlian! Seumur hidupmu aku berada di dekatmu dan selalu ingin membahagiakanmu, lalu hanya karena kau mendengar masalah yang belum tentu kebenarannya, tiba-tiba kau mengatakan aku jahat dan menghancurkanmu!? Sebenarnya siapa yang telah menyakiti perasaan siapa hah?!…”


Tanpa di duga-duga Berlian mendekat ke arah Jodi dan mendorong Jodi hingga punggungnya merapat pada pintu.



“Aku mendengar semua yang perempuan itu katakan padamu! Kau pikir itu belum jelas buatku! Apa yang akan kau jelaskan padaku hah! Katakan padaku siapa Lucy Gayatri?, apa dia istrimu? Dan perempuan tadi itu adalah putri kalian!. Bagus! Kau telah berhasil membuatku sakit dan terluka… Jodi.”


“Apa?! Katakan sekali lagi apa yang kau ucapkan barusan! Kau telah berkata kasar padaku sayang… tak pantas kau mengatakan pada suamimu kata-kata itu!.”


“Kau bukan suamiku! Aku tidak mau punya suami sepertimu!.”


“Jaga ucapanmu!.”


“Jangan sentuh aku! Pergi!.”


“Sayang…”


“Pergi…. Hiks…hiks.”


“Aku mohon… dengar dulu…”


“Pergi kataku! Aku tidak mau melihatmu.”

__ADS_1


Jodi tidak bisa membuat istrinya melunak, emosi tengah mengurung jiwanya, amarahnya telah membuncah kala itu. Percuma saja jika di teruskan, mungkin saja hanya akan semakin saling menyakiti.


Jodi sadar akan kemarahan yang terjadi pada istrinya itu, mungkin akan lebih baik jika membiarkannya sendiri, meresapi dan mencerna apa yang telah ia dengar tadi dari seorang wanita yang tiba-tiba saja datang mengggusik kebahagian mereka.


Akhirnya Jodi meninggalkan istrinya di kamar itu dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya. Dengan mata yang berkaca-kaca perlahan ia pergi. Tak ada lagi kecupan dan pelukan hangat. Semuanya hilang bersama nafsu amarah yang telah mengurung bathinnya.


Dengan langkah lunglai ia keluar dari kamar itu. Pada saat pandangannya mengarah pada pintu keluar, ia melihat Riksa tengah berdiri menatapnya di depan pintu.


Kemudian Jodi duduk di kursi ruang tengah dengan memegang kepalanya dengan siku bertumpu pada kedua lututnya.


“Sepertinya ini akan menjadi masalah besar.” Kata Riksa yang berjalan mendekat kemudian duduk di depan Jodi.


“Kemana wanita itu pergi?.”


“Dia udah gue suruh pulang, bikin riweuh aja. Tapi gue udah dapat alamat rumahnya dan tempatnya bekerja.” Jelas Riksa.


“Gue gak ngerti dari mana datangnya wanita itu, bikin runyam saja.”


“Tapi beneran? Boss gak kenal dia?.”


“Sumpah gue gak kenal dia Rik. Bertemu dan tahu namanya aja gue baru kali ini.”


“Sama ibunya juga gak kenal? Siapa tahu ibunya mantan yang Boss hamilin terus di tinggalin gitu.”


“Heh! Kutu! Elo pikir gue se-an*ing itu nyakitin cewek! Sembarangan aja luh ngomong.”


“Ya kali aja Boss lupa.”


“Gue belum pikun ya Rik? Enak aja elo ngomong!.”


Kemudian mereka terdiam dan tak lama Riksa seperti menangkap sesuatu dalam pikirannya.


“Kita cari tahu Boss. Kita datangin ke rumahnya atau ke tempat kerjanya. Gue jadi curiga ada sesuatu di balik ini semua.”


Kemudian Jodi menghela nafas panjang. “Apa mungkin ada yang menyuruhnya buat ngerecokin pernikahan gue Rik?.”


“Bisa jadi!.”


“Ya udah, gue mau telepon pak Budi dulu, takutnya nanti pak Budi tahu dari orang lain lagi masalah ini. Jadi tambah rumit urusannya nanti.” Kata Jodi seraya menghubungi pak Budi melalui ponselnya, ia menceritakan semua yang terjadi tadi pada pak Budi tidak kurang dan tidak lebih.


Untungnya pak Budi mengerti dan pak Budi beserta istrinya akan datang ke rumah Berlian untuk menenangkan cucunya itu.


Sementara itu. Berlian yang tengah menangis di dalam kamarnya nampak begitu tertekan hingga terus saja menumpahkan air matanya. Kemudian terlihat Ia mengambil ponselnya dan sepertinya ia mencoba menghubungi temannya Maurin.


“Hiks… hiks… Maurin aku sakit hati.” Kata Berlian dengan tangisan kerasnya.


“Eh Berli… cup.. cup… kau kenapa? Jangan nangis gitu dong… kamu kenapa sih? Ok. aku kerumah kamu ya say? Udah jangan nangis, tunggu aku ya?.” Suara Maurin di baik ponsel menenangkan Berlian.


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya say🥰


Makasih 😘

__ADS_1


__ADS_2