Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Verifikasi Sukses


__ADS_3

24 jam sudah rumah mewah di sudut kota telah kehilangan canda tawa penghuni tercantiknya. Delima dan bu Irma masih berada pada kediaman tersebut. Sementara pak Budi tidak ada di rumah karena mengurusi perusahaannya yang di tinggalkan Jodi.


Bu Irma dan Delima sedikit terkejut saat Riksa datang ke rumah itu.


“Maaf bu. Kami diperintahkan Boss kami, untuk mengambil semua barang-barang miliknya.” Kata Riksa pada kedua wanita tersebut.


“Dia tidak akan kembali ke rumah ini lagi ya asisten?.” Tanya Bu Irma.


“Iya bu, Boss kami sudah mengundurkan dari dari perusahaan jadi sudah tidak ada kepentingan untuk tinggal di rumah ini lagi.”


“Kenapa harus seperti itu. Bisakah kita bicara baik-baik terlebih dahulu sebelum memutus kan sesuatu. Tolong sampaikan pada Boss anda.”


“Baik bu nanti akan saya sampaikan, sekarang saya permisi dulu untuk mengemasi pakaian-pakaiannya.”


“Tunggu pak asisten.”


“Iya bu, ada apa?.”


“Bagaimana pencarian cucu saya? Apa sudah ada perkembangannya?.”


“Belum bu, kami masih berusaha mencari keberadaannya. Dugaan sementara nona di culik seseorang di tempat dimana mobil yang di pakainya terparkir disana.”


“Ya Tuhan… bagaimana dengan nasib cucuku. Tolonglah pak asisten temukan cucu kami.”


“Kami sedang berusaha keras bu, siang malam kami bekerja mencari keberadaan cucu ibu, tolong do’akan saja, semoga kami berhasil menemukan cucu anda. Saya permisi dulu bu.”


Kemudian Riksa naik ke lantai dua membawa koper berukuran besar untuk pakaian Jodi. Setelah ia selesai memasukan pakaian Jodi, ia membereskan pakaian miliknya.


Setelah selesai semuanya, Riksa di bantu dua orang asistennya mengangkut pakaian Jodi dan pakaiannya ke dalam mobil. Kemudian Riksa minta ijin kepada bu Irma dan Delima untuk pamit.


“Bu Irma dan bu Delima, saya pamit, terima kasih atas kebaikan ibu juga bapak selama saya dan Boss tinggal disini. Dan saya mohon maaf jika saya dan Boss merepotkan ibu dan bapak.” Kata Riksa.


Kemudian Delima menghampiri Riksa lebih dekat, “Riksa, tolong sampaikan pada kak Jodi permintaan maaf saya. Katakan bahwa saya sangat menyesal.” Ucapnya dengan berderai air mata.


“Baik bu, nanti akan saya sampaikan.”


“Dan katakan padanya saya tidak pernah menyalahkannya atas semua yang telah terjadi. Tadinya saya berusaha menghubunginya untuk meminta maaf secara langsung hanya saja setiap saya menghubunginya tidak ada jawaban dan pesan saya pun tidak ada yang ia balas satu pun.”


“Maaf bu. Boss sedang tidak mau di ganggu dan sengaja ponselnya ia matikan, katanya beliau ingin tenang dulu.”


“Ya saya mengerti dan saya faham akan kekecewaan beliau, namun dari hati yang terdalam, jujur saja saya tidak bermaksud untuk membuatnya kecewa.”


“Baik bu akan saya sampaikan nanti, sekarang saya permisi dulu.”


Kemudian Riksa pergi meninggalkan kedua wanita tersebut, ia masuk kedalam kendaraannya dan mobil yang ia tumpangi pun pergi meninggalkan rumah tersebut.


..........


Diceritakan di tempat lain. Hari itu adalah hari dimana Berlian akan di terbangkan ke negara X melalui pengawalan yang sangat ketat yang di lakukan oleh panitia lelang dari negara X yang datang langsung melakukan penjemputan terhadap Berlian.


Berlian yang di bius oleh mereka dibawa menggunakan pesawat jet.

__ADS_1


Setelah Berlian masuk kedalam pesawat tersebut dengan menggunakan kursi roda yang di kawal oleh empat orang, terlihat dua selang infus menguasai kedua tangannya, mungkin infus tersebut adalah asupan makanan dan vitamin untuk tubuh Berlian karena selama ia di culik ia di bius total untuk menghindari perlawanan.


Di perkiraan perjalanan akan menghabiskan waktu 35 jam 42 menit nonstop antara Jakarta - negara X. Perjalanan ekslusif itu diharapkan dapat tetap menjaga kebugaran Berlian sampai dengan sebelum hari pelelangan tiba. Karena sebelum hari itu akan dilakukan pengecekan terlebih dahulu pada Berlian atau dalam istilah lelang open house.


Calon peserta lelang dapat melakukan pengecekan terhadap Berlian selama tanggal periode open house berlangsung dan dalam hal ini open house hanya beberapa hari sebelum hari pelelangan tiba.


........


Sementara itu di markas, Tomy yang telah menemukan situs agenda lelang Berlian langsung melaporkan kepada Jodi.


“Permisi Boss saya sudah menemukan alamat domain pelelangan itu.” Kata Tomy, bersama Angga dia masuk kedalam ruangan Jodi.


“Ok. Bagaimana mekanisme pelelangan itu Tom?.”


“Begini Boss, di usahakan dokumen Boss hari ini juga sudah lengkap dan harus segera di kirim ke alamat domain panitia lelang tersebut beserta daftar kekayaan yang Boss miliki. Metode lelang yang akan digelar yaitu secara lisan, jadi peserta lelang di undang dan bertemu pada suatu tempat. Untuk melakukan kenaikan harga yang nanti di arahkan oleh pemandu lelang. Kemudian nanti setelah Boss mengirimkan dokumen Boss dan lulus verifikasi, nanti Boss dapat melihat gadis yang akan Boss beli pada website panitia lelang, setelah itu pada acara open house, Boss dan peserta lelang lainnya yang telah lulus verifikasi dapat mengecek gadis itu secara langsung. Setelah itu Boss harus menyetorkan uang jaminan per LOT, dengan nominal yang sudah mereka tentukan. Baru nanti Boss selaku peserta lelang dengan yang lainnya mengikuti proses lelang tersebut.” Jelas Tomy.


“Ok. Sekarang juga tolong kirim semua data gue Tom, atau nanti gue panggil Riksa dulu deh.” Kata Jodi seraya menelpon Riksa untuk datang menghadapnya, tak lama Riksa datang menghadap Jodi dan mereka duduk bersama. Jodi mengatakan pada Riksa sesuai dengan yang Tomy sampaikan padanya tadi.


“Ok. Datanya udah siap tinggal elo kirimin aja nanti.” Ujar Riksa yang kemudian memberi alamat domain Jodi yang baru sebagai peserta lelang.


“Semua data-datanya udah lengkap disana Tom.” Jelas Riksa kembali.


“Ok sekarang gue kirim.” Jawab Tomy yang kemudian bergegas kembali ke lab bersama Angga.


Sepeninggalan Tomy dan Angga, Jodi dan Riksa berbincang diruangan.


“Gila ya?! Perjuangan cinta sampai kayak begini. Semua di korbankan, harta, jabatan, waktu, air mata dan darah berkumpul menjadi satu menjadi alat penebus cinta, hadeh… kalau ini terjadi sama gue, kayaknya gue mah tinggal kolor doang dah haha.” Kelakar Riksa.


“Ya untungnya jatuhnya masalah ini di Boss, kalau gue sih kayak nya nyerah Boss.”


“Gue cuma ingat kata-kata elo waktu itu Rik, masalah akan datang sepaket dengan solusinya. Makanya gue sekarang sadar.”


“Syukurlah kalau begitu… terus, kapan mau berangkat ke negara X Boss?.”


“Menurut elo baiknya kapan?.”


“Ya lebih cepat lebih baik lah Boss, sekarang juga kalau Boss mau berangkat, tinggal pergi kok, gue udah beresin urus semuanya.”


“Besok pagi aja deh gue berangkat, eh tapi ngomong-ngomong, kira-kira gue lulus gak di verifikasi jadi peserta lelangnya ya? Kalau gak! Mati gue.”


“Tenang… udah gue urusin semuanya. Panitianya juga doyan duit, udah gue suruh si Tomy buat nyogok tuh panitianya haha.”


“Anjir! Serius luh haha.”


“Seriuslah! Kalau gak gitu kita gak bakalan tembus Boss, secara saingan kita elit global, rata-rata dari mereka dapat menggenggam dunia. Nah kita apaan? Kita cuma manusia halu yang setiap hari cuma mimpi doang haha.”


“Beneran luh ya? Gue bakal tembus. Kalau gak, mati masal kita.”


“Tenang aja Boss. Yang penting semangat aja dulu kita mah. Eh.. tapi… gue ikut kan? Dampingin Boss disana?.” Kata Riksa mengangkat-angkat alisnya.


“Rencananya sih gue mau bawa Tomy sama Angga, sementara elo tinggal disini.”

__ADS_1


“Yaelah Boss, salah satu dari mereka aja deh suruh tinggal disini. Biar gue yang ikut. Gue kan belum pernah ke negara X Boss, gue pengen lihat bener gak tuh negara X itu sorga dunia.”


“Ya udah. Elo bilang aja sama mereka. Si Tomy apa si Angga yang tinggal di sini.”


“Ya udah biar si Angga aja yang tinggal di sini Boss, secara dia kan anak baru, enak aja anak baru udah di bawa plesiran ke sorga dunia.”


“Heh! Kita kesana bukan mau maen kutu!! Disana gue mau mempertaruhkan hidup gue! Bukannya mau Happy!.”


“Hehe… iya maksudnya masa anak baru udah ngemban tugas yang berat, biarkanlah ini urusan senior. Sementara yunior mah belajar aja dulu di sini.”


“Bisa aja luh ngomong. Ya udah elo bilang aja sekarang sama mereka. Sekalian tanya, bagaimana hasil verifikasi gue. Kalau gak lolos, mati luh sekarang juga.”


“Siap.” Jawab Riksa yang kemudian berlalu keruangan lab komputer dimana Tomy dan Angga berada di sana.


Sesampainya di lab, “Gimana Tom verifikasinya?.” Tanya Riksa pada Tomy.


“Kebetulan elo kesini Rik, mereka belum ngasih jawaban, kayaknya minta duit tambahan.”


“Sialan tuh si bule! Demen banget sama duit. Tanya berapa kurangnya? Langsung aja elo transfer duitnya.”


“Beneran Rik? Tadi udah hampir 1Milyar loh kita sogok mereka.”


“Ya gak apa-apa lah… bukan duit kita ini. Haha.”


“Anjir!!! Dapat ngebobol dimana luh?!.”


“Rahasia!!!… dari mereka buat mereka. Jadi kita cuma modal dengkul doang haha.”


“Anjir! Parah. Haha..”


“Eh orang licik harus kita licikin lagi Tom. Manusia kayak mereka itu jahat nya luar biasa, makanya kita kerjain mereka biar tahu rasa haha.”


“Boss tahu??!.”


“Ya tahu lah. Orang dia yang ngajarin gue haha.”


“Gila!!! Haha… kalian bener-bener gila parah!.” Kelakar Tomy sembari mentransfer nominal yang mereka minta pada nomor rekening digital panitia lelang.


“Eh Tom, di era digital seperti sekarang ini, mindset kita juga harus digital. Kalau mindset kita masih jadul, akan ketinggalan jaman.”


“Bener juga ya Rik… seneng gue kerja sama kalian. Ternyata kerja di dunia maya gak kelihatan ya? Mana mafia mana agen pemberantas mafia, keduanya sama-sama makhluk gaib.”


“Lama-lama juga nanti elo bakal faham Tom.” Kata Riksa. Kemudian, “Oya? Nanti yang dampingin Boss pergi ke sana gue sama elo, sementara Angga di sini aja.” Sambung Riksa.


“Ok siap.” Jawab Tomy. Kemudian Tomy melihat pada layar monitor dengan tulisan “Verifikasi sukses!!!”


“Yess!!.” Seru mereka bersama-sama.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Terima kasih atas jejaknya yang tertinggal readers kesayangan🥰

__ADS_1


__ADS_2