Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Kisah masa silam


__ADS_3

Angin dingin yang menyusup masuk melalui celah jendela serasa menusuk tulang. Menggugah kerinduan sang cinta akan kemesraan yang pernah ada.


Jodi bangkit dari tempatnya kala ia tengah merenung dengan meluruskan diri di atas sofa ruang kerja. Mata yang enggan terpejam seolah membawa dirinya untuk melangkah ke area balkon ruang kerja tersebut.


Ia buka pintu yang mengarah ke balkon tersebut, kemudian berdiri berkacak pinggang dengan wajah menengadah ke atas langit gelap. Kebingungan yang ia rasakan menggoda pikirannya untuk kembali ke masa silam.


Satu persatu ia buka kembali lembaran lama yang sudah ia tutup rapat. Hingga ingatannya kembali mengingat seorang wanita cantik yang pernah menjadi kekasihnya. Ia telisik masa-masa kebersamaan dengannya, berharap dapat membuka tabir yang mungkin saja dapat menjadi solusi dari masalah yang tengah ia hadapi.


Terus dan terus ia buka memori dalam isi kepalanya hingga sampai pada satu kenangan dimana ia mengingat akan kejadian yang begitu menyakitkan dimasa lalunya.


Plashback on


“Apa kau hamil?.” Jodi terkejut sejadi-jadinya kala sang kekasih mengatakan bahwa dirinya hamil.


“I-iya kak..” Jawab wanita itu dengan menundukkan kepalanya.


“Siapa yang melakukannya? Bukan kah aku tak pernah melakukan apapun padamu? Lagi pula kita baru tiga bulan pacaran?.”


“Maafkan aku kak.” Lirih wanita itu dengan mulut yang bergetar dan tangisan yang mulai pecah.


“Katakan dengan jujur Ci, siapa yang melakukannya?.” Tanya Jodi dengan gemuruh di dalam dadanya namun ia masih dapat menguasai emosinya.


“Hiks… aku tak bisa mengatakannya padamu kak.”


“Kenapa Ci? katakan padaku siapa orang yang telah melakukannya?.”


“Hiks maaf kak jangan paksa aku untuk mengatakannya.”


“Ci… apa kamu sengaja melakukan ini padaku?.”


“Apa maksud kak Jo?.”


“Kau mau menjebakku kan?.”


Plak!!! Wanita itu melayangkan tamparannya tepat di pipi Jodi.


“Tega kamu ya menuduhku seperti itu! Sedikitpun tak ada niat aku untuk menjebakmu. Makanya aku berkata jujur padamu.”


“Lalu apa susahnya kau mengatakan siapa orang yang telah menghamili mu? Aku akan minta pertanggung jawaban pada dia!! Katakan!.”


“Tidak bisa kak! Aku tidak bisa mengatakannya padamu! Ini rumit.” Tangis wanita itu.


“Serumit apa pun masalah, pasti ada cara untuk menyelesaikannya. Ci… lihat aku, aku mencintaimu, oke aku tak perduli seperti apa dirimu, aku yang akan bertanggung jawab atas kehamilanmu. Asal kau katakan, siapa orang yang telah melakukannya?.”


“Kak, aku tak minta itu, bagaimana mungkin kakak bertanggung jawab dari kesalah orang lain? Ini dosaku kak, kakak tidak perlu ikut menanggung dosaku dan aku tak minta kakak untuk menikahiku, bahkan pada lelaki yang telah membuat aku hamil pun tak akan kulakukan itu!.”


“Kenapa seperti itu Ci? Bagaimana mungkin kau membesarkan anak yang kau kandung itu sendiri, kasihan dia Ci. Aku rela, aku ikhlas menjadi bapaknya. Ayo kita pulang, aku akan datang pada ayah dan ibumu untuk menikahimu sebelum perutmu membesar.”


“Gak kak aku gak mau!.”


“Lalu apa yang akan kau lakukan? Jangan kau katakan kau akan menghilangkan janin itu Ci!”

__ADS_1


“Tidak kak, aku akan membesarkannya.”


“Ya sudah ayo kita besarkan dia sama-sama. Aku janji akan menyayanginya seperti anakku sendiri. Dan aku janji tidak akan mengungkit-ungkit siapa ayah anak itu. Bagaimana Ci?.”


“Hiks… aku tidak akan pernah rela lelaki sebaik kakak menanggung semua ini. Aku sangat mencintaimu kak, dan aku tahu kau pun begitu mencintaiku, tapi aku tidak akan pernah tega kakak melakukan semua ini untukku.”


“Ci… kau jangan seperti itu, aku lebih tidak rela kau hidup sendiri mengurus anak itu. Aku lebih tidak tega Ci… ayo kita menikah, kita besarkan anak itu sama-sama. Anak itu butuh ayah.. aku akan menjadi ayah yang baik untuknya. Kau mau ya Ci?.”


“Kak… aku akan pikirkan dulu ya?.”


“Kamu mau mikir apa lagi Ci? Apa kamu tidak yakin padaku? Apa kamu tidak mempercayaiku?.”


“Tentu saja aku sangat percaya padamu kak.”


“Lalu kenapa lagi Ci? Apa kau mencintai ayah anak itu? Hingga kau tak mau menikah denganku?.”


“Tidak kak, ayah anak ini bajingan… sampai kapan pun aku tak akan pernah memaafkan dia, dan maaf aku tak bisa mengatakan siapa dia sebenarnya, yang jelas aku kenal dia sebelum aku mengenal kakak, itu artinya aku tidak pernah menghianati kakak.”


“Aku tidak perduli dengan semua itu Ci. Aku yang akan bertanggung jawab karena kau adalah kekasihku. Ci, aku akan bilang pada papa dan mamaku kalau aku akan menikahimu secepatnya.”


“Kak, terima kasih atas cinta dan kasih sayangmu padaku… aku sangat bahagia dapat mengenalmu dan dicintai olehmu. Seandainya waktu dapat di putar kembali tentunya aku akan meminta pada Tuhan, lebih baik aku tidak pernah mengenalmu dari pada mengenalmu namun aku hanya menyisakan rasa sakit padamu.”


“Hei kau jangan berkata begitu, sama sekali aku tak merasa sakit dengan semua yang telah terjadi ini. Semua kulakukan karena aku mencintaimu Ci. Percayalah…”


“Aku percaya padamu kak. Sudah! Ayo, sekarang kita pulang.”


“Ayo, malam ini juga aku akan mengatakan pada orang tuamu, niatku untuk menikahimu.”


“Orang tuaku sedang tidak ada di rumah kak, besok saja kakak mengatakan pada mereka.”


Akhirnya mereka berdua meninggalkan tempat itu. Dan itulah pertemuan terakhir mereka, karena ke esokan harinya pada saat Jodi menyambangi rumah kekasihnya itu, kekasihnya telah kabur dari rumah.


Kedua orang tuanya pun tidak tahu kemana wanita itu pergi. Terakhir ia mengatakan pada orang tuanya bahwa ia akan mengunjungi saudaranya di Jogja.


Tapi ia tak pernah kembali. Orang tuanya pun menanyakan kepada saudaranya di Jogja, tapi ia tak pernah kesana.


Jodi yang mencari keberadaannya pun tak menemukan jejaknya, hingga Jodi mengakhiri mencarikannya dan mengubur kisah cintanya bersama wanita itu. Hingga waktu mengikis ingatan Jodi, dan mampu melupakan wanita itu.


Plashback off


Sejenak wajah Jodi memutih pucat pasi kala memorinya mengingat kejadian itu.


‘Ya Tuhan… mungkin kah wanita tadi adalah putrinya Uci kekasihku dulu?.’ Bathin Jodi.


Melemas kakinya seakan tak dapat menginjak bumi. Meremang matanya kala ingatan itu semakin jelas menggambarkan wajah wanita di masa lalunya.


Ia bingung entah harus berbuat apa. Namun tiba-tiba pintu ruang kerjanya di buka dari luar, terlihat Riksa masuk kedalamnya.


Bergegas Jodi menghampiri Riksa dengan tatapan yang berkaca-kaca namun tak mampu berkata apa pun.


Riksa sangat mengerti, karena ia dapat membaca ekspresi yang di tunjukan oleh wajah Boss nya itu.

__ADS_1


Kemudian Riksa membawa Jodi duduk di atas sofa. Lalu memberikan segelas air padanya yang ia ambil dari dispenser di ruang kerja tersebut.


Riksa duduk di hadapan Boss nya dengan menatap tajam wajah yang terlihat kalut itu.


“Relaks Boss… tarik nafas pelan dan keluarkan perlahan.” Kata Riksa. Terlihat Jodi melakukan apa yang dikatakan Riksa, setelah terlihat lebih tenang,


“Ada yang ingin Boss katakan? Keluarkanlah semuanya sekarang juga.”


Perlahan Jodi mengangkat kepalanya kemudian membuang mukanya ke samping, terlihat buliran bening jatuh menetes dari sudut mata kanannya, ia menangkup mulut dan hidungnya dengan tangan kanannya, kemudian


“Rik… gue sepertinya mengingat sesuatu, tepatnya kejadian dua puluh tahun yang lalu.” Kata Jodi pelan.


Kemudian Jodi menceritakan semua pada Riksa apa yang telah di ingatnya itu, dengan seksama Riksa mendengarkan sembari menatap mimik Boss nya tersebut.


Terlihat luka yang mengering dari sorot mata Boss nya itu, luka yang hampir saja membuatnya putus asa namun masa depan berhasil mengobati luka itu hingga dapat terlupakan.


Riksa cukup faham apa yang telah di ceritakan Jodi padanya. Dan kini giliran ia memberikan solusi atas masalah yang tengah melilit Boss nya tersebut.


“Ok. Gue udah dengar apa yang Boss ceritakan barusan. Apa gue boleh berpendapat?.”


Terlihat Jodi mengangguk pelan.


“Mari kita selesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut. Jika Boss ada waktu luang, kita datangi rumah gadis itu. Kita harus duduk bersama agar anak yang bernama Faradina dan istri Boss mengerti akan kisahnya.” Jelas Riksa.


“Rik gue takut istri gue cemburu kalau tahu ibu gadis itu pacar gue dulu, gimana ya?.”


“Jangan ada yang di tutup-tutupi Boss, semuanya harus jelas di ketahui, entah oleh istri Boss atau putri dari kekasih lama Boss itu. Masalah nantinya istri Boss akan cemburu atau tidak? Biar kita selesaikan belakangan, bukankah cemburu itu tandanya cinta? Dan Boss harus sadar kalau Boss punya istri masih bocah, jadi wajar kalau reaksinya akan meledak-ledak.”


“Ok Rik, nanti kita rencanakan untuk datang kerumah gadis itu.”


“Cuma hati-hati nih jangan sampai CLBK dengan ibu gadis itu. Nanti urusannya tambah runyam hehe.”


“Ya gak lah Rik… dia hanya ada di dalam masa lalu gue, dan cewek masa depan gue ya istri gue.”


“Ok kalau begitu. Gue mau istirahat dulu Boss, Boss juga harus istirahat, dan yakinlah bahwa badai pasti berlalu. Masalah akan pergi dengan berjalannya waktu.” Kata semangat Riksa.


“Thanks ya Rik.”


“Siap Boss. Gue tinggal dulu ya?.” Kata Riksa.


‘Oh hati yang temaram yang kini tengah dilanda rindu dendam… ampunilah segala kesalahanku dimasa lalu, meski tiada dosa, namun begitu menyakitkan, seringainya begitu menakutkan hingga aku merasa ngeri akan kehilangan peri kecil yang elok… wahai peri kecilku, janganlah kau menghukumku seperti tahanan yang rindu akan kebebasan, seperti musafir yang di landa dahaga merindu setetes air… dan seperti pendekar yang kehilangan jurus-jurus saktinya.’ Hibur Jodi pada Boss nya.


“Apaan sih luh mulai ngawur aja!. Udah… pergi sana!.” Usir Jodi pada Riksa.


“Hahaha…. Pintu sorga mana?!! Pintu sorga lagi ngamuk haha.” Ledek Riksa sembari berlalu.


“Anjir luh!!!.” Jodi melempar buku pada Riksa membuat Riksa lari tunggang langgang.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Jangan lupa vote, Like, favorite dan sebagainya para kesayangan othor🥰🥰

__ADS_1


Makasih 😍


Semoga readers semua masuk pintu surga😂😂😂


__ADS_2