
Satu bulan kemudian.
Kini satu bulan telah berlalu, hari-hari kebelakang yang telah di lalui begitu berat dirasakan oleh Jodi. Namun tekadnya untuk memberikan semangat pada istri dan putrinya begitu kuat hingga sedikit demi sedikit kondisi baby Miriam berangsur-angsur membaik.
Sementara kondisi sang istri masih dalam keadaan koma, tetapi sudah tidak di tempatkan di ruang isolasi lagi, namun demikian, dokter memberi kabar bahwa racun yang masih bersarang di dalam tubuhnya sedikit demi sedikit dapat di netralisir secara alami dengan obat-obatan terbaik, artinya kondisi sang istri tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan kondisi awal pada saat ia terpapar racun itu.
Tetapi sebagian dari racun yang telah terlanjur mengakibatkan paralisis pada beberapa sinyal saraf dan otot pada diri Berlian, menurut dokter dari penjelasannya, mungkin Paralisis/kelumpuhan yang akan Berlian alami, pada seluruh tubuhnya terkecuali Indra pendengaran, penglihatan dan saluran pencernaan juga pernafasan masih dapat berfungsi dengan baik.
Bagi Jodi, meski kehidupan sang istri seperti apa yang dokter jelaskan tadi, itu lebih baik ketimbang ia harus kehilangan sosok yang sangat ia cintai itu.
“Sayang…. Kapan kau akan bangun? Kau tahu? Anak kita sekarang sudah pintar minum susu, dan berat badannya sudah bertambah. Apa kau tidak rindu padanya dan rindu untuk memeluknya?… kata dokter beberapa hari lagi dia sudah dapat di pindahkan bersamamu disini. Kau pasti senang mendengarnya.” Kata Jodi sembari membelai wajah pucat sang istri.
Kemudian ia naik ke atas velbed memeluk dan mencium tubuh sang istri yang terbujur kaku itu.
“Sayang… kau sedikit kurus sekarang, tapi tidak apa-apa yang penting kau sehat, setelah kau bangun nanti, kau harus banyak makan agar tubuhmu kembali berisi.” Bisik Jodi tepat di telinga sang istri lantas menciumnya.
Begitulah yang selalu Jodi lakukan, setiap hari ia selalu mengajak istrinya berbicara, karena ia yakin istrinya mendengar apa yang ia ucapkan. Setiap hari juga ia tidur bersama istrinya, meski istrinya bagai mayat hidup. Namun itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Sementara itu, Riksa dan Maurin yang baru turun di parkiran rumah sakit, bergegas melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan Berlian. Mereka setiap hari pulang pergi membawa segala kebutuhan Jodi, dari pakaian kotor dan pakaian ganti, sampai pekerjaan Jodi.
Ya memang selama Istrinya di pindahkan dari ruang isolasi keruang perawatan, siang malam Jodi menjaganya sampai pekerjaannya pun ia kerjakan disana sembari menemani sang istri. Kecuali jika ia harus terpaksa keluar melakukan tugas yang urgent, Delima atau keluarga yang lain yang akan menggantikan menunggui Berlian.
Pada saat Riksa dan Maurin membuka pintu dan masuk keruangan perawatan, lalu hendak masuk ke dalam kamar Berlian, mereka menangkap pemandangan yang mengharukan, dimana ia melihat Jodi tengah tertidur memeluk istrinya.
“Ssssstt… jangan berisik, biarkan mereka istirahat, kita di ruang tamu saja, menunggu Ibu Delima dan bu Irma yang akan datang kesini.” Kata Riksa meletakan telunjuknya pada mulutnya.
“Iya….” Maurin menganggukan kepalanya, “Terharu ya kak lihat mereka.” Kata Maurin seraya duduk pada sofa di ruangan itu.
“Iya pasangan yang selamanya bucin, tak peduli salah satunya tengah tak berdaya tapi tetap mereka terlihat mesra.”
“Apa kakak akan seperti itu jika aku sakit?.”
“Gak tahu!.”
“Kok gak tahu sih?.”
“Sakitnya sakit apa dulu? Kalau sakit kena virus corona nanti aku terpapar kalau kayak gitu.”
“Ih bener-bener ya? Gak setia!!.”
“Hey… ya iya dong kalau sakitnya parah, kau minta perawat saja untuk mengurusi dirimu sendiri.”
“Ish… dasar lelaki!.”
“Hehe… iya iya… aku akan merawatmu pastinya. Kamu gitu aja marah. Aku cuma bercanda tahu!.” Kata Riksa seraya memeluk Maurin.
Kemudian mereka meletakan segala kebutuhan Jodi disana yang mereka bawa tadi, dan kembali duduk berbincang, selang 15 menit, tiba-tiba Jodi keluar dari kamar perawatan dan melihat penampakan mereka.
“Eh kalian! Udah lama?.” Tanya Jodi lantas duduk di sofa bersama mereka.
“Baru lima menit aja Boss hehe.” Sahut Riksa.
“Kapan ya? Temanku itu siuman, gak ada dia sepi hidupku, gak ada teman curhat.” Gumam Maurin.
“Hey aku kan selalu ada buat kamu, kok di bilang sepi, temanmu itu sedang beristirahat.. kalau kau mau curhat padaku saja.” Balas Riksa.
“Kalian ini, barusan terlihat mesra, sekarang sudah terlihat seperti kucing dan an*ing saja.” Ujar Jodi yang menyaksikan kelakuan asisten dan Maurin.
“Iya nih, asisten Boss Sensi terus!.”
__ADS_1
“Kamu tuh… gak nganggap aku.”
“Udah-udah ah. Oya gimana Rik udah ada perkembangan? Dari mana racun itu berasal?.” Tanya Jodi.
“Belum ada Boss masih gitu-gitu aja. Sepertinya polisi kehilangan jejak.”
“Ya sudahlah, percuma juga. Bilang saja sama pihak kepolisian tutup saja kasusnya, buang-buang energi saja. Kita cari sendiri aja nanti. Lagian istri gue selamat ini kok.”
“Selamat sih selamat Boss, tapi kita harus tetap mencari siapa dalang di balik semua ini.”
“Iya kita bekerja aja sendiri nanti Rik. Biar kita leluasa, kalau kerja sama dengan mereka jadi lamban karena mereka juga punya aturan main sendiri dalam mengungkap sebuah kasus.”
“Yang jadi pertanyaan kita, kok cuma minuman yang di cup yang di minum Istri Boss yang mengandung racun itu, sementara pada saat kita periksa semua bahan-bahan minuman di food court itu bersih semua.”
“Ya berarti memang ada yang sengaja memasukan racun itu pada saat minuman itu sudah jadi, hanya saja tak terlihat orang yang memasukannya. Nanti kita cari tahu deh. Gue lagi fokus sama istri dan anak gue dulu.”
“Gue lihat di rekaman CCTV dari awal si pelayan meracik minuman itu sampai di antar ke meja kita terlihat normal loh.”
“Gue yakin lambat laun akan terungkap siapa pelakunya, yang jelas pastinya orang yang memang kita kenal Rik. Cuma kita gak bisa menduga-duga kan? Harus ada bukti sebagai pendukung untuk membuktikan bahwa seseorang itulah pelakunya.”
Di tengah-tengah obrolan mereka, Delima dan Irma datang. Setelah mereka berdua masuk dan menyalami, kemudian mereka masuk ke dalam kamar Berlian.
Di dalam kamar perawatan, Delima dan Irma memandangi tubuh lemah itu.
“Malang sekali nasib cucuku ini Del, tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau dia akan seperti ini.” Lirih Irma dengan mata yang meremang.
“Ya bu… sudah satu bulan dia terbaring kaku. Entah bagaimana rasanya. Untung saja kak Jodi suami yang baik dan setia, ia merawatnya dengan penuh kasih sayang, ia memperlakukannya seolah gadis ini baik-baik saja. Aku tahu hatinya pasti hancur, namun dia tetap sabar menanti istrinya ini bangun kembali.”
“Ya untungnya dia hidup bersama lelaki yang begitu menyayanginya. Aku sedikit tenang karena Jodi ada bersama cucuku. Dia sudah biasa menyayanginya sejak kecil, jadi menghadapi cucuku sakit seperti ini bukan hal yang berat baginya.”
“Putriku ini memang wanita yang sangat beruntung…. Cepat bangun sayang… kami sudah rindu mendengar mulut bawelmu.” Ujar Delima seraya membelai rambut Berlian.
“Oya Del, kita ke ruangan Miriam yuk? Mumpung Jodi dan asistennya ada disini. Jadi nanti kita gantian.”
Kemudian mereka keluar dari kamar itu menuju ruangan dimana Jodi, Riksa dan Maurin berada,
“Jod, ibu sama Delima mau melihat Miriam duluan ya?.”
“Iya bu. Biar nanti saya kesana setelah ibu kembali.”
Kemudian Irma dan Delima meninggalkan ruangan itu menuju ruang perawatan bayi.
Sesampainya di ruang perawatan bayi, mereka berdua langsung masuk setelah memakai pakaian scrub.
“Dia cantik sekali.” Kata Irma yang terus memandangi bayi mungil itu.
“Iya mirip sekali dengan ibunya.” Sambung Delima yang juga tengah memandangi bayi mungil itu.
“Tubuhnya sekarang lebih berisi dan gerakannya lincah.”
“Iya bu. Pipi nya sudah mulai terlihat gemoy hehe.”
“Ya. Dia persis ibunya waktu bayi, begitu pun dengan nasibnya.” Lirih Irma yang mulai terlihat matanya mengeluarkan buliran bening.
“Tapi dia beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.”
“Ya… dia anak yang beruntung.”
Begitulah setiap hari yang dilakukan keluarga Berlian, mereka bergantian menjaga Berlian dan bayinya. Dan harapan mereka hanya satu, adalah bahwa Berlian dapat kembali terbebas dari koma nya.
__ADS_1
..........
Sementara itu, Arash tahu bahwa Berlian dan bayinya selamat dari racun itu, dan Arash pun tahu kalau Berlian tengah di rawat bersama bayinya pada salah satu rumah sakit besar.
Sejak dia tahu Berlian di rawat, ia selalu berusaha untuk mengunjungi Berlian dengan cara mengendap-endap masuk kedalam rumah sakit tersebut, namun untuk masuk kedalam ruang perawatan Berlian tidaklah mudah.
Arash yang merasa kesulitan untuk dapat sekedar melihat Berlian, terlihat marah karena sulitnya akses masuk kedalam ruang perawatan itu. Tentu saja sangat sulit sekali untuk masuk kedalam sana karena Jodi telah bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk memberikan keamanan yang maksimal bagi istri dan putrinya. Selain keluarganya, tidak ada seorang pun yang boleh masuk kedalam ruangan pasien istimewa itu. Bahkan Jodi menempatkan orang-orangnya di beberapa titik demi keamanan istri dan anaknya itu.
“Sial!!!. Begitu sulitnya untuk tembus masuk ke dalam sana. Apa harus dengan cara seperti itu mereka menutup jalan gue! Dasar manusia serakah kau Jodi!.” Geram Arash seraya melempar sesuatu.
Setelah lama ia terdiam, sepertinya ia mendapatkan ide.
“Baiklah kalau kalian memaksa! Gue tidak akan menyerah. Bagaimana pun caranya, gue harus bisa masuk menemui perempuan gue. Tidak ada yang tidak bisa buat gue!.” Kata Arash dengan sorot mata pembunuhnya.
Bergegas ia menyalakan laptopnya. Sepertinya ia akan melihat denah rumah sakit tempat Berlian di rawat. Ia akan mempelajari denah rumah sakit itu dan mencari celah jalan masuk ke ruang perawatan Berlian.
Begitu seriusnya ia mempelajari denah itu pada laptopnya hingga Sansan yang baru datang pun tak ia hiraukan.
“Serius bener!.”
“Diem luh!.”
“Lagi ngapain sih?.”
Tapi Arash tidak menjawab, ia tetap fokus pada layar laptopnya. Karena penasaran, Sansan mendekati Arash dan melihat ke layar laptop itu.
“Denah gedung apaan ini?.” Tanya Sansan mengernyitkan dahinya.
“Rumah sakit.” Jawab Arash pendek. Terlihat Sansan manggut-manggut sembari memandangi denah itu, tapi kemudian,
“Hey bro! Jangan bilang elo lagi cari cara buat masuk kesana?.”
“Kalau elo udah tahu, diem luh!.”
“Elo gila ya? Cari masalah aja.”
“Gue bukan cari masalah, tapi gue mau cari perempuan gue.”
“Elo jangan gila Ar. Ngapain elo sampe segitunya bela-belain buat dapatin dia, gue heran sama elo. Apa di dunia ini udah gak ada cewek lain yang bisa menarik hati elo selain dia hah?!.”
“Gak ada San. Gue pengen dia. Gak mau yang lain. Gue harus dapatin dia.”
“Gila!!! Elo bener-bener udah gila!.”
“Terserah elo mau ngomong apa.” Arash yang tetap fokus pada layar laptopnya.
“Susah emang kalau orang udah jatuh cinta. Ngomong apa juga gak bakalan di denger.”
Kemudian terlihat Arash seperti mendapatkan jalan, ia tersenyum bagai mendapatkan sesuatu yang membuatnya bahagia.
“Gue udah dapat jalannya sekarang haha… .” Kelakar Arash bahagia. Sementara Sansan hanya memandangi tingkah temannya itu.
“Jangan bawa-bawa gue ya?! Gue gak mau sport jantung yang kedua kalinya.”
“Siapa bilang gue mau bawa elo! Gue bisa melakukannya sendiri haha….” Kelakar Arash.
“Oh Berlian, tunggu aku… aku akan datang menemuimu sayang.” Sambungnya.
Bergema tawanya di dalam kamar besar itu. Seperti orang gila Arash menumpahkan kebahagiaannya dengan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur sembari memejamkan matanya dengan menyiratkan senyuman di bibirnya seolah ia tengah berada di dekat perempuan tercintanya.
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Terima kasih yang sudah meninggalkan jejaknya🥰🥰🥰