
Waktu yang terus berjalan membawa cerita setiap makhluk bumi, bagai angin yang menghempas debu menjadi sebuah kisah masa lalu. Di hari depan sang waktu kembali menyajikan cerita yang berbeda, menghantarkan pilihan seolah memberi kesempatan pada kita untuk terus belajar dewasa dengan kisah yang beraneka rupa.
Angin telah menghempaskan Jodi dan Berlian kembali ke tanah air. Suka cita yang mereka rasakan terpancar dari wajah keduanya.
Setelah turun dari pesawat, Jodi dan Berlian langsung di antar oleh asistennya ke sebuah perkebunan di puncak Jawa barat.
Disanalah orang tua Jodi tinggal setelah mereka merasa bosan dengan hiruk pikuk kehidupan kota besar.
Kedua orang tua Jodi sudah sepuluh tahun lebih tinggal di daerah tersebut. Disana mereka tinggal pada perkebunan teh milik mereka.
Ayah Jodi bernama Ferry Bagjadireja dan ibunya bernama Eva Peminov keturunan Belanda.
Setelah menempuh penerbangan kurang lebih dua hari, akhirnya Jodi dan Berlian sampai di tanah air tercinta. Dan kini mereka tengah melakukan perjalanan menuju perkebunan tempat orang tua Jodi tinggal.
Terlihat ketegangan pada wajah Jodi sementara Berlian terlihat begitu sumringah.
“Papa tegang ya?.” Goda Berlian.
“Ah… ini semua karena permintaanmu yang aneh-aneh sih.”
“Tenang saja papa jangan gugup, kan ada aku hehe.”
“Pokoknya kau harus bertanggung jawab nanti jika sesuatu terjadi padaku, mungkin saja singa itu akan mencabik-cabik tubuhku.”
“Singa itu tidak akan berani karena ada aku, coba saja lihat nanti.”
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, akhirnya mereka sampai pada sebuah perkebunan teh yang luas, mobil mereka memasuki perkebunan teh tersebut, nampak dari kejauhan rumah model lama bergaya belanda dengan halaman yang luas seolah menyambut kedatangan mereka.
Mobil yang membawa mereka sampai pada halaman rumah tersebut. Kemudian Berlian turun dari mobilnya dan berlari ke arah rumah tersebut di susul Jodi yang terlihat malas di belakangnya. Sementara Riksa yang mengantar mereka begitu menikmati pemandangan indah di sekitarnya.
Berlian mengetuk-ngetuk pintu rumah itu, namun tak ada jawaban, akhirnya ia berjalan melalui halaman samping menuju halaman belakang rumah tersebut.
Pada halaman belakang nampak terlihat olehnya, Ferry ayahnya Jodi tengah duduk pada sebuah kursi rotan menikmati kopinya, sementara istrinya Eva tengah berada di kebun belakang rumah, sedikit jauh dari tempat Ferry tapi masih dapat terlihat dari sana.
“Hai opa!.”
Suara Berlian mengejutkan Ferry yang tengah memandangi istrinya di kebun sedang memetik sayuran.
“Hai… siapa kau anak cantik?.” Sapa ramah Ferry.
“Opa sudah lupa padaku?.” Berlian mendekati Ferry.
“Sebentar, opa ingat-ingat dulu ya?.”
“Aku Berlian opa.” Teriak gadis itu.
“Oh ya… kau sudah besar rupanya. Sedang apa kau disini nak?.”
“Tentu saja aku mengunjungi opa.”
“Bersama siapa kau kemari?.”
“Tentu saja bersama papa Jodi putra mu. Oya? Dimana oma?.”
“Tuh sedang memetik sayuran.”
“Aku kesana ya opa?.”
“Ya silahkan.”
Kemudian terlihat Jodi menghampiri Ferry dari arah samping rumah itu. Ferry melihat penampakan Jodi yang datang kearahnya.
“Mau apa kau kemari?.” Tanya sinis Ferry.
“Ya Tuhan… baru saja datang papa sudah sebegitu bengisnya.”
“Kau sudah lupa?.”
__ADS_1
“Apa?.” Tanya balik Jodi yang merasa tidak mengerti.
“Aku mengijinkan kau kembali asal kau datang bersama calon istrimu.”
“Saya kira papa sudah lupa akan hal itu.”
“Aku tidak akan pernah lupa apa yang pernah aku ucapkan! Sampai kapan kau akan terus-terusan seperti ini, kau tahu? Teman-temanmu sudah ada yang memiliki cucu sementara kau sampai tua belum mempunyai anak juga!.”
“Mulai lagi deh yang di bahas itu-itu mulu dari puluhan tahun yang lalu. Apa papa tidak bosan membahas itu terus hah!.”
“Lalu kau sendiri? Apa tidak bosan hidup sendiri terus sampai tua seperti ini?. Kapan kau akan memberikan aku cucu hah?.”
“Tahun depan! Aku pastikan akan memberikan cucu buat papa!.” Tegas Jodi.
“Hah! kamu selalu saja bilang begitu.” Kata Ferry seraya menyeruput kopinya, kemudian mengalihkan pandangannya pada Berlian dan Istrinya.
“Dia sudah besar.” Kata Ferry yang memandangi Berlian yang tengah asik bersama istrinya di kebun belakang. “Kau masih mengurus anak itu?.” Sambung Ferry, dan Jodi mengangguk.
“Sampai kapan kau berhenti mengurusi anak itu? Hingga kau lupa bahwa kau juga harus memiliki anak dan mengurus anakmu sendiri. Bukannya dia sudah besar dan bisa mengurus dirinya sendiri?.”
“Dia yang ingin datang menemui kalian. Kalau bukan karena dia meminta untuk datang kesini, aku tak akan mau datang kerumah ini.”
“Kau…. Bener-bener ya!.” Kata kesal Ferry.
“Abisnya pulang juga kalau papa marah-marah terus buat apa? Bising telinga aku pa!.” Kemudian Jodi masuk kedalam rumahnya lewat pintu belakang hendak membuat kopi untuk dirinya.
*
Sementara itu, pada kebun belakang rumah, Eva yang terlihat tengah asik mengambil sayuran di kagetkan dengan suara seorang gadis.”
“Hay oma!.”
“Hai… bukankah kau….”
“Ya aku Berlian oma.”
“Sama putra oma lah, dengan siapa lagi aku datang kemari kalau bukan bersama dia.”
“Benarkah? Dimana dia sekarang?.”
“Tuh lagi ngobrol sama opa.”
Kemudian Eva melihat dari jauh, Jodi yang tengah berdiri di belakang rumahnya memandangi kearahnya, kemudian Eva mengangkat tangannya kala Jodi melambaikan tangan kearahnya.
“Dengan siapa lagi kalian kemari?.”
“Asisten papa, kak Riksa.” Jawab Berlian sembari membantu Eva memetik sayuran.
“Oh, hanya bertiga?.”
“Ya kami hanya bertiga oma. memangnya kenapa?.”
“Opamu melarang papamu pulang, kalau dia tidak membawa calon istrinya ke rumah. Oma pikir dia membawa calon istrinya kesini, siap-siap saja opa ngomel sama papamu itu.”
“Hehe… oya oma tau maksud papa datang kemari?.”
“Tidak! Dia tidak memberitahuku dulu sebelumnya, biasanya kalau dia mau pulang dia selalu menelponku, dan kita bertemu sembunyi-sembunyi karena takut opamu marah hehe.”
“Papa kesini karena dia mau nikah oma.”
Mendengar penuturan gadis itu Eva sedikit terhenyak dan merasa tidak percaya. “Benarkah? Apa dia sudah menemukan jodohnya?.”
“Sudah oma.”
“Syukurlah, akhirnya kemarahan papa nya akan berakhir. Lalu siapa calon istrinya? Apa dia wanita baik?.”
“Tentu saja dia wanita baik oma, dan mereka saling mencintai.”
__ADS_1
“Syukurlah. Aku takut dia mendapatkan wanita seperti yang sudah-sudah. Oma kasihan pada papamu itu, begitu lamanya dia menduda, oma menduga karena ia trauma dengan pernikahannya dulu.”
Kata-kata Eva membuat Berlian terdiam, kemudian,
“Kenapa calon istrinya tak ia bawa sekalian kesini, ada dimana dia sekarang?.” Tanya Eva.
“Disini… disamping oma hehe.” Kata gadis itu dengan senyum polosnya. Sementara Eva merasa bingung karena tidak ada lagi orang lain di sana selain mereka Berdua.
“Aku calon istri papa, oma.” Kata Berlian seraya tersenyum manis.
Mendengar kata-kata gadis itu membuat Eva syok sesaat, wajahnya pucat pasi dengan mulut menganga. Melihat reaksi Eva, Berlian sedikit terkejut, dengan cepat ia mengambil air minum yang kebetulan saat itu di sebuah meja kayu terlihat botol minuman yang diduga minuman milik Eva. Dan Berlian membantu Eva memberikan air itu.
“Aduh… oma… tenang…. Ayo oma minum dulu, oma relaks ya? Tarik nafas kemudian buang perlahan… ayo lakukan berulang-ulang oma.” Kata Berlian sedikit panik. Setelah beberapa lama, terlihat Eva mulai tenang dan terlihat wajahnya sudah tidak pucat lagi namun matanya terus menatap Berlian, sepertinya ia tak mampu berkata-kata.
“Pasti oma terkejut kan mendengar kenyataan ini? Kami datang kesini untuk meminta restu pada oma dan opa, kami saling mencintai dan kami memutuskan untuk menikah.” Kata gadis itu polos dan Eva masih terdiam dan masih tak mampu berkata-kata.
“Awalnya diantara kami tidak memiliki rasa cinta satu sama lain, namun semakin hari waktu semakin membawa perasaan kami pada sesuatu yang membuat kami saling nyaman. Aku sangat mencintai putra oma, hanya dia yang bisa membuat aku bahagia, aku tidak bisa hidup tanpa dia oma. Jadi restuilah kami oma. Aku mohon… jangan pisahkan kami.” Berlian memohon dengan mata yang berkaca-kaca membuat Eva tidak tega melihatnya.
“Eh….. Sssssstt…. Jangan kau menangis sayang…. Sudah… sudah, ayo kita lanjutkan ngobrolnya di rumah.” Kemudian Eva membawa gadis itu kerumahnya.
*
Sementara itu Jodi yang telah membuat kopi dan kini kopi itu ditangannya, memandangi dari kejauhan ibunya dan Berlian yang tengah akrab berbincang.
“Kau tahu?! Aku akan berenti marah-marah padamu kalau kau sudah membawa calon istrimu kemari. Sekarang katakan! Kapan kau akan membawa calon istrimu menemui kami? Hah!.” Tanya ketus Ferry.
“Aku datang hari ini kesini membawa calon istriku seperti apa yang papa minta!.”
“Lalu dimana dia sekarang?.” Tanya Ferry, Kemudian Jodi mendekati ayahnya dan membawa ayahnya berdiri lalu menggandengnya dan berjalan beberapa langkah membawa ia memandangi Eva dan Berlian.
Jodi menunjuk Berlian dengan wajahnya, “tuh calon menantu papa sedang berbincang dengan mama disana.” Kata Jodi. Mendengar apa yang Jodi katakan sontak membuat Ferry syok setengah mati.
Reaksi Ferry sama dengan reaksi Eva tadi, Ferry terlihat pucat pasi dan membulatkan matanya.
“Omong kosong apa yang kau ucapkan! Dasar anak nakal! Dari dulu sampai se-tua ini bisa nya selalu membuat rusuh di keluarga.” Ferry memukul-mukul lengan Jodi.
“Aw… eh… papa… berhenti memukulku… papa hentikan!.”
“Kau bercanda tidak lucu!.”
“Tapi ini kenyataan papa. Aku akan menikah dengannya! Makanya aku bawa dia kesini menemui kalian!.”
“Anak gila! Kau sudah tidak waras! Bagaimana mungkin kau menikahi bayi kecilmu itu hah!. Apa yang sudah kau lakukan padanya?! Dia masih kecil, usianya saja belum cukup umur untuk menikah. Jangan-jangan kau menghamilinya! Katakan padaku!.” Kata Ferry yang terus memukul-mukul Jodi.
“Papa… aw… hentikan… sakit papa… papa berhenti!.” Teriak Jodi lalu Ferry menghentikan pukulannya. Dan mengusap kasar rambutnya kemudian duduk di kursi semula.
“Pa… tolong dengar penjelasanku. Awalnya diantara kami berjalan normal layaknya seperti ayah dan anak, namun seiring berjalannya waktu perasaan kami tumbuh dan kami juga tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi. Kami saling mencintai pa, kami tidak bisa hidup terpisah, kami berencana menikah dan tolong berilah kami restu.”
“Heh! Kau sadar apa yang kau ucapkan itu hah?!. Bagaimana mungkin dia bisa mencintai pria yang usianya seumuran ayahnya!.”
“Tapi itu kenyataannya pa. Dia begitu mencintaiku begitupun denganku pa, tolong mengerti kami.”
“Kau tahu! Apa yang kau lakukan itu adalah masalah besar! Mana mungkin keluarga gadis itu akan memberikan Berlian padamu. Kau sadar itu Jodi! Kau hanya menambah masalah saja. Apa yang akan aku katakan pada Budi dan istrinya hah! Kau bikin malu saja!.”
“Pa… sepertinya mereka sudah tahu kalau kami saling mencintai hanya saja kami belum bertemu kembali setelah Berlian kabur dari pertunangannya dengan lelaki pilihan keluarganya. Aku membawa dia kesini setelah aku membebaskan dia dari orang yang menculiknya ke negara X. Dan atas permintaan dia, kita datang kesini untuk meminta restu papa. Papa tahu? Dia tak mau pulang kalau belum bertemu kalian.”
Kemudian keduanya terdiam saat melihat Berlian menunjukan wajah yang sedih, dan Eva berusaha menenangkannya.
“Jodi, bawalah Berlian jalan-jalan dulu di kebun teh, pemandangannya bagus sekali. Mama mau bicara penting sama papamu.” Kata Eva, memberi isyarat dengan matanya pada Jodi. Dan tentu saja Jodi mengerti lantas membawa Berlian pergi.
Sementara itu Eva duduk pada kursi rotan sebelah suaminya dengan memijat-mijat dahinya.
Bersambung
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih yang sudah Like, vote, dan favoritenya🥰😍😍
__ADS_1