Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Baby Boy


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dari kebahagiaan yang dirasakan oleh Berlian dan keluarga. Hari ini mereka sudah berada di rumah kembali.


Jodi dan Riksa bekerja di rumah. Mereka sibuk di ruang kerja rumah itu.


Sementara Berlian sudah dapat berjalan kembali meski harus di bantu dengan memakai tongkat. Ia terus berlatih untuk melancarkan kakinya agar dapat berjalan seperti biasa lagi.


Siang ini Berlian di temani Maurin berlatih di taman rumahnya. Terlihat ia tengah berjalan memakai tongkat ke ujung kolam renang kemudian kembali lagi, terus seperti itu.


“Bagus Berli. Kamu semakin lancar sekarang, ayo semangat!.” Ujar Maurin meneriaki Berlian yang tengah berjalan dari ujung kolam ke arah Maurin.


“Sepertinya bulan depan aku sudah bisa berjalan lancar ya Maurin?.”


“Iya dong… makanya harus sering di latih, ayo tetap putus asa jangan semangat! Hehe.”


“Ish… dasar kau!.”


“Hehe… Oya Berli? Dokter yang memeriksamu kemana ya? Kok gak datang-datang lagi?.”


“Gak tau! Mati kali dia.”


“Ish jangan gitu. Ibu hamil harus banyak amit-amit jangan ngomong sembarangan tahu! Kamu sehat kembali kan atas bantuan dia juga.”


“Iya amit-amit deh… tapi kalau akhirnya jadi masalah, aku males dokter itu datang lagi kesini.”


“Masalah apa?.”


“Itu suamiku sepertinya cemburu sama dia.”


“Ya wajarlah Berli namanya juga suami. Suami mana sih yang gak cemburu lihat istrinya lengket sama dokter ganteng kayak dia.”


“Ya tapi kan dia lagi ngobatin aku. Gak perlu juga cemburu kayak gitu.”


“Tapi memang kata kak Riksa juga dokter itu kadang terlihat mencurigakan Berli. Eh tapi bener kan? Kamu gak pernah di apa-apain sama dia?.”


“Ya gak lah Rin. Dia juga takut kali mau ngapa-ngapain aku di rumahku sendiri. Lagi pula aku rasa dia biasa saja dalam memperlakukan aku, gak ada hal yang mencurigakan.”


“Iya juga sih. Tapi mungkin suamimu melihatnya lain Berli.”


Kemudian terlihat Delima, Irma dan Eva mendekati mereka berdua.


“Eh bagaimana kondisi kandunganmu sayang?.” Tanya Eva pada Berlian.


“Baik-baik saja ma gak ada keluhan.”


“Kapan mau USG lagi? Biar kita tahu dia laki-laki atau perempuan.” Tanya Delima.


“Iya ya aku belum USG lagi.”


“Bagaimana kalau hari ini saja sayang, kita antar kamu ke dokter Obgyn lagi.” Kata sang oma.


“Boleh oma, nanti aku bilang dulu sama papa.”


“Gak usah. Biar ibu saja yang bilang sama papamu.” Kata Delima, kemudian, “Maurin tolong pegang dulu Miriam ya? Aku mau ngomong sekarang sama papanya buat minta ijin pergi hari ini ke dokter Obgyn.” Sambung Delima, kemudian ia berlalu kedalam rumah setelah menyerahkan Miriam pada Maurin.


Sesampainya di ruang kerja Jodi,


“Ada apa Del?.” Tanya Jodi yang tengah berbincang bersama Riksa di meja kerjanya.


“Aku mau minta ijin sama kakak.”


“Ijin apa?.”


“Hari ini aku mau bawa Berlian ke dokter buat USG.”


“Aku lagi sibuk Del, besok aja deh.”


“Kalau kakak sibuk, kita saja yang antar Berlian, kalian laki-laki nunggu kabar saja di rumah.”


“Aku kan bapaknya, aku harus mendampingi dia, nanti dokter nanya mana suaminya?.”


“Tapi kan ada ibunya dan mertuanya juga oma nya yang antar.”


“Iya Boss mending kita di rumah saja, gue masih trauma kalau datang ke dokter Obgyn, khawatir kerusuhan waktu USG Miriam terulang kembali haha.” Kata Riksa.


Setelah lama berfikir, akhirnya Jodi mengijinkan mereka mengantar Berlian ke dokter kandungan tanpa dirinya.


“Ya udah, tapi hati-hati ya?.”


“Ok.” Jawab Delima seraya berlalu meninggalkan ruang kerja Jodi.


Setelah sampai pada sekumpulan para wanita kembali, Delima menyampaikan pada mereka kalau Jodi mengijinkan mereka mengantar Berlian ke dokter obgyn.


Setelah mereka semua bersiap-siap, akhirnya mereka pergi meninggalkan rumahnya menuju tempat tujuan.


Sementara itu sepeninggalan Delima, Jodi yang di ruang kerjanya bersama Riksa, tengah sibuk di depan laptopnya.


“Boss, apa si Alfredo ada menghubungi Boss?.”

__ADS_1


“Gak ada Rik.”


“Kemana dia ya? Apa Boss gak coba hubungi dia, iseng-iseng aja nanyain kapan mau memeriksa kondisi bini, gitu?.”


“Males gue.”


“Hehe cemburu ya?.” Goda Riksa.


“Emangnya elo gak akan cemburu sama orang lain yang pegang-pegang cewek elo, hah?.”


“Ya cemburu lah.”


“Ya sama gue juga begitu.”


“Kalau begitu udah aja ganti dokter Boss.”


“Iya gue belum sempet hubungi rumah sakit, boleh gak nya ganti dokter.”


“Ya udah, gue hubungi rumah sakitnya sekarang ya?.”


“Ya udah, coba aja elo hubungi Direkturnya.”


“Ok siap!.”


Kemudian Riksa menghubungi pihak rumah sakit dan bicara dengan Direktur rumah sakit tersebut melalui sambungan ponselnya.


................


Hari ini Alfredo dan Krista terlihat sudah berada di apartemennya kembali, setelah beberapa hari mereka berada di Kota P.


Mereka tengah berbincang di kamar mereka.


“Al, sebenarnya aku kenapa ya?.”


“Maksud kamu?.”


“Akhir-akhir ini aku merasa tubuhku lemas Al.”


“Aku kan sudah periksa kamu, kamu tidak ada penyakit apa-apa.”


“Tapi rasanya kok lemas gini ya? Apa aku periksa ke dokter aja ya?.”


“Untuk apa? Aku sendiri dokter yang bisa memeriksamu setiap waktu. Datang ke dokter mana pun diagnosanya pasti sama dengan diagnosaku. Kamu gak percaya sama aku?.”


“Buka begitu Al, mungkin saja aku memiliki penyakit yang belum bisa terdeteksi jadi harus di periksa lebih lanjut gitu.”


“Aku akan memeriksamu setiap hari Krista. Jika ada penyakit di dalam tubuhmu, aku akan segera menghubungi temanku untuk membawamu ke rumah sakit miliknya, untuk sekarang kamu memang tidak ada apa-apa.”


“Bisa jadi kamu hanya kelelahan atau memang kondisimu sedang tidak fit saja Krista. Jadi jangan terlalu di pikirkan, nanti kamu malah stress, sekarang kamu harus banyak istirahat saja. Kamu lupa? Kamu itu aktif dari dulu mengurusi bisnismu, bisa jadi yang kamu rasakan sekarang, efek dari kesibukan kamu dulu yang tidak mengenal waktu hingga kamu tak perduli akan kesehatanmu.” Jelas Alfredo.


“Ya mungin juga begitu. Makasih ya Al, kamu mau mengurusiku.”


Terlihat Alfredo hanya mengangguk, kemudian, “Istirahatlah, aku akan membuatkan makanan untukmu.” Alfredo berlalu meninggalkan Krista di kamarnya.


‘Sepertinya, semakin hari kondisimu semakin memburuk Krista. Baguslah! Salahmu sendiri. Harusnya kau tak menemuiku lagi. Wanita sepertimu tidak pantas di jadikan pendamping hidup, tapi kau lebih pantas di jadikan mainan. Seharusnya dulu kau bersyukur, di cintai olehku. Tapi kau malah memilih laki-laki itu hanya karena dia lebih populer. Aku memang bodoh! Bahkan sangat bodoh, terlalu mudah jatuh cinta dan mengalah. Padahal di luar sana masih ada wanita yang lebih mempesona. Oh… Berlian, bagaimana kabarmu? Kuharap sekarang kau sudah dapat berjalan. Besok aku akan menemuimu… tunggu aku.’ Bathin Alfredo sembari mengaduk nasi tim yang ia buat untuk Krista, dan seperti biasa ia memasukan obat yang sudah di tumbuk halus kedalamnya.


Sebelum ia mengantarkan nasi tim itu ke kamar, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.


“Hallo Dre bagaimana?.”


“Harga rumah itu 10 Milyar deal nya Al.” Suara Andre di balik ponsel.


“Ok, gue transfer sekarang juga setengahnya, sisanya lusa gue kesana sekalian ngurus-ngurus sertifikatnya. Tolong kirimin nomor rekening orangnya Dre.”


“Siap!.”


Setelah Andre mengirimkan nomor rekening pemilik rumah itu, Alfredo langsung mentransfer sejumlah uang.


Lalu ia menutup pembicaraannya dengan Andre dan berlalu ke kamar membawa makan dan minum untuk Krista.


Sesampainya di dalam kamar, ia melihat Krista tengah terbaring,


“Ini makanan mu, bangunlah.” Kata Alfredo seraya meletakan makanan itu pada meja nakas kemudian membantu Krista untuk menyandarkan tubuhnya.


“Terima kasih Al. Dan maafkan aku, aku jadi merepotkanmu.”


“Tidak apa-apa. Ini sudah kewajibanku.”


Kemudian Krista mulai memakan nasi tim yang tadi Alfredo buatkan untuk dirinya.


“Oya? Besok aku akan memeriksa nyonya Jodi, kemudian lusa aku akan ke Bandung ada pertemuan disana.”


“Ya pergilah Al.”


Ditengah-tengah kebersamaan mereka, tiba-tiba ponsel Alfredo berbunyi, dilihatnya Direktur rumah sakit menghubunginya. Kemudian Alfredo berjalan menuju balkon apartemennya.


“Hallo pak!.” Sapa Alfredo.

__ADS_1


“Ya Hallo dokter Alfredo. Maaf saya mengganggu waktu anda sebentar. Begini, saya mau memberitahukan bahwa tadi asisten tuan Jodi menghubungi pihak rumah sakit, karena kondisi nyonya Jodi semakin hari terlihat semakin membaik, jadi sepertinya dokter Alfredo tidak perlu datang lagi ke kediaman mereka untuk melakukan kontrol kesehatan nyonya Jodi, karena mereka meminta untuk datang kerumah sakit saja setiap minggunya.” Suara sang direktur dari balik ponsel.


Mendengar apa yang dikatakan sang direktur, Alfredo begitu kecewa, bagaimana tidak? Harapannya untuk berdekatan lebih lama dengan Berlian pupus seketika, karena jika Berlian melakukan kontrol ke rumah sakit tentunya waktu yang ia gunakan sangatlah singkat.


“Tapi maaf pak, besok saya ada jadwal untuk datang ke kediaman mereka.”


“Ya mungkin besok terakhir anda datang mengunjungi kediaman mereka. Untuk selanjutnya nyonya Jodi akan mendatangi rumah sakit dalam melakukan kontrol kesehatannya.”


“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya pak.”


“Ya.”


Kemudian mereka mengakhiri perbincangannya.


Setelah Alfredo mengakhiri perbincangannya dengan direktur rumah sakit itu, ia diam menjuruskan pandangannya keluar jendela menerawang jauh.


‘Kenapa kalian tak menanyakan dulu padaku? Bukankah lebih baik aku yang menyampaikan pada pihak rumah sakit seandainya nyonya Jodi ingin di rawat jalan saja. Apa yang kalian pikirkan tentang aku? Apa kalian sudah tidak percaya lagi padaku?. Tidak semudah itu kalian bertindak tanpa persetujuanku. Aku yang lebih tahu kondisi pasienku. Kalian sudah bertindak gegabah denganku!.’ Geram Alfredo.


Kemudian Alfredo kembali ke dalam kamar dengan membawa pikiran kacaunya. Lalu ia duduk di samping Krista yang hampir saja menghabiskan nasi tim nya.


“Apa kata Direktur?.” Tanya Krista.


“Direktur mengatakan bahwa besok adalah hari terakhir aku melakukan terapi pada nyonya Jodi, jadi aku bisa leluasa punya banyak waktu untuk menjagamu.” Alfredo menutupi rasa kecewanya dengan mengatakan hal itu agar Krista tak curiga.


“Benarkah? Apa kau yang meminta untuk berhenti melakukan terapi padanya?.”


“Iya.” Kata bohong Alfredo tercetus untuk meyakinkan Krista padahal kenyataannya tidak seperti itu.


“Oh Alfredo padahal kau tidak perlu melakukan itu. Aku tersanjung dengan apa yang kau lakukan, demi aku, kau rela melakukan ini semua.” Ucap haru Krista yang sudah terpengaruh dengan kebohongan Alfredo.


“Kamu lebih penting dari pekerjaanku Krista.” Lagi-lagi Alfredo mengatakan kebohongan di atas kebohongan lainnya.


“Terima kasih Al.” Krista memeluk erat Alfredo.


‘Mungkin sekarang kau bahagia mendengar semua ini, tapi aku sangat kecewa Krista. Semua ini karena mu yang tiba-tiba datang untuk merusak segala rencanaku. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus segera membuatmu lemah dan mengirimmu ke panti jompo, agar aku dapat lebih leluasa melakukan rencanaku.’ Bathin Alfredo dalam pelukan Krista dengan mengeratkan giginya seolah meredam amarah dalam hatinya yang tengah meletup-letup.


Sepertinya Alfredo telah gelap mata, ia semakin gila melakukan rencana jahatnya pada Krista. Dalam rencananya, ia akan membuat Krista lumpuh total dengan obat-obatan yang ia berikan.


Lalu setelah Krista tak berdaya, ia akan mengirimkan Krista ke panti jompo milik keluarganya yang berada di luar kota.


..............


Kembali pada keluarga Berlian. Sore itu mereka telah kembali pulang ke kediamannya setelah mendatangi dokter obgyn.


Jodi yang sudah tidak sabar langsung menyambut istrinya dan gank emak-emak yang mengatar istrinya itu.


“Bagaimana hasilnya? Kalian susah di hubungi, ratusan kali aku menghubungi kalian, satu pun gak ada yang nyahut.” Ucap kesal Jodi pada gank emak-emak itu.


“Kami terlalu bahagia jadi tidak perduli dengan suara ponsel, maaf ya kak.” Ujar Delima.


“Ah kalian ini. Bagaimana sayang hasilnya?.” Tanya penasaran Jodi pada istrinya.


“Hehe… yeah… baby boy ada di dalam sini.” Ucap riang Berlian mengelus perutnya.


“Benarkah?.. Alhamdulillah, Adiknya Miriam Cowok ya sayang?.” Kata senang Jodi lantas mencium perut istrinya yang sudah terlihat membulat.


“Iya papa… jadi kali ini aku yang memberi nama anak kita.”


“Iya sayang… carilah nama yang bagus untuk putra kita. Oya? Kalian lama sekali sore hari baru pulang?.”


“Setelah pulang dari dokter kita jalan-jalan dulu ke mall hehe.” Jawab Eva.


“Pantas saja kalian baru pulang.”


“Iya. itu karena baby boy nya minta jalan ke mall, kalau gak di turutin nanti dia ngeces, sayang kan? Masa bayi ganteng nantinya ngeces.” Ujar Irma.


“Ah itu sih bukan keinginan putraku, pastinya juga maunya kalian!.” Kata Jodi.


“Hehe… kita sekalian belanja bulanan.” Jawab Delima.


“Ya sudah sekarang pada istirahat sana. Pasti kalian pada capek. Ayo sayang mandi dulu.” Ajak Jodi pada istrinya.


Kemudian mereka semua bubar masuk ke kamarnya masing-masing.


Sesampainya di dalam kamar. Jodi menyiapkan air hangat untuk mandi istrinya.


“Sayang… tadi Riksa sudah menghubungi pihak rumah sakit. Jadi besok adalah hari terakhir dokter Alfredo melakukan terapi padamu. Untuk selanjutnya kita datang ke rumah sakit setiap seminggu sekali.”


“Iya papa, gimana baiknya saja. Bukankah tempo hari juga aku minta begitu kan? Papa sendiri yang bilang kalau bolak balik ke rumah sakit ribet.”


“Iya sayang, setelah papa pikir-pikir, papa setuju ide kamu itu.”


“Baiklah kalau begitu. Ayo…” Berlian mengangkat tangannya minta di bawa ke kamar mandi oleh suaminya.


Lalu Jodi membawa tubuh istrinya ke kamar mandi, ia buka seluruh pakaiannya dan meletakan tubuh istrinya itu keatas bathtub yang sudah di penuhi air dan busa sabun.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞

__ADS_1


Jangan lupa ritual jempolnya ya reader tersayang 😍


Makasih🥰


__ADS_2