Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Ketegangan yang terjadi


__ADS_3

Warning!!!!!


Terdapat konten 21+


Harap bijak menyikapinya!!!


Happy Reading!!


.................


“Apa!!! Kok kakak bisa sampai kepikiran kesana sih?.” Tanya Maurin heran.


“Aku dapat melihat dari bahasa tubuhnya Rin, coba aja nanti buktikan sendiri. Oya, kamu mau melakukan sesuatu gak buat nolong temanmu itu?.”


“Melakukan apa?.”


“Kamu udah masuk musim liburan kan? Nah kalau bisa kamu temenin Berlian dirumah dari pada maen-maen gak jelas.”


“Yey… Emangnya aku suka maen-maen gak jelas apa? Aku kan maen kalau kakak ngajak ke luar, kalau enggak ya aku di rumah aja, ya palingan kalau maen juga ke rumah ini.”


“Iya… iya deh. Jadi gimana? Mau kan temenin dia disini? apalagi kalau ada dokter itu, nanti kamu perhatiin gerak geriknya. Kamu akan tahu sendiri. Aku takut lama-lama dia melakukan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan. Soalnya bu Eva dan pak Ferry kan lagi gak ada di rumah ini, bu Delima juga lagi sibuk sama pantinya. Kalau ada mereka sih banyak yang ngawasin.”


“Iya aku mau deh, lagi pula sering-sering disini kan jadi bisa sering ketemu kakak hehe.”


“Hehe kamu itu ya!.” Kata Riksa seraya mengusap pucuk kepala kekasihnya itu.


“Eh tapi mulai besok ya kak? Soalnya aku belum bilang ke mama sama papaku, nanti kakak yang bilang ke mereka biar mereka percaya hehe.” Ujar Maurin dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang kekasihnya itu.


“Ya nanti aku bilang sama orang tua kamu. Ya udah, sekarang kamu pulang yuk, udah mau malem nih.”


“Ok. Yuk kita minta ijin dulu ke mereka.”


Kemudian Riksa dan Maurin pun ijin pulang pada Jodi dan Berlian, lalu meninggalkan rumah itu.


Senja telah beranjak pergi digantikan malam yang dihiasi bintang menambah keindahan pada langit gelapnya.


Malam itu Miriam sudah tertidur di temani Irma di kamarnya. Sementara Jodi dan Berlian tidur pada kamar terpisah.


Pada balkon kamar Jodi berdiri dengan menopangkan kedua tangannya pada pagar pembatas. Pandangannya mengitari suasana sekitar, entah apa yang di pikirkannya.


Melihat suaminya tak biasa melamun seperti itu, Berlian menghampirinya.


“Papa memikirkan sesuatu?.” Kata Berlian tepat di belakang tubuh sang suami.


Kemudian Jodi membalikan tubuhnya dan memandangi istrinya yang tengah duduk diatas kursi roda.


“Ya, aku memikirkan sesuatu yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya.” Balas Jodi dengan menghela nafas panjang.


“Apa yang papa pikirkan? Apa ada hubungannya denganku?.” Tanya Berlian menengadahkan wajahnya pada suaminya yang berdiri menyandarkan diri pada pagar balkon.


“Tentu saja sayang, pikiranku tidak lepas dari dirimu.” Kata Jodi seraya menopangkan kedua tangannya pada kursi roda.


“Lalu apa yang sedang papa pikirkan jika itu menyangkut diriku? Aku perlu tahu itu papa.”


Kemudian Jodi duduk pada sofa, dan Berlian memutar kursi rodanya hingga mereka berhadapan.


“Apa aku berbuat kesalahan padamu papa? Katakan padaku kesalahan apa yang aku lakukan?.” Sambung Berlian.


“Hm.. kau tidak melakukan kesalahan apapun sayang… aku hanya mengkhawatirkanmu.” Ucap Jodi seraya mengelus wajah istrinya dengan punggung tangannya.


“Mengkhawatirkan ku? Apa yang papa khawatirkan dariku?.”


“Aku takut kau tidak pernah jujur lagi padaku, meski alasannya hanya demi menjaga perasaanku.”


“Papa, aku selalu jujur padamu, coba papa bertanya padaku, apa pun itu, aku akan menjawabnya dengan jujur.” Ucap Berlian seraya memegang tangan suaminya.


“Sayang… kau tahu? Banyak pertanyaan dalam benakku, tapi apakah pantas aku tanyakan padamu?.”


“Katakanlah papa, maka aku akan menjawabnya dengan jujur.”


Sesaat hening diantara mereka, hanya buaian angin malam mengibaskankan tubuh kokoh dan rambut panjang sang istri. Kemudian,


“Tadi papa bicara banyak dengan Riksa, dan kau tahu? Kalau Riksa adalah pakar ilmu ekspresi, dia mengatakan pada papa kalau doktermu itu tidak begitu menyukaiku.”


“Apa? Kenapa bisa begitu? Apa yang dia tidak suka dari papa? Bukankah dokter Alfredo tengah merawatku? Kenapa dia bisa tidak menyukai suami pasiennya?.”


“Entahlah… ini hanya baru prediksi saja. Dan kau tahu? Riksa tidak pernah salah dalam memprediksi sesuatu. Oya sayang? apa dia pernah menanyakan tentang aku? Atau bercerita apa saja yang berhubungan denganku?.” Tanya Jodi menyelidik.


“Tidak pernah papa, justru aku yang selalu bercerita padanya tentang papa.”


“Sayang, apa dia pernah mengatakan padamu kalau dia menyukaimu?.”

__ADS_1


“Tidak papa, dia hanya pernah bilang kalau aku adalah pasiennya yang paling cantik.”


“Lalu pujian apa lagi yang dia katakan padamu?”


“Dia mengatakan kalau papa sangat beruntung memiliki aku.”


“Katakan padaku! Selama asistennya tidak ada mendampinginya apa dia yang melakukan terapi pijat padamu?.”


“Iya papa… dia yang memijatku.”


Mendengar. Jawaban sang istri, tiba-tiba kepala Jodi mulai memanas. Lalu ia memangku istrinya dan membawanya kedalam, lalu membaringkan istrinya di atas tempat tidur.


“Dia memijatmu seperti perawatnya memijatmu?.” Tanya Jodi menyelidik kembali seraya mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


“I-iya papa.” Jawab Berlian sedikit ketakutan karena melihat wajah Jodi yang berubah masam.


“Kau tahu?! Aku paling tidak suka tubuh istriku di sentuh lelaki lain walau pun itu adalah dokter yang mengobatimu. Kenapa kau tak bilang padaku?!.” Kata Jodi dengan penuh penekanan.


“Di-dia kan menyentuhku karena sedang melakukan terapi padaku papa.” Jawab Berlian dengan mulut yang bergetar.


“Apa dia memijatmu dalam keadaan tubuhmu telanjang?!.” Tanya Jodi dengan mata yang mulai memerah.


“Ti-tidak papa… a-aku tidak telanjang.. a-aku memakai pakaian.” Berlian ketakutan melihat wajah Jodi dengan nafas yang mulai tersengal penuh nafsu.


“Jangan bohong padaku!!.”


“Aku tidak bohong papa. Aku jujur mengatakan semuanya pada papa.” Terlihat mata Berlian mulai meremang.


“Bukankah perawat-perawatnya jika memijatmu membuka seluruh pakaianmu?! Bagaimana mungkin dokter itu tidak melakukan hal yang sama seperti yang perawat itu lakukan padamu?! Hah?.” Kata Jodi seraya mendekatkan wajahnya di atas wajah istrinya.


“Demi Tuhan papa, dia tidak melakukan hal seperti yang dilakukan perawat itu padaku. Percayalah hiks.. dia memijatku tanpa aku membuka seluruh pakaianku hiks.”


“Aku harap kau jujur tentang itu sayang.. karena aku tidak akan pernah suka ada lelaki lain yang membuka pakaianmu seperti ini!.” Kata Jodi seraya membuka gaun tidur istrinya sedikit kasar.


“Hiks… tidak ada papa, hanya papa yang pernah membuka pakaianku.”


“Bisa saja kan dia melakukannya dan mengancammu?.” Bisik Jodi pada ceruk leher sang istri.


“Tidak papa, itu tidak pernah terjadi.” Jawab Berlian dengan dada yang mulai berdebar karena hembusan nafas sang suami membuat ia merinding.


“Jika itu terjadi… aku tak akan segan-segan untuk membunuhnya!.” Bisik Jodi dengan kecupan yang sudah bergerilya.


“Itu tidak akan terjadi papa...” Balas Berlian yang sudah mulai merasakan kehangatan yang membuatnya melambung.


“Papa….” Desis Sang istri kala merasakan hujaman menerobos tanpa permisi.


Penyatuan mereka semakin membawa keduanya ke puncak Nirwana, hingga keduanya merasakan pelepasan bersama.


Sang suami mendekat dan meraih tubuh ringkih itu membawanya kedalam pelukan seraya mencium keningnya.


“Aku cemburu jika ada lelaki lain yang berusaha mendekatimu.”


“Jika dokter itu hanya akan membawa masalah, sebaiknya papa minta ganti dokter saja pada rumah sakit.”


“Ya, papa akan konsultasikan nanti dengan pihak rumah sakit.”


“Aku tidak ingin ada masalah lagi papa.. aku ingin hidup tenang, dan aku takut jika sudah melihat papa marah padaku seperti tadi.”


“Hey… siapa bilang papa marah padamu, papa hanya marah pada dokter itu yang sepertinya sudah mulai menyukaimu.”


“Tapi itu kan baru dugaan papa… dan aku rasa dia masih wajar memperlakukan aku sebagai pasiennya.”


“Masih wajar bagaimana? Dia sudah berani memijat-mijat tubuhmu. Apa itu wajar? Harusnya itu dilakukan oleh asistennya bukan sama dia. Dan kau tahu? Sebenarnya asistennya tidak ditugaskan ke daerah bencana, tapi memang di berhentikan oleh si dokter me*um itu!.”


“Benarkah?.”


“Kau ingat saat siang tadi kita ke mall? Aku meninggalkan kamu sebentar di food court buat apa coba? Aku dan Riksa menemui kedua asisten itu yang kebetulan Riksa melihat mereka ada di mall itu. Aku sama Riksa menanyai mereka, dan mereka terlihat ketakutan waktu melihat papa dan Riksa mendekati mereka.”


“Oh, jadi mereka membohongi kita papa?.”


“Ya kalau bukan membohongi, apa itu namanya? Mendengar mereka menjelaskan kalau mereka di berentikan si Alfredo saja itu sudah mencurigakan.”


“Papa aku jadi takut… bagaimana jika dia melakukan sesuatu padaku nanti? Ibu kan lagi tidak ada disini, mama sama papa juga lagi ada urusan di perkebunan.”


“Tenang saja, kalau dia datang nanti, papa yang akan awasi dia secara langsung.”


“Bisa kah papa bekerja di rumah dulu hingga aku selesai terapi?.”


“Bisa sayang, mulai saat ini kamu tidak akan ditinggalkan sendiri pada saat melakukan terapi. Papa juga sudah menyuruh Riksa untuk membujuk Maurin biar bisa menemanimu di rumah ini.”


“Serius papa?.” Terpancar keceriaan pada wajah Berlian

__ADS_1


“Ya… coba saja besok kamu tanya lagi pada Maurin, apakah dia mau menemanimu disini selama liburan kuliahnya? Katakan padanya biar dia lebih semangat, papa akan beri dia voucher belanja gratis hehe.”


“Iya papa aku akan bujuk dia besok.”


“Baiklah kalau begitu, mari kita lanjutkan ronde ke dua hehe.”


“Apa?! Ronde kedua?! Ish papa.”


“Hey… jangan menolak perintah suami, dosa besar itu namanya.”


“Hm… baiklah.”


Dan akhirnya mereka pun melanjutkan sesi kedua denga penuh semangat.


........


Sementara itu ditempat lain nampak Alfredo terlihat prustasi dengan wine di tangannya. Tentunya setelah ia mendengar kabar dari pihak rumah sakit bahwa Krista mendatangi rumah sakit untuk menanyakan perihal dirinya.


Dan yang lebih membuatnya merasa kacau adalah pihak rumah sakit memberitahu alamat rumah pasien yang tengah di tangani oleh Alfredo.


Alfredo tidak tahu kalau sebenarnya Krista sudah mendatangi rumah Berlian dan sudah berbincang dengan Jodi.


“Ah sial!!! Apa yang kau inginkan dariku Krista! Kenapa dulu kau meninggalkanku kalau akhirnya kau kembali lagi dan akan menghancurkan hidupku!. Kenapa kau lakukan ini padaku!!.” Teriak Alfredo seraya melemparkan botol minuman di tangannya.


Tanpa ia sadari, seseorang meraih botol minuman yang ia lempar tadi.


Krista mengambil botol minuman itu dan meletakannya di atas meja tidak jauh dari Alfredo duduk. Ia berdiri dengan melipat kedua tangan di dadanya.


“Kenapa? Kau tidak suka dengan kedatanganku? Apa aku telah mengganggu kenyamananmu?.” Kata Krista berdiri tepat di depan Alfredo.


Dengan tatapan pembunuhnya Alfredo memandang ke arah suara itu dengan menengadahkan wajahnya.


“Kau!! Apa yang kau inginkan dariku setelah kau menghancurkan aku hah!.”


“Tentu saja aku ingin memperbaiki segalanya.”


“Memperbaiki apa!! Segalanya sudah tidak dapat diperbaiki!! Kau telah menghancurkan aku!!.” Teriak Alfredo seraya bangkit.


“Aku lebih hancur saat kau menolakku!.”


“Itu salahmu sendiri!.”


“Lalu apakah kau tidak merasa bersalah begitu? Kau juga harus ingat Alfredo!! Seandainya kau mengajakku menikah tentunya aku tak akan memilih lelaki itu!.”


“Aku pernah bilang padamu! Aku akan menikahimu, aku hanya perlu menunggu waktu saja. Apa kau tidak mengerti itu! Aku tidak ingin melangkahi kakakku. Aku hanya meminta padamu untuk bersabar sebentar saja sampai kakakku menikah terlebih dahulu.”


“Sampai kapan aku menunggu kakakmu yang memiliki kelainan itu menikah hah! Sampai kiamat aku menunggu, dia tak akan pernah menikah.”


“Tutup mulutmu!.” Geram Alfredo seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Krista.


“Kau yang harus menutup mulutmu lebih dulu! Kau selalu menyalahkan aku jika sudah membahas pernikahan. Aku bosan menunggu! Kenapa harus takut melangkahi kakakmu itu hah! Kenapa! Kalau kau masih takut, apa susahnya kita nikah diam-diam.”


“Kamu tidak mengerti Krista. Kamu tidak tahu sifat kakakku itu!.”


“Ah masa bodoh dengan lelaki egois itu. Kamu selalu saja membelanya sampai harus mengorbankan masa depanmu. Sementara dia seenaknya saja hidup dalam buaian dosa tanpa memikirkan masa depanmu.”


“Cukup Krista! Jangan pernah kau menghina kakakku lagi.”


“Terus saja kau bela dia! Aku sudah muak dengan kelakuannya.”


“Pergi kau wanita….” Belum sempat Alfredo melanjutkan kata-katanya, Krista sudah menimpali,


“Wanita apa hah! Jangan bilang kau akan mengatakan bahwa aku adalah ja*ang. Setidaknya aku lebih baik dari kakakmu itu.”


“Aaaaaarrrgh….. wanita sialan kau!.” Alfredo menyerang Krista dengan berusaha mencekiknya hingga menyeretnya ke dinding.


“Lepas…. Lepaskan tanganmu.” Kata Krista yang hampir saja kehabisan nafas. Namun dengan cepat ia menghentakkan lututnya ke area sensitif Alfredo hingga akhirnya cekikkan tangan Alfredo dapat terlepas dari lehernya.


Alfredo meringis membungkuk sembari memegang area sensitifnya.


“Kau benar-benar sudah berubah Al. Bahkan kau sudah tidak segan-segan mencekik leherku. Aku akan meminta perhitungan atas semua ini Al. Aku akan membuat kau bertekuk lutut memohon padaku! Ingat itu!.” Geram Krista seraya pergi meninggalkan apartemen Alfredo dengan membawa dendam yang membara.


“Aaaaarrrgh!!! Dasar wanita sialan kau Krista!!.” Teriak Alfredo yang menjatuhkan tubuhnya di lantai dan masih memegang area sensitifnya.


Sementara itu Krista yang berjalan cepat menuju lif menjuruskan pandangannya kedepan dengan penuh amarah dan dendam.


‘Aku tidak pernah menyangka kau akan berubah secepat ini Al. Aku tahu kau begini karena sesuatu telah merubahmu. Jangan kau anggap aku tidak dapat mencari tahu tentang semua ini Al. Sampai mati pun aku akan terus mencari dan mencari sebab kau menjadi seperti ini. Aku Krista Adistya tidak akan pernah menyerah. Camkan itu!.’ Bathin Krista dalam lif yang membawanya ke basement apartemen tersebut.


Sesampainya di basement, ia pacu kendaraannya dalam kecepatan yang sangat tinggi. Memecah keheningan malam yang terasa mencekam bagi hatinya yang tengah dilanda kekecewaan yang mendalam.


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔

__ADS_1


Jangan lupa Like, vote, favorite, hadiah dan komennya ya gais🥰


Terima kasih😍


__ADS_2