Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Pesan yang tertinggal


__ADS_3


Botol itu menari-nari ke bibir pantai tersapu lambaian ombak. Jodi dan Riksa mengamati botol tersebut. Nampak di dalam botol tersebut terlihat olehnya gulungan kertas seolah memintanya untuk di bebaskan dari kungkungannya.


Jodi dan Riksa saling berpandangan.


“Mau diambil gak botol itu Boss? Siapa tahu di dalamnya ada nomor undian hehe.” Ujar Riksa.


“Elo ambil aja! Males gue!.” Kata Jodi seraya pergi meninggalkan tempat itu.


Namun di dalam hatinya, ia merasa mendapatkan dorongan yang kuat seolah ngisyaratkan agar ia mengambil botol tersebut.


Jodi menghentikan langkahnya kemudian kembali ke tempat semula dan berusaha mengambil botol itu.


Sejenak ia pandangi botol itu lalu perlahan membuka tutupnya dan mengeluarkan isi di dalamnya yaitu sebuah gulungan kertas.


Perlahan ia buka gulungan kertas itu dan tiba-tiba saja hatinya berdebar hebat kala mulai membaca tulisan di dalamnya.


‘Hai kau yang berhasil menemukanku… ku ucapkan selamat padamu. Jika kau seorang wanita, aku akan menjadikanmu teman terbaikku. Dan jika kau seorang lelaki, akan aku jadikan kau kekasih hatiku. Suatu saat takdir akan mempertemukan kita. Temui aku diusia 17 tahunku. 10.08.2005 - 10.08.2022. BPH.’


Jodi memperhatikan apa yang tertulis di dalamnya. Kemudian, “Kelakuan manusia halu aneh-aneh saja.” Gumam Jodi seraya membuang botol itu tapi tanpa sadar memasukan kertas nya pada saku celananya.


“Apa yang tertulis di dalamnya Boss?.” Tanya Riksa yang sedari tadi memperhatikannya.


“Gak ada. Cuma kelakuan orang iseng aja.” Kata Jodi seraya berjalan menuju mobil Maurin yang tengah di periksa oleh beberapa orang tim nya.


“Bagaimana? Apalagi yang kalian temukan?.” Tanya Jodi pada salah seorang yang tengah memasukan alat-alat pada koper berukuran sedang.


“Selain sidik jari dan beberapa helai rambut saya temukan ini Boss. Untuk pemeriksaan selanjutnya kita lakukan di markas saja Boss karena waktu sudah menjelang malam.” Seseorang itu menyerahkan plastik kecil yang di dalamnya berisi suntikan bekas.


“Ok kalau begitu kalian kembali ke markas dan elo Wan, bawa mobil ini pada pemiliknya, nanti Riksa yang akan kasih tahu elo alamatnya.” Kata Jodi kemudian memberikan perintah pada Riksa untuk menghubungi Maurin dan meminta alamat rumahnya.


Kemudian mereka semua pergi meninggalkan tempat itu karena hari sudah mulai gelap.


.........


Sementara itu di tempat lain. Nampak pak Budi dan bu Irma dan juga Delima telah sampai di rumah Berlian dan duduk pada ruang keluarga.


“Maaf kan saya pak… bu, ini semua karena kesalahan saya.” Kata Delima seperti menyesali apa yang telah ia lakukan.


“Sudahlah Del, semua sudah terjadi. Harusnya waktu itu saya bertanya dulu pada Jodi dan Berlian mengenai bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya. Kamu juga tidak salah, wajar kamu memiliki kekhawatiran seperti itu pada Berlian. Hanya saja masalah ini terjadi begitu cepat membuat kita tidak berfikir jernih.” Kata pak Budi.

__ADS_1


“Dimana cucuku sekarang hiks…” tangis bu Irma.


“Tenang bu, jangan seperti ini… yakin saja kalau dia akan baik-baik saja. Nanti kita hubungi Jodi untuk menanyakan pencariannya. Kalau sekarang kita hubungi dia, tentunya dia tidak akan mau berbicara dengan kita karena dia masih emosi. Bapak hafal betul bagaimana anak itu.” Ujar pak Budi yang kemudian berlalu menuju kamar yang disediakan untuknya di rumah itu.


Sementara Delima yang merasa bersalah, berusaha menghubungi Jodi ingin meminta maaf padanya tapi sepertinya Jodi masih mematikan ponselnya.


“Kak Jodi pasti sangat kecewa padaku bu, aku memang bodoh, seharusnya aku tidak melakukan semua ini pada mereka hiks.” Ucap Delima yang masih duduk bersama bu Irma pada ruang keluarga.


“Saya tidak menyangka kalau mereka memiliki hubungan spesial, karena rasanya tidak mungkin Jodi memiliki perasaan yang lebih pada Berlian karena yang aku lihat Jodi menyayangi Berlian seperti terhadap putrinya sendiri. Namun semua yang terjadi di luar dugaan. Dan aku tidak tahu harus bagaimana? Sementara Berlian sendiri belum ditemukan hiks.” Tangis bu Irma.


Mereka berdua meratapi kesedihannya di ruangan tersebut. Berharap Berlian cepat kembali pulang. Namun mereka sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya tengah di alami Berlian.


Saat ini Berliian tengah berapa pada mobil van hitam, di culik oleh empat orang yang tidak dikenali yang belum jelas tujuannya apa.


Sementara itu, Berlian yang tengah di bawa pada van hitam belum terlihat tanda-tanda ia siuman, ia masih terlihat tak sadarkan diri di dalam van tersebut, hingga akhirnya van tersebut membawa ia ke sebuah tempat yang asing.


Dimana tepat itu terlihat seperti sebuah gedung kantor, namun semakin masuk ke dalam terlihat ada sebuah ruangan seperti laboratorium dimana di dalam nya terlihat banyak alat-alat lab.


Berlian di bawa oleh kedua orang yang menculiknya ke dalam ruangan yang menyerupai lab itu. Kemudian tubuhnya di letakan di atas velbed.


Terlihat dari ujung ruangan seseorang yang berpenampilan memakai jas lab mendekati Berlian dan bertanya pada kedua orang tersebut. “Kalian temukan dimana gadis ini?.”


“Di pinggir pantai Boss.”


Kemudian ia berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan itu lalu membuka laci dan mengambil beberapa gepok uang.


“Kerja bagus! Nih bayaran untuk kalian. Setelah saya dapat memastikan gadis itu berkualitas tinggi, akan saya bayar sisanya.”


“Siap Boss. Terima kasih.” Setelah menerima uang, kedua orang tersebut meninggalkan ruangan itu.


Tinggalah kini di tempat itu hanya menyisakan Berlian dan lelaki yang berpenampilan seperti seorang dokter itu. Terlihat ia seperti menghubungi seseorang dan tak lama benar saja, dua orang masuk ke dalam ruangan tersebut, satu laki-laki dan satu perempuan memakai seragam scrub atau pakaian ruang operasi.


“Bawa gadis ini ke ruang observasi.” Perintahnya pada kedua orang yang baru saja datang, kemudian, “Periksa struktur tubuhnya, terutama jaringan otak dan keperawanannya.”


“Siap tuan Darius. Kami pastikan semuanya akan di periksa dengan terperinci.” Jawab salah seorang diantara mereka.


Kemudian kedua orang tersebut membawa tubuh Berlian keluar dari lab tersebut dengan mendorong velbed dimana Berlian berada di atasnya menuju ruangan lain.


............


Sementara itu di tempat lain, nampak Jodi tengah berada di dalam ruangannya yang berada pada markas tersebut.

__ADS_1


“Boss makan dulu. Gue lihat dari pagi Boss belum makan apa-apa.” Kata Riksa yang menghampiri Jodi dengan membawa dua paket nasi kotak.


“Gue gak nafsu makan Rik. Gue mikirin gadis gue, apa dia sudah makan atau belum ya? Lagi ngapain dia sekarang Rik? Kalau memang dia di culik orang, gue gak bisa bayangin apa yang akan di lakukan mereka sama gadis gue.” Kata Jodi yang duduk di atas sofa dengan wajah menengadah ke atas langit-langit.


“Makanlah dulu Boss nanti sakit kalau gak makan, kita doakan semoga tuan putri baik-baik saja.” Riksa memaksa bosnya untuk tetap makan.


“Bagaimana tim kita yang lagi nyari Rik? Apa sudah ada kabar?.”


“Belum Boss. Tapi kita terus pantau kok Boss, jadi Boss tenang saja, sekarang yuk kita makan dulu.” Riksa menyerahkan satu kotak nasi itu pada Jodi.


Dengan malas Jodi mengambilnya, terlihat ia hanya memainkan sendoknya di atas makanan itu.


“Dia kalau makan selalu pengen gue suapin dari dulu Rik. Kalau mau tidur dari dulu gue juga yang kelonin. Dari kecil juga gue yang selalu gendong dia kalau ayahnya sibuk, dia gak mau sama orang lain Rik.” Kata Jodi dengan tatapan kosong memandangi makanan dihadapannya.


“Iya gue tahu… bahkan sampai gede pun gak mau dia sama orang lain karena sudah terbiasa dengan tangan Boss yang selalu membuatnya nyaman. Padahal kalau Boss sibuk, kan bisa titipin ke gue hehe.” Riksa berusaha menghibur Jodi.


“Dia tetep gak bakalan mau Rik, lagian gue juga gak rela dia sama orang lain.”


“Kan gue bukan orang lain Boss, gue asisten Boss sama hal nya seperti Boss dulu asisten ayahnya tuan putri.”


“Tapi elo beda sama gue Rik.”


“Bukannya Boss pernah bilang kalau gue mirip Boss? Iya kan?.”


“Tapi masalahnya, sekarang keadaannya udah beda Rik. Dia ngerasa bukan gadis kecil lagi, dia sekarang udah dewasa Rik. Kehangatan tubuhnya sudah berubah rasanya. Memeluk tubuhnya sekarang rasanya seperti memeluk seorang bidadari. Menyejukan, harum, membangkitkan gairah namun gue selalu ingin tetap menjaganya.” Ucap Jodi dengan membayangkan gadis itu yang tengah mengitari pikiran nya.


Kemudian ia mengambil tas gadis kecil itu yang ia simpan di atas meja kerjanya, ia ambil ponsel gadis itu ternyata lowbat. Kemudian meminta Riksa untuk mengisi daya ponsel tersebut.


Lalu ia mengambil dompet gadis itu dan melihat-lihat kembali isi di dalamnya. Terlintas kembali ingatannya saat-saat kebersamaannya dengan gadis itu.


‘Sayang… kenapa kau tidak mendengar kata-kataku. Aku kan sudah bilang kalau kita akan pergi bersama pada saat yang tepat. kenapa kau meninggalkanku? Seharian saja kehilanganmu membuat aku setengah gila.’ Bathin Jodi tat kala ia memandangi foto cantik gadisnya.


“Boss ayo lah makan. Kalau dia tahu Boss seperti ini pasti dia akan sedih.” Ujar Riksa kembali mengggugah lamunan Jodi. Namun Jodi tidak menggubrisnya.


Ia malah terlihat seperti memikirkan sesuatu, ia teringat akan pesan yang ia temukan di dalam botol di pinggir pantai tadi.


Ia rogoh saku celananya mengambil kertas itu dan kembali membacanya berulang-ulang. Lalu memasukan catatan itu pada dompet kekasihnya.


Dan malam pun semakin larut, angin dingin yang terasa menusuk tulang tak menggoyahkan Jodi yang tetap termangu di atas sofa hingga Riksa berniat membiarkannya menikmati dunianya dalam lamunan.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹

__ADS_1


Terima kasih kepada readers yang selalu setia mengawal cerita ini🥰


__ADS_2