
Angin malam terasa lebih dingin di perkebunan kala itu. Terlihat Jodi tengah berbincang dengan Riksa di halaman depan rumah itu.
Sementara itu Maurin tengah menemani Berlian di kamarnya bersama anak-anaknya.
Jodi memandangi pemandangan malam sejauh mata memandang di area perkebunan yang di hiasi cahaya-cahaya lampu dan api obor.
“Rik… istri gue masih muda dan anak-anak gue masih kecil. Seandainya gue meninggal karena penyakit gue, gue gak bisa bayangin bagaimana jadinya mereka.” Kata Jodi yang matanya terus memandangi luasnya perkebunan.
“Boss ngomong apaan sih! Boss harus yakin kalau Boss akan menemani mereka hingga mereka tumbuh dewasa. Jangan racuni pikiran Boss dengan hal-hal yang membuat pikiran jadi stress!.”
“Gue cuma mikirin mereka aja Rik. Makanya gue minta sama elo jangan bilang sama mereka penyakit gue ini, karena gue belom rela mereka mengetahuinya.”
“Boss! Prediksi si Richard kan belum tentu benar. Siapa tahu hasilnya tidak seperti apa yang di katakannya.”
“Rik gue udah lihat-lihat artikel di internet tentang gejala leukemia, dan itu semua gue rasain Rik. Gue yakin dengan diagnosa temen elo itu.”
“Ya tapi gak usah di pikirin terlalu jauh deh Boss. Gue gak suka Boss ngomong gitu apalagi nyangkut-nyangkut usia. Ok. Umur udah di tentuin sama Allah. Tapi kita harus tetap berusaha Boss dan yakin kita akan selalu sehat.”
“Iya Rik gue ngerti… hanya tetep aja semuanya jadi pikiran gue. Itulah kenapa gue males kalau harus cek up ke dokter, di saat gue tahu penyakit gue, penyakit itu malah jadi kepikiran apalagi kalau gue lihat istri gue yang masih muda dan anak-anak gue yang masih pada kecil. Kasihan mereka Rik kalau harus kehilangan gue di usia mereka yang masih muda.”
“Boss. Tolong deh pikirin hal lain yang lebih positif. Kalau pun memang nanti hasilnya sesuai dengan diagnosa si Richard, yang harus kita lakukan adalah melakukan pengobatan untuk mengatasinya sampai tuntas.”
“Tapi yang gue denger Rik penderita kanker sel darah putih itu kebanyakan berakhir dengan kematian.”
“Meskipun banyak yang berakhir dengan kematian tapi tak sedikit orang yang bisa sembuh Boss. Yakinlah kalau Boss akan sehat kembali.”
Kemudian terlihat Jodi bersin-bersin, dan lagi-lagi Riksa melihat Boss nya itu mimisan kembali. Dengan cepat ia mengambil tisu dan memberikannya pada Boss nya itu.
Jodi pun merasakan pada hidungnya keluar sesuatu, dengan cepat ia mengambil tisu dari tangan Riksa, dan segera mengelap hidungnya.
“Makasih Rik.” Kata Jodi seraya duduk pada kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Boss sudah minum obat yang si Richard kasih tadi?.”
“Oh ya gue lupa Rik. Obatnya ada di mobil.”
“Tuh kan? Kalau gak di ingetin pasti lupa sampai pagi.” Kata Riksa seraya bergegas pergi menuju garasi mobil untuk mengambil obat Boss nya. Lalu ia menyuruh salah seorang pelayan di rumah itu untuk mengambil segelas air hangat.
Setelah Riksa kembali dengan membawa obat Boss ditangannya, dengan cepat ia memberikan obat itu dan minuman yang baru diantarkan oleh pelayan yang ia suruh tadi untuk mengambilnya.
“Intinya sakit apa pun kita, pikiran jangan stress Boss.” Tutur Riksa.
“Iya Rik. Gue akan coba rileks. Oya Rik? Kalau ada apa-apa sama gue, gue nitip istri dan anak-anak gue ya?.”
“Yaaah… ngomong itu lagi. Gak usah kayak gitu deh Boss. Boss gak ngomong pun gue akan jaga kalian sebisa mungkin. Jadi jangan khawatir.”
“Makasih Rik. Oya? Gue mau istirahat dulu ya Rik?.”
“Ya Boss silahkan. Istirahat yang cukup. Dan ingat! Jangan mikirin yang bikin otak jadi stress.”
__ADS_1
“Iya Rik.” Kata Jodi seraya berlalu dari tempat itu menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya ia mendapatkan istrinya tengah berbincang dengan Maurin.
Melihat Jodi masuk kedalam kamarnya, Maurin lekas pamit pada Berlian untuk meninggalkan mereka.
Setelah Maurin keluar dari kamar mereka tinggallah Berlian dan kedua anaknya di dalam kamar itu.
“Sayang… ayo kita istirahat.” Ajak Jodi pada istrinya.
“Ya… sebentar aku akan mengantarkan anak-anak dulu ke kamarnya.” Jawab Berlian.
“Tidak usah sayang… biarkanlah sekarang ini anak-anak tidur bersama kita. Aku ingin tidur bersama kalian.”
“Baiklah kalau begitu.”
Kemudian Jodi membawa Miriam dan juga Noah tidur diantara mereka.
Diatas tempat tidur yang berukuran besar nampak Jodi tengah mengeloni Miriam sementara Berlian menyusui Noah.
“Sayang… apa kau bahagia?.” Tanya Jodi memandangi istrinya.
“Kenapa kau bertanya begitu? Tentu saja aku bahagia hidup bersamamu dan anak-anak kita.”
“Syukurlah kalau kau bahagia. Aku senang mendengarnya.”
“Tidak ada apa-apa sayang… aku takut kau tidak merasa bahagia hidup bersamaku.”
“Aku memilih hidup bersamamu. Berarti kau adalah kebahagiaanku. Meski kau belum menemukan diriku yang dulu, selagi aku belum mengingat segalanya, aku akan berusaha menjadi diriku yang dulu. Diriku yang tidak pernah melupakan masa laluku bersamamu.”
“Kau tahu? Kau tetap sama seperti dirimu yang dulu. Tidak ada bedanya. Itu sudah cukup untukku. Terima kasih kau mau menerima segala kekuranganku.” Kata Jodi dengan mata yang mulai meremang.
“Aku merasa malam ini kau berbeda. Kau terlihat lebih melo, Apakah ini hanya perasaanku saja? Atau memang kau menyimpan sesuatu dan kau belum siap mengatakannya padaku?.” Ujar Berlian.
“Walau pun ada sesuatu yang aku simpan tentunya untuk kebaikan kita dan bukan sesuatu yang menyakitkanmu, tidak apa-apa kan?.” Balas Jodi.
“Ya aku akan selalu berusaha mengerti… tidurlah! Kau terlihat lelah sepertinya kau harus banyak istirahat. Pekerjaanmu akhir-akhir ini sepertinya berat.” Kata Berlian seraya mengusap wajah suaminya.
Kemudian Jodi menangkap tangan istrinya dan memciuminya. Lalu memejamkan matanya dengan tangan istrinya tetap di atas bibirnya.
Malam semakin larut hingga membawa mereka menyambangi alam mimpinya.
Di dalam mimpinya Berlian di perlihatkan akan kehidupannya yang dulu bersama keluarga juga bersama suaminya. Ia dapat melihat dari mimpinya itu saat ia menikah dengan Jodi, kemudian di perlihatkan juga dalam mimpinya kebersamaannya bersama Jodi di segala kesempatan momen kebahagiaan mereka.
Sesaat ia terjaga dan bangkit dari tempat tidurnya lalu ia pandangi wajah suaminya itu.
‘Ya… aku dapat melihat dan merasakan kebersamaan kita dulu bersamamu… kau memang suamiku yang menyenangkan. Aku bahagia dapat melihat momen itu. Kini aku semakin yakin kau memang benar-benar lelaki terbaikku.’ Bathin Berlian.
Kemudian ia kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya kembali.
__ADS_1
..............
Sementara itu di tempat lain terlihat Alfredo tengah fokus pada layar komputernya. Ia tengah melayani pelanggannya untuk bertransaksi obat-obatan terlarang pada situs dark web.
Ia nampak terlihat bahagia karena malam itu banyak pelanggan yang memesan obat-obatan yang ia buat itu.
Setelah ia cukup lama di depan layar monitor komputernya, kemudian terlihat ia keluar dari kamar itu menuju ruang bawah tanah.
Setelah sampai di ruang bawah tanah terlihat ia mulai memakai jas lab nya dengan atribut yang di lengkapi dengan masker dan sarung tangan.
Terlihat ia seperti tengah mengemasi obat-obatan yang di pesan oleh pelanggannya itu.
Setelah cukup lama ia mengemasi obat-obatan itu kemudian ia keluar dari ruang bawah tanah itu dengan membawa beberapa kemasan yang sudah ia rapikan dalam bentuk paket.
Tak berapa lama terlihat ia menghubungi orang melalui selulernya. Setelah menghubungi seseorang kemudian ia masuk kedalam kamarnya dan membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri, ia sudah rapi dengan pakaian barunya. Dan keluar dari dalam kamarnya menuju ruangan lain. Ia terlihat seperti tengah menunggu sesuatu.
Setelah lama menunggu, benar saja terlihat di depan rumahnya, berhenti sebuah van warna hitam dan dua orang yang berpakaian serba hitam keluar dari dalam van tersebut dan memencet bel rumahnya.
Alfredo bergegas berjalan melalui pintu utama rumahnya, lalu menyuruh dua orang itu masuk kedalam rumahnya.
Terlihat mereka tengah berbincang. Mendengar perbincangan mereka sepertinya dua orang itu adalah orang suruhan Alfredo sebagai kurir untuk mengantar pesanannya.
Karena barang yang akan mereka kirim adalah barang ilegal tentulah ia tidak menggunakan ekspedisi resmi tetapi ia memiliki ekspedisi sendiri untuk menjaga keamanan dari perdagangan ilegalnya.
“Dua barang ini pesanan dari negara A dan yang lainnya negara K. Saya harap kalian hati-hati dalam membawanya.” Jelas Alfredo pada kedua orang itu.
“Siapa bos!.”
“Kalau bisa kalian pakai jalur laut untuk mencapai negara tersebut.” Jelas Alfredo kembali.
“Ok bos!.”
“Di dermaga sudah ada orang yang menunggu kalian, ciri-cirinya mereka memakai anting-anting bulan sabit. Setelah kalian bertemu mereka, kalian tinggal katakan saja bahwa kalian utusan dokter Fred. Mereka sudah mengerti saat kalian mengatakan itu.”
“Siap bos. Kalau begitu kami berangkat sekarang juga.” Kata salah seorang yang berpakaian serba hitam itu.
“Ok. Ini dana kalian untuk sampai kesana.” Kata Alfredo memberikan amplop coklat berlogo bank dan membiarkan kedua orang itu pergi setelah menerima amplop darinya.
Dan kedua orang itu pun kembali ke dalam van nya dengan membawa paket yang Alfredo berikan untuk di kirim ke negara yang di maksud.
Dan van mereka pun meninggalkan tempat Alfredo. Sepeninggalan orang-orang itu Alfredo mengunci kembali pintu utama rumahnya. Lalu ia masuk kedalam kamarnya dan merebahkan diri diatas tempat tidur.
Ia pejamkan matanya dan tak menunggu waktu lama, dirinya sudah memasuki alam mimpinya.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Terima kasih buat reader yang tetap setia mengawal cerita ini😍
__ADS_1