
Hari pun terus berlalu hingga menutup minggu merambah bulan.
Kini dua bulan telah berlalu, hari-hari Berlian dan Jodi selalu di limpahi kebahagiaan. Begitu pun dengan Riksa dan Maurin yang telah menjalin hubungan sejak dua bulan terakhir. Kini mereka terlihat semakin dekat dan mesra.
Pagi-pagi sekali Berlian terjaga dari tidurnya. Ia merasakan pusing kepala yang hebat dan mual di perutnya. Bergegas ia berlari ke kamar mandi menumpahkan semua isi perutnya.
“Oek….oek… papa…” Jerit Berlian yang sontak saja membuat Jodi terkejut dan menyusul Berlian ke kamar mandi.
Melihat istrinya kepayaan memuntahkan segala isi perutnya di toilet, dengan sigap Jodi mendekat dan memijat-minat tengkuk istrinya.
“Sayang… kamu masuk angin kali ya?.” Jodi sedikit gugup sembari memijat tengkuk istrinya. Namun Berlian tidak menjawab, ia terus saja memuntahkan semua isi perutnya sembari menangis karena ini adalah kali pertamanya ia merasakan mual yang begitu hebat.
Setelah dirasa sedikit nyaman, Berlian mulai dapat di ajak berbicara oleh Jodi.
“Hiks… papa… aku kenapa? Perutku mual sekali dan kepalaku sangat pusing.”
“Mungkin kamu masuk angin sayang… ayo papa gosok tubuhmu pakai minyak kayu putih.” Kata Jodi seraya membawa Berlian ke tempat tidur dan merebahkannya.
“Papa… apa mungkin aku hamil? Kata ibu kalau wanita muntah-muntah pagi hari tandanya ia hamil.”
Jodi terdiam sejenak, kemudian, “iya ya… bisa jadi kamu hamil sayang.” Terlihat rona kebahagiaan dari wajah Jodi. “Sayang, kalau memang benar kau hamil, berarti sebentar lagi aku akan jadi ayah.” Betapa senangnya Jodi hingga memeluk istrinya dan terus mengecup wajah istrinya itu.
“Iya papa… dan aku akan menjadi mama untuk anak kita.” Berlian pun tak kalah bahagianya membalas pelukan Jodi, mereka saling berpelukan merasakan haru dan bahagia hingga keduanya meneteskan buliran bening pada sudut matanya.
“Sayang kamu istrirahat dulu ya disini, papa mau mengambil minuman untukmu dan akan memberitahu opa dan omamu juga papa dan mama.”
Maksud Jodi papa mamanya karena memang kebetulan hari itu papa mamanya lagi berada di rumah mereka.
Bergegas Jodi turun ke bawah tepatnya ke ruangan tengah, dan terlihat di ruang tengah Eva dan Irma tengah berdua dengan stelan olah raganya, mereka akan joging bersama. Namun setelah mereka melihat Jodi mendekati mereka dengan tergesa-gesa, mereka menghentikan langkahnya,
“Kamu kenapa Jod?.” Tanya Irma.
“Bu… Berlian hamil bu.” Kata Jodi dengan tampang bahagianya.
“Yang bener?.” Jawab Irma dan Eva kompak.
“Iya bu… ma… tadi Berlian muntah-muntah, sepertinya morning sickness.”
Tanpa berkata-kata lagi Irma dan Eva bergegas naik ke lantai dua, masuk ke dalam kamar Berlian.
Sementara Jodi menghampiri ayahnya dan Budi yang tengah olah raga di taman samping.
“Pak… papa… Berlian hamil! Tadi dia muntah-muntah.” Seru Jodi pada kedua bapak-bapak tersebut.
“Yang bener Jod?.” Tanya Budi di susul Ferry ayahnya.
“Iya pa… sepertinya Berlian hamil.”
“Ah belum tentu juga, siapa tahu dia masuk angin.” Ujar Budi.
“Eh untuk memastikan coba pakai test pack Jod.” Kaya Ferry.
“Oh iya betul pa, sebentar ya?.” Kemudian Jodi memanggil salah satu pelayan di rumahnya untuk membelikan test pack.
Kemudian Jodi berlalu ke dapur membuat teh manis hangat untuk Berlian.
Sementara itu di dalam kamar, Eva dan Irma tengah sibuk menginterogasi Berlian.
“Sayang kamu pusing ya?.”
“Terus kamu mual-mual gitu ya?.”
“Pengen makan yang seger-seger gak?.”
“Jangan kecapean ya.”
“Terus kalau lagi di boboin jangan kasar-kasar, bilang sama suami kamu hehe.”
“Kalau ke kamar mandi minta di antar suamimu ya?.”
“Harus banyak makan yang bergizi terus banyak minum air putih.”
“Oya harus minum vitamin dan susu ibu hamil juga.”
“Jangan banyak pikiran, apa lagi stress.”
“Nanti kalau ngidam pengen sesuatu cepet bilang sama suamimu biar dia yang cari.”
“Iya harus itu, soalnya kalau tidak di laksanakan nanti Ade bayinya ngeces.”
Dan seterusnya, ocehan dari kedua emak-emak itu membuat Berlian tambah pusing.
“Oma… mama… hiks… aku malah tambah pusing.” Kata Berlian seraya memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Kemudian masuklah Jodi dengan membawa teh hangat yang tadi ia buat untuk istrinya.
__ADS_1
“Ada apa ini?.” Tanya Jodi.
“Hehe gak kok, biasa kalau hamil muda suka pusing.” Jawab Irma.
“Iya dulu juga mama begitu waktu hamil kamu.” Sambung Eva.
“Pasti mama ganggu Istriku ya?.” Tanya Jodi seraya mendekati istrinya dan duduk di sebelahnya lantas memberikan minuman yang ia bawa tadi.
“Eh mana ada mama ganggu, mama kan cuma ngasih tahu aja kalau ibu hamil itu banyak aturannya, apalagi hamil muda.”
“Iya Jodi, kamu harus lebih intens jagain cucuku itu ya? Hamil muda itu kondisinya sangat rawan sekali.” Kata Irma.
“Iya bu… iya mama… tapi sepertinya istriku tambah pusing karena ocehan mama sama ibu.”
“Ah masa?! Gak kan ya sayang?.” Rayu Eva pada Berlian, dan Berlian mengangguk pelan.
Tiba-tiba masuk Budi dan Ferry membawa test pack yang tadi di belikan oleh pelayan yang Jodi suruh.
Melihat suami-suami mereka datang dan membawa test pack keduanya saling Berebut.
“Mana sini test pack nya biar ibu yang bantu Berlian buat mencobanya.” Irma merebut test pack itu dari tangan Budi.
“Ayo sayang kita ke kamar mandi, pipis yang banyak ya? Kita pastikan bahwa kamu hamil.” Eva meraih tangan Berlian untuk ikut dengannya ke kamar mandi.
“Mama… udah deh, biar aku aja yang bawa Berlian ke kamar mandi.”
“Ah kamu gak akan tahu caranya.”
“Tahulah ma… udah mama tunggu aja di sini.”
“Hadeh… kalian ini heboh ya! Jangankan yang hamilnya, saya aja pusing lihat kalian.” Kata Ferry.
“Iya bu, ibu tenang saja, gak usah riweuh. Udah tunggu di sini biar Jodi yang bawa Berlian ke kamar mandi.” Ujar Budi.
Akhirnya Jodi membawa Berlian ke kamar mandi. Sementara sepasang suami istri yang sudah senior itu menunggu berkerumun di depan pintu kamar mandi. Terlihat mereka begitu tegang dan sepertinya sudah tidak sabar menunggu Jodi keluar.
“Jod, bagaimana hasilnya?.”
“Kok lama banget ya?.”
“Bentar ma… baru juga mau pipis.” Suara Jodi dibalik pintu.
“Ayo cepat! Pipisnya jangan lama-lama.”
“Iya, gak usah semua di masukin ke wadahnya, sedikit aja.”
“Bagaimana Jodi sekarang? Sudah di cek belum?.”
“Belum ah… berisik banget sih kalian. Tunggu bentar sampai kita ke luar.”
“Abisnya kamu lama banget, kita udah gak sabar nih.” Kata Budi.
Tak lama Jodi keluar membawa wadah kecil berisi urin Berlian dengan test pack di atasnya, dan menyimpannya di meja dekat wastafel.
Sontak membuat orang tua mereka itu mengerumuni test pack tersebut.
Sementara Jodi kembali ke kamar mandi membawa Berlian untuk kembali ke kamarnya.
Tiba-tiba datang Delima dari arah pintu kamar dengan tampang riweuhnya mencari gank nya yaitu Eva dan Irma. Delima datang karena memang tadi di telepon oleh Irma, dan kebetulan Delima sedang ada di ibukota untuk mengisi mata kuliah di salah satu kampus.
‘Hadeh… datang lagi nih satu pasukan lebah… tambah pusing dah gue.’ Jodi tepok jidat.
“Mana… mana ibu? Mana mamamu?.” Tanya Delima riweuh.
“Tuh!.” Jodi menunjuk ke arah kamar mandi mereka.
Bergegas Delima melangkahkan kakinya ke sana dan ikut berkerumun dengan opa-opa dan oma-oma yang tengah menunggu kemunculan garis pada test pack tersebut.
“Papa… hiks kepala aku tambah pusing.” Kata Berlian seraya memeluk suaminya.
“Sama sayang… papa juga tambah pusing, apa lagi ditambah satu personil pasukan lebah baru datang. Sayang… kita tinggalin mereka aja yuk keruang makan.” Ajak Jodi.
“Yuk.” Balas Berlian, kemudian mereka berlalu dari kamarnya meninggalkan sumber kepusingan Menuju ruang makan.
Di ruang makan, Jodi membawa Berlian duduk pada salah satu kursi, lalu ia duduk di sebelahnya.
“Sayang, kamu mau makan apa?.”
“Papa sepertinya aku gak mau makan. Perutku mual papa.”
“Ya terus kamu mau makan apa dong?.”
“Aku mau juice aja.”
“Juice apa sayang?.”
__ADS_1
“Itu di kulkas ada buah apa aja?.”
“Ya udah tunggu sebentar, papa lihat dulu ya?.” Kemudian Jodi bergegas ke arah kulkas dan melihat-lihat buah yang ada disana.
“Sayang… ada buah stroberi. Apel sama jeruk. Kamu mau juice apa?.” Tanya Jodi sembari melihat-lihat isi kulkas.
“Juice stroberi aja papa.”
“Ok. Papa bikinin ya sekarang.” Kemudian Jodi membuatkan juice untuk istrinya itu.
Sementara di kamar, nampak terlihat Delima dan opa oma bersorak sorai. saling memeluk dan bersalaman setelah melihat kemunculan garis pada test pack yang mereka tunggu-tunggu itu.
“Alhamdulillah… garis dua!.”
Terpancar rona kebahagiaan dari mereka. Budi seakan lupa ingatan akan kata-katanya pada Jodi, bahwa Berlian harus menunda kehamilannya sampai usianya menginjak 20 tahun.
Lupa ia akan komitmennya menyaksikan cucu kesayangan kini tengah berbadan dua.
Mereka semua yang berada di dalam kamar sujud syukur, bagai kedapatan lotre. Pada saat mereka melihat ke arah tempat tidur berniat akan memberikan selamat pada ibu hamil. Tapi ibu hamil dan suaminya sudah tidak terlihat.
“Lah, dimana mereka ya?.” Delima heran.
“Mungkin mereka ke bawah.” Ujar Eva.
“Ayo kita susul mereka.” Ajak Irma.
“Ayo!!!.” Kata kompak mereka. Seperti hendak menyerbu musuh mereka bergegas menuruni anak tangga.
Dilihatnya Berlian bersama Jodi duduk di ruang makan. Dengan cepat mereka mengerubungi Berlian, mereka semua memeluk, mencium serta mengelus-elus perut Berlian yang masih rata itu.
“Hiks… papa.” Berlian yang tengah menikmati juice nya, meringis pasrah meminta tolong pada suaminya.
“Kalian ini… kasihan istriku ini ah!.” Kata Jodi seraya menangkup istrinya.
“Hehe… maaf, kami saking gembiranya melihat garis dua pada test pack ini.” Kata Irma.
“Iya. Selamat ya sayang.” Kata mereka semua.
“Iya tapi jangan seperti itu. Kayak baru ketemu sama orang hamil saja.” Ujar Jodi seraya membawa istrinya keatas pangkuannya.
Kemudian mereka semua duduk pada kursi makan disana.
“Sayang. Nanti kita ke dokter Obgyn ya? Kita periksa keadaan janinmu. Dan memastikan kesehatan juga usia kandungannya.” Kata Irma.
“Iya sayang… kita akan beramai-ramai mengantarkanmu kesana?.” Sambung Delima.
“Apa!!! Kalian semua mau pergi ngantar??.” Jodi terperanjat.
“Iya dong. Ini kan cucu pertama papa Jod, jadi papa harus mendengar langsung dari dokter bagaimana keadaan cucu pertama papa ini.” Ujar Ferry.
“Iya mama juga mau ikut. Mama harus lihat.”
“Apa sebaiknya kalian di rumah saja nunggu kabar dari kita, biar saya saja yang antar istri saya ke dokter Obgyn.” Jelas Jodi.
“Kita gak bisa nunggu kak Jodi. Nunggu itu membosankan.” Kata Delima.
“Iya kita semua pokonya harus ikut.” Ujar Irma.
“Iya deh iya! Terserah kalian aja ah.” Ucap Jodi kesal.
Tiba-tiba datang dari pintu masuk Riksa dan Maurin.
“Wah ada apa nih ngumpul semua.” Kata Maurin sembari menyalami mereka satu-satu, di susul Riksa.
“Maurin! Kamu mau lihat tidak ini…taraaaa!.” Delima mengacungkan test pack dan menunjukannya pada Maurin, lalu Maurin mengambilnya dan tersenyum.
“Wah garis dua! Siapa nih yang hamil! Oma apa ibu?!.” Canda Maurin.
“Ish… kamu yang benar saja. Masa aku hamil. Memangnya aku siti Mariam? Hehe… yang hamil itu dia.” Tunjuk Delima dengan wajahnya pada Berlian.
“Wah… selamat ya? Anak kecil mau punya anak, hehe.” Goda Maurin seraya menarik Berlian dari atas pangkuan Jodi dan lalu memeluknya.
“Ish… Maurin.” Berlian merungutkan wajahnya.
“Hai… Maurin, hati-hati kau menarik istriku, nanti bayiku kenapa-napa.” Kata Jodi.
“Yaelah bapak orok sensi banget sih.. orang cuma gini doang juga.” Balas Maurin.
“Udah sana! Bawa istriku ke kamar, ajak dia siap-siap. Bentar lagi kita akan ke dokter Obgyn.” Ujar Jodi.
Dan Maurin pun membawa Berlian ke kamarnya untuk berganti pakaian karena akan pergi ke dokter kandungan.
Betapa bahagianya mereka. Tak terkecuali dengan semua pegawai di rumah itu. Satu penghuni baru akan menambah kehangatan di rumah mewah tersebut.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya kesayangan othor😍
Terima kasih😘