Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Niat memberi kejutan malah terkejut


__ADS_3

Dan malam pun tiba. Malam ini adalah malam, dimana Berlian akan di jemput di rumahnya oleh Menara.


Berlian berdandan biasa saja, ia hanya memakai celana jeans di padukan dengan t-shirt hitam dan jaket kulit hitam serta sepatu boot.


“Wah putri kecil sudah kayak anggota agen rahasia papanya aja tuh hehe.” Celoteh Riksa kala melihat Berlian menuruni anak tangga.


Sementara Jodi tersenyum tipis mendengar celotehan Riksa yang tengah duduk bersama Jodi pada ruang tengah.


“Keren kan aku papa?.” Tanya Berlian yang menghampiri mereka berdua dan duduk di atas pangkuan Jodi.


“Keren sayang… bener kamu udah kaya anggota papa aja, agen rahasia cinta hehe.” Jawab Jodi dengan senyumannya.


“Ish.. papa gitu deh.” Ucapnya seraya memonyongkan bibirnya.


“Hey putri… kalau udah dandanan gitu jangan di gendong terus sama papanya dong.” Ledek Riksa.


“Ih kak Riksa sirik aja! Kalau pakai baju seksi nanti gak boleh lagi sama papa.”


“Tentu saja papa akan melarang keras sayang.”


“Tuh kan? Kak Riksa bisa denger sendiri.”


Tiba-tiba saja satpam masuk dan memberi tahu kalau ada tamu di luar.


“Tuh anak-anak bengal udah jemput kali.” Kata Riksa.


Kemudian Berlian di susul Jodi dari belakangnya berjalan menuju pintu utama. Setelah pintu di buka, benar saja mobil Menara sudah berada di halaman rumah di kendarai oleh Arash sementara Menara duduk di sampingnya.


Setelah Berlian pamit pada Jodi, akhirnya dia masuk ke dalam mobil Menara dan duduk pada jok belakang. Sebelum mobil melaju Jodi berkata pada Menara dan Arash.


“Hati-hati membawa putri saya! Dia pergi dalam keadaan selamat, pulang pun harus dalam keadaan yang sama!.” Tegas Jodi.


“Siap om.” Jawab keduanya.


“Dah papa.”


“Dah sayang.. hati-hati ya? Kalau ada apa-apa cepat telepon papa.”


“Iya papa.” Kemudian mobil pun melaju meninggalkan halaman parkir rumah Berlian.


Jodi langsung masuk ke dalam rumah, ia mengambil jaket kulit dan memakainya, “Rik, ayo kita ikuti mereka!.” Kata Jodi pada Riksa.


Dan mereka berdua pun berlalu menuju garasi tempat mobil mereka terparkir. Kemudian mobil mereka meninggalkan rumah dan mengikuti mobil Menara jauh di belakangnya agar tak dicurigai kalau mereka membuntuti.


“Gimana si John, Rik?.”


“Dia udah standby di lampu merah Boss.”


“Ok. Bagus.”


Mobil Jodi terus membuntuti mobil menara, sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah apartemen mewah.


Terlihat Menara turun sendiri dari mobil itu dan berjalan memasuki apartemen tersebut. Sementara Arash memarkirkan mobilnya tidak jauh dari area apartemen tepat di depan sebuah taman.


Sementara mobil Jodi mengintai dari jarak kira-kira 100 meter berbaur dengar mobil lain di parkiran sebuah mall.


Menara yang telah sampai di dalam apartemen, memasuki sebuah lif untuk menuju unit apartemen Narita. Ia sengaja tidak memberi tahu Narita karena ingin memberi kejutan pada kekasihnya itu.


Lif yang membawa Menara telah sampai di lantai 20, tandanya dilantai itulah unit apartemen Narita, pada saat Menara tengah berjalan menuju pintu apartemen Narita, nampak dari arah yang berlawanan ia melihat sosok yang ia kenal.


Ya, Menara melihat ayahnya berjalan dari arah yang berlawanan sementara yang ia tahu bahwa ayahnya mengatakan keluar kota untuk urusan bisnis.


Dengan cepat Menara bersembunyi dan mengintip ayahnya yang tengah berjalan menuju salah satu unit apartemen. Dan betapa terkejutnya pada saat ia melihat bahwa ayahnya masuk ke dalam apartemen Narita.


Menara terdiam, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Di dalam hati nya terus bertanya-tanya, mau apakah ayahnya masuk ke dalam apartemen Narita?.


Tanpa memijat Bel ayahnya langsung masuk menekan beberapa angka Pin Door lock, seperti sudah biasa. Sementara sepengetahuan Menara yang tahu pin nya hanya Narita dan dirinya.


Hati Menara mulai bergemuruh, muncul dalam pikirannya hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun ia benar-benar ingin memastikan. Akhirnya dengan segala kekuatan yang ia miliki ia memaksakan diri untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi.


Lama ia berdiri mematung di depan pintu apartemen kekasihnya itu, setelah ia dapat menetralisir perasaannya yang berkecamuk, perlahan ia menekan beberapa angka, pin sebagai akses masuk kedalamnya. Dan pintu pun dapat ia buka.


Perlahan ia masuk mengendap tanpa bersuara sedikit pun. Di lihatnya di berbagai ruangan namun ia tak menemukan ayahnya yang masuk tadi, begitu pun Narita tak ia temukan.


Hanya satu ruangan lagi yang belum ia lihat yaitu kamar, semakin berdebar hatinya saat ia perlahan mendekati pintu kamar, dan gilanya mereka tidak menutup pintu rapat kamar itu sehingga Menara dapat melihat sedikit apa yang terjadi di dalamnya.


Kakinya melemas, matanya membulat dan bergetar tubuhnya kala ia melihat dari celah pintu, sang ayah dan kekasihnya tengah bercumbu mesra layaknya suami istri. Saling mengeratkan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun.


Kala itu Menara ingin berteriak namun lidahnya kelu, ingin rasanya ia mengobrak-abrik kedua orang itu yang tengah bergumul namun kaki nya seakan kaku, perlahan ia mundur beberapa langkah dan matanya mulai berkaca-kaca, perlahan ia keluar meninggalkan apartemen kekasihnya itu dengan langkah yang gontai.

__ADS_1


Sementara itu, pada sebuah taman yang tidak jauh dari area apartemen itu nampak Berlian tengah duduk di ujung kursi taman sembari sibuk dengan ponselnya. Sementara di ujung kursi lain Arash tengah memperhatikannya.


“Eh Berlian! Kamu lapar gak?.”


“Gak kak.”


“Mau minum gak?.” Tanya Arash kembali.


“Boleh.”


“Mau minum apa??.”


“Apa aja terserah kakak.” Jawab Berlian sembari tetap sibuk dengan ponselnya.


“Heh bocah! Kalau ada orang yang ngomong itu di lihat orangnya.” Ujar kesal Arash yang merasa di cuekan oleh Berlian.


“Aku lagi sibuk kak!.”


“Sibuk apaan? Paling juga kamu lagi baca novel.”


“Ya semacam itu lah kak.”


“Ya terus kamu mau minum apa? Eh gue gak mau ya elo mati kehausan disini. Malam ini hidup kamu tanggung jawab gue tahu!.”


“Ya sudah kakak kasih aja aku air mineral kak.”


“Ok, kamu tunggu disini, jangan kemana-mana.”


“Iya kak.”


Kemudian Arash pergi ke sebuah cafe shop di taman tersebut.


Sementara itu Jodi dan Riksa yang berada di sisi lain terus memperhatikan putrinya itu yang tengah duduk di taman.


“Kasihan bener putri gue duduk sendiri di taman itu.” Kata Jodi.


“Boss mau kesana? Nemenin dia?.” Tanya Riksa.


“Tunggu saja dulu, kalau si Arash itu gak balik lagi, baru gue kesana.”


Namun Jodi melihat dari kejauhan Arash kembali dengan membawa minuman dan camilan.


“Iya kak makasih.” Berlian yang tetap fokus dengan ponselnya.


“”Ayo diminum dulu.” Nada kesal Arash.


“Kakak bukain dong minumannya.”


“Ya ampun manja banget sih nih bocah.” Arash semakin di buat kesal.


“Biasanya kalau aku jalan sama papa, tinggal makan dan minum saja.” Jawabnya enteng.


Kemudian dengan terpaksa Arash membuka tutup minum air mineral itu untuk Berlian, lantas memberikannya.


“Makasih kak.” Berlian menenggak minuman yang diberikan Arash.


“Nih makan sosis bakarnya. Apa harus di suapin juga hah!.” Kata kesal Arash kembali.


“Hehe.. gak juga kali kak, tapi kalau papa memang suka suapin aku.” Ucap Berlian sembari mengambil sosis bakar itu dan memakannya, “Mmh.. enak banget sosisnya, makasih ya kak.”


Arash memperhatikan gadis itu yang tetap sibuk dengan layar ponselnya sembari menikmati sosis yang ia belikan itu.


“Kakak kalau bosan, gak apa-apa kok mau pergi kemana juga, nanti kalau sudah selesai baru kembali lagi ke sini.”


“Khusus malam ini aku jagain kamu tahu gak! Kalau kamu hilang aku bisa dibunuh sama si Menara dan papamu itu.”


“Hehe kakak bisa saja. Oya? Kakak gak kencan?.” Tanya Berlian tanpa melihat pada lawan bicaranya.


“Udah di bilangin malam ini aku gagal kencan tahu gak! Gegara harus jagain kamu.”


“Oh… hehe.. maaf deh kalau gitu.”


“Oya? Kamu gak pernah keluar malam ya?.” Tanya Arash.


“Siapa bilang. Aku sering nonton bioskop sama papaku.”


“Iya tapi gak pernah kan sama teman kamu gitu?.”


“Gak” Berlian menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Namun ditengah mereka berbincang, Arash melihat Menara keluar dari apartemen.


“Loh, kok dia udah turun aja ya?.” Gumam Arash, kemudian, “Berli, tunggu bentar di sini ya, aku mau ke Menara dulu, noh dia udah turun aja.” Kemudian Arash mendekat ke arah Menara yang semakin dekat terlihat wajahnya memerah seperti menahan amarah.


“Kenapa luh? Kok udah turun aja!.” Tanya Arash namun Menara tidak menjawab.


“Ra, elo gak kenapa-napa kan?.”


“Ayo cabut! Ke Club Ar!.” Kata Menara seraya masuk kedalam mobilnya.


“Eh cerita dulu dong, elo kenapa?.”


“Nanti gue cerita di sana.” Kata Menara sembari menatap keluar jendela.


“Tapi gimana kita mau ke club, kita bawa anak orang noh! Gak inget luh?.” Tunjuk Arash pada Berlian


“Ah.. bikin repot aja!.” Geram Menara.


“Apa kita anterin dulu itu bocah ke rumah nya, terus kita clubing?.”


“Terserah deh… pokoknya ayo kita cabut dari sini!.” Kata kesal Menara.


“Ok. Ya udah, elo tunggu dulu, gue mau bawa itu bocah dulu.” Kata Arash seraya mendekat ke arah Berlian.


“Berli, ayo kita pulang. Menara udah nunggu di mobil.”


“Baik kak.” Kemudian Berlian mengikuti Arash menuju ke dalam mobilnya yang Menara sudah menunggu di dalam nya.


Dan mobil mereka pun melaju meninggalkan area taman itu, di ikuti oleh mobil Jodi yang berada jauh di belakangnya.


Di dalam mobil Berlian tetap anteng dengan ponselnya sembari menikmati sosis bakarnya. Sementara Arash masih belum mengerti apa yang terjadi pada Menara.


“Ra, elo kenapa? Cerita dong sama gue.” Tanya Arash, kemudian menara menengok kebelakang melihat Berlian, ia ragu akan menceritakan apa yang ia lihat karena ada Berlian di sana.


“Oh, dia gak bakalan denger kali Ra, dari awal datang tadi sampai sekarang, fokus aja sama ponselnya. Gue nanya juga gak perduli.” Jelas Arash.


Kemudian Menara mencoba mengatakan apa yang ia lihat tadi. “Gue lihat bokap gue masuk ke apartemen Narita Ar.”


“Apa!! Serius luh!.”


“Ya Seriuslah Ar.”


“Kok bisa barengan gitu sama elo, memangnya elo gak ngasih tahu dia dulu kalau elo mau datang?.”


“Gak Ar, tadinya gue mau kasih kejutan sama dia. Makanya gue gak telepon dia. Sial! Malah gue yang terkejut, lihat dia sama bokap gue lagi mantap-mantap!.”


“Apa!!! Yang bener luh!.”


“Gue udah percaya selama ini sama dia Ar, gue tutup mata dan telinga gue tentang kedua orang tuanya karena gue cinta sama dia. Sekalipun nyokap nentang gue sama dia, gue bela-belain back street sama dia karena gue sayang sama dia, tapi ternyata di belakang gue dia tega selingkuh dan yang lebih nyakitin, dia selingkuh sama bokap gue. Coba elo bayangin gimana perasaan nyokap gue Ar. Pantas saja nyokap gue bener-bener ngelarang hubungan gue sama dia, memang buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Gue benci sama mereka Ar… sumpah gue kecewa banget sama dia dan bokap gue.” Ucap geram Menara.


“Elo yang sabar ya Ra. Gue yakin akan ada penggantinya nanti.” Hibur Arash.


“Gue bener-bener kecewa Ar.. gue gak nyangka dia lakuin ini sama gue.”


“Eh elo gak boleh cengeng Ra, elo ganteng, punya segalanya, cewek di luar sana banyak yang ngantri jadi cewek elo. Elo bisa dapet penggantinya seribu kali yang jauh lebih baik dari si Narita itu. Bahkan elo pun bisa jadi penjahat wanita kalau elo mau.”


“Gue cuma gak nyangka aja Ar… kok dia tega lakuin ini sama gue… anjing memang dia.” Geram Menara kembali.


“Ra, sebenarnya gue sama Yosan udah tahu dari dulu kalau Narita punya skandal sama bokap elo!.”


“Apa!!.”


“Iya, gue pernah lihat mereka jalan bareng terus gue pernah ngikutin mereka satu kamar hotel waktu di Bandung. Cuma gue gak berani cerita ke elo karena percuma gue cerita juga, elo gak bakalan percaya. Sorry Ra, sekarang elo udah lihat dengan mata kepala elo sendiri, jadi gue gak perlu jelasin semuanya.”


“Gila! Kenapa elo gak kasih tahu gue dari sebelumnya Ar!.”


“Percuma gue cerita sama elo! Elo gak akan percaya Ra, gue tahu gimana elo cinta sama dia, alih-alih gue cerita bisa jadi elo malah benci sama gue kan?.”


“Ya minimal kalau kalian cerita gue kan jadi gak syok kayak sekarang Ar.”


“Sorry Ra, tapi sekarang akhirnya elo tahu kan?. Gue minta elo jangan sampai hancur karena itu cewek, masih banyak cewek di luar sana yang lebih baik dari dia.” Hibur Arash kembali.


Kemudian lama mereka terdiam, tiba-tiba Menara melirik ke jok belakang, dilihatnya Berlian masih asik dengan ponselnya sembari menikmati sosis bakarnya. Dengan cepat Menara merebut sosis bakar itu kemudian melahapnya.


“Hey.. kenapa kakak makan sosis punya aku, ini yang baru masih ada.” Gerutu Berlian. Tapi Menara cuek saja melahap sosis itu.


Bersambung


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2