Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Nikmatilah hari ini, karena esok belum tentu menjadi milik kita.


__ADS_3

Di sebuah mall terbesar di ibukota, nampak Berlian tengah membeli semua kebutuhan bulanan untuk keperluan di rumahnya.


Sementara Jodi dan Riksa mengawal di belakangnya. Sembari berbincang.


“Dia memang lucu.” Gumam Riksa namun masih terdengar oleh Jodi.


“Siapa yang lucu?.” Tanya Jodi, mendengar pertanyaan Jodi, Riksa sedikit gugup karena ia tidak menyangka kalau kata yang keluar dari mulutnya yang tengah mengagumi Berlian dapat terdengar oleh Jodi Bosnya itu.


“Hm… hehe, itu Boss cewek yang tadi lewat.” Riksa menjawab sembarang.


“Perasaan gak ada cewek muda yang lewat, semuanya ibu-ibu. Maksud elo cewek yang itu Rik?.” Tunjuk Jodi pada seorang nenek-nenek yang bergaya seperti ABG, memakai rok mini di padukan dengan tangtop warna merah.


“Anjir!! Yang bener aja Boss gue bilang itu nenek lucu haha, gue bukan penganut gerontofilia boss.” Jawab Riksa.


“Ya terus cewek yang mana lagi? Cuma ada itu doang yang seksi. Jangan-jangan yang elo maksud gadis gue hah!.”


“Waduh ampun! Gak berani Boss. Sama aja cari mati itu mah.” Kata Riksa menyatukan kedua telapak tangannya.


“Syukur kalau elo ngerti!.” Jawab Jodi sembari mendekati Berlian.


“Masih ada yang mau di beli sayang?.” Jodi sedikit membungkuk berbisik pada Berlian.


“Tinggal semua jenis sabun papa.” Jawab Berlian seraya mendorong troli sementara Jodi menggandeng pundaknya mengikuti jalannya Berlian.


“Papa abis ini kita kemana?.”


“Kamu mau nya kemana sayang?.”


“Aku mau ke taman hiburan papa.”


“Ok. Kita kesana.”


“Makasih papa.” Kata Berlian seraya mengecup pipi Jodi.


Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan, akhirnya mereka meninggalkan mall itu, tentunya setelah Riksa mengurus semua pembayaran dan memasukan semua belanjaannya ke dalam mobil mereka.


Lalu mereka menaiki mobilnya menuju tempat tujuan lain, sesuai dengan keinginan Berlian.


Setelah beberapa waktu, sampailah mereka di tempat tujuan.


“Serius kesini Boss? Katanya putri Boss pengen ke taman hiburan?.” Tanya Riksa heran karena yang ia datangi adalah sebuah museum.

__ADS_1


“Seriuslah. Oya? Kamu baru kali ini ya mengantar putriku ke taman hiburan menurut versinya?. Ya museum lah yang ia maksud sebagai taman hiburan buat dirinya. Ia sangat menyukai sejarah, salah satunya benda-benda peninggalan yang memiliki nilai sejarah.” Jelas Jodi, seraya turun dari mobilnya karena memang mobil mereka sudah sampai di tempat parkir museum tersebut.


Lalu mereka bertiga menuju pintu masuk untuk membayar tiket, setelah membayar tiket Berlian lebih dulu melangkahkan kakinya memasuki museum sementara Jodi melanjutkan obrolannya bersama Riksa, mengikuti kemana putrinya itu melangkah.


“Gadis Boss memang unik.” Kata Riksa menyambung obrolan tadi.


“Ya, dia berbeda memang dengan gadis seusianya yang lain. Di samping anak-anak lain seusianya senang bermain ke tempat-tempat ramai dengan berjuta permainan yang dapat menghibur suasana hatinya. Putri gue malah suka ketempat-tempat bersejarah dan perpustakaan. Tempat seperti inilah yang dapat menghibur hatinya. Coba saja kau lihat sendiri.” Kata Jodi seraya menunjukan dengan pandangannya pada gadis itu yang tengah melihat-lihat lukisan bersejarah. Kemudian Riksa melihat ke arah gadis itu.


“Iya benar. Betapa senangnya ia terlihat dari pancaran wajah dan senyumannya. Sejak kapan dia senang ke tempat seperti ini Boss? Dan bagaimana awalnya?.” Tanya Riksa penasaran.


“Sejak kecil Rik. Memang ayahnya dulu yang sering membawanya ke tempat-tempat seperti ini. Dan gue sama tugasnya kayak elo sekarang, mengawal anak dan ayah yang menikmati suasana bersejarah.”


“Oh begitu ya? Tapi jujur.. gue senang Boss lihat anak seusianya lebih mencintai sejarah ketimbang sesuatu yang booming nya musiman, seperti menggemari girls band Korea gitu misalnya hehe.” Ujar Riksa.


“Tapi putri gue juga gemar dengan apa yang di gandrungi anak muda jaman sekarang, hanya saja kelihatannya tidak terlalu. Yang terlihat membuat dia terkesan justru tempat-tempat dan benda-benda bersejarah. Coba aja elo tanya dia, sejarah apa saja dia tahu.”


“Serius Boss?.”


“Seriuslah.. itulah yang membedakan dia dengan gadis lain Rik.” Ujar Jodi memandang kagum gadis itu yang tengah mengamati benda-benda pusaka.


“Pantas saja, sama cowok juga dia mah sukanya pemuda bersejarah ya? Pemuda jadul kayak Boss gitu hehe.” Celoteh Riksa.


“Sialan luh! Anjir!.” Kata Jodi seraya memukul pelan pundak Riksa.


“Ya… tapi sepertinya akan sulit mencari seseorang yang memang dia suka dan mengerti dirinya. Selain keras kepala yang mewarisi sifat ayahnya, dia juga sangat memegang prinsipnya. Apa pun yang ia mau harus di turutinya, kadang apa yang dia mau bertentangan dengan kebiasaan orang. Sementara ia menganggapnya itu adalah hal yang tidak begitu berarti.”


“Terlihat sih Boss dari gayanya. Memang putri itu keras kepala. Sama hal nya dalam urusan gendong menggendong dan cium mencium seperti pada Boss itu ya? Bikin Boss gak bisa nolak Hehe.” Goda Riksa.


“Gak usah mulai deh Rik ah..!”


“Hehe.. kalau seandainya urusan yang dua itu bisa di wakilkan sama gue. Gue gak nolak loh Boss hehe.”


“Sialan! Pergi luh sana!.” Jodi mendorong punggung Riksa namun itu hanya becanda dan mereka kembali berbincang.


“Elo tahu Rik. Olokan elo sama gue itu, persis sama dengan yang suka gue lakuin dulu sama ayah dan ibunya gadis gue itu. Makanya gue ngerti elo mau ngolok gue segimana juga, gue gak bisa marah… karena gue sadar mungkin itu hukum karma buat gue haha.” Ujar Jodi.


“Akhirnya ngaku juga hehe… oya Boss apa Boss memiliki perasaan yang sama seperti perasaan dia sama Boss?.” Tanya Riksa menyelidik.


“Jujur… awalnya gue tidak bisa menerima dan itu merupakan keadaan yang paling sulit menurut gue. Gue membayangkan akan menimbulkan masalah yang pelik. Tapi, lama-lama rasa itu tumbuh dengan sendirinya dalam bathin gue Rik. Hanya saja ya itu? Gue masih membayangkan bagaimana seandainya keluarganya tahu tentang hubungan gue sama gadis gue itu.” Jodi membuang pandangannya ke arah lain, terlihat tatapannya menerawang seperti menahan suatu perasaan yang begitu berat.


“Boss! Seperti apa kata gue kemarin-kemarin, gak perlu dulu memikirkan yang belum terjadi, nikmatilah hari ini, karena hari esok belum tentu menjadi milik kita. Dan kalaupun di depan nanti sesuatu terjadi dan sangat menyulitkan, jangan cemas! gue akan selalu ada buat Boss dan putri kecil itu.” Kata Riksa menyemangati karena tahu Boss nya tengah memikirkan sesuatu yang menyesakkan hatinya.

__ADS_1


“Thanks Rik!.” Kata Jodi yang mengarahkan kembali pandangannya pada gadisnya itu. Kemudian ia mendekatinya.


“Apa yang kau lihat sayang?.” Tanya Jodi pada Berlian yang tengah mengamati artefak bersejarah.


“Ini papa, aku sedang melihat artefak hiasan bermotif floral. Sangat indah ya papa?.” Decak kagum Berlian yang terus memandanginya tanpa berkedip.


“Kau suka?.” Tanya Jodi. Kemudian gadis itu mengangguk.


“Kalau kau suka perhiasan, papa bisa belikan buatmu, kau mau?.”


“Kalau untuk di pakai, aku lebih suka yang etnik papa. Papa tahu sendiri aku tak suka memakai perhiasan.” Jawab Berlian.


“Ya karena kau sendiri sudah merupakan perhiasan itu sendiri. Tanpa memakai perhiasan lain pun, kau sudah sangat cantik sayang.” Kata Jodi menatap netra berbinar gadis itu.


Kemudian gadis itu mendekat, karena Riksa sudah mengerti apa yang akan terjadi kala melihat tubuh Boss nya sudah merapat dengan gadisnya, dengan cepat ia balik badan dan melangkah kan kaki nya sedikit menjauh dari mereka.



“Benarkah apa yang papa katakan itu?.”


“Tentu saja sayang… kau tidak percaya hem?.”


“Aku percaya papa. Papa makasih udah sayangi aku.”


“Kok makasih. Bukannya menyayangimu adalah tugas hatiku? Jadi kau tidak usah berterima kasih padaku sayang.. berterima kasihlah pada Tuhan, karena kita di pertemukan di waktu yang tepat meskipun usiaku hampir mendekati senja hehe.”


“Gak apa-apa papa. Bagiku usia tidak menjadi masalah dalam hal mencintai. Kenapa aku suka pada pria yang usianya seumuran ayahku? Karena dari nya aku dapat merasakan kasih sayang ayah yang telah lama pergi. Aku sangat butuh sosok ayah, dan itu ada padamu papa.” Ucap gadis itu seraya memeluk Jodi dan membuat hati Jodi terenyuh mendengarnya.


“Kau tahu sayang? Selain aku mencintaimu seperti cinta ayah pada anaknya. Aku pun mencintaimu sebagai seorang kekasih. Aku akan selalu membuatmu nyaman sayang. Percayalah.” Bisik Jodi.


“Ya papa.. aku percaya.” Balas gadis itu seraya mencium hangat pria yang sangat di cintainya itu.


“Sudah puas bermain-main dengan benda-benda bersejarahnya sayang?.” Tanya Jodi mesra.


“Iya, sudah papa. Mari kita pulang.”


“Ayo.” Kemudian Jodi membawa gadis itu keluar dari museum tersebut, di susul Riksa dari belakang mereka.


Setelah ketiganya masuk kedalam mobil mereka, mobil pun melaju meninggalkan museum yang merupakan taman bermain untuk seorang Berlian.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya sayang😘😘


Terima kasih😍


__ADS_2