Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Memata-matai


__ADS_3

“Hey… kenapa kakak makan sosis punya aku, itu yang baru masih ada.” Gerutu Berlian. Tapi Menara cuek saja melahap sosis itu. Lalu kemudian Menara merogoh sesuatu yang ada di pangkuan Berlian.


“Sini minumannya!.” Kembali Menara mengambil sesuatu, kali ini ia mengambil minuman Berlian kemudian menenggaknya.


“Ih kakak, itu kan minuman punya aku juga.” Berlian hendak merebut minumannya tapi Menara menyimpan botol itu pada pintu mobil di sampingnya setelah meminumnya.


“Sini ambil nih kalau kau bisa.” Kata Menara.


“Lah.. kalian kayak kucing sama anjing saja. Nih ambil minumanku.” Kata Arash memberikan minuman miliknya pada Berlian.


“Ish… gak mau!.”


“Ini ambil saja.” Kata Arash kemudian Berlian mengambilnya dan meminumnya.


Lalu tiba-tiba Arash menghentikan mobilnya secara mendadak karena ada mobil di depannya yang menghadang.


Mereka terdiam saat seseorang turun dari dalam mobil yang berhenti tepat di depan mobil mereka.


“Papa…” teriak Berlian.


Jodi yang turun dari mobilnya mendekat ke arah mobil Menara,


“Kita lagi mau antar Berlian pulang om.” Kata Menara pada Jodi yang berdiri tepat di samping kaca mobilnya yang ia buka.


“Tidak apa-apa, sampai di sini saja.” Jawab Jodi, kemudian, “Ayo sayang turun.” Sambungnya pada Berlian. Dan Berlian pun turun dari mobil itu.


“Makasih om.” Kata Menara pada Jodi yang berjalan membawa Berlian menuju mobilnya.


“Ya sama-sama.” Jawab Jodi datar.


Kemudian Jodi dan Berlian masuk ke dalam mobilnya. Dan mobil pun melaju meninggalkan mobil Menara.


Di dalam mobil, Berlian langsung memeluk Jodi dan duduk di atas pangkuannya.


“Kau lapar sayang?.” Tanya Jodi seraya melingkarkan tangannya pada pinggang Berlian.


“Hm um.”


“Mau makan dimana sayang?.”


“Terserah papa.”


“Ya sudah.. putar arah Rik, kita makan bebek goreng di pinggir jalan ya sayang? Kau mau?.”


“Ok kita sudah lama gak makan di pinggir jalan ya papa?.”


“Iya. Dulu ayahmu yang sering mengajakku makan di pinggir jalan sambil nongkrong.” Kata Jodi, kemudian, “Oya? Tadi kamu ngapain aja sayang?.” Sambung Jodi.


“Papa kan lihat sendiri tadi aku ngapain aja di taman dekat apartemen itu.”


“Hehe.. si Menara kenapa tadi? Kelihatan banget muka nya mengkerut.”


“Oh itu… Aku tadi dengar obrolan Menara sama Arash, katanya waktu tadi Menara masuk ke apartemen ceweknya,, di dalam ada papanya lagi mantap-mantap sama pacarnya, hehe.”


“Apa?! Yang bener sayang?.” Jodi terkejut mendengar penuturan Berlian.


“Iya papa, makanya Menara jadi uring-uringan hehe… sekarang mereka mau ke club katanya melampiaskan kekecewaannya.”


“Oh begitu ya?.”


“Iya kasihan juga sih dia. Tadi nya dia yang mau mantap-mantap sama pacarnya, eh ke duluan sama papa nya hehe.” Celoteh Berlian.


“Emang putri tahu apa itu mantap-mantap?.” Tanya Riksa spontan.

__ADS_1


“Tahu lah… ML kan?.” Jawab nya sembari menjuruskan pandangannya pada Jodi.


Melihat tatapan putrinya itu, Jodi sedikit gugup sembari membalas pandangannya. Kemudian menggeleng pelan kepalanya mewakilankan kata “tidak/jangan” dan gadis itu pun mengerti, ia menganggukan pelan kepalanya seraya membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jodi.


Riksa melihat pemandangan itu dari spion.


Sesaat hening di antara mereka hanya terdengar alunan musik yang terdengar pelan.


..............


Sementara itu di dalam mobil Menara, mereka melihat mobil yang membawa Berlian berbalik arah.


“Kok mereka malah putar arah ya? bukannya balik kerumah mereka.” Gumam Menara.


“Mungkin mau muter-muter dulu kali Ra.”


“Iya kali ya. Oya Ar, elo tahu gak? kalau gue menangkap gelagat aneh dari kelakuan si Berlian sama papanya itu.”


“Gelagat aneh gimana maksud elo?.”


“Gue pernah lihat mereka di bioskop kok kelihatan mesra gitu kayak orang pacaran.”


“Ah gila luh! Masa sih?!.”


“Sumpah Ar.. makanya gue kemaren ancam dia tuh dan kelihatan dia ketakutan gitu, gue jadi curiga apa papa nya si Berlian itu benar papa nya atau bukan ya?, Kalau memang Jodi itu papanya berarti mereka sudah menjalin hubungan terlarang kan?. Tapi kalau misalkan bukan papa kandungnya, pantas saja mereka terlihat dekat banget seperti pasangan ke kasih. Bisa saja mereka menjalin hubungan.”


“Gak percaya gue.. lagian belum tentu juga mereka ada hubungan Ra. Masa si Berlian doyan sama lelaki tua sih?!.”


“Kalau elo gak percaya, ayo kita selidikin mereka. Kita ikutin kemana mereka pergi Ar.”


“Apa! Kurang kerjaan banget tau gak sih luh!. Jadi elo lupa dengan clubing kita?.”


“Ini kan masih sore Ar, entar aja kita kesana tengah malam, masih ada tiga jam lagi buat cari tahu mereka, ya biar elo tahu aja.”


Kemudian mobil Menara yang di kendalikan oleh Arash mengikuti mobil Jodi jauh di belakang mereka.


Tak beberapa lama kemudian, mobil Jodi berhenti pada sebuah parkiran toko dimana di sampingnya terdapat penjual beber goreng.


Terlihat Jodi dan Berlian turun dari dalam mobilnya, mereka berdua jalan bergandengan masuk ke dalam tempat makan itu.


Dari kejauhan Menara dan Arash memperhatikan mereka.


“Coba elo lihat mereka!.” Kata Menara pada Arash.


“Orang bergandengan begitu biasa aja kali Ra.” Ujar Arash.


“Ya dari situ bisa elo lihat, memang harus seperti begitu ayah sama anak?.”


“Ya gak apa-apa kali, orang lain juga banyak yang gandeng anaknya kayak begitu.”


“Nanti deh elo lihat tingkah si Berlian selanjutnya. Sekarang kita tungguin aja mereka sampai mereka selesai. Sekarang sambil nunggu mereka selesai makan, gue juga jadi lapar. Sono luh beli makanan!.”


“Eh anjir! Elo udah seperti detektif aja lagi ngintel penjahat, haha.”


“Ya anggap aja kita lagi latihan haha.”


Kemudian Arash membeli makanan siap saji yang tidak jauh dari tempat pengintaian mereka, tidak memakan waktu lama, Arash kembali dengan dua paket makanan dan minuman yang sudah di bungkus dan satu paketnya Arash berikan pada Menara. Dan mereka berdua pun menikmati makanan mereka sembari memperhatikan Berlian dan Jodi dari kejauhan.


Kurang dari satu jam mereka melihat Berlian dan Jodi meninggalkan tempat makan itu dan memasuki mobilnya. Kemudian mobil mereka pergi meninggalkan tempat itu. Bergegas Arash memacu kendaraannya mengikuti kendaraan Jodi atas perintah Menara.


“Mau kemana lagi mereka ya?.” Kata Arash yang terus melihat mobil yang ia ikuti dari belakang.


“Pasti mereka menuju suatu tempat lagi, ini kan bukan jalan menuju tempat pulang mereka.” Selidik Menara sembari terus memperhatikan mobil yang di tumpangi Berlian dan Jodi.

__ADS_1


Sampailah mobil yang di tumpangi Jodi dan Berlian di sebuah taman yang tidak terlalu ramai hanya ada beberapa pasangan yang tengah menikmati malam minggu mereka dan terlihat beberapa pedagang kaki lima di antara mereka.


Terlihat Jodi dan Berlian keluar dari mobil mereka, berjalan menuju taman itu dan duduk di atas hamparan rumput. Sementara Riksa keluar dari mobil menuju warung yang terletak sedikit jauh dari tempat dimana Jodi dan Berlian berada.


Sementara Menara dan Arash tetap di dalam mobilnya memperhatikan Berlian dan Jodi, tepat dari arah belakang mereka yang berjarak kira-kira 50 meter jauhnya. Namun dari sana mereka masih dapat melihat pergerakan Berlian dan Jodi.


Terlihat Berlian merebahkan kepalanya pada pangkuan Jodi yang kala itu Jodi duduk melonjorkan kakinya dengan kedua tangan menjadi penopangnya di belakang tubuhnya.


“Sayang… dulu ayah dan ibumu selalu kesini hanya sekedar untuk menikmati malam minggu mereka saat kau belum lahir.” Kata Jodi sembari tangan kirinya mengelus-elus pucuk kepala Berlian.


“Oya?. Terus papa juga disini dengan pacar papa?.”


“Mending kalau papa ada yang nemenin. Kamu tahu? Papa jadi obat nyamuk mereka. Hanya sendiri menunggui mereka yang selalu bermesraan.”


“Hehe… mirip seperti kak Riksa sekarang dong.”


“Ya… tepatnya seperti itu.”


“Tapi kan sekarang papa bersamaku, papa tidak sendiri lagi.”


“Iya sayang, papa tidak menyangka kalau kita akan mengulang kebersamaan mereka kembali di tempat ini.”


“Apa papa bahagia?.”


“Tentu saja papa bahagia sayang… siapa yang tidak merasa bahagia hidup bersama gadis sepertimu.”


Kemudian Berlian mengangkat tubuhnya, kembali duduk di samping Jodi, perlahan ia pandangi wajah lelaki yang telah membuat dirinya jatuh cinta itu, kemudian mendaratkan bibirnya dengan mesra pada pipi lelaki itu.


“Duduklah disini sayang.” Jodi mengangkat tubuh Berlian dan meletakan tubuh gadis itu di atas pangkuannya, ia lingkarkan kedua tangannya pada pinggang gadis itu yang duduk membelakangi di atas pangkuannya, lalu ia menopangkan dagunya pada pundak gadis itu seraya memeluknya dengan erat.


“Apa yang kau rasakan sayang?.” Tanya Jodi yang perlahan mendaratkan bibirnya pada ceruk leher Berlian dengan mesra.


“Sama sepertimu.. aku merasa bahagia ada bersamamu. Aku ingin seperti ini setiap hari dan selamanya.” Jawab Berlian sedikit mengangkat kepalanya menikmati kehangatan dari bibir lelaki itu yang mendarat pada ceruk lehernya.


“Kalau begitu, pejamkan matamu sayang.. dan rasakan kehangatan ini sampai kau puas.” Bisik Jodi pelan seraya mengecup kembali leher gadis itu.


Arash yang dari tadi menyaksikan gerak gerik mereka dibuat terhenyak melihat pemandangan yang tengah ia saksikan itu.


“Anjiiir! Elo bener Ra. Mereka seperti pasangan kekasih.” Kata Arash yang terus memperhatikan Berlian dan Jodi.


“Bener kan kata gue?!. Jadi menurut elo gimana?.” Tanya Menara.


“Gue gak mau menduga-duga Ra, yang jelas apa yang kita lihat sekarang itu adalah sepasang kekasih yang tengah menikmati malam minggunya. Terlepas mereka memiliki ikatan darah atau tidak. Tapi itu lah kenyataannya.”


“Dan gue yakin. Ibu nya Berlian gak tahu akan hal ini.”


“Ya pastinya gak akan tahu lah Ra, makanya nyokap elo sama nyokap si Berlian berniat jodohin kalian juga.”


“Gue gak bisa bayangin, diluar saja mereka bisa semesra ini, apalagi di rumahnya dan mereka sering tinggal berdua karena ibunya sibuk bolak balik ke Bandung.” Kata Menara.


“Menang banyak ya si om Jodi haha… dapat daun muda. Udah gitu bisa setiap hari tuh mereka begituan.” Kelakar Arash.


“Begitu tuh cewek jaman sekarang! Sukanya sama lelaki tua. Gak jauh beda kan sama si Narita?! Cih… najis!.” Geram Menara yang kembali ingat pada kekasihnya yang telah bermain belakang dengan ayahnya.


“Ayo! Cabut!.” Sambung Menara pada Arash untuk meninggalkan tempat itu menuju tempat tujuan asal mereka yaitu ke sebuah club malam demi menghilangkan kekacauan yang kini tengah ia rasakan.


Dan mobil mereka pun melesat pergi meninggalkan taman kota itu yang menyisakan dua insan yang tengah menikmati malam minggu indahnya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Jangan lupa tinggalkan jejaknya readers sayang🥰


Makasih😍

__ADS_1


__ADS_2