
Darren terbangun dan menatap ke sampingnya. Terlihat, Darrel yang masih tertidur. Dia mengusap matanya lalu menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan wajah segar.
"Kau sudah bangun?"
"Apa kita sudah tiba di lumah Nenek buyut? Aku lasa, aku tidul sudah cukup lama."
"Kita sudah sampai. Ayo, ke ruang tamu!"
"Ayo. Tapi, aku cuci muka dulu!"
"Cepatlah!" Darrel segera menuju kamar mandi. Seperti yang Darren perintahkan, ia melakukannya dengan cepat.
"Ayaahh..." Darrel berlari mendekati Ayahnya saat tiba di ruang tamu. Matanya beredar menatap tiap orang yang ada di rungan itu. "Dimana, Ibu?" Tangan Gara bergerak mengangkat Darrel ke pangkuannya.
"Ibu di dapur bersama Nenek." Jelas Gara. Dua wanita itu terus mendesaknya agar mengizinkan mereka ke dapur. Dan terpaksa, Gara mengizinkan mereka ke dapur menyiapkan makan siang.
"Darrel belum salim sama Kakek," Darrel langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara. Kakeknya sedang menatapnya dengan Darren yang duduk diantara sang Kakek buyut dan Gio.
"Ayah bialkan aku tulun. Aku mau menyalimi tangan Kakek." Gara tersenyum dan menurunkannya. Membuatnya berlari dan langsung meraih tangan sang Kakek.
"Cucu buyut Kakek sangat tampan."
"Telima kasih, Kakek. Kakek juga masih tellihat tampan." Puji anak itu, membuat sang Kakek tertawa.
"Pandai sekali mulutmu berucap." Timpal Gio.
"Paman Gio juga suka pandai bicala."
"Aku kan jiplakan kamu."
"Terbalik, paman." Saru Darren.
"Dallel yang jiplakan paman. Bukan paman yang jiplakan Dallel." Koreksinya.
Alula yang baru datang dari dapur menggeleng pelan mendengar cerewetnya salah satu putranya. Ia tersenyum ke arah mereka.
"Ayo, makan siangnya sudah siap."
"Yes. Baik, bu." Darrel bersemangat. "Ayo cepat, kita ke luang makan. Pelutku sudah sangat lapal." Lanjutnya membuat orang-orang kembali tersenyum lembut melihat sikap lucunya. Terkecuali Darren, anak itu tidak ada sedikit niatpun untuk tersenyum.
Beberapa jam berlalu, akhirnya mereka berpamitan pulang. Wajah sang Kakek dan Nenek berubah sendu. Mereka tidak rela, kebersamaan mereka berlalu begitu cepat.
"Waktu memang berputar begitu cepat." Ungkap sang Nenek.
"Jangan berwajah sedih begitu Nek, Kek. Kita akan bertemu lagi di pernikahanku nanti."
"Kami tidak bersedih jika kau yang pulang. Ini cucu mantu dan cucu buyut yang baru kami temui beberapa kali. Dan juga, ada cucu kami yang baru kami temui setelah bertahun-tahun. Pantas saja kami merasa tak rela mereka pergi."
"Jadi, Kakek dan Nenek tidak peduli jika aku yang pergi? Baiklah, kalian tinggal saja disini. Biar aku sendirian yang pulang."
"Benalkah, Yah? Telima kasih Ayah, mau mengizinkan kami tinggal."
Gara yang hampir meraih gagang pintu mobilnya pun bergeming, lalu berbalik dan berjalan cepat ke arah mereka. "Tidak ada yang tinggal jika Ayah tidak tinggal!" Ucapnya tegas. Terlihat sekali jika ia tak rela jauh dari istri dan anaknya.
"Ck. Kau ini, mereka hanya bercanda. Mereka akan ikut bersamamu." Gio berujar sambil melipat tangannya ke dada.
"Mereka?" Kening Gara berkerut.
"Ya. Aku ingin tinggal disini beberapa hari. Aku akan kembali setelah Ana mengabariku jika urusan keluarganya sudah selesai. Kami akan membeli baju untuk acara pernikahanmu nanti."
"Baiklah, terserah padamu saja." Ujar Gara. "Ya sudah Nek, Kek. Kami berangkat dulu."
"Iya hati-hati." Jawab keduanya bersamaan.
"Kakek buyut, Nenek buyut, Dallel pamit pulang dulu." Darrel menyalimi tangan mereka satu persatu.
__ADS_1
"Aku juga pamit Nek, Kek." Darren turut menyalimi kedua orang tua itu.
"Kami pulang dulu Nek, Kek. Lain waktu, kami akan datang lagi dan menginap." Ujar Alula, berusaha menenangkan perasaan sepasang suami istri yang sudah cukup tua itu.
"Ya sudah, kalian hati-hati." Nenek mengusap rambut Alula, kemudian beralih mencium kening si kembar.
"Gara, hati-hati kau membawa cucu mantu dan cucu buyutku." Kakek menatap Gara, lalu memperhatikan Alula dan si kembar yang memasuki mobil.
"Aku akan selalu memastikan mereka baik-baik saja." Balasnya. "Gio! Aku titip Kakek sama Nenek. Kakek suka begadang dan Nenek, dia suka berkutat di dapur. Jangan biarkan mereka melakukan itu." Gara berteriak dari dalam mobilnya.
"Siap! Aku akan melakukannya dengan baik." Balas Gio sambil mengacungkan jempol.
***
Suasana lantai dasar begitu hening saat Alula melintas. Dengan begitu cepat mereka berdiri sambil menunduk, memberikan hormat pada Alula. Bahkan wanita itu merasa tidak enak diperlakukan seperti itu. Dia sedang tidak bersama Gara sekarang, seharusnya mereka bersikap biasa saja.
"Selamat pagi, nona." Sapa beberapa karyawan saat Alula melewati mereka.
"Se-selamat pagi." Alula menjawab gugup dan menghentikan langkahnya. Ia turut menunduk, pada karyawan-karyawan tersebut.
"Nona, anda jangan..."
"Tidak masalah. Kalian menghormatiku, seharusnya aku melakukan hal yang sama."
"Tapi, tuan akan marah,"
"Tenang saja. Dia tidak akan marah jika dia tidak tahu."
Setelah perbincangan kecil dengan beberapa karyawan, Alula langsung menuju ruangannya. Gara bersama sekretaris Kenan sedang meninjau proyek pembangunan apartemen.
Alula mulai mengerjakan pekerjaannya yang tersisa. Kemungkinan, hari ini adalah hari terakhirnya masuk kantor. Satu atau dua minggu kedepan, dia bersama Gara tidak akan masuk kantor lagi. Setelah urusan pernikahan mereka usai, mereka baru bisa kembali ke kantor.
Deringan handphone membuat Alula mengalihkan atensinya. Gara, nama penelpon yang tertera di layar hp-nya.
"Hallo, Gara."
"Hallo. Turunlah! Aku menunggumu di bawah."
"Baiklah, aku akan turun segera."
Panggilan diputuskan. Alula meraih tasnya dan segera turun. Langkahnya membawa dia ke gerbang perusahaan. Disana, Gara sudah menunggu.
"Silakan, nona!" Sekretaris Kenan membukakan pintu dan mempersilahkan Alula masuk.
"Terima kasih sekretaris Kenan." Lelaki itu mengangguk menanggapi Alula.
"Sama-sama, nona."
"Hai, Bu." Sapa Darrel yang berada di kursi belakang mobil. Alula langsung menoleh ke sumber suara.
"Hai, anak-anak Ibu." Senyuman Alula seolah menular pada kedua putranya. Darren yang terlihat datar, sedikit menarik sudut bibirnya membentuk senyum kecil. Gara juga ikut tersenyum, ditariknya wajah Alula untuk mendekat lalu mengecup keningnya pelan.
"Gara, ada anak-anak disini." Alula menjauhkan wajahnya yang sudah bersemu merah.
"Ayolah, kamu harus terbiasa."
"Terserah kamu." Balasnya, masih menahan malu. "Oh ya, kita mau kemana? Ini masih jam kantor." Alula baru sadar saat Gara melajukan mobil semakin jauh dari perusahaan.
"Kita akan ke rumah orang tuamu."
"K-ke rumah Ayah?"
"Ya, kita juga membutuhkan restu orang tuamu."
"Kita ke lumah Kakek Zalfan, Yah?"
__ADS_1
"Iya."
Mobil Gara menyelinap diantara puluhan kendaraan di jalanan. Melewati satu persatu kendaraan. Hingga tak terasa, mereka sudah tiba di rumah Zarfan. Deru mobilnya tak membuat penghuni rumah keluar untuk melihat.
"Bagaimana kamu tahu alamat rumah Ayah?" Alula turun dari mobil, lalu menuntun Darren Darrel turun.
"Apa kamu lupa? Aku mendapatkan alamat rumahmu sebelum kecelakaaan itu menimpaku. Selain itu, aku bisa mendapatkannya dengan mudah." Alula hanya membalasnya dengan senyum. Dia adalah Gara. Hanya dengan sekali perintah, dia akan memperoleh hasilnya.
Ketukan pintu terdengar oleh Zarfan dan Disa. Keduanya yang sedang bersantai di ruangan tengah saling menatap. Tidak mungkin Elisa pulang secepat itu. Dia baru berangkat kemarin untuk berlibur dengan teman-temannya.
"Ibu yang bukain, Yah." Bu Disa segera menuju pintu dan membukanya. Tubuhnya terkejut kaku. Matanya mengerjap-ngerjap, memastikan jika yang ia lihat tak salah.
"Ibu," Suara Alula menusuk indra pendengarannya. Membuatnya yakin, jika ia tidak salah lihat.
Bu Disa langsung menarik Alula dalam dekapannya. Mencurahkan segala kerinduannya untuk sang putri selama ini.
"Alula anakku, aku sangat merindukanmu."
"Alula juga, Bu." Balasnya.
"Alula?" Suara Zarfan yang berdiri cukup jauh di belakang Disa terdengar. Alula melepaskan pelukannya dan langsung memeluk sang Ayah.
"Aku merindukan Ayah," Alula semakin mengeratkan pelukannya.
"Ayah sangat merindukanmu." Balas sang Ayah. Zarfan melonggarkan pelukannya dan menatap wajah sang putri. Tangannya terangkat mengusap bulir air mata Alula.
"Jangan menangis, nak."
"Ini air mata kebahagiaan, Ayah."
Bu Disa tersenyum pada si kembar, lalu menunduk dan sedikit membungkukkan badannya menyapa Gara. Hal yang sama dilakukan Zarfan. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya setelah melepaskan pelukannya.
"Tuan," Sapa kedua orang tua itu bersamaan. Gara hanya membalas dengan anggukkan.
"Mari tuan!"
Gara bersama si kembar masuk, lalu Zarfan, Disa dan Alula. Semuanya terduduk di ruang tamu. Suasana hening menyelimuti mereka sejenak. Hingga tiba-tiba celotehan Darrel membuyarkannya.
"Kenapa semuanya diam? Nek, apa Nenek tidak senang kami belkunjung?" Darrel mendongak menatap Neneknya. Anak itu masih nyaman di pangkuan sang Nenek.
"Tidak. Nenek senang kalian berkunjung."
"Lantas, kenapa kalian hanya diam?" Darren menimpali.
"Darreen, Darreel. Jangan begitu, ya?" Alula mentap kedua putranya.
"Ada hal penting yang membuat kami kemari." Ujar Gara, datar. Sebenarnya, ia masih belum begitu menerima perlakuan sang Ibu mertua pada Alula dulu. Jika mengingat betapa sulitnya Alula dulu menghadapi Ibunya, membuat Gara kembali merasa kesal. Ingin rasanya ia memberi hukuman pada wanita itu, jika tidak mengingat Alula sangat menyayanginya.
"Maaf tuan, hal penting apa yang membawa tuan kemari?" Ujar Zarfan.
"Saya meminta izin untuk menikahi Alula minggu depan."
Kedua sudut bibir suami istri itu tertarik membentuk senyum. Mereka juga turut bahagia untuk putri mereka. Restu mereka akan selalu menyertai Alula dan keluarganya nanti. Bagaimanapun tuan Gara, mereka yakin bahwa lelaki itu adalah yang terbaik untuk putri mereka.
"Saya turut bahagia mendengar kabar ini. Saya mengizinkan tuan menikahi putri saya. Semoga acara pernikahannya lancar dan kalian diliputi kebahagiaan."
"Terima kasih, Ayah." Alula memeluk sejenak Ayahnya.
"Ibu juga turut bahagia, nak."
"Terima kasih, Bu." Balas Alula, juga memeluk sang Ibu. "Oh ya, Bu. Dimana kak Elisa?"
"Dia sedang berlibur bersama teman-temannya."
Mendengar nama Elisa disebut, Gara mengepalkan tangannya. Dia hampir lupa dengan sosok wanita satu itu. Wanita yang juga memiliki andil dalam kesulitan hidup Alula. Tapi, saat ini dia hanya ingin fokus pada pernikahannya. Masalah Elisa, dia bisa menyelesaikannya nanti.
__ADS_1