Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Selamat Datang, Alisha


__ADS_3

Beberapa hari di rumah sakit, Alula dan bayinya di perbolehkan pulang. Pak Andi meraih perlengkapan Alula saat melahirkan dari tangan Gara. Ia menyimpannya di bagasi, lalu membuka pintu untuk Gara dan Alula.


"Hati-hati, sayang." Ujar Gara, meletakkan tangannya di kepala Alula agar tidak mengenai bagian atas pintu.


"Biar aku yang memangkunya." Lanjutnya, meraih putrinya dari Alula setelah duduk dalam mobil. "Sayang, sama Ayah dulu, ya?" Ujarnya sambil mengusap-usap pipi lembut putrinya. Alula yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Gara sangat menyayangi putrinya.


Pak Andi segera melajukan mobilnya. Di perjalanan, ia sesekali melirik spion mobil, melihat kehangatan yang Gara berikan untuk nona kecil mereka, Alisha.


"Sayang, lihat Ayah, nak!" Ujar Gara, hendak menunjukkan sesuatu pada Alisha.


"Sayang, Alisha belum bisa melihat..." Ucap Alula, membuat Gara langsung menoleh padanya dan memotong perkataannya.


"Benarkah? Apa anakku tidak bisa melihat? Kenapa dokter tidak memberitahuku?" Wajah Gara terlihat khawatir.


"Sayang, maksudku bayi yang baru lahir belum bisa melihat dengan sempurna. Dia akan berkembang secara bertahap."


"Huufth, ku pikir putriku tidak bisa melihat." Gara menarik nafas lega. Ia kemudian mencium wajah putrinya.


"Apa kamu ada masalah putri kita tidak bisa melihat?"


Gara menatap Alula. "Apa yang kamu katakan? Putri kita bisa melihat. Kalaupun tidak bisa melihat, dia akan tetap menjadi putriku. Apapun keadaannya, dia putriku. Dan aku akan berusaha mengembalikan penglihatannya." Ujar Gara, yakin.


Alula yang melihat kesungguhan Gara tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia beruntung memiliki lelaki seperti Gara. Yang menyayanginya dan anak-anak tanpa memandang kekurangan yang mereka miliki.


"Terima kasih," Gumam Alula pelan, namun masih bisa di dengar Gara. Lelaki itu mengulas senyum membalasnya.


Mobil Pak Andi berbelok masuk ke halaman rumah Gara. Suasana rumah terlihat sepi. Darren maupun Darrel tidak menghampirinya. Padahal hari ini adalah hari libur. Tidak mungkin kedua anak itu tidak di rumah.


"Sayang, si kembar di rumah Ayah?" Tanya Alula, sembari berjalan memasuki rumah dengan Alisha di gendongannya dan Gara di sampingnya.


"Tidak. Tadi, Pak Andi mengatakan jika mereka di rumah. Gio juga di rumah." Jawab Gara, kemudian mendorong pintu.


"Selamat datang, Alisha..." Ujar semuanya bersamaan. Edo, Irene, Gio, Viko, Ana, Tari, Sadam, sekretaris Kenan, Elisa, Ginanjar, Zarfan dan Disa berada disana. Ditambah Darren, Darrel dan juga Saya. Mereka menyiapkan kejutan untuk menyambut Alula dan putrinya. Pelayan-pelayan rumah juga ikut menyambutnya.


"Ka-kalian..." Mata Alula kembali berkaca-kaca. Perasaan bahagia itu menerobos begitu saja kedalam hatinya. Ia menoleh pada Gara. Lelaki itu membalasnya dengan senyuman. Sesungguhnya dia juga mengambil peran dalam mempersiapkan kejutan ini.


"Selamat datang istriku, selamat datang putriku yang manis, Alisha. Ayo!" Gara kembali menuntun istrinya mendekati mereka.


"Coba kulihat! Ya Tuhan, putrimu sangat cantik sepertimu, Alula." Puji Edo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Gara.


"Edo!" Ujarnya datar.

__ADS_1


"Ck. Aku hanya memuji istrimu, bukan merebutnya darimu!" Kesal Edo dengan sikap posesif sahabatnya itu.


"Aaaa... Putrimu sangat cantik," Ujar Irene hendak mengelus pelan pipi Alisha.


"Jangan mencubitnya!"


"Aku hanya menyentuhnya, bukan mencubitnya." Balas Irene, ikut kesal. Pasangan suami istri itu memang tidak ada takutnya dengan Gara.


Satu persatu dari mereka bergantian melihat bayi itu. Hanya tersisa Gio dengan dua keponakannya dan Asya. Mereka memilih menjadi yang terakhir. Berharap Gara membiarkan mereka lebih lama bersama Alisha. Walaupun wajah Gara sekarang terlihat masam karena mereka tidak mengindahkan perkataannya.


"Kakak Ipar, biar ku gendong." Gio mengulurkan tangannya, namun segera ditahan oleh Gara.


"Anakku sensitif. Kau harus bersih dulu sebelum menggendongnya."


"Aku sudah bersih. Sudah dua kali aku mandi. Jadi, jangan khawatir."


"Baiklah. Kau boleh menggendongnya, tapi lima menit!" Gio langsung memutar bola matanya.


"Lima menit? Itu hanya sebentar! Aku tidak mau!"


"Ya sudah, tidak usah gendong!" Balas Gara santai, membuat Gio semakin melotot ke arahnya. Hal itu membuat semua terkekeh. Gio sangat lucu saat memelototkan matanya.


Gio meraih Alisha dari gendongan Alula dan membawa bayi itu ke gendongannya. Dia sangat bahagia menggendong bayi kecil itu.


"Kamu sangat lucu!" Gumam Gio, lalu menciumnya. Setelah itu ia mengembalikan Alisha pada Alula.


Kini giliran Darren, Darrel dan Asya. Ketiga anak itu meminta Alula duduk agar bisa melihat Alisha dengan baik.


"Adekku sangat lucu." Darrel mencium wajah Alisha. Darren tidak mengucapkan apa-apa. Dia hanya menunduk mencium Alisha.


Asya yang melihatnya hanya tersenyum. "Adek, ternyata kamu benaran perempuan ya? Doaku dikabulkan Tuhan. Sekarang Asya punya teman main rumah-rumahan barbie. Asya senang banget." Ujar anak itu dengan senyum cerianya.


Asya menoleh pada Gara. Melihat sikap Gara yang melarang orang-orang dewasa itu tadi, membuatnya agak takut menyentuh adek bayi jika belum izin pada Gara.


"Paman," Panggil Asya.


"Ada apa, nak?" Gara menjawabnya dengan lembut.


"Paman, apa boleh aku mencium adek bayi?"


"Astaga, nak. Kamu boleh cium adek bayi. Paman hanya melarang mereka. Itu tidak berlaku untuk kalian bertiga, juga kakek dan nenek." Ujar Gara melirik Ginanjar, Zarfan dan Disa yang sedang terlibat obrolan kecil.

__ADS_1


"Terima kasih, paman." Asya memeluk leher Gara dan mengecup pipinya. Membuat Gara mengacak pelan rambutnya.


Gadis kecil itu kembali menoleh ke arah Alula, tepatnya menatap Alisha. Kemudian ia menciumnya.


"Pilih kasih!" Gumam Gio dan Viko yang hanya diabaikan Gara.


***


Langit sudah menghitam. Semua yang mengunjugi rumah Gara sudah kembali ke rumah masing-masing. Gio dan si kembar sudah kembali ke kamar masing-masing.


Sementara di kamar Gara dan Alula, pasangan suami istri itu masih terjaga. Putri kecil mereka masih belum terlelap.


"Anak Ayah kuat banget belum tidur jam segini." Gara mengecup pipi Alisha yang masih terjaga dalam gendongan Alula.


"Sayang, kamu tidur aja. Biar aku yang temani Alisha. Kamu besok kerjakan?"


"Tidak! Aku masih belum kerja besok."


"Kamu udah lama lho, tidak masuk kerja."


"Aku kan kerja dari rumah, sayang. Lagian perusahaan baik-baik saja." Balas Gara. Tangannya bergerak merangkul Alula.


"Anak Ayah cantik banget sih." Gemas Gara, mengusap lembut pipi Alisha.


"Sayang, makan dulu ya? Setelah ini tidur, okey? Anak kecil gak baik tidurnya larut." Ucap lembut Alula pada Alisha sembari memberi ciuman kecil di wajah Alisha.


"Sayang, kamu keluar bentar ya?" Alula menatap wajah Gara. Membuat lelaki itu mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" Alula terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Gara, jika dia malu Gara melihatnya menyusui Alisha.


Saat mengerti maksud Alula menyuruhnya keluar, Gara tersenyum menggoda. "Aku tahu, kamu pasti malukan jika aku lihat kamu memberikan asi pada Alisha?" Tanyanya sambil menaik turunkan alisnya, menggoda Alula. Membuat wajah wanita itu memerah malu.


"Ish, apaan sih? Sayang, jangan godain aku ya?" Kesal Alula membuat Gara terkekeh.


"Kamu sih, pakai malu-malu segala. Aku kan udah sering lihat semuanya. Liburnya cuma pas kamu ha... Shh... Sakit sayang." Ucapan Gara disambung ringisan karena cubitan Alula. Wajah wanita itu sudah semerah tomat. Karena tidak tega, Gara membawa Alula bersandar di tubuhnya.


"Aku bercanda." Ujarnya, mengusap pelan rambut Alula. "Aku mencintaimu." Ujarnya lagi, mengecup puncak kepala Alula.


Wanita itu tersenyum. Ia lalu bergerak sedikit menjauhkan tubuhnya dari Gara. "Terima kasih sudah mencintaiku. Aku juga mencintaimu." Balasnya, dan langsung mendapat kecupan di bibir dari Gara.


"Aku akan menyusui Alisha." Alula segera memberikan asi pada Alisha, dan membuatnya tertidur.

__ADS_1


__ADS_2