
Pak Zarfan kembali ke kantornya. Ia masih terus memikirkan kedua anak kembar itu. Terutama Darrel. Meskipun wajahnya tidak mirip Alula, matanya sangat sama persia dengan Alula.
"Ferdy." Panggil pak Zarfan pada sekretaris nya.
"Iya tuan."
"Apa kau ingat dengan putri ku Alula?" Tanya Zarfan pada sekretaris nya yang sudah bekerja dengannya sejak Elisa dan Alula masih remaja.
"Iya tuan, saya ingat."
"Menurut mu, bagaimana dengan Darrel? Bukankah matanya sangat mirip Alula?"
"Iya tuan. Aku juga merasa begitu."
Zarfan menarik nafasnya panjang. "Saya memang Ayah yang bodoh. Saya tidak mendengarkan penjelasan anak saya sebelum mengambil keputusan." Ucap pak Zarfan dengan nada penyesalan.
"Itulah penyesalan tuan, selalu datang di akhir cerita." Timpal Ferdy.
"Kau benar."
"Apa tuan..."
"Sudah cukup Ferdy! Kau boleh keluar. Aku ingin sendiri." Ujar pak Zarfan.
"Baik tuan. Saya permisi." Fardy keluar dan kembali menutup pintunya. Zarfan terdiam dan merenungi kesalahannya. Sudah enam tahun lebih ia kehilangan putrinya. Dan sampai sekarang pun, ia masih belum menemukan Alula.
***
Jam menunjukkan angka delapan. Zarfan yang sudah selesai makan malam bersama istrinya, Disa dan putrinya Elisa, beristirahat di ruang keluarga. Ia duduk dengan pikiran yang terus tertuju pada Alula.
"Ayah kenapa?" Tanya Bu Disa, duduk di sebelah pak Zarfan.
Lelaki itu menoleh dan menghembuskan nafasnya. "Huuuhh... Aku sedang memikirkan Alula Bu." Jawab pak Zarfan.
Hening. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Bu Disa. Tidak di pungkiri, ia juga merindukan putrinya itu. Setelah kepergin Alula, ia baru sadar, jika dirinya adalah ibu yang buruk.
"Tadi, aku bertemu dengan dua anak. Mereka kembar. Salah seorang dari mereka memiliki mata yang sangat mirip dengan Alula." Ucap pak Zarfan.
"Aku sangat merindukan Alula. Bagaimana keadaan anak itu saat ini? Apa dia baik-baik saja? Apa anaknya juga baik-baik saja? Aku merasa menjadi Ayah yang buruk."
Setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Bu Disa. Hatinya teriris jika membayangkan kehidupan Alula di luar sana.
"A-aku juga ibu yang buruk. Bahkan sangat buruk. Aku tidak suka pada anakku sendiri, hanya karena kematian Putri. Padahal aku tahu, kepergian Putri bukanlah sepenuhnya salah Alula." Ucap Bu Disa, sambil terus menangis.
__ADS_1
Putri, ia adalah saudara kembar Alula. Di usia lima tahun, Putri meninggal karena terjatuh dari tangga. Saat itu, Alula dan Putri sedang menuruni tangga. Alula terpeleset dan jatuh menimpa Putri yang ada di depannya. Keduanya terjatuh hingga ke dasar tangga. Tidak terjadi apa-apa pada Alula. Tapi putri mengalami pendarahan dahsyat di otaknya. Nyawanya tidak bisa tertolong. Sejak saat itulah Bu Disa dan Elisa tidak suka pada Alula.
Pak Zarfan yang melihat istrinya semakin sesenggukkan pun, membawa nya ke dalam pelukan. Ia bersyukur, akhirnya wanita yang ia cintai itu sadar atas perbuatannya.
"Sudahlah! Aku akan membayar orang untuk mencari Alula. Atau aku sendiri yang akan mencarinya." Ucap pak Zarfan, mengusap lembut rambut istrinya.
***
Elisa keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Dia mencari Ibunya, namun tak ia temukan. Langkahnya beralih menuju ruang keluarga. Tapi, hasilnya sama. Tidak ada Bu Disa disana.
"Ibu kemana sih sebenarnya. Masih pagi udah hilang aja. Apa ibu ikut Ayah ke kantor ya?" Gumam Elisa.
Elisa berjalan hendak ke kamarnya lagi. Namun langkahnya terhenti saat melewati pintu belakang, menuju taman belakang rumah. Ia melihat Bu Disa sedang duduk di sana.
"Ibu!" Panggil Elisa, membuat wanita itu menoleh.
"Iya nak, ada apa?"
"Tidak, aku hanya ingin berpamitan pada Ibu. Aku ingin menemui Rendra. Ibu sedang apa disini?"
"Aku hanya melihat bunga-bunga di sini." Jawab Bu Disa. "Elisa, apa kau tahu dimana adik mu berada?"
Elisa mengernyit. "Adik? Siapa? Aku tidak memiliki adik." Ujar Elisa, sambil melipat kedua tangannya.
"Dia memang pantas untuk di lupakan." Balas Elisa.
"Ibu bilang apa tadi? Merindukannya? Huh, apa Ibu lupa pebuatan Alula yang menyebabkan Putri meninggal? Jika ibu lupa, aku akan mengingatkannya." Ujar Elisa, menggebu.
"Gara-gara Alula, Putri jatuh dari tangga. Dia mengalami pendarahan hebat hingga kehilangan nyawanya. Alula itu pembunuh Bu. Apa ibu masih bisa mengatakan jika Ibu rindu Alula? Apa Alula pantas dapat kasih sayang Ibu? Alula itu pantas di benci Bu."
"Cukup Elisa! Cukup!" Bentak Bu Disa. Air matanya sudah membanjiri pipi.
"Ibu bentak Elisa, Bu? Ibu bentak Elisa hanya karena Alula?" Tanya Elisa dengan nada tak percaya yang sedikit ia tinggikan.
"Kamu seharusnya tidak mengatakan itu. Alula juga anak Ibu, adik kamu."
"Terserah Ibu. Aku malas membicarakan Alula. Aku pergi." Ucap Elisa, lalu pergi meninggalkan Ibunya.
"Bagaimana bisa Ibu jadi sayang sama Alula. Dasar Alula sialan. Kau selalu membuat hidupku susah." Gumam Elisa sambil berjalan ke kamarnya.
Perempuan itu keluar dengan tas kecil di tangannya. Langkahnya menuju garasi dan menaiki mobilnya. Ia tidak peduli lagi dengan urusannya kali ini. Yang ia pikirkan yaitu, menenangkan dirinya dari masalah Alula.
***
__ADS_1
Pak Zarfan menatap ke arah luar, melalui jendela ruangannya. Angin yang menerpa, membuat pikirannya sedikit tenang.
"Dimana kamu sekarang nak?" Gumam pak Zarfan.
Pikirannya teralihkan saat seseorang mengetuk pintu ruangannya. "Masuk!" Jawab pak Zarfan.
Ferdy masuk dengan beberapa berkas di tangannya. Ia menyerahkannya pada pak Zarfan.
"Ini tuan, berkas-berkas yang harus di tanda tangani." Ujar Ferdy.
"Ya, letakkan saja."
"Kalau begitu, saya permisi." Ferdy hendak berbalik, namun ditahan pak Zarfan.
"Tunggu Ferdy!"
"Iya, ada apa tuan?"
"Saya memerlukan bantuan mu. Bayarlah beberapa orang untuk mencari keberadaan Alula."
"Baik tuan, saya akan melakukannya."
"Terima kasih. Kau boleh pergi."
Setelah Ferdy keluar dari ruangannya, Pak Zarfan segera memeriksa berkas-berkas tersebut satu persatu, dan menandatangi nya.
"Semoga suruhan Ferdy bisa menemukan Alula secepatnya. Aku ingin bertemu dengannya." Gumam Pak Zarfan.
Jam makan siang, Pak Zarfan kembali ke rumah. Ia ingin memakan masakan istrinya. Sesampainya di rumah, ia mengernyit heran. Rumah terlihat sangat sepi.
Dimana Disa dan Elisa? Tidak biasanya mereka tidak ada. Walaupun tidak ada Elisa, tapi biasanya Disa akan berkeliaran di dapur.
Pak Zarfan berjalan ke kamarnya. Saat membuka pintu kamar, ia melihat Bu Disa sedang meringkuk di atas ranjang.
"Bu, Ibu kenapa?"
"A-ayah? Ayah sudah pulang? Ayo makan siang! " Ujar Bu Disa, menghapus air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Ibu kenapa menangis? Ayo, ceritakan!"
"Ibu sangat merindukan Alula, Yah. Ibu khawatir padanya. Bagaimana keadaannya setelah kita usir dia dari rumah. Bagaimana hidupnya saat kita menelantarkan dia dalam keadaan hamil. Ibu tidak sanggup membayangkannya. Ibu memang Ibu yang paling buruk di dunia." Ujar Bu Disa, sambil menangis membayangkan Alula.
Pak Zarfan memeluknya. "Sudahlah! Aku sudah meminta Ferdy untuk mencarinya. Semoga segera di temukan." Bu Disa mengangguk.
__ADS_1
Amiin, semoga cepat di temukan. Ibu sangat merindukan mu, Alula.