
Alula duduk di kursi meja makan bersama Ana juga Darren dan Darrel. Ana di minta nginap oleh Alula. Kemarin dirinya pulang larut karena pekerjaannya yang menumpuk.
"Oh ya, Darren Darrel, bagaimana penyambutan donatur sekolah kemarin?"
"Semuanya lancal bu. Donatulnya baik." Jawab Darrel.
"Siapa nama donaturnya?" Tanya Ana.
"Kakek Zarfan."
Deg. Alula terdiam mendengar jawaban Darren. Ana pun sama, ia menoleh menatap Alula. Mata Alula terlihat berkaca-kaca.
A-apa itu Ayah? A-aku ingin bertemu dengannya.
"Ibu! Ibu kenapa?" Derrel memegang tangan Alula, membuat Alula terkesiap.
"Maaf." Ujar Alula dengan senyum paksanya.
Aku tahu, kau pasti mengingat Ayah mu. Batin Ana.
Darren dan Darrel saling menatap. Ada yang aneh dengan Ibu mereka. Keduanya lalu menatap Alula dengan tatapan menyelidik.
"Apa yang kalian lihat? Apa ada makanan yang menempel?" Tanya Alula, berpura-pura tidak tahu dengan arti tatapan kedua putranya.
"Ibu menyembunyikan sesuatu?!" Pertanyaan yang lebih menyerupai pernyataan itu berhasil membuat Alula tercekat. Darren memang mengatakannya dengan tenang. Namun terasa sangat mengintimidasi Alula.
"Tidak ada!" Jawab Alula, berusaha setenang mungkin. Namun, sikap pura-pura tenang Alula tidak dapat menipu Darren.
"Jika tidak, kenapa Ibu bertingkah aneh?" Balas Darren.
"Kami tidak ingin melewatkan satu pun tentang hidup Ibu lagi." Timpal Darrel, yang semakin membuat Alula merasa terpojok.
"I-itu... Ibu hanya mengingat seseorang yang memiliki nama sama seperti donatur sekolah kalian."
"Siapa?"
"Darreeen, ayo jangan memojokkan Ibu mu seperti itu!" Ujar Ana, berusaha melindungi Alula dari pertanyaan-pertanyaan yang akan Darren atau Darrel lontarkan.
"Tidak aunty, Ibu halus jujul kali ini!" Tambah Darrel.
"Namanya juga Zarfan. Dia orang yang sangat baik. Dia adalah teman sekaligus keluarga Ibu. Ibu sangat menyayangi nya. Tapi sekarang, ia sudah jauh dari Ibu." Ujar Alula.
Darren dan Darrel kembali saling menatap. Masih ada kejanggalan dalam pikiran mereka. Tapi keduanya urung bertanya. Sepertinya Ibu mereka sangat menyayangi orang itu. Mereka tidak tega untuk bertanya lagi.
Karena sibuk berbicara, empat orang yang sedang menikmati sarapan pagi di meja makan itu, tidak sadar jika ada dua orang lagi di luar rumah.
Gara dan Gio sedang bersitegang di luar rumah, tepatnya di halaman kecil kontrakan Alula.
Cih. Apa-apaan si Gio sialan ini? Membuat ku kesal saja. Tapi, jika dilihat dengan teliti, wajah kami sepertinya mirip. Hanya saja dia... ah apa yang aku pikirkan.
"Kenapa kau menatap ku?" Tanya Gio, dengan nada tak suka.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak menatap mu." Jawab Gara.
"Terus, tadi apa? Jangan-jangan, kau juga tertarik pada lawan jenis?" Tuduh Gio dengan mata melotot, seakan ia terkejut dengan ucapannya sendiri.
Gara yang sudah kesal melihat wajah Gio, di buat kesal lagi dengan ucapan lelaki itu.
"Cih. Mulut apaan itu? Asal ngomong aja kamu. Aku masih normal." Balas Gara, terdengar tegas saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Mulut-mulut lah." Jawab Gio. "Apa kau benar normal?" Lagi-lagi Gio bertanya dengan nada merendahkan.
"Kau! Pergi dari sini, atau aku akan membuatmu terluka."
"Tidak! Kau pikir, aku takut berhadapan dengan orang seperti mu? Lagi pula, kau juga tidak ada hak melarang ku."
"Aku memilikinya. Karena aku..."
"Ayah kandung Darren dan Darrel?" Gio langsung memotong ucapan Gara. Ucapan yang menjadi senjata Gara untuk selalu dekat dan bertingkah posesif pada Darren, Darrel dan Alula.
"Cih. Kata-kata mu itu sudah basi. Aku ingin bertanya pada mu, kemana kau selama Alula mengandung? Kemana kau saat Alula dengan susah payah membesarkan Darren dan Darrel? Kemana kau saat itu? katakan! Kemana kau saat itu?" Ujar Gio, sedikit berteriak pada Gara.
"Kau tidak pernah tau gimana susahnya Alula selama ini. Yang kau tahu, hanya berkata dan bertindak semau mu. Apa kau pernah berpikir mengenai perasaan Alula? Tidak kan? Kau hanya datang, dan memberikan perintah mu yang tidak boleh di bantah. Bahkan kau tidak pernah bertanya padanya, saat kau mengambil keputusan mengenai kehidupan kedua putranya. Apa itu yang di sebut Ayah?!"
Gara terdiam mendengar ucapan Gio. Baru kali ini ia dibuat tak berkutik oleh kata-kata. Semua yang Gio ucapkan adalah benar. Dia memang lelaki kejam, arogan, dan meliliki sifat posesif yang berlebih. Dia tidak pernah berpikir mengenai perasaan Alula. Tapi, apakah salah jika ia melakukan segala hal untuk mendapatkan miliknya kembali.
Aku memang salah dalam hal ini. Tapi, ini perjuangan ku untuk bersatu dengan mereka. Dan aku tidak bisa berhenti. Aku akan memperbaikinya setelah mereka sudah menjadi milikku. Batin Gara.
Alula, Ana, Darren dan Darrel, keluar saat mendengar keributan di depan kontrakan. Wajah Alula dan Ana terlihat cemas, saat mendapati Gara dan Gio yang saling menatap dengan kilatan amarah di mata keduanya.
Mendengar panggilan Alula, keduanya serentak menoleh. Wajah mereka masih di penuhi amarah. Tapi, mereka berusaha menghilangkannya dan mendekati empat orang yang sedang menatap mereka.
"Selamat pagi Ayah. Selamat pagi paman."
"Selamat pagi." Balas Gara dan Gio bersamaan.
"Pagi Yah. Pagi paman." Kali ini Darren yang menyapa. Anak itu terlihat tidak semangat menyapa kedua orang di depannya.
"Pagi Darren." Ucap Gara, kemudian di ikuti Gio.
Mendengar Gio yang mengikuti ucapannya, Gara melirik tajam ke arah laki-laki itu. Hal itu membuat Darren berdecak pelan. Inilah alasan kenapa ia tak semangat menyapa keduanya.
"Kalian mau berangkat sekolah kan? Ayo Ayah antar!"
"Alula, kau akan ke kantorkan? Ayo, aku antar!" Ucap Gio, yang lagi-lagi mendapat delikan tajam dari Gara. Laki-laki itu tidak suka jika Alula pergi bersama Gio.
"Tidak! Alula akan berangkat dengan ku. Kami searah jadi harus sama-sama. Kau antar saja Ana."
"Ya sudah. Jika aku mengantar Ana, Darren dan Darrel ikut bersama ku."
"Bagaimana bisa?" Protes Gara.
"Pasti bisa." Sambung Gio, kekeh.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kalian berdua sudah dewasa. Kenapa bertingkah seperti anak-anak yang sedang berebut mainan? Darren dan Darrel saja, belum pernah aku lihat bertengkar seperti kalian." Timpal Ana, membuat Gara dan Gio berhenti berdebat.
"Ana benar. Kalian tidak pantas seperti ini." Seru Alula.
"Tapi, aku ingin mengatar anakku ke sekolah." Bantah Gara.
"Ya sudah. Kau antar saja si kembar, dan Alula bersama aku dan Ana."
"Kenapa kalian jadi ribut begini? Biarkan Darren dan Darrel yang putuskan, mau pergi dengan siapa." Celetuk Ana.
"Ayo nak, kalian mau ke sekolah sama siapa?" Tanya Alula.
Jika kami sama Ayah, Ibu pasti sama paman dan aunty. Kesempatan untuk Ayah dekat sama Ibu sangat kecil. Batin Darrel.
Ayah harus sama Ibu. Batin Darren.
"Sama paman." Jawab keduanya bersamaan.
Gara melotot ke arah kedua putranya. Bagaimana bisa mereka lebih memilih Gio, di bandingkan dirinya.
Satu kedipan dari Darrel membuatnya berpikir. Satu detik, dua detik, tiga detik, akhirnya ia mengerti arti kedipan Darrel. Senyum mengembang terukir jelas di bibirnya.
Anak-anak pintar.
"Ya sudah. Aku akan berangkat bareng Alula. Ada banyak pekerjaan yang belum di selesaikan."
Cih. Bilang saja kau ingin berduaan bersama Alula. Batin Gio.
"Ayo Alula, kita berangkat." Ajak Gara, membuat Alula mengangguk.
"Darren, Darrel, Ibu berangkat ya. Kalian sama paman Gio dan aunty Ana."
"Siap Bu!" Balas Darrel sambil hormat pada Ibunya. Darren memutar bola matanya, melihat tingkah Darrel.
"Ayo Darren Darrel, kita berangkat!" Ajak Gio yang bukannya menarik tangan Darren dan Darrel, malah menarik tangan Ana.
"Eh eh, ngapain narik tangan aku?" Teriak Ana sambil memukul tangan Gio.
"Maaf-maaf." Balas Gio, canggung. Ia melepaskan tangan Ana, lalu beralih menggenggam tangan Darren dan Darrel. Alula tersenyum menggoda, membuat pipi Ana merona dan salah tingkah
"Kami pergi dulu Bu, Ayah." Ujar Darrel, melepaskan tautan tangannya, meraih tangan Alula lalu menciumnya. Hal yang sama ia lakukan pada Gara.
Darren juga sama. Anak itu mencium tangan Alula, lalu berpindah pada Gara. Sebelum ia menyusul Darrel, Gio dan Ana, ia memberikan isyarat agar Gara menunduk.
Lelaki itu menurut. Ia menunduk, membuat Darren mendekatkan bibirnya ke telinga Gara.
"Gunakan waktu dengan baik. Berusahalah agar Ibu setuju untuk ikut pindah ke rumah Ayah." Bisiknya, lalu pergi begitu saja.
Gara tersenyum, menimbulkan kerutan di kening Alula karena penasaran.
Mereka benar-benar menginginkan kami bersama. Ini kali pertama aku mendengarnya berbicara panjang. Batin Gara.
__ADS_1