
Taksi yang di tumpangi Alula juga Darren dan Darrel, berhenti di sebuah restoran. Alula memandang kedua putranya. Tatapan matanya seakan bertanya, apakah ini benar tempat pestanya.
"Alamat ini tidak salah Bu." Ucap Darrel, kembali menunjukkan undangan pada Alula.
Alula membacanya lagi, memastikan jika alamat tersebut adalah benar.
"Ya, alamatnya benar." Ujar Alula. "Baiklah, ayo kita turun! Ini pak, ongkosnya." Alula menyodorkan selembar seratus ribuan pada si supir.
"Maaf nona. Taksi ini di pesan atas nama tuan Gara Emanuel Grisam, pemilik perusahaan taksi online. Jadi, tidak ada bayaran untuk keluarga tuan Gara."
"Ap-apa?"
"Iya, nona."
Dia juga pemilik perusahaan taksi online? Apa dia sekaya itu? Batin Alula.
Mereka pasti bukan orang sembarangan. Baru kali ini tuan memerintahkan agar tidak mengambil bayaran dari mereka. Biasanya, semua penumpang sama. Termasuk Ibu dan adik tirinya. Batin si supir.
"Ya sudah pak, terima kasih. Ayo Darren, Darrel!"
Alula, Darren dan Darrel keluar dari taksi tersebut. Alula menatap tajam pada Darren. Pasti ini ulahnya, memesan menggunakan nama Gara.
"Ayo, jujur sama Ibu! Pasti kamu kan yang melakukannya?"
"Ya. Ayah yang mengatakannya. Gunakan nama Ayah saat membutuhkan sesuatu." Jawab Darren, santai.
"Huuh... sudahlah."
Ya Tuhan, kenapa dia bisa sesantai ini menjawab ku.
Alula menggandeng kedua anaknya menuju tempat yang tertera di undangan. Private room, tujuan mereka.
"Apa undangannya tidak salah Darren, Darrel? Ini sangat mewah hanya untuk sebuah pesta ulang tahun."
"Entahlah Bu. Kami juga tidak tahu." Tutur Darrel.
"Ya sudah. Ayo!"
Mereka tiba di depan private room. Seorang pelayan restoran menghampiri mereka.
"Silahkan masuk nona. Kalian sudah di tunggu." Ujar si pelayan.
Alula mendorong pelan pintu. Seketika, tubuhnya terpaku, dengan pandangan yang menatap seseorang di depannya.
"Ay-ayah..." Gumam Alula. Matanya kini mulai berkaca-kaca.
Darren dan Darrel hanya menyaksikan. Perlahan, Darren menarik pintu dan menutupnya.
Alula berjalan pelan ke arah Ayahnya. Matanya kabur karena terhalang air mata. Zarfan juga meneteskan air matanya. Batapa ia sangat merindukan putrinya itu.
"Ap-apa ini, benaran Ayah?" Tanya Alula, berdiri tepat di hadapan Zarfan.
__ADS_1
"Iya. Ini Ayah."
Tak menunggu lagi, Alula menubruk Zarfan dan memeluknya erat. Melepaskan semua kerinduan yang ia tahan selama ini.
"Maafkan Alula, Ayah. Maafkan Alula. Alula sudah menjadi putri yang menyusahkan bagi Ayah. Manjadi putri yang hanya bisa membuat Ayah malu."
"Alula tahu, Alula salah. Tapi, Alula mohon! Jangan benci Alula. Tetaplah anggap Alula putri Ayah." Ujar Alula, sambil sesenggukkan dalam pelukan Ayahnya.
"Tidak nak. Ini semua salah Ayah. Ayah tidak memberi mu kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Ayah mengikuti amarah Ayah, dan malah mengusir mu dari rumah. Maafkan Ayah!"
"Ayah sudah tidak becus dalam menjaga mu. Ayah malah membuat mu hidup susah dalam keadaan kau mengandung. Ayah adalah Ayah yang buruk. Maafkan Ayah." Lanjut Zarfan.
Alula mendongak menatap Zarfan. Ia menghapus air mata Ayahnya.
"Tidak ada yang harus Alula maafkan dari Ayah. Semua yang Ayah lakukan tidak salah. Disini, Alula lah yang salah. Jadi, mari sama-sama kita memperbaiki semuanya." Ucap Alula, dengan senyumannya.
Zarfan kembali di buat tersentuh dengan kebaikan putrinya. Ia pikir, Alula akan membencinya dan malah kabur jika bertemu dengan nya. Tapi, semua yang ada di otaknya tidak terjadi. Putrinya itu malah balik meminta maaf padanya.
"Terima kasih." Ucap Zarfan kembali memeluk Alula. Ia menarik sudut bibirnya dengan perasaan bahagia, kala matanya bertemu Darren dan Darrel.
Darren dan Darrel tersenyum melihat senyum di wajah Zarfan. Keduanya juga yakin, Alula pasti merasakan kebahagiaan yang sama, seperti yang Zarfan rasakan.
Darrel melirik Darren di sebelahnya. Pelan, ia menyenggol lengan Darren. Membuat Darren menoleh padanya.
"Dimana Ayah?" Tanya Darrel dengan suara yang dibuat sepelan mungkin. Bisa di katakan seperti berbisik.
"Ayah? Entah. Aku akan mengirimkan pesan padanya." Balas Darren.
Di rumahnya, Gara sudah bersiap. Ia akan berangkat sendiri ke restoran xx. Saat tangannya hendak menarik hendel pintu, sebuah telpon masuk. Gara dengan malas mengangkatnya.
"Ada apa?" Tanya Gara, tanpa basa basi.
"Gara, ini Ibu. Ayah mu kecelakaan. Dia jatuh dari tangga." Ujar Ibu tiri Gara dari seberang sana.
"Aku akan kesana." Balas Gara tanpa banyak bertanya.
Gara menutup pintu dan segera memasuki mobilnya. Ia menjalankan kendaraan roda empat itu menuju rumah Ayahnya, dengan kecepatan penuh. Sudah kebiasaan Ayahnya yang tidak mau di rawat di rumah sakit.
Lima belas menit, Gara tiba disana. Langkahnya langsung menuju kamar Ayahnya. Tidak peduli dengan segala tindak tanduk Laura, si Ibu tiri.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Gara, menatap Ayahnya, Ginanjar. Hubungan mereka memang tidak baik, sejak Ayahnya menikah dengan Laura.
"Keadaannya sedikit buruk." Jawab Laura, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Gara.
"Aku tidak bertanya pada mu." Sarkas Gara, membuat Laura bungkam.
Sialan kau Gara! Aku yakin, akan membuat mu bertekuk lutut dan menyukai ku. Dan kau, suami tua bangka ku, cepatlah mati. Aku tidak sabar memiliki anak mu. Batin Laura.
"Aku tahu jalan pikiran mu. Jangan berharap itu akan terjadi." Ujar Gara pada Laura.
Gara menatap Ayahnya. Dia juga tidak suka bersikap seperti ini pada Ayahnya. Tapi, keputusan Ayahnya yang memaksanya bersikap dingin padanya.
__ADS_1
Satu pesan masuk mengalihkan pandangannya.
Darren
Ayah, semuanya berjalan lancar. Aku dan Darrel menunggu Ayah.
^^^Gara^^^
^^^Tunggulah sebentar lagi. Ayah ada sedikit urusan.^^^
Setelah membaca pesan dari Darren dan membalasnya, Gara mengembalikkan ponselnya ke dalam saku.
"Aku akan kembali. Dia tidak apa-apa. Jaga dia, seperti dia menjaga kehidupan mu dan anak mu itu." Ujar Gara.
"Aku pergi. Jaga kesehatan mu. Semoga cepat sembuh." Ucap Gara pada Ayahnya.
Gara pergi dari rumah itu tanpa berkata apapun lagi. Tapi, dia curiga jika jatuhnya Ginanjar di sebabkan oleh Laura. Setelah mengirimkan pesan pada Sekretaris Kenan untuk mencari tahu semuanya, Gara segera melaju ke restoran xx.
Gara memarkirkan mobilnya dan segera menuju private room. Pelayan-pelayan yang berpapasan dengan Gara, membungkuk hormat. Namun, Gara mengabaikan mereka. Tujuannya adalah private room. Ia tidak peduli dengan mereka semua.
Dengan begitu pelan, Gara mendorong pintu ruangan tersebut. Saat pintu sedikit terbuka, Gara bisa mendengar percakapan orang-orang yang ada di tempat tersebut.
"Bagaimana Yah, makanannya enak?" Tanya Alula, begitu perhatian.
"Ya, makanan di restoran ini sangat enak."
"Ayah ingin tambah? Aku akan memesannya lagi."
"Tidak perlu. Ayah sudah cukup dengan yang ini." Ucap Zarfan.
Alula menatap Ayahnya. Pandangnnya penuh dengan perasaan sayang. "Terima kasih Ayah. Ayah sudah meluangkan waktu bertemu Alula."
"Tidak. Berterima kasih lah pada kedua putra mu itu. Mereka begitu cerdas. Mereka yang merencanakan semua itu."
Alula menoleh pada Darren dan Darrel. Senyum tulus tercetak di wajahnya. "Terima kasih anak-anak Ibu."
"Jangan beltelima kasih pada kami Bu." Ujar Darrel.
Kening Alula mengerut. "Kenapa?"
"Ini semua ide Ayah." Timpal Darren.
Ayah? Apa ini semua ide Gara? Gumam Alula dalam hati.
"Ayah?" Beo Zarfan tak mengerti.
"Iya kakek. Ayah yang melencanakan semua ini. Sebental lagi Ayah pasti datang." Ujar Darrel, yakin.
"Maaf terlambat." Suara berat dari ambang pintu membuat semua menoleh.
"Yay, Ayah."
__ADS_1
"T-tuan Gara?" Gumam Zarfan tak percaya. Matanya masih terpaku pada Gara yang kini sudah menggendong Darrel.