
Gara menatap kesal kurir yang ada di depannya. Pikirannya lebih kesal lagi saat mengingat jika ini adalah makanan yang dipesankan oleh Alula untuknya.
"Wanita itu benar-benar mengujiku." Geram Gara.
"Kau, letakkan makanan di meja lalu keluarlah!"
"Baik tuan." Lelaki berbaju seragam merah itu meletakkan makanan dan keluar.
Setelah kepergian sang kurir, Gara berpindah dari kursinya menuju sofa. Ia meraih handphone dan mendial nomor seseorang. Rahangnya mengeras, tak sabar karena telponnya tak kunjung diangkat orang di seberang sana.
Di kantin, Alula sedang menyuapkan sendokan terakhirnya. Sesekali Tari melemparkan candaan, begitu pun Sadam. Keduanya sangat akrab, membuat Alula ikut tersenyum dan mengbaikan sebentar handphonenya yang berdering.
"Alula, angkat telponnya!" Seru Sadam.
Alula tersenyum dan meraih handphonenya. Seketika ia menegang melihat nama yang tertera di handphonenya.
"Kenapa La?"
"T–tuan Gara Tar." Balas Alula dengan wajah pias.
"Hal–hallo tu–tuan?!"
"Ke ruangan saya dalam lima menit. Jika telat, tidak perlu datang lagi sampai seterusnya." Ucap Gara digin dan langsung menutup telpon sepihak.
Merasa ada hawa-hawa tidak baik dari ucapan Gara, wajah Alula memucat. Diminumnya air seteguk lalu bangkit dari duduknya.
"Kenapa La?"
"Tuan Gara marah. Aku pergi dulu." Tutur Alula segera meninggalkan Tari dan Sadam yang masih menatapnya.
Lift berhenti di lantai 30, dengan jarum jam yang terus berjalan, memaksa Alula mempercepat langkahnya menuju ruangan Gara. Saking takutnya, Alula sampai lupa mengetuk pintu saat masuk ke ruangan itu.
"Maaf tuan," ujar Alula sembari menunduk.
"Apa kau tidak punya sopan santun saat masuk ke ruangan orang?" Sarkas Gara tepat mengenai mengenai hati ibu dua anak itu.
Alula tidak tahu harus berbuat apa. Otaknya seakan berhenti berpikir. Tapi beberapa detik kemudian ia menemukan caranya. Ia membalikkan tubuhnya lalu keluar dari ruangan itu.
Gara hanya melihat apa yang akan perempuan itu lakuakn. Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Permisi tuan," ujar seseorang yang tak lain adalah Alula.
Gara mengenali suara itu. Ia mengulum senyum melihat tinngkah sekretarisnya itu. Tingkah konyol apa ini.
"Masuk!" Jawab Gara, mengikuti alur yang diciptakan Alula. Wajahnya sudah ia kondisikan pada raut semula, datar dan dingin.
"Maaf tuan, saya ti..."
"Duduk!" Potong Gara menepuk sofa di sebelahnya.
Alula ragu, tapi tak urung ia tetap melakukannya. Ia mengambil posisi agak jauh dari Gara.
"Habiskan!" Suruh Gara, mendorong makanan pada Alula.
"Tapi saya sudah makan tuan."
"Minum!" Gara kembali memberikan sebotol minuman pada Alula.
Alula menggeleng, membuat Gara mengepalkan tangannya. Dia merasa Alula tidak ingin makan bersamanya. Padahal di kantin Alula makan dan minum bahkan sambil tersenyum dengan lelaki itu, alias Sadam.
Ya, Gara melihatnya. Ia memantau dari cctv yang tersambung langsung pada tablet-nya.
Gara menahan emosi. Di raihnya minuman tersebut lalu di minumnya. Tangannya menarik tengkuk Alula dan menepelkan bibirnya ke bibir Alula, memindahkan air yang ada di mulutnya ke mulut Alula.
Alula yang mendapatkan perlakuan spontan itu, membelalakkan mata. Dengan susah payah ia menelan minuman yang bersumber dari mulut Gara.
"T-tuan, ap-apa yang kau lakukan?" Gugup Alula sambil memegang bibirnya.
"Itu hukuman untukmu." Balas Gara tanpa rasa berdosa sedikitpun. "Saya akan keluar sebentar. Bawa dokumen yang ada di meja itu, selesaikan hari ini juga." Sambungnya, berjalan keluar menyisakan Alula yang masih terbengong menatap tumpukan dokumen di meja Gara.
"Tuan Gara benar-benar kejam." Gumam Alula.
***
Gara memasuki ruangan Edo dengan senyum mengembang seakan baru mendapatkan hadiah terindah. Edo yang melihatnya bergidik ngeri, baru kali ini Gara tersenyum cerah padanya. Biasanya sahabatnya itu hanya bisa marah-marah dan serius. Tidak ada lelucon atau senyum untuknya.
"Kenapa kamu? Tumben kemari, pake senyum lagi. Kesambet?" tanya Edo.
Gara abai dan menghempaskan tubuhnya di sofa milik Edo. Ia juga memakan makanan milik Edo yang belum tersentuh sekalipun.
"Hei, itu makanan aku."
"Nanti aku ganti." Jawaban Gara lagi-lagi memancing jiwa kepo Edo. Biasanya Gara acuh dan berakhir dengan ia memesan ulang makanannya sendiri.
Edo bangun dan duduk di sofa tunggal di samping Gara. "Gar, kamu lagi jatuh cinta?! Senyum-senyum mulu dari tadi."
Gara menatap risih pada Edo. Temannya ini benar-benar kepo akut. "Gak perlu tau."
"Ck. Kamu selalu gitu sama aku. Untung aku sahabat yang baik." Bangga Edo. "Oh ya Gar, kamu mau tau tentang rahasia masa lalu kamu gak?" Tanya Edo serius.
Rahasia masa lalu, terdengar menarik di telinga Gara. Lelaki itu mengangguk sebagai tanda mengiyakan.
"Kamu ingat malam itu saat kita ketemu di club xx?!"
__ADS_1
Gara berpikir kemudian menggeleng. Tidak satu pun bayangan ke club xx terlintas di pikirannya.
"Astaga, lupa lagi aku. Kamu kan amnesia." Sesal Edo. "Kamu tau saat malam itu..." belum sempat Edo menyelesaikan ucapannya, handphonenya berdering. Lelaki itu menghentikan obrolannya dan menjawab panggilan tersebut.
"Hallo?"
"Iya aku segera ke sana," ujar Edo langsung menutup telponnya.
"Gar, aku pergi dulu." Edo menepuk pundak Gara dan berdiri bersiap pergi.
"Mau kemana?"
"Kemana-mana. Urusan penting." Balas Edo melangkah menjauh dari Gara.
"Aish, ini masih jam kerja." Teriak Gara, saat Gara hampir dekat pintu keluar.
"Aku izin." Balas Edo tak kalah teriaknya.
Gara hanya bisa berdecak kesal. Setelah punggung Edo benar-benar tak terlihat, Gara keluar hendak kembali ke ruangannya. Sekalian mengecek Alula.
"Kamu! Bersihkan ruangan Edo. Jangan sampai ada yang hilang. Kau yang akan tanggung jawab." Ujar Gara pada seorang OB.
Lelaki berseragam OB itu hanya mengangguk dengan wajah pucat yang tergambar jelas di wajahnya.
Di rungan Alula, tinggal beberapa dokumen lagi yang belum ia selesaikan. Gerakan tangannya begitu lincah mengetikkan sesuatu di keyboard komputernya.
"Kerja yang benar!" Suara dingin itu mengagetkan Alula.
"Astaga. Iya tuan." Kaget Alula, mendongakkan kepalanya sehingga matanya bertubruk dengan mata Gara, namun segera ia putuskan.
Wajah Alula bersemu merah saat mengingat kembali perlakuan Gara di ruangan tadi. Ia sangat malu. Itu adalah ciuman pertamanya dalam keadaan sadar.
"Habiskan hari ini juga! Saya tidak peduli kapan kamu pulang. Yang jelas dokumen itu harus selesai sebelum pukul 12 malam." Tekan Gara kemudian berlalu begitu saja.
"Huh, tuan Gara bikin kaget saja. Untung aku gak punya riwayat jantung."
"Tapi apa tadi? Sebelum pukul 12 malam? Ya Tuhan, bantu aku."
"Aku harus meminta tolong Gio menemani Darren dan Darrel."
"Maafkan aku Gio, lagi-lagi aku merepotkan mu."
***
Darren dan Darrel sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Darrel sibuk dengan kanvas dan berbagai alat melukisnya, dan Darren sibuk mengotak atik handphone, iPad dan juga laptop milik ibunya.
Darrel menoleh pada Darren. "Dallen!" Panggil Darrel, tapi tak membuat Darren menoleh.
"Dallen," ulangnya.
"Sama aja." Balas Darrel mengerucutkan bibirnya. "Dallen."
"Hmmm"
"Aku lapal!"
"Makan." Jawab Darren masih terus fokus pada kegiatannya.
"Makanannya udah aku makan lagi tadi."
"Pesan aja."
"Emang kamu ada uang?"
"Ada."
"Uang dali mana?"
"Bobol bank." Jawab Darren masih dengan posisi yang sama.
"Ish, Dallen ngeselin." Darrel merajuk dan melanjutkan melukis.
Beberapa menit kemudian terdengar pintu rumah di ketuk. Darrel bergegas membuka pintu. Mulutnya tak berhenti komat kamit.
"Siapa yang datang sole-sole gini ya?" Gumam Darrel sambil berjalan menuju pintu.
"Jangan langsung dibuka." Peringat Darren yang dibalas jempol oleh Darrel.
Darrel mengintip dari balik gorden. Ia menghembuskan nafas, ternyata itu adalah Gio yang sedang bertamu.
"Hai paman Gio!" Sapa Darrel. "Kenapa datang sole-sole gini?"
"Paman di suruh Ibu kalian buat kesini."
"Kenapa?"
"Ibu kalian pulang telat hari ini. Kasian kalian sendiri." Darrel mengangguk. "Nih makanan buat kalian."
"Pas banget aku lagi lapel." Ujar Darrel menerima pemberian Gio.
"Dallen, ayo paman Gio datang."
"Gak usah teriak-teriak." Tegur Darren yang memang sudah ada di ruang tamu.
__ADS_1
"Makanannya simpan malam aja."
"Jangan! Makan aja, nanti paman beliin lagi."
Tak berpikir panjang, Darrel segera ke dapur mengambil piring dan air. Ia sangat lapar hari ini. Entah sudah berapa kali ia makan, ia lupa.
***
Langit semakin menghitam. Jarum jam terus saja berputar. Darren, Darrel dan Gio telah selesai makan malam. Kini mereka sedang bersantai di ruang tamu dengan Darrel yang asyik menggambar, Darren yang bermain game di ponsel dan Gio yang mulai mengantuk.
Handphone berdering membuat mata Gio melek. Gio meraih ponselnya dan menempelkan di telinga.
"Hallo,"
"Iya tunggu disana, tahan mereka jangan biarkan mereka pergi." Panggilan di putuskan sepihak oleh Gio.
"Darren, Darrel, paman pergi sebentar. Ada urusan penting. Ingat! Jangan buka pintu, siapa pun orangnya. Kecuali Ibu."
"Paman segera kembali." Tegas Gio, segera keluar.
Darren tetap fokus pada gamenya dan Darrel menghentikan kegiatan menggambarnya, menutup pintu dan menguncinya. Mata Darrel menatap Darren, kemudian berpindah ke jam dinding. Ia menarik nafasnya.
"Dallen, Ibu kok belum pulang ya?" Darren menghentikan main gamenya dan menatap Darrel. Tak bisa di pungkiri, ia juga merasa khawatir dengan Ibunya.
"Tunggu sebentar!" Darren masuk kamar, lalu keluar dengan iPad ditangannya.
Tak banyak bicara, Darren menyalakan iPad dan melacak keberadaan Ibunya. Tangannya bergerak-gerak di layar iPad.
"Ketemu. Ayo jemput ibu!"
"Bagaimana bisa?"
"Bisa. Aku memasang alat pelacak di kalung Ibu." Darrel mengangguk.
Darren dan Darrel keluar rumah, tak lupa mengunci pintu. Tepat di depan gang, keduanya bertemu pak Hadi, tukang ojek yang juga ngontrak tak jauh dari kontrakan mereka.
"Eh, nak Darren sama nak Darrel mau kemana?"
"Anterin kita ke sini pak." Darren memperlihatkan tanda merah di layar iPad-nya.
Pak Hadi terlihat ragu, tapi tak urung tetap ia laksanakan. Motor pak Hadi melesat sambil memboncengi Darren dan Darrel.
"Telima kasih, pak. Ini uangnya."
"Nggak usah. Bapak iklas, simpen aja buat jajan ya. Tapi kalian serius, mau cari ibu kalian disini?"
"Iya pak."
"Betul pak. Ibu kelja disini, dali pagi sampai sekalang belum pulang-pulang."
"oh. Kalau gitu hati-hati. Didepan ada penjaga, tanya aja dia. Bapak mau balik dulu."
Setelah pak Hadi menghilang, Darren dan Darrel menghampiri penjaga yang ada dalam gerbang.
"Kalian ngapain?" Tanya si penjaga.
"Cari Ibu."
"Ibu kelja disini, tapi belum pulang-pulang."
"Siapa nama Ibu kalian?"
"Alula." Jawab Darren.
Penjaga yang merupakan pak Tio menatap kedua anak di depannya itu. Dia baru tersadar, jika keduanya mirip Gara.
"Ayo, bapak anterkan ke dalam. Ibu kalian mungkin lembur."
Sedangkan di lantai 26, Gara dan Alula sedang terjebak dalam lift. Gara sengaja menggunakan lift karyawan agar bisa menemani Alula. Tapi, saat sampai di lantai 26, lift tiba-tiba berhenti.
Alula yang panik mulai merasa ketakutan. Ia tidak ingin terjebak di tempat itu. Gara juga sedang berusaha menelpon orang-orang nya. Namun, tidak ada satu pun yang mengangkat.
Setelah beberapa menit, terdengar sayup teriakan dari luar.
"Bu, Bu. Ini Darren bu."
"Dallel juga Bu. Ibu di dalam?"
Alula menajamkan pendengarannya. Benar, ia sedang tidak berhalusinasi. Anak-anak nya benar-benar memanggil-nya. Gara yang melihat hanya bisa terdiam saat melihat binar bahagia di mata Alula.
"Iya nak, Ibu di dalam. Cari bantuan buat buka pintu lift ini."
Setelah beberapa menit menunggu, pintu lift terbuka. Alula segera keluar dan menghampiri Darren dan Darrel. Sementara Gara, Ia terpaku di tempat. Kaget melihat dua anak laki-laki yang begitu mirip dengannya.
Kenapa begitu mirip dengan ku? Gumam Gara dalam hati.
"Tuan. Tuan tidak apa-apa?" Tanya seorang pangawal yang di telpon pak Tio.
Gara tersadar dan melirik dengan lirikan tajamnya, kesal dengan mereka yang tidak menganggkat telponnya. Nyali si pengawal menciut. Kemarahan Gara adalah bencana.
Namun, Gara mati-matian menahan emosinya. Ia tidak ingin kedua anak kembar di depannya itu, takut padanya.
"Ayo, pulang! Saya yang antar!" Tegas Gara tak bisa di bantah.
__ADS_1
Alula mengikut saja. Tangannya terulur menggandeng Darren dan Darrel, seraya tersenyum pada pak Tio dan ketiga pengawal Gara.
Cih. Dia bisa tersenyum pada mereka. Sedangkan bersama saya, selalu pasang wajah takutnya. Batin Gara.