Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Perginya Gara 1


__ADS_3

Sudah beberapa hari Gara, Alula, Gio juga si kembar berada di rumah Ginanjar. Mereka melakukan pekerjaan mereka dari sana. Laura juga masih belum kembali dari liburannya bersama teman-temannya.


"Kalian benar-benar akan pulang hari ini?" Viko terlihat tak rela Gara dan yang lain meninggalkannya dan sang Ayah.


"Ya, Ayah sudah sangat sehat. Lagipula, ada kau disini yang menjaga Ayah." Balas Gara, sedikit tersenyum padanya.


"Baiklah. Tapi, aku ada satu pertanyaan untuk kalian."


"Pertanyaan?" Ulang Alula.


"Iya, kakak ipar." Jawabnya. "Aku selalu mendengar Gio memanggil Ayah dengan sebutan Ayah. Kenapa bisa begitu? Apa hubungannya dengan Ayah?"


Gara dan Alula saling berpandangan. Ginanjar yang juga berada disana menatap ke arah Gara dan Alula. Keputusan untuk memberitahu Viko mengenai Gio ada di tangan Gara. Ia yang memiliki hak tersebut.


"Aku akan memberitahumu. Tapi, kau harus berjanji tidak akan membicarakan hal ini pada orang lain, termasuk Ibumu. Kau hanya memiliki hak mendengar dan diam setelah mengetahuinya."


"Ya, aku berjanji. Aku sungguh-sungguh berjanji. Aku akan menutup mulutku setelah mendengar semuanya."


"Jangan berlebihan." Sambung Gio dengan santainya.


"Aku tidak berbicara denganmu. Kau tidak perlu ikut campur."


"Sudah-sudah. Apa kamu masih ingin mendengarnya, Viko?" Lerai Ginanjar.


"Iya, Ayah."


Viko menatap Gara, menantikan rahasia yang akan Gara sampaikan. Sementara Gara, ia masih sedikit ragu menceritakan rahasia itu pada Viko. Tapi, ia sudah terlanjur berkata akan memberitahu Viko. Dan ia harus menepatinya.


"Baiklah, dengarkan aku. Gio adalah Alex, adik kandungku yang hilang sejak usia tiga tahun." Ucap Gara tanpa banyak penjelasan.


Viko terlihat terkejut mendengarnya. Pasalnya, ia tidak pernah melihat foto anak kecil selain Gara yang terpajang di rumah itu.


"Tapi, tidak ada bukti yang menunjukkan dia anak Ayah. Bahkan foto pun tidak ada yang terpajang di rumah ini."


"Masalah foto memang tidak ada. Itu karena Laura membuang semua foto yang berkaitan dengan Ibu Gara." Ucap Ginanjar.


"Buktinya yaitu gelang kaki yang di desain khusus oleh Ibuku dan juga hasil tes DNA Gio dan Ayah." Sambung Gara.


"Jadi, dia juga kakakku?" Ujar Viko sambil menatap Gara.


Gara mengangguk pelan. Viko menoleh pelan ke arah Gio. Membuat lelaki itu bersidekap dengan gaya angkuhnya.


"Sekarang, kau adalah adikku. Jadi, bersikap sopanlah padaku. Dan aku, juga berhak menegurmu saat salah." Ucap Gio sambil menunjukkan senyum sombongnya.


"Aku tahu Tuhan, dosaku begitu banyak. Kenapa harus memiliki kakak seperti dia." Gumam Viko, namun masih bisa di dengar oleh orang-orang yang ada di tempat itu.


Gio langsung melotot ke arah Viko. Membuat lelaki itu terkekeh dan bergeser lebih dekat ke arah Ginanjar. "Aku hanya bercanda." Ujarnya.


***


Alula menenteng makan siang menuju ruangan Gara. Saat keluar ruangan, ia tak sengaja bertemu seorang perempuan yang biasa membawa pesanan makan siangnya dan Gara.


"Waktunya makan siang. Ayo, tinggalkan dulu pekerjaanmu." Ujar Alula pada Gara.


"Kamu akan menyuapiku kan?"

__ADS_1


"Iya. Ayo cepat!"


Gara segera meniggalkan pekerjaanya dan bergegas menuju sofa. Ia duduk begitu dekat dengan Alula. Membuat wanita itu mengerutkan keningnya.


"Geserlah sedikit. Aku akan sulit bergerak jika kamu terlalu dekat seperti ini."


"Kenapa? Kamu gugup?"


"Gara, apa kamu masih ingin ku suapi?"


"Ya, aku masih ingin di suapi olehmu. Tapi, jangan gunakan ini." Gara meraih sendok dari tangan Alula, dan meletakkannya kembali. "Gunakan ini." Lanjutnya, mengusap bibir Alula.


"Sudahlah, aku makan di ruanganku saja." Alula bangun dan bergegas pergi. Namun, Gara dengan sigap menariknya dan membuatnya terjatuh di pangkuan Gara. Lelaki itu memeluknya erat.


"Gara, lepaskan aku. Ini di kantor. Kenapa memelukku seperti ini?" Alula berusaha melepas pelukan Gara dan berpindah dari pangkuan Gara.


"Oh ya, di kantor. Berarti, di rumah bolehkan?"


"Tidak juga."


"Aku merindukanmu. Beberapa hari kemarin, kamu sibuk mengurus Ayah dan si kembar. Mengabaikanku begitu saja."


"Kamu cemburu pada Ayah dan anakmu sendiri?"


"Emmm... Ya, sedikit."


"Aneh. Cepat lepaskan aku. Aku sudah begitu lapar."


"Aku akan menyuapimu."


"Aku bisa makan sendiri."


"Sejak kapan kamu bersikap seperti anak kecil?"


"Sejak kapan, aku tidak tahu. Tapi setiap bersamamu akan seperti ini. Ayo cepat! Berikan aku satu ciuman."


"Aku tidak mau."


"Apa kamu menolaknya karena lebih suka berada di pangkuanku?" Gara tersenyum menggoda. Membuat Alula menggeleng dengan cepat.


"Tidak. Aku akan menciummu." Dengan gerakan cepat, Alula mengecup pipi Gara. Membuat lelaki itu tersenyum senang.


"Cepat lepaskan aku. Biarkan aku duduk di sofa saja."


Bukannya melepaskan Alula, Gara malah semakin mengeratkan pelukannya. Ia meletakkan dagunya di pundak Alula. Membiarkan kepalanya berada di ceruk leher wanita itu.


"Gara, apa kamu berusaha melanggar ucapanmu?"


"Biarkan aku seperti ini. Beberapa hari kedepan, kita tidak akan bertemu."


Alula sedikit menolehkan kepalanya pada Gara. Keningnya mengerut tak mengerti. "Maksudnya?"


"Aku akan ke negara XX."


"Untuk apa?" Tanyanya.

__ADS_1


"Urusan bisnis." Jawab Gara tanpa menjauhakan kepalanya dari ceruk leher Alula. Wanita itu terdiam sejenak. Ada perasaan tidak rela jika Gara harus pergi.


"Berapa hari kamu disana?"


"Mungkin seminggu."


Satu minggu? Lama sekali. Batin Alula.


"Kapan kamu pergi?" Wajah Alula berubah tak bersemangat.


"Kamu terlihat tidak rela aku pergi. Aku akan membatalkannya jika kamu tidak suka."


"Jangan! Ini urusan pekerjaan. Kamu tidak boleh membatalkannya." Ujarnya. "Kapan kamu berangkat?"


"Sore ini, jam 3."


"Ayo kita ke rumah! Aku akan menyiapkan barang-barangmu."


"Tidak perlu. Kenan sudah meminta orang-orang disana untuk menyiapkan kebutuhanku."


"Orang disana? Perempuan atau laki-laki?"


Gara tersenyum licik dalam hatinya. Ia akan sedikit bermain-bermain dengan Alula.


"Mereka perempuan."


"Perempuan?"


"Ya. Mereka juga begitu cantik." Tambah Gara. Lagi-lagi ia tersenyum dalam hati. Alula tidak tahu saja, orang-orang yang bekerja untuk Gara di luar negri didominasi oleh lelaki. Perempuan pun bisa dihitung jari.


"Cantik?" Ulang Alula. Wajahnya mulai terlihat kesal. "Tidak. Kamu tidak perlu meminta mereka menyiapkan kebutuhanmu. Aku akan menyiapkannya. Kamu bawa dari sini."


"Tapi, Kenan sudah memberitahu mereka."


"Suruh sekretaris Kenan batalkan saja."


"Bagaimana bisa? Mereka..."


"Bisa. Cepat hubungi sekretaris Kenan. Atau aku sendiri yang menemuinya?"


"Alula..."


"Jangan berbicara denganku." Ucapnya melepaskan tangan Gara yang melingkar di pinggangya. Namun, Gara dengan cepat kembali memeluknya.


"Baiklah, aku akan memberitahu Kenan." Ucapnya sambil menahan senyum. Ia begitu senang melihat Alula seperti ini. Dia merasa begitu dicintai oleh wanita yang ia cintai.


Gara meraih handphonenya dan menelpon sekretaris Kenan. Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.


"Kenan, suruh orang-orang itu untuk tidak mengurus kebutuhanku. Alula yang akan menyiapkannya."


"Baik, tuan."


Setelah sambungan terputus, Gara kembali mengeratkan pelukannya. "Aku sudah memberitahu Kenan."


Ya Tuhan, apa yang aku lakukan? Aku terlihat seerti wanita pencemburu. Tapi, aku begitu tidak terima ada wanita lain yang memperhatikan kebutuhan Gara.

__ADS_1


"Ya... Ka-kalau begitu, ayo kita ke rumah. Aku akan menyiapkannya untukmu. Waktu istirahat dan makan siang akan segera selesai. Kita bisa terlambat kembali ke kantor."


"Ayo, kita tidak perlu kembali ke kantor. Langsung pulang saja." Ucap Gara, melepaskan pelukannya, lalu menggandeng Alula keluar dari ruangannya.


__ADS_2