
Alula keluar dari kamar mandi setelah mencuci mukanya. Langkahnya terhenti saat membuka pintu kamar mandi.
"Gara?" Gumamnya mendapati Gara duduk di pinggir ranjang.
"Maaf mengagetkanmu."
Alula hanya mengangguk dan membenarkan ujung baju tidurnya yang sedikit tersingkap.
"Kemarilah!" Panggil Gara menepuk sisi ranjang sebelahnya.
Alula melangkah takut mendekati Gara. Kakinya yang semula menuju ranjang malah berbelok ke arah sofa depan ranjangnya, yang berjarak sedikit jauh dari ranjang.
Gara terkekeh kecil atas reaksi Alula. "Huh. Aku tidak akan macam-macam. Hanya ingin menceritakan sesuatu."
Gara beranjak dan duduk di sebelah Alula. Ia sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Alula.
"Wanita tadi Laura, istri Ayah." Terang Gara.
"Maksudmu dia Ibumu?"
"Bukan. Ibuku sudah meninggal. Dia Ibu tiriku."
"Maaf, aku tidak tahu jika Ibumu sudah tiada."
"Tidak masalah."
Suasana hening sejenak. Alula mengangkat wajahnya menatap Gara.
"Kenapa kau terlihat membencinya? Dan... Sepertinya dia menyayangimu."
"Huh, matamu selalu melihat kebaikan orang, sampai perbuatannya kau bilang rasa sayang? Aneh."
"Kenapa aneh?" Alula bingung. Ia rasa tidak ada yang salah dengan ucapannya.
"Dia wanita penggoda. Selain menjerat Ayahku, dia juga serakah ingin memilikiku. Dia pernah menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku bukan penyuka wanita bersuami. Apalagi suaminya Ayahku sendiri." Tutur Gara.
Alula menunduk lagi. Ucapan Gara membuatnya merasa tidak nyaman. Ia tidak suka seorang lelaki yang menyebut wanita dengan sebutan tak sopan seperti itu.
"Aku sudah sangat mengantuk. Aku ingin tidur."
Alula beranjak membuka pintu kamarnya. Gara hanya bisa mengehembuskan nafas kasar. Ia pun bangun dan keluar dari kamar itu. Alula mengusirnya dengan cara halus.
"Akhh... Apa yang aku pikirkan. Menjelaskan Laura adalah Ibu tiriku tidak akan membuat Alula paham perasaanku." Dumel Gara sambil memasuki kamarnya.
Gara berbaring sambil menatap ponselnya. Tangannya mengetikkan pesan untuk sekretaris Kenan.
Gara
Bagaimana?
^^^Kenan^^^
^^^Sudah tuan. Besok saya akan bertemu dengannya. ^^^
__ADS_1
Gara
Bagus. Lakukan dengan baik.
^^^Kenan^^^
^^^Siap tuan^^^
Gara melempar sembarang hpnya ke sisi lain ranjang. Ia menghembuskan nafasnya. Malam ini akan seperti malam-malam sebelumnya, sejak Alula tinggal di rumahnya. Susah tidur dan selalu ingin menemui Alula.
***
Sudah cukup larut dan Gara masih terjaga. Lelaki itu turun tangga menuju dapur. Ia meneguk beberapa teguk air yang ia ambil dari kulkas.
Gara menyimpannya kembali lalu bergegas ke kamar Alula. Ia ingin memastikan jika wanita itu tidur dengan nyaman.
Gara meraih kunci duplikat kamar Alula dan membuka pintu. Terlihat Alula yang tertidur lelap. Gara masuk dan menutup kembali pintu. Dia meperhatikan wajah tenang Alula saat tertidur. Dan itulah yang selalu ia lakukan sejak ia susah tidur.
"Cantik." Ucap Gara sangat pelan.
Gara mendekat, membelai rambut Alula. Di kecupnya kening wanita itu dengan penuh cinta.
"Aku mencintaimu melebihi apapun. Dan aku menyayangi kalian dengan seluruh hidupku." Ucap Gara lalu mengecup kening Alula sekali lagi. Ungkapan perasaannya yang sayangnya tak Alula dengar.
Alula tak terusik dengan perlakuan Gara. Ia tidur begitu lelap.
"Semoga kau mengiyakan keputusanku nanti."
Gara membenarkan kembali selimut yang membungkus Alula. Ia segera keluar dan mengunci kembali pintu kamar Alula.
***
Suasana pagi ini terlihat begitu menyenangkan bagi Gara. Baru saja ia memasuki ruang makan, tawa ceria Alula dan Darrel, dan juga senyuman kecil Darren sudah menyambut. Meskipun semua itu bukan untuknya, tetap saja kebahagiaan itu menyeruak begitu saja dalam hatinya.
"Selamat pagi." Sapa Gara, membuat tiga orang yang saling melempar canda tersebut menoleh.
"Pagi Yah." Balas si kembar bersamaan.
"Pagi Gara." Ucap Alula.
Gara menatap mereka satu persatu. Lalu senyum muncul di bibirnya.
"Kalian lagi ngapain? Ayah lihat seru sekali."
"Ini, Darrel sedang bercerita tentang teman kelasnya yang mau berteman sama Darren." Alula menjawab.
"Apanya yang lucu hingga kalian tertawa? Darren? Sepertinya kau juga ikut tersenyum. Tidak biasanya kau tersenyum saat Darrel menceritakan tentang penolakanmu, apalagi seorang perempuan."
"Darrel membuatnya lebih menarik." Ungkap Darren.
Gara langsung menatap Darrel. Anak itu hanya menunjukkan cengirannya dan menaik turunkan alisnya.
"Anak nakal." Ujar Gara di sertai kekehan kecil. "Ayo sarapan. Kita akan jalan-jalan."
__ADS_1
"Benal Yah?"
"Ya. Memanfaatkan hari libur."
"Yey. Aku akan cepat-cepat menghabiskannya."
"Pelan-pelan, sayang." Tegur Alula namun di abaikan Darrel.
Darrel memasukkan sarapannya dengan cepat sampai tiba-tiba ia terbatuk karena tersedak.
"Uhuk... Uhuk..."
Darren dengan cekatan memberikan airnya untuk Darrel. Menepuk pelan punggung Darrel.
"Nah, Ibu bilang juga apakan? Kesedakan?"
"Telima kasih, Dallen." Ucap Darrel mengembalikan gelas Darren dengan air yang tersisa setengah.
"Hmmm..." Balas Darren.
"Maafin Darrel, Bu."
"Iya. Lain kali jangan begini ya? Ayo makan lagi."
Darrel mengangguk dan memakan kembali sarapannya. Ia memakannya dengan pelan, tidak terburu-buru seperti tadi.
Usai sarapan, mereka bersiap-siap untuk jalan-jalan seperti yang Gara janjikan. Darrel turun tangga menemui Gara dan Darren yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Ayah nanti beli camilan ya?" Tutur Darrel saat duduk di samping Ayahnya.
"Iya."
Alula pun ikut bergabung. Tak lama, mereka berangkat menuju tempat yang hanya Gara yang mengetahuinya.
"Ayah kita akan kemana?"
"Lihat saja nanti."
Gara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Darrel terlihat begitu bahagia. Bahkan anak itu lupa dengan keinginannya untuk membeli camilan. Sementara Darren seperti biasa, diam dan berwajah dingin.
Dua puluh menit kemudian mobil Gara tiba di parkiran mall. Darren Darrel dan Alula turun mengikuti langkah Gara. Gara menggandeng Darren Darrel dan berjalan di depan Alula. Beberapa pengunjung menatap mereka.
"Lihatlah, mereka sangat serasi. Cantik dan tampan. Dan kedua putra mereka, benar-benar tampan dan menggemaskan." Ucap seorang wanita pada temannya.
Gara masih bereaksi biasa saja. Namun perkataan seorang lelaki membuat ekspresi wajahnya berubah seketika.
"Wanita itu begitu cantik. Aku sangat beruntung jika memilikinya." Ucap seorang lelaki.
Gara menghentikan langkahnya. Ekspresi wajahnya langsung berubah dingin. Ia melepaskan genggaman tangan di kedua putranya, dan berbalik pada Alula.
Ia menarik pinggang Alula hingga tubuh perempuan itu menempel padanya. Di kecupnya pelipis Alula dengan penuh sayang.
"Kau berjalan sangat lambat. Anak kita sudah tidak sabar untuk bermain." Ucapnya dengan suara lembut dan sedikit ia besarkan. Hal tersebut tak terlepas dari perhatian orang-orang yang melintas. Membuat beberapa wanita menggigit jari melihat perlakuan Gara.
__ADS_1
Sementara Alula, ia menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia benar-benar malu atas perbuatan Gara yang di lihat banyak orang.
"Ayah, ayo!" Teriakkan Darrel membuat Gara dan Alula serentak menoleh. Bocah itu sudah memasang wajah masam. Gara hanya terkekeh kecil dan menggandeng Alula mendekati kedua putranya itu.