Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Extra Part 1


__ADS_3

Suasana cafe terlihat cukup ramai. Viko duduk dengan gelisah menunggu seseorang. Lelaki itu sekarang sudah menjadi pemilik salah satu perusahaan keluarga Grisam. Walaupun perusahaan itu tidak sebesar Grisam Group. Tapi, ia sangat bersyukur mendapatkan hak itu. Kakek dan nenek Gara juga memberikan salah satu hotel milik mereka untuk di kelola oleh Viko. Itulah kenapa kedua orang tua itu meminta Ginanjar mengunjungi mereka waktu itu.


"Permisi tuan, ini minumnya!" Ujar seorang pelayan cafe.


"Terima kasih!" Balasnya. Viko meminum seteguk minuman tersebut. Ia lalu menarik nafasnya.


"Viko!" Panggilan itu membuatnya menoleh.


"Ve-Vera!" Gumamnya gugup. "A-ayo, duduk!" Ujarnya lagi, masih begitu gugup. Vera adalah salah satu teman kuliahnya dulu. Sebenarnya ia mulai menyukai gadis itu sejak acara ulang tahun fakultas mereka. Tapi, dia tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya karena sibuk dengan skripsinya.


"Kamu kenapa? Kok gugup gitu?" Tanya Vera.


"A-aku mau ngomong sesuatu sana kamu."


"Mau ngomong apa?"


"A-aku..."


Akkhhh... Kenapa aku jadi gugup seperti ini? Kak Gio, aku merasakan apa yang kau rasakan dulu.


"Kamu kenapa?"


"A-aku... Aku suka sama kamu, Vera. Apa kamu mau menjadi istriku?"


Vera sedikit terkejut mendengar apa yang yang Viko ucapkan. Tapi, ia tak bisa menyangkalnya. Ia juga bahagia mendengarnya. Sepertinya, perasaan yang ia pendam sejak semester tiga untuk Viko kini terwujud. Meskipun ia tidak tahu, apakah Viko melakukan ini karena cinta atau hanya karena menginginkan seorang istri.


"Vera! Apa kamu mau menjadi istriku?" Ulang Viko.


"Apa langsung menjadi istri? Apakah tidak bisa berpacaran dulu?"


"Tidak bisa! Aku menginginkan seorang istri, bukan seorang pacar."


Vera menarik nafasnya. "Huufth... Baiklah,"


"Baiklah?"


"Ya, baiklah tuan Viko. Aku bersedia menjadi istrimu!"


"Be-benarkah?" Vera mengangguk. Membuat lelaki itu tersenyum girang. Ia dengan tak sabarnya mengecup kening Vera.


"Terima kasih. Aku mencintaimu." Ujarnya. Vera terdiam mendengar pengakuan Viko.


"Me-mencintaiku?"


"Ya. Aku mencintaimu. Aku sudah memilki perasaan ini cukup lama. Sejak malam ulang tahun fakultas."


Mata Vera berkaca-kaca mendengarnya. Ia menatap wajah Viko yang kini telihat bingung melihatnya. Ia lalu beranjak dan memeluk Viko.


"Terima kasih sudah mencintaiku. Aku juga mencintaimu." Ujar Vera.


"Ka-kamu juga mencintaiku?"


"Aku juga memiliki perasaan untukmu sejak lama. Tapi aku hanya menyimpannya untukku sendiri."


Viko mengulas senyum. "Aku bahagia mendengar ini."


***


Alula, Gara dan Alisha duduk di gazebo yang ada di halaman belakang rumah mereka. Gara dan Alula sedang menemani Alisha bermain, juga memperhatikan si kembar yang sedang bermain sepak bola.


"Kaaak..." Suara teriakan itu membuat mereka menoleh. Terlihat Gio, Ana dan putra mereka, Dafa.


Alisha yang melihat Dafa langsung melompat turun dan berlari ke arah Dafa. "Dafaa..." Teriaknya, langsung memeluk anak itu.


"Kakak..." Seru anak empat tahun itu, membalas pelukan Alisha.


"Paman, aunty, ayo!" Mereka bersamaan menuju gazebo. Darren dan Darrel yang tadinya bermain bola pun berhenti dan bergegas ke gazebo.


"Paman, aunty!" Sapa Darren.


"Hallo paman, aunty!" Sapa Darrel.


"Kak Dallen! Kak Dallel!" Panggil Dafa.


Darren membalas dengan tersenyum tipis dan mengacak rambut Dafa. Darrel juga ikut mengacak rambut Dafa.


"Hai boy! Kembaran kakak waktu kecil. Gak bisa huruf R." Ujar Darrel sambil tersenyum.


"Gimana? Udah daftar masuk SMA-nya?" Tanya Gio.

__ADS_1


"Udah paman!" Jawab Darrel.


"Asya juga Darren?" Tanya Ana dengan tatapan menggoda. Membuat Alula, Gara dan Gio tersenyum ke arah Darren.


"Ya." Jawabnya singkat. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Hanya datar dan dingin.


Gara, Alula, Gio dan Ana terlibat pembicaraan. Alisha dan Dafa sibuk bermain, dengan Darren dan Darrel yang menemani mereka.


"Kakak!" Suara panggilan kembali terdengar. Kali ini suara Viko. Lelaki itu berjalan cepat menuju gazebo.


"Ada apa?" Tanya Gara.


"Aku mau mengatakan sesuatu. Aku akan menikah."


"Menikah?" Tanya Alula, Gara, Gio dan Ana bersamaan.


"Ya. Aku akan menikah. Aku sudah melamar seorang gadis. Aku juga sudah membawanya menemui Ayah. Ayah sudah setuju."


"Jadi, kau tidak meminta persetujuan kami?" Tanya Gio, dengan tatapan sinis yang dibuat-buatnya.


"Sayang!" Tegur Ana.


"Ayolah, kak! Kalian terus bertanya kapan aku menikah. Jadi, aku yakin kalian akan setuju dengan keputusanku. Aku tidak perlu meminta persetujuan kalian lagi."


"Ck. Ini nih, ciri-ciri adek yang tidak menghormati kakaknya."


"Sudahlah Gio!" Tegur Gara.


"Ya. Aku hanya bercanda. Aku akan selalu setuju dengan keputusanmu." Ujar Gio diselingi senyuman kecilnya.


"Bagaimana dengan pernikahannya?" Gara bertanya serius.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya."


"Maksudmu?" Tanya Alula, bingung.


"Hehehe... Itu... Aku sudah menyiapkan semuanya sebelum melamar calon istriku."


"Kau gila?!" Gio dan Ana berucap bersamaan. Keduanya terlihat cukup terkejut dengan ucapan Viko.


"Benar-benar gila! Apa jadinya jika dia menolak? Apa kau ingin menikahi dirimu sendiri?"


"Tidak. Tapi, sebelum aku melamarnya, aku sudah yakin jika dia akan menerimanya."


"Kapan tanggal pernikahannya?" Tanya Gara.


"Tanggal 9. Seminggu dari sekarang."


"Baiklah. Persiapkan semuanya dengan baik. Jika membutuhkan sesuatu, hubungi aku."


"Terima kasih, kak."


"Jangan lupakan aku juga!" Peringat Gio yang mendapat acungan jempol dari Viko.


***


Darren duduk menemani Alisha yang masih ingin bermain. Darrel yang sedang turun tangga terlihat tersenyum jail melihat Alisha yang sedang serius bermain.


Ia melangkah dengan cepat mendekati Alisha lalu meraih salah satu boneka barbie milik gadis kecil itu.


"Kakak ngapain? Kembaliin gak?" Teriak Alisha pada Darrel. Itu salah satu barbie kesukaannya. Tapi, Darrel malah mengambilnya saat dia sedang asik bermain.


"Ambil sendiri." Ujar Darrel sambil tersenyum tengil.


Alisha dengan perasaan kesal, bangun dan segera meraih boneka barbienya. Namun, Darrel malah mengangkatnya lebih tinggi. Membuatnya melompat agar bisa meraihnya.


"Iihh... Kak Darrel! Balikin gak?!" Alisha berhenti untuk melompat


"Coba aja ambil." Ujar Darrel lalu berlari, yang otomatis membuat Alisha mengejarnya. Keduanya berkejaran di ruangan itu. Membuat ruangan tengah itu terdengar gaduh. Darren hanya bisa menatap mereka dalam diam.


"Kak Darrel! Balikin!"


"Gak!"


"Kakak!"


"Usaha dong!"


"Alisha sayang, Ayo mandi nak! Kita mau ke nikahan paman!" Teriak Alula dari lantai atas. "Darren! Darrel! Ayo, nak!" Lanjutnya.

__ADS_1


"Kak Darren. Kak Darrel nih." Adu Alisha.


Darrel yang sejak tadi terduduk di sofa bergegas berdiri. "Darrel!" Panggilnya datar. Tersirat nada teguran didalamnya.


Darrel segera menghentikan larinya di dekat Darren. Darren meraih boneka dari tangan Darrel lalu memberikannya pada Alisha.


"Terima kasih, kak."


"Iya. Sana pergi mandi! Terus siap-siap!"


"Oke, kak." Jawab Alisha sambil mengacungkan jempolnya. Sebelum berjalan menuju kamarnya, ia menatap Darrel.


"Kak Darrel jelek! Wleeek..." Ujarnya memeletkan lidahnya ke arah Darrel, kemudian lanjut berjalan.


Darrel bukannya kesal, dia malah terkekeh melihat adiknya itu.


"Suka banget gangguin Alisha. Gemas banget." Ujarnya terus menatap Alisha.


"Ayo!" Darren menepuk pelan pundak kembarannya.


"Kemana?"


"Siap-siap." Balas Darren langsung berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Oh iya, lupa!" Ujar Darrel, lalu berlari mengikuti Darren menaiki tangga.


Dua puluh menit berlalu. Alisha, Alula dan Gara sudah berada di ruang tengah. Tinggal menunggu kedua putra mereka.


"Ibu sangat cantik!" Puji Alisha.


"Terima kasih, sayang. Kamu juga sangat cantik." Ujar Alula.


"Apa hanya Ibu yang dapat pujian?" Ucap Gara, membuat Alisha dan Alula menoleh padanya.


"Ayah juga sangat tampan."


"Bagaimana dengan kakak?" Suara Darrel terdengar. Membuat ketiga orang itu menoleh ke arah mereka. Disana, Darren dan Darrel sedang menuruni tangga dengan jas yang melekat di tubuh keduanya. Terlihat begitu pas dengan tubuh tegap keduanya, meskipun masih seorang remaja.


"Waah... Kak Darren sangat tampan!" Ujar Alisha.


"Ck. Aku yang bertanya, kamu malah memuji Darren."


"Alisha gak mau memuji kak Darrel. Kak Darrel jail. Alisha ga suka." Balasnya membuat Darrel memutar bola matanya. Sedangkan Alula dan Gara menggeleng melihat tingkah anak-anak mereka.


Darrel berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Alisha. "Kakak janji, gak akan jail lagi. Ayo! Bilang kakak ganteng!"


"Janji ya?"


"Iya."


"Kak Darrel ganteng."


"Anak pintar!" Ujar Darrel, menepuk pelan kepala Alisha.


"Ya udah! Ayo, kita berangkat!" Ucap Gara.


Mereka segera menuju mobil. Kemudian berangkat menuju tempat berlangsungnya pernikahan Viko.


***


Tamu-tamu mengantri untuk memberi selamat pada Viko dan Vera. Gara, Alula dan Alisha sudah terlebih dahulu memberi selamat. Mereka sudah berkumpul dengan beberapa keluarga yang hadir. Tinggal Darren dan Darrel.


Darrel menjabat tangan Viko. "Selamat Paman. Ku pikir paman akan sendiri hingga aku lulus kuliah." Ujarnya begitu enteng. Viko hanya bisa tersenyum memaklumi.


"Selamat ya, aunty?"


"Terima kasih." Balas Vera tersenyum canggung.


"Jangan canggung gini! Saya keponakan Paman Viko, Darrel. Ponakan yang paling tampan." Ujarnya dengan begitu percaya diri.


"Sudahlah, Darrel! Cepat bergeser! Masih banyak yang mengantri."


"Ck. Paman! Ya sudah, aunty. Bye-bye."


Darren yang berada di belakangnya hanya menggeleng melihat sikap adik kembarnya itu.


"Selamat Paman!" Ujar Darren.


"Terima kasih." Balas Viko. Lelaki itu tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Darren. "Ada Asya di sebelahmu! Dia sangat cantik!" Bisik Viko menahan senyum.

__ADS_1


Namun, bukan Darren jika dia menoleh. Dia malah langsung berjalan dan memberi selamat pada istri Viko.


Ck. Anak itu. Benar-benar sedingin Kak Gara. Tidak! Dia bahkan lebih dingin dari Ayahnya itu. Batin Viko.


__ADS_2