
Gara, Darren dan Darrel tersenyum bahagia melihat sebagian kamar Gara yang di desain untuk adek bayi. Mereka begitu puas melihat hasil karya mereka.
"Sayang, Darren Darrel, Ayo makan dulu! Makan malamnya udah siap lho." Suara Alula yang memanggil membuat ketiga orang itu cepat menoleh. Dengan cepat mereka berlari ke arah Alula yang berdiri di depan pintu.
"Sayang, kenapa kamu kemari? Bahaya naik turun tangga sendiri." Ucap Gara, sangat terlihat rasa khawatir di wajahnya.
"Iya, Bu. Jika terjadi sesuatu pada Ibu saat naik tangga, kami akan merasa sangat bersalah." Timpal Darrel.
"Seharusnya minta Bibi yang panggilkan." Seru Darren.
"Kalian ini. Ibu tidak apa-apa. Tadi Ibu ditemani Bibi. Hanya saja, Ibu meminta Bibi turun lagi setelah Ibu sampai di depan pintu. Kalian tidak perlu khawatir seperti ini." Balas Alula sembari tersenyum pada mereka.
"Syukurlah. Ayo, kita turun! Aku akan menuntunmu."
"Tunggu, Yah!" Gara yang sudah memegang tangan Alula, mengerutkan keningnya menatap Darrel.
"Kenapa?"
"Hehehe... Ibu, bagaimana menurut Ibu? Bagus tidak?"
Alula menoleh ke arah yang ditunjuk Darrel. Seulas senyum muncul di bibirnya. "Bagus, nak. Kalian melakukannya dengan baik." Alula mengusap rambut Darrel juga Darren yang berada tak jauh darinya.
"Apa hanya mereka yang memdapat hadiah usapan di rambut?" Gara terlihat cemberut. Membuat Darrel terkekeh melihat pipi Ayahnya yang mengembung.
"Ya udah, ini!" Alula pun mengulurkan tangannya mengusap rambut Gara juga.
"Hehehe... Ayah sangat lucu." Kekeh Darrel.
"Udah yuk, kita turun! Kasian lho, Paman Gio udah nungguin dari tadi."
"Ya udah, ayo twins!" Gara segera menggandeng istrinya dan menuntun Alula menuruni tangga.
Setelah tiba di ruang makan, Darrel mengambil tempat disamping Pamannya. Ia tersenyum manis ke arah Gio.
"Kenapa?" Kening Gio mengerut melihat Darrel.
"Tidak. Aku hanya ingin tersenyum pada Paman. Terima kasih sudah jajanin aku."
"Ck. Kau sudah berterima kasih berkali-kali. Bilang saja kau ingin ku jajani lagikan? Huh, aku tidak akan menjajanimu lagi!" Ujar Gio.
"Siapa juga yang minta Paman jajanin lagi. Ayahku banyak uang, aku bisa jajan sepuasku."
"Sombong!" Balas Gio. "Darren, nanti Paman jajanin kamu, ya?" Gio tersenyum manis pada ponakannya yang satu itu.
"Tidak usah, Paman!" Jawabnya sambil menerima makanan yang diberikan Alula. Hal itu membuat Gio tersenyum canggung. Sementara Darrel dan Gara, kedua orang itu sudah hampir meledakkan tawa mereka jika Alula tidak menahannya.
***
Hari ini, entah mengapa Alula sangat ingin mengunjungi Ayah dan Ibunya. Ia merasa sangat merindukan mereka. Padahal, kedua orang tua itu tidak pernah absen menghubunginya setiap minggu.
Alula meraih handphonenya dan mendial nomor Gara. Dia tersenyum saat panggilan telponnya dijawab dengan cepat oleh Gara.
"Hallo, sayang. Ada apa?" Tanya Gara dari seberang sana dengan lembut.
"Sayang, apa boleh hari ini aku ke rumah Ayah sama Ibu?"
"Maksudmu Ayah mertua?"
__ADS_1
"Iya."
"Aku akan menelpon mereka menemuimu."
"Tidak. Aku ingin ke rumah. Bukan mereka yang ke rumah kita."
Suasana hening sejenak. Terdengar helaan nafas berat dari Gara. "Baiklah. Aku akan mengantarmu. Tapi, setelah si kembar pulang ya?"
"Sayang, aku bisa minta antar Pak Andi."
"Sayang, tidak ada penolakan, ya!" Ujar Gara, lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. "Jam pulang si kembar sudah lewat sepuluh menit. Sebentar lagi si kembar sampai rumah. Aku akan pulang, terus kita ke rumah Ayah mertua sama-sama."
"Baiklah. Maaf aku mengganggu pekerjaanmu."
"Siapa bilang? Justru aku senang diganggu kamu."
"Ish, apaan sih? Sudah, aku tunggu kamu pulang. Hati-hati!"
"Iya, sayang."
Alula pun mengakhiri panggilan telponnya. Ia kembali mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Sepuluh menit menunggu, tiba-tiba dia merasa mulai mengantuk. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang, dan tanpa sadar, ia terlelap.
Darren dan Darrel yang baru turun dari mobil langsung menuju kamar masing-masing. Keduanya mengganti pakaian, lalu menuju ruang makan. Tapi sebelum itu, mereka menghampiri Alula di kamar. Karena tidak ingin mengganggu Alula yang tidur, keduanya memutuskan ke ruang makan.
"Kata Pak Andi, kita akan ke rumah Kakek Zarfan." Ujar Darrel, kemudian memasukkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Aku juga mendengarnya." Balas Darren, juga memasukkan makanan ke mulutnya.
"Akou juoga mou..."
"Aku juga mau ketemu Kakek sama Nenek. Pasti mereka kesepian tidak ada tante Elisa."
"Hmm... Cepat habiskan makananmu! Makan tidak boleh berbicara."
"Ya."
Darren dan Darrel memakan makan siang mereka dengan suasana hening, setelah sedikit pembicaraan antar mereka. Darren meneguk airnya dan menunggu Darrel menghabiskan makanannya. Terdengar, deru mobil memasuki halaman rumah. Darrel yang baru saja selesai menelan makanan dengan cepat meminum airnya.
"Ayah," Ujarnya sambil meletakkan gelas yang di pegangnya. Anak itu segera berlari meninggalkan Darren di ruang makan.
Darren hanya bisa menggeleng melihat tingkah saudara kembarnya itu. "Dasar!" Gumamnya sembari tersenyum kecil.
Gara yang baru masuk rumah di kejutkan dengan Darrel yang langsung menubruknya. "Ayah, kita ke rumah Kakek?"
Gara mengulas senyum. Anaknya yang satu ini terlihat sangat gembira. "Iya. Darrel sudah makan? Dimana Darren?"
"Aku disini, Yah." Jawab Darren, mendekati mereka.
"Kami sudah makan. Ayah, jika Ayah masuk kamar nanti, jalanlah pelan-pelan. Ibu sedang tertidur."
"Iya. Kalian istirahatlah! Setelah Ibu bangun, kita langsung ke rumah Kakek."
***
Mobil Gara sudah hampir mendekati gerbang rumah Zarfan. Dari jarak yang tidak begitu jauh, mereka melihat seorang perempuan sedang mengintip ke arah rumah.
"Siapa perempuan itu? Aku seperti mengenalinya." Ujar Alula.
__ADS_1
Saat sadar mobil Gara berhenti di dekatnya, wanita itu segera kabur. Namun, Gara yang cukup cekatan keluar mobil dan berhasil menahannya. Lelaki itu menarik penutup kepala yang di gunakan perempuan itu.
"Kak Elisa? Tante Elisa?" Alula dan Darrel bergumam bersamaan. Kedua orang itu, dan juga Darren segera turun dari mobil.
"Lepaskan aku!" Elisa memberontak mencoba melepaskan pegagan Gara. Namun, ia tidak kunjung berhasil.
"Kenapa kau ada disini?" Gara bertanya dengan tatapan tajam.
"Bukan urusanmu!"
"Kak," Suara Alula membuatnya menoleh. Seketika matanya memerah dan berkaca-kaca.
"Lepaskan aku!" Ujarnya lagi pada Gara.
"Sayang, lepaskan Kakak." Gara menurut. Ia melepaskan tangan Elisa.
Wanita itu menatap Alula. Ia berjalan mendekat dan langsung memeluk Alula. "Maaf! Maafkan aku!" Ujarnya. Alula terdiam. Ia merasakan ketulusan itu dari ucapan Elisa.
"Maafkan aku Alula! Maafkan aku yang selalu jahat dan menyakitimu! Aku bukan kakak yang baik! Aku menuduhmu melakukan hal yang tidak pernah kau perbuat. Maafkan aku."
"Kak, aku sudah memaafkanmu." Alula balas memeluknya.
Zarfan dan Disa yang diberitahu pelayan rumahnya pun segera menuju gerbang. Keduanya kaget melihat Elisa juga ada disana.
"Elisa?" Ucap Zarfan dan Disa bersamaan.
"Ayah, kita masuk dulu, ya? Kita bicara didalam." Zarfan dan Disa hanya mengiyakan ucapan Alula. Semuanya bergegas memasuki rumah Zarfan.
"Elisa! Jelaskam sama Ayah, kenapa kamu berbohong? Kamu berpamitan ke luar negeri. Tapi, kamu ada di kota ini. Apa kamu sudah tidak mau lagi tinggal bersama kami, hingga berbohong seperti ini? Jika kamu memang tidak mau, katakan saja! Jangan berbohong seperti ini." Ujar Zarfan. Lelaki itu terlihat khawatir, kecewa dan marah. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada putrinya. Ia tidak ingin gagal lagi menjadi seorang Ayah. Cukup ia menyakiti putrinya, Alula. Ia tidak ingin menyakiti putrinya yang ini lagi.
"Ayah, maafkan aku. Aku sebenarnya hanya beberapa bulan di luar negeri. Aku kembali tiga bulan yang lalu. Jadi, aku memutuskan tidak kembali ke rumah dan mencari kontrakan."
"Tapi kenapa, nak?" Disa bertanya.
"Aku malu, Bu. Aku tidak percaya pada kalian dan selalu menuduh Alula yang menjadi penyebab meninggalnya Putri. Sementara Ayah sama Ibu sudah memberitahuku hal yang sebenarnya terjadi. Aku mengalami peristiwa yang sama di luar negeri."
"Aku dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah ku lakukan sama sekali. Aku dituduh rekan kerjaku jika aku yang menumpahkan air di dokumen kerja sama perusahaan tempatku bekerja. Aku dipecat. Hal itu membuatku teringat dengan Alula yang selalu ku tuduh sebagai penyebab kematian Putri. Aku merasakan sakitnya dituduh tanpa melakukan sesuatu." Elisa bercerita dengan air mata yang terus berjatuhan.
"Aku memutuskan pulang dan mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Setelah semuanya ku ketahui dengan jelas, aku merasa sangat bersalah. Aku malu untuk kembali. Aku diam-diam kemari untuk melihat Ayah dan Ibu. Dan akhirnya bertemu kalian." Elisa menatap Alula, Gara, Darren dan Darrel.
"Aku minta maaf Alula. Aku juga minta maaf padamu, tuan. Aku juga minta maaf pada kalian Darren Darrel. Maafkan Aku. Aku akui permintaan maafku yang lalu tidaklah sungguh-sungguh. Tapi hari ini, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Itu janjiku."
"Kak, aku sudah memaafkanmu."
"Aku juga sudah memaafkan tante." Sambung Darrel. Elisa menoleh pada Gara dan Darren yang terdiam.
"Tuan, Darren?"
"Saya memaafkanmu." Balas Gara.
"Aku juga." Timpal Darren.
Elisa tersenyum. Ia langsung memeluk Alula yang duduk di sampingnya. Ia benar-benar merasakan hangatnya memeluk sang adik yang dibencinya selama ini. Ia berjanji dalam hatinya, ia akan memperbaiki semuanya. Memperbaiki hubungannya dengan Alula yang selama ini sangat buruk.
***Hai semuanya, terima kasih udah baca ceritaku. Mampir juga ke ceritaku yang satu, judulnya Transmigrasi Ilona. Semoga kalian suka dengan part ini. Sampai jumpa di next part.
Salam dari Aquilaliza 😊***
__ADS_1