
Darren Darrel bersama kedua orang tuanya sudah menghabiskan makan siang mereka. Kini mereka berkumpul di ruang tamu sambil menonton tayangan televisi.
"Sebentar sore, kita jalan-jalan ya?" Ujar Gara.
"Aku sedang tidak ingin, Yah." Jawab Darrel.
"Aku mau belajar renang." Timpal Darren. Saat tiba tadi, Gara mengajak mereka mengelilingi villa. Perhatian Darren langsung tertuju pada kolam renang yang berada di belakang villa.
"Aku juga mau." Darrel berteriak kencang, seolah semua tidak mendengarnya.
"Tidak perlu berteriak, sayang." Alula mengusap pelan rambutnya, membuanya menyengir menatap sang Ibu.
"Baiklah. Sore ini, kita akan latihan renang. Jadi, sekarang tidur siang dulu, okey?"
"Oke, Yah."
Setelah semuanya setuju, Alula bersama Gara bergegas mengantar si kembar menuju kamar. Kemudian keduanya kembali ke kamar mereka.
Alula membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Sementara Gara, ia berjalan menuju kamar mandi.
"Lelah sekali." Gumam Alula.
"Mau ku pijatkan?" Gara yang baru saja keluar kamar mandi langsung menaiki ranjang.
"Aku sangat berterima kasih." Balas Alula.
Alula mulai memunggungi Gara dan membiarkan lelaki itu memijat bahunya. Hingga tiba-tiba Alula tersadar, tangan Gara sudah bergerak kemana-mana.
"Gara, jangan gitu."
"Gitu gimana?"
"Tanganmu. Tadikan katanya mijit, kok malah kemana-mana." Alula menyingkirkan pelan tangan Gara. Namun, tangan lelaki itu kembali bergerak meraba sana sini.
"Inikan juga mijit, sayang."
"Kan sakitnya di bahu."
"Ayolah sayang. Sekali ya? Kita kan kesini juga buat bulan madu." Rayu Gara.
"Istirahat aja, ya? Kalau sekarang entar malam gak lagi."
"Kok gitu?" Gara sedikit tak terima. "Ya udah, aku ikut aja. Tapi entar malam gak ada penolakan."
"Hmmm," Jawab Alula. Ia sudah kelewat ngantuk. Pijatan Gara membuat tubuhnya merasa lebih baikan. Hingga tak terasa ia terbuai dan kantuk pun menyerang. Namun, tangan nakal Gara membuatnya kembali tersadar.
Gara akhirnya menyerah dan berbaring bersama Alula. Ia memeluk erat istrinya sambil mencuim puncak kepalanya. Hingga tak terasa, ia juga ikut terhanyut dan masuk ke alam mimpi.
__ADS_1
***
Darrel berlari menuju kamar orang tuanya, diikuti Darren yang berjalan santai. Anak itu mengetuk pintu kamar.
"Ayah, ayo bangun! Udah sole, Yah. Kita jadikan latihan lenangnya?" Teriaknya sambil mengetuk pintu.
Gara dan Alula yang belum sepenuhnya tersadar dari tidur pun samar-samar mendengar ketukan pintu dan suara Darrel. Alula segera bagun dan membukakan pintu.
"Anak Ibu, ada apa sayang?" Alula mengajak keduanya masuk.
Bukannya menjawab, Darrel malah berlari ke ranjang dan mengguncang tubuh Gara. "Ayah. Ayah. Ayo, sudah sole. Kita kan mau latihan lenang."
"Emm... Jam berapa sekarang?" Gara terbangun dan mengusap pelan matanya.
"Jam empat sore." Jawab Darren. Anak itu duduk santai bersama Alula di sofa.
"Ya udah, Darrel duduk dulu. Ayah telpon pelayan buat bawa baju renangnya." Darrel mengangguk dan segera bergabung bersama Alula dan Darren. Alula hanya bisa menggeleng melihat tingkah anaknya itu. Untung saja Gara sabar. Jika Gara menunjukkan sifat kejamnya seperti saat berada di kantor, mungkin Darrel akan lari ketakutan dan tidak berani mengganggu Gara lagi.
"Tunggu sebentar. Pelayan akan membawakan baju renang." Ucap Gara setelah selesai menelpon salah satu pelayannya. Lelaki itu juga ikut bergabung bersama mereka.
Pintu di ketuk membuat Gara segera bangkit. Ia mengambil baju yang di bawakan pelayan tanpa membiarkan pelayan tersebut masuk ke kamarnya.
"Ayo, ganti!" Gara menyerahkan baju renang dengan jubah mandi pada masing-masing mereka. Saat diberikan pada Alula, wanita itu hanya menggeleng.
"Kenapa?" Kening Gara berkerut, tak mengerti mengapa Alula menggeleng dan menolak baju yang diberikannya.
"Baiklah, terserah kamu saja. Ayo, Darren Darrel kita ganti baju."
Gara segera membawa kedua putranya menuju ruang ganti. Darren keluar lebih dulu, kemudian Darrel lalu Gara. Wajah Alula langsung memerah saat Gara hanya memakai celana renang tanpa mengenakan jubah mandinya. Perut berototnya terekspos begitu saja. Membuat Alula memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ayo, twins! Kita ke kolam." Ajak Gara.
"Emmm... Apa kamu akan keluar dalam keadaan seperti itu? Darren Darrel mengenakan jubah mandi mereka."
Mendengar ucapan Alula, Gara pun memperhatikan penampilannya. Benar, ternyata ia lupa mengenakan jubah mandinya.
"Ck. Aku lupa memakainya." Jawabnya lalu mengenakan jubah mandi yang sengaja di letakkannya di sofa. "Tapi, kenapa kamu berbicara tanpa melihatku? Apa kamu malu?" Gara mendekat dan berucap dengan nada menggoda. Membuat wajah Alula semakin memerah.
"Ti-tidak! Sudah, ayo cepatan ke kolam. Air akan terasa lebih dingin saat sore hari." Ujarnya lalu mendorong Gara agar menjauh darinya. Tapi, bukannya menjauh, Gara malah mengecup singkat bibir Alula dan terkekeh. Membuat Alula bertambah malu dan tersenyum canggung pada kedua putranya.
Darren dan Darrel hanya menatap kedua orang tua itu dengan tatapan bingung. Sebenarnya, ada apa dengan kedua orang dewasa tersebut.
"Ayo, nak!" Gara meraih tangan si kembar dan berjalan menuju kolam renang.
Setelah sampai, Gara mulai mengajari Darren Darrel berenang. Meskipun belum pernah menyentuh fasilitas seperti itu, Darren dan Darrel sangat cepat mempelajarinya. Mereka mengerti dengan hanya satu kali penjelasan dari Gara.
"Nah, seperti itu. Coba, Darren Darrel kembali kesini!" Ujar Gara. Kedua anak itu berbalik dan berenang menghampiri Gara yang berada di sisi lain kolam tersebut.
__ADS_1
"Ayo, udahan ya belajar renangnya. Udah hampir malam nih." Alula datang sambil membawakan minuman hangat untuk mereka.
Gara segera mengangkat kedua putranya menuju pinggir kolam. Membiarkan mereka menghampri Alula untuk mengeringkan badan. Setelah itu, dia ikut menepi dan mengeringkan badannya.
"Makasih, Bu minumannya." Ujar Darrel, begitupun Darren.
Gara yang baru selesai mengeringkan tubuhnya, terduduk dan menikmati minuman yang dibawakan Alula. "Makasih, sayang." Ujar Gara.
"Setelah minum, masuk ya? Udara udah mulai dingin." Ucap Alula, yang mendapat anggukkan patuh dari ketiga orang tersebut.
***
Langit semakin berwarna pekat. Darren dan Darrel di temani Alula untuk mengulangi pelajaran mereka di ruang tamu. Gara sedang mengangkat telpon dari sekretaris Kenan, di sebuah ruangan yang disediakan khusus untuknya bekerja. Ada urusan penting yang ingin sekretaris Kenan katakan.
"Bu, besok kita ajak Ayah jalan telus beli jajan ya?"
"Iya, sayang. Ayo, lanjutin belajarnya."
"Aku udah selesai, Bu." Ucap Darren.
"Aku tinggal dikit, Bu." Darrel menunjukkan pekerjaannya. Lima menit kemudian, ia juga menyelesaikannya.
"Udah semua?" Si kembar mengangguk. "Ya udah, ayo Ibu anterin ke kamar. Tidurnya gak boleh malam-malam. Nanti bangunnya kesiangan."
"Iya, Bu. Tapi, Ibu dongengin kita ya? Udah lama lho Ibu nggak dongengin."
"Iya, Ibu dongengin. Ayo!"
Alula segera menautkan tangannya pada masing-masing tangan si kembar. Dengan sambil tersenyum manis, ia membawa mereka ke kamar. Sesekali, ia melirik ruangan yang dimasuki Gara tadi. Tidak ada tanda-tanda Gara akan keluar. Jadi, ia memutuskan untuk bersama si kembar sebelum Gara menyelesaikan urusannya.
"Mau Ibu dongenin apa?" Alula ikut berbaring di ranjang si kembar. Alula, Darrel kemudian Darren. Gara sengaja menyuruh si kembar tidur di kamar yang sama, agar dirinya lebih mudah memperhatikan mereka.
"Telselah Ibu aja."
"Kamu, Darren?"
"Aku juga terserah Ibu."
"Baiklah. Kalau begitu, Ibu dongeng tentang super hero." Keduanya mengangguk. Alula mulai menceritakan mengenai super hero.
Cukup lama ia bercerita, hingga tak disadarinya, si kembar sudah terlelap. Ia menarik selimut, menyelimuti kedua putranya dan mengecup kening mereka. Kemudian kembali berbaring menemani mereka tidur.
Pukul sebelas, Gara keluar ruangan dan menuju kamarnya. Namun dia terhenti di kamar si kembar. Seulas senyum muncul di bibirnya saat membuka pintu kamar tersebut. Ia berjalan ke sisi ranjang dan mencium kening kedua putranya.
"Selamat tidur anak-anak, Ayah. Mimpi Indah." Ujarnya.
Usai membenahi selimut yang menutupi kedua putranya, Gara menggendong Alula menuju kamarnya. Ia membaringkan Alula di ranjang, lalu kembali menutup pintu kamar si kembar.
__ADS_1
"Kamu melupakan janjimu malam ini. Tapi, akan ku tagih esok hari." Ujarnya sambil tersenyum. "Aku mencintimu." Lanjutnya, mengecup kening Alula, kemudian bibirnya, lalu ikut berbaring sambil memeluk sang istri.