
Sore hari, Gara bersama sekretaris Kenan segera meluncur ke hotel B, untuk melakukan meeting bersama klien yang sudah di janjikan. Kenan turun dan membuka pintu mobil untuk Gara. Keduanya segera menuju kamar yang sudah ditentukan kliennya.
"Maaf, tuan. Saya mendapatkan informasi jika klien kita yang satu ini terkenal cukup licik." Ujar sekretaris Kenan saat berada di lift.
"Biarkan saja. Lihat apa yang akan dia lakukan." Balas Gara.
"Baik, tuan."
Setelah lift berhenti, Gara dan sekretaris Kenan keluar dan segera menuju kamar nomor 0315, kamar yang sudah dijanjikan bersama untuk meeting kali ini.
Tok... Tok... Tok..
Sekeretaris Kenan mulai mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan tampaklah seorang perempuan dengan pakaian seksi berdiri didepan mereka.
"Selamt datang, tuan." Sapanya menundukkan badannya dengan gaya menggoda. Membuat sekretaris Kenan berdecih dalam hati.
Cih. Dia pikir tuan akan tergoda dengan perlakuannya ini? Huh, mimpi saja kau!
Gara tak membalas sapaan itu. Membuat perempuan yang mereka yakini adalah sekretaris dari klien mereka itu, tersenyum canggung.
"Mari, tuan!" Perempuan itu mengantar masuk.
Sekretaris Kenan bersama Gara mengikuti langkah wanita itu. Di salah satu kursi yang mengelilingi meja, terdapat seorang lelaki paruh baya yang duduk sembari menatap ke arah mereka.
"Selamat datang, tuan." Ujarnya, berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Gara. Gara membalasnya dengan mengulurkan tangannya juga, menjabat tangan orang itu.
"Silakan duduk, tuan." Ujarnya lagi setelah saling menjabat tangan.
"Sebelum itu, saya mau mengucapkan selamat pada tuan. Saya mendengar kabar jika istri tuan melahirkan. Selamat atas kelahiran putri anda."
"Hmm... Cepat mulai meetingnya!" Balas Gara.
Lelaki itu tersenyum canggung. Ia menoleh pada sekretaris perempuannya. Seolah paham dengan tatapan tuannya, perempuan itu segera pindah duduk lebih dekat pada Gara.
"Maaf, nona. Tidak perlu berbicara sedekat itu dengan tuan." Ucap sekretaris Kenan. Wanita itu tersenyum paksa lalu sedikit menjauh.
Seorang pelayan datang dan meletakkan minuman di meja. "Silakan, tuan." Ujar pelayan itu, kemudian berlalu dari kamar tersebut.
Sekretaris perempuan itu, mulai menjelaskan semua mengenai proyek yang akan mereka kerjakan. Berkali-kali ia menoleh ke arah Gara sambil mengedipkan sebelah matanya, berusaha menggoda Gara. Perlahan-lahan ia menggeserkan kakinya mendekati kaki Gara.
Gara merasakan ada gesekan di kakinya. Dan ia tahu itu. Itu adalah perbuatan sekretaris kliennya.
"Kenan, bagaimana menurutmu?" Gara langsung memotong penjelasan sekretaris itu.
"Saya tidak begitu tertarik dengan proyek ini, tuan." Balas sekretaris Kenan. Ia tahu, apa maksud tuannya ini.
"Baiklah. Ayo, kembali!" Ujar Gara. Kliennya langsung melotot mendengar ucapan Gara.
"Apa maksud, tuan? Sekretarisku bahkan belum selesai mempresentasikannya."
__ADS_1
"Saya tidak peduli! Dia lebih fokus ke hal lain dibandingkan pekerjaannya."
"Tuan..."
"Maaf, tuan. Jika tuan Gara mengatakan seperti itu, maka menurutlah!" Potong sekretaris Kenan.
Sekretaris Kenan lalu berdiri dan mempersilahkan Gara untuk berjalan terlebih dahulu. Ia sedikit melirik sekretaris dari klien tuannya. "Kau lebih baik beralih profesi dari sekretaris menjadi wanita penggoda." Sarkas sekretaris Kenan, kemudian melangkah mengikuti Gara.
***
Di rumah, Alula yang sedang menggendong Alisha di kejutkan dengan kedatangan Kakek dan Nenek Gara. Ia langsung menyambutnya dengan senyum mengembang.
"Kakek, Nenek." Wanita itu langsung mencium tangan keduanya.
"Ya Tuhan, nak. Kau semakin cantik setelah melahirkan." Puji Nenek.
"Terima kasih, Nek. Aku juga mau minta maaf. Aku ataupun Gara tidak mengabari Nenek sama Kekek atas kelahiran Alisha."
"Tidak masalah, nak. Ini bukan salah mu! Ini salah anak nakal itu." Jawab Kakek.
Darren dan Darrel yang baru usai bermain di halaman belakang langsung mendekati Kakek dan Nenek buyut mereka.
"Kakek buyut, Nenek buyut." Teriak Darrel, langsung memeluk tubuh sang Kakek, lalu sang Nenek. Berbeda dengan Darren, ia meraih tangan keduanya dan langsung menciumnya.
"Ayo Nek, Kek! Duduk dulu!" Ujar Alula. Semuanya terduduk di ruang tamu. Alula meminta pelayan membuatkan minum.
"Iya, Nek."
"Coba, sini Alisha! Biar Nenek buyut gendong." Nenek mengulurkan tangannya menggendong Alisha.
"Cucu Nenek. Kek, coba lihat cucu buyut kita!"
"Cantik sekali cucu Kakek." Ujar Kakek, mengusap pipi Alisha, kemudian menciumnya. "Harum sekali cucu kakek." Ujarnya.
Deru mobil yang memasuki halaman rumah menarik perhatian. Masing-masing yakin, jika itu pasti Gara.
"Aku yakin, itu Ayah." Ujar Darrel.
Nenek yang memang sudah merencanakan untuk memarahi Gara, langsung menyerahkan Alisha kembali ke gendongan Alula. Ia kemudian berjalan menuju pintu, menunggu Gara masuk.
"Sayaangg, ak.... Shhh... Shhh... Sakit Nek."
"Dasar anak nakal! Kamu anggap Nenek ini siapa? Tidak memberitahu Nenek jika istrimu melahirkan?" Nenek terus menarik telinga Gara dan menggiringnya menuju sofa ruang tamu, dimana ada istri dan anak-anaknya dan juga sang Kakek.
"Aduh-aduh! Nek, Gara minta maaf, nek."
"Nenek belum puas memarahimu, maafmu belum Nenek terima!"
Darrel yang melihat Ayahnya ditarik telinganya oleh Nenek buyut ikut meringis. Ia memegang sebelah kupingnya lalu memperlihatkan ekspresi meringis.
__ADS_1
"Shhh... Ayah, sakit ya?" Tanyanya dengan polos. Membuat mereka semua menoleh padanya.
"Ya sakitlah, nak. Ayo, bantu Ayah!" Ucap Gara, masih memegang tangan sang Nenek yang bertengger di telinganya.
Darrel beralih menatap sang Nenek buyut. Ia memasang wajah seimut mungkin sebelum menjalankan rencananya untuk membebaskan Ayahnya.
"Nenek buyut," Panggilnya membuat sang Nenek menoleh. Wajah Nenek yang garang terhadap Gara langsung berubah lembut saat dihadapakan dengan wajah imut Darrel.
"Ada apa, nak?" Tanya Nenek.
"Lepasin Ayah ya? Kasian Ayah, seharian kerja, capek, terus pulang dimarahin Nenek. Ayah harus istirahat supaya gak kelelahan."
Benar saja. Nenek langsung melepaskan tangannya dari telinga Gara. Ia tidak tahan untuk tidak mencubit pipi dari wajah imut yang sedang menatap memohon padanya itu. Sementara Gara, ia bersorak dalam hati.
Anak pintar. Ayah selamat dari amukan Nenek buyutmu, nak. Batin Gara.
"Manis sekali cucu Nenek." Ujar Nenek, mengusap lembut rambut Darrel.
"Nenek ga marah lagikan sama Ayah?" Nenek yang sudah mulai lupa tadi menjadi teringat kembali. Ia menoleh pada Gara dengan tatapan tajam, lalu beralih menatap Derrel dengan tatapan lembut dan senyuman.
"Darrel sayang, ini urusan Nenek sama Ayahmu, ya? Kamu tidak boleh ikut campur! Nenek pasti tidak akan marah lagi sama Ayah setelah ini."
"Ya udah, Darrel tidak akan ikut campur." Jawabnya tanpa beban. Gara yang sudah bersorak dalam hati kembali lesu. Ia bergerak duduk di samping Alula, kemudian memeluknya yang sedang mencoba membuat Alisha tertidur.
"Sayang, bantu aku bi..."
"Darren Darrel..." Teriakkan itu membuat Gara kesal. Omongannya terpotong karena Gio yang datang dengan berteriak.
"Eh, Kakek? Nenek?" Lelaki itu terkejut melihat Kakek dan Nenek ada di rumah.
"Gio! Sini, Nak!" Gio yang sudah terlanjut berulah, menggaruk tengkuknya canggung. Dia tidak tahu, jika ada Kakek Neneknya disini. Sementara Darrel, anak itu sudah menahan senyum melihat Pamannya itu.
"Habis dari kantor?" Tanya sang Nenek, lembut.
"Dari kantornya udah dari dua jam lalu, Nek. Aku baru dari rumah Ana." Jawab Gio.
"Ana?" Nenek mencoba mengingat-ingat nama itu. Sepertinya cucunya itu sudah pernah menyebutkan nama itu.
"Ana, pacarnya Gio Nek." Timpal Kakek.
"Iya. Nenek sudah ingat. Bagaimana keadaannya?"
"Dia baik, Nek."
"Gio! Nenek sarankan, cepat-cepat nikahi Ana, supaya Nenek dapat cucu buyut lagi. kamu tidak iri sama Gara? Dia sudah punya tiga anak lho." Ujar Nenek.
"Benar, Nak. Usiamu juga sudah cukup buat nikah." Timpal Kakek.
"Nanti Nek, Kek. Gio akan nikah setelah urusan Gio di kantor selesai." Balasnya.
__ADS_1