
Gara menatap satu persatu perlengkapan bayi yang ada si aplikasi belanja online. Ia menyunggingkan senyumnya membayangkan bagaimana bayi lucunya mengenakan semua barang yang dipilihnya ini.
"Aku akan membeli semua kebutuhan untuk anakku. Semuanya harus yang terbaik." Ujarnya. Tangannya mulai bergerak mengklik tiap barang yang ingin di belinya.
Tok... Tok... Tok...
"Maaf tuan, apa saya boleh masuk?" Ujar sekretaris Kenan dari luar.
"Ya." Balas Gara kembali fokus pada handphonenya.
Sekretaris Kenan mendorong pintu, lalu masuk mendekati Gara. Keningnya mengerut, melihat Gara yang fokus pada layar handphone dan tiba-tiba tersenyum sendiri.
Ya Tuhan, jika ada tuan Edo atau tuan Gio disini, tuan pasti akan diledek habis-habisan. Batin Sekretaris Kenan.
"Maaf tuan, klien kita dari perusahaan C akan kemari. Mereka mengirimkan pesan pada saya. Bagaimana? Apa tuan setuju?"
"Jam berapa mereka kemari?" Tanya Gara, masih fokus pada ponselnya.
"Jam tiga sore, tuan. Setengah jam lagi."
"Baiklah. Kau atur semuanya."
"Baik, tuan. Kalau begitu, saya permisi." Pamit sekretaris Kenan, hendak membungkuk namun ditahan oleh Gara.
"Tunggu dulu!"
"Ada apa, tuan?"
"Kau lihat ini! Baju mana yang cocok untuk anakku yang lahir nanti?"
"Aaa... Maaf, tuan! Apa tuan tahu, jenis kelamin anak tuan?"
"Tidak! Aku tidak ingin mengetahuinya sekarang. Biarkan jadi kejutan saat dia lahir nanti."
"Tapi, bagimana tuan bisa menentukan baju yang cocok untuk anak tuan?"
Gara terdiam sejenak, mencerna ucapan Sekretaris Kenan. "Ah, kau benar-benar tidak tahu apa-apa soal anak. Sudahlah, kau boleh pergi!"
"Baik, tuan."
Ck. Tuan-tuan, bagaimana aku bisa tahu tenatang anak? Menikah saja belum. Tuan aneh-aneh saja. Tapi, aku senang melihat tuan ceria dan sering tersenyum seperti itu. Nona, jika kamu cepat muncul di hidup tuan, saya yakin, tuan tidak akan sedingin dulu. Gumam sekretaris Kenan dalam hati.
***
Setelah menemui kliennya, Gara segera melajukan mobilnya pulang ke rumah. Berdasarkan tanggal perkiraan lahirnya, Alula akan melahirkan sebulan lagi. Dia harus menyiapkan semuanya dan menjadi suami siaga.
Gara membelokkan mobilnya, memasuki halaman rumah dan langsung menuju garasi. Langkahnya ia percepat memasuki rumah.
"Sayang," Teriaknya sambil berjalan masuk. Biasanya Alula berdiri dan menyambutnya. Tapi kali ini, wanita itu tidak terlihat sama sekali. Gara menjadi cemas sendiri.
Ia melangkah cepat menuju kamarnya dan Alula. Belum sempat ia meraih gagang pintu, terdengar kekehan Alula dan Darrel dari dalam. Ia mengulas senyum lega. Otaknya sudah berpikir macam-macam tadi.
Gara membuka pelan pintu dan mendongakkan kepalanya. "Apa Ayah boleh masuk?" Ujarnya membuat semua tersenyum. Darrel lah yang paling semangat. Dia melompat dari tempat tidur dan langsung berlari ke pelukan Ayahnya.
"Ayaaahhh..." Teriaknya lalu menubruk dan memeluk sang Ayah. Gara segera mengangkatnya dan membawanya ke gendongan.
"Anak Ayah." Gara menciumi wajahnya lalu menutup pintu. Tanpa menurunkan Darrel, ia berjalan menuju ranjang.
__ADS_1
"Turun Darrel! Ayah capek." Ujar Darren, datar.
Darrel menurut dan kembali duduk di ranjang. Gara meraih pipi Alula dengan kedua tangannya, lalu mengecup kening dan bibir Alula. Ia kemudian beralih mencium wajah putranya, Darren.
"Hallo, anak Ayah. Sehat-sehat ya didalam perut Ibu." Ujar Gara, mengelus perut Alula lalu mengecupnya pelan.
Gara menegakkan kembali tubuhnya lalu menatap kedua putranya dan sang istri. "Aku dengar kalian terkekeh gembira tadi. Ada apa?"
"Itu sayang, anak kamu Darrel. Masa dia tanya bahasa indianya bubu dapur."
"Bumbu dapur? Terus apa yang lucu?"
"Ada, Yah yang lucu. Dia sendiri yang jawab." Timpal Darren. Gara menatap putranya, Darrel. Satu alisnya terangkat, seolah bertanya pada Darrel.
"Apa jawabannya?"
"Tumbar miri jahe." Jawab Darrel dengan mengulum senyum.
Gara hanya bisa menggeleng dan mengulas senyum. Dia mengacak gemas rambut Darrel. "Ada-ada saja kamu."
"Hehehe... Kan mau ngehibur Ibu sama Darren." Balasnya sembari terkekeh pelan.
"Oh ya, sayang. Besok liburkan? Kita beli perlengkapan bayi ya?" Ujar Alula, menatap sang suami.
Perlengkapan bayi? Aku kan sudah memesannya. Batin Gara.
"Sayang?" Panggilan Alula membuat Gara tersadar dari pikirannya.
"Eh, iya. Ada apa?"
"Kamu kenapa?" Alula malah balik bertanya.
"Sayang, aku mau memilih baju dan perlengkapan untuk anak kita. Aku mau membelinya langsung."
"Bolehin, Yah. Aku sama Darren mau ikut. Kita mau pilih baju buat adek." Timpal Darrel.
"Ya udah, besok kita berangkat."
"Yes." Batin Darren. Walaupun dia tidak ikut membujuk, dalam hatinya tetap berharap agar Gara mengiyakan.
"Yes! Ibu, kita jadi besok." Darrel memeluk Ibunya.
"Iya, sayang." Alula tersenyum pada putranya. "Terima kasih, sayang." Alula menangkup wajah Gara lalu mengecup bibirnya. Membuat Gara menunjukkan senyum tertahannya.
Melihat istri dan anaknya tersenyum senang seperti ini, membuatnya bahagia. Biarkan saja barang yang sudah dipesannya tadi. Uang bukan masalah. Yang paling penting, istri dan anaknya bahagia.
***
Darren dan Darrel sudah bersiap. Bahkan, kedua anak itu sudah berada dalam mobil. Gara dan Alula yang baru keluar rumah menggeleng melihat tingkah kedua putra mereka.
"Ayah, jangan terus menatap kemari. Perhatikan jalan yang akan Ibu lewati. Jangan samapai Ibu terjatuh." Teriak Darrel.
"Gendong saja Ibu, Yah." Ucap Darren.
Mendengar saran Darren, Gara langsung menggendong Alula dan membawanya memasuki mobil. Padahal, jarak antara mobil dengan mereka sudah cukup dekat.
"Ayah, entar main sebentar ya?" Ujar Darrel, setelah mobil Gara melaju.
__ADS_1
"Iya,"
Suasana kembali hening sejenak, sebelum tiba-tiba Darrel mulai berceloteh. Anak itu mulai bertanya satu persatu hal yang ingin diketahuinya. Hingga tak terasa mereka pun tiba di mall.
"Pelan-pelan, Bu." Darren memegang tangan Ibunya, bersama Gara disamping Alula. Darrel berdiri di depan Ibunya sambil terus memperhatikannya.
"Ibu semakin cantik," Ujar Darrel, tiba-tiba. Hal itu membuat Darren, Alula dan Gara menoleh bersamaan. "Ada-ada saja kamu." Ucap Alula, sembari tersenyum.
"Ayo, Darrel!" Darren menarik tangan kembarannya itu memasuki mall bersama Gara dan Alula.
Gara, Alula, Darren dan Darrel langsung menaiki lift yang ada di mall tersebut menuju lantai yang terdapat toko perlengkapan bayi. Setelah sampai, Gara kembali menggandeng Alula dan terus memperhatikan kedua putranya.
"Ibu, aku sama Darren boleh ya, pilih baju buat adek?" Ujar Darrel setelah tiba di depan toko perlengkapan bayi.
"Boleh, sayang."
"Asik. Ayo, Darren!" Keduanya berjalan lebih dulu, memasuki toko tersebut.
"Selamat datang, tuan, nyonya." Seorang perempuan yang bekerja di toko tersebut menunduk hormat pada Gara dan Alula.
"Hmmm..." Balas Gara. Sementara Alula, dia hanya mengulas senyum pada perempuan itu.
"Apa yang nyonya sama tuan butuhkan? Saya akan membantu untuk mendapatkannya."
"Saya dan istri saya yang akan memilihnya sendiri, kau cukup menunjukkan letaknya."
"Baik, tuan."
Alula dan Gara mulai mengikuti perempuan itu. Gara melambaikan tangannya agar Darren dan Darrel mendekat.
"Sayang, apa dia juga mengenalmu?" Tanya Alula, penasaran saat melihat perlakuan pegawai perempuan itu.
"Mall ini milik Ayah. Sudah pasti mereka mengenalku."
"Milik Ayah?"
"Iya. Apa kamu tidak sadar ada nama Grisam di nama mall ini?"
"Oh iya, aku tidak sadar."
"Sudahlah! Jangan bahas itu lagi. Ayo, kita pilih baju untuk putri kita nanti."
"Kamu sangat yakin dia seorang perempuan."
"Ya, tapi kalau laki-laki pun aku tidak masalah." Jawab Gara.
Alula tersenyum mendengar ucapan Gara. Mereka mulai memilih perlengkapan bayi. Gara dan Alula memilihnya bersama. Sementara Darren dan Darrel, keduanya sibuk dengan urusan mereka. Kedua anak itu begitu fokus memilih baju pilihan mereka.
"Ibu apa ini boleh?" Darrel menunjukkan baju yang dipilihnya.
"Ini juga boleh?" Timpal Darren.
Alula tersenyum melihatnya. "Sayang, kita kan tidak tahu, adeknya perempuan apa laki-laki. Kok pilihnya baju untuk perempuan semua. Pilih yang netral aja ya?" Jawab Alula.
"Tuh kan sayang, si kembar saja bisa punya feeling kalau bayinya perempuan."
"Hahaha, kalian ini. Ada-ada saja." Balas Alula, kembali memilih baju-baju dan perlengkapan bayi lainnya.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, Gara meminta pengawalnya yang disuruhnya mengikuti mereka untuk membawa semua barang-barangnya. Dia bersama Alula dan kedua putranya akan ke tempat bermain yang ada di mall itu. Dia dan Alula akan menemani kedua anak itu bermain.
Beruntung, mereka bertemu Gio dan Ana yang juga ke mall itu. Keduanya langsung setuju saat diminta Darrel untuk bermain bersama.