Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Meminta Restu 1


__ADS_3

Gara, Alula, Gio dan si kembar sudah bersiap. Pagi ini mereka akan berangkat menemui Kakek Neneknya. Tapi sebelum mendapatkan restu dari keduanya, Gara ingin mengunjungi makam Ibunya dan memberitahunya mengenai pernikahannya.


"Kita ke makam Nenek dulu, ya?" Ujarnya pada si kembar.


Keduanya hanya mengangguk. Gara memutar arah mobilnya menuju jalan ke pemakaman. Gio yang duduk di sampingnya hanya memperhatikan jalanan. Rasanya masih sakit mengingat sang Ibu yang meninggal tanpa ia ingat wajahnya. Ia mengusap layar handphonenya, dan membuka aplikasi galeri. Terlihat foto sang Ibu yang begitu anggun, yang dia ambil dari ponsel sang Ayah, Ginanjar.


Aku menyayangimu, dan selalu merindukanmu. Batinya.


Gara kembali memutar stir memasuki jalan setapak area pemakaman. Mobil ia parkirkan, lalu mereka bersama-sama menuju penjual bunga. Setelahnya mereka beriringan menuju makam Tania. Bunga yang dibawa mereka tebarkan, lalu berjongkok memanjatkan doa untuk sang Ibu.


"Bu," Gara menarik nafasnya dalam. Bulir bening itu tak mampu ia cegah untuk tidak berkumpul di pelupuk matanya.


"Gara akan nikah minggu depan. Wanitanya aku rasa Ibu sudah tahu. Dia wanita yang sudah memberikan Ibu cucu. Semoga Ibu juga bahagia dengan pernikahan Gara."


Gio mengusap pelan sebelah matanya dengan sebelahnya lagi menatap pusara sang Ibu. "Ibu tidak perlu khawatir dengan pasangan Gara. Dia wanita yang mengunjungi Ibu beberapa minggu lalu bersama aku, Gara dan si kembar, cucu Ibu. Dia begitu baik. Dia sahabatku. Aku mengenalnya dengan sangat baik. Jadi, jangan khawatir dan bersedih."


Alula yang terus terdiam sejak tadi membuka suaranya. Bahkan ia merasa gugup meminta restu dari mendiang Ibu mertuanya. Seolah wanita itu sedang duduk dan menatapnya.


"I-Ibu, a-aku ingin meminta restu padamu. Aku harap Ibu merestuiku menikah dengan Gara. Aku berjanji padamu, akan selalu menjadi istri yang baik untuk anakmu, Ibu yang baik untuk cucumu dan wanita yang baik untuk keluargamu."


Setelah cukup lama berada di tempat itu, kelima orang tersebut bergegas melanjutkan perjalanan mereka. Menuju tempat sang Kakek dan Nenek cukup memakan waktu. Hingga tanpa sadar, si kembar tertidur lelap.


"I... Bu, apa kita sudah sampai?" Suara parau Darren terdengar. Anak itu terbangun lebih dulu daripada Darrel.


"Sebentar lagi," Jawab Alula, sambil melirik Gara. Sebenarnya, ia juga tidak tahu apakah mereka sudah dekat atau masih jauh. Dia belum pernah mengunjungi mereka, bahkan melewati jalanan itu saja belum pernah. Tapi, melihat ekspresi Gara yang tersenyum membuatnya yakin, tebakannya benar.


Gara membelokkan mobilnya memasuki gerbang. Mata Alula memancarkan kekaguman melihat halaman rumah yang sejuk di tumbuhi beberapa tanaman. Dapat mereka lihat, Kakek dan Nenek yang sedang duduk bersama di teras rumah sambil menikmati minuman mereka. Kedua orang tua itu langsung menghampiri saat mobil Gara berhenti di garasi.


"Ayo, turun!"


Gara turun dan beranjak ke pintu belakang. Ia membukanya dan segera menggendong Darrel yang masih terlelap.


"Nenek, Kakek," Darren menyalimi keduanya. Matanya mesih terlihat sayu.


"Cucu Nenek," Wanita tua itu mengusap pelan puncak kepala Darren.


"Darren masih ngantuk?" Satu anggukkan menjadi jawaban pertanyaan sang Kakek buyut.


Kedua orang tersebut lalu menatap Alula. Senyum tulus terpancar dari wajah keduanya. "Selamat datang, Alula." Sambut sang Nenek, sambil memeluk Alula.


"Selamat datang, nak. Kami senang kamu bisa berkunjung kemari."


"Terima kasih Kek, Nek. Aku juga senang bisa bertemu Kakek dan Nenek lagi."


Pandangan Nenek beralih menatap Gio yang masih berdiri di sisi mobil. Kakinya dengan sendirinya bergerak ke arah Gio. Saat begitu dekat, tangan Nenek terulur memegang wajah Gio.


"Siapa namamu, nak?" Ujarnya. Ia merasakan ikatan batin yang kuat dengan anak itu.


"A-aku Gio, Nek." Jawabnya dengan suara sedikit bergetar, namun masih berusaha tersenyum. Entahlah, matanya seolah tak mampu menahan desakan air mata. Bulir-bulir bening itu sedikit mulai merusak pandangannya. Gio seakan melihat Ibunya sedang berdiri dan menyentuh wajahnya.


"Aku akan masuk lebih dulu. Darrel masih tertidur." Suara Gara memecah suasana. Lelaki itu langsung melenggang masuk, bersama Darren yang katanya ingin tidur lagi.

__ADS_1


"Ayo, kita masuk!" Seru Kakek.


"Ayo, nak!" Ajak Nenek pada Gio.


Mereka masuk beriringan menuju ruang tamu. Beberapa menit kemudian, Gara ikut bergabung.


"Nenek senang sekali kalian menyempatkan waktu kemari." Nenek menggenggam tangan Alula. Hatinya merasa begitu bahagia.


"Aku kan sudah berjanji sama Nenek sama Kakek. Tidak mungkin aku mengingkarinya, Nek."


"Kapan kamu janji sama Kakek?" Lelaki tua itu menatap Gara.


"Ayolah, Kek. Waktu aku sama si kembar kemari." Gara berujar dengan sedikit malas.


"Oh, maaf Kakek sedikit lupa."


"Pantaslah lupa Kek, kan udah punya buyut." Balas Gara dengan candaannya. Membuat semua yang ada di tempat itu menyunggingkan senyum.


"Oh ya, kalian disini dulu, Nenek mau buatin minum."


"Alula bantu, Nek."


"Eh, tidak usah. Tamu harusnya di layani."


"Tidak masalah, Nek." Alula masih kekeh ingin membantu Nenek.


"Tidak ada yang ke dapur! Biar pelayan saja yang membuat minum. Nenek maupun Alula tetap disini." Ucap Gara.


"Nek, Nenek tidak perlu repot urus masalah dapur. Biar pelayan saja, okey?" Gara begitu lembut memberitahunya.


"Baiklah. Tapi, Nenek boleh kan sesekali?"


"Iya, boleh." Gara tersenyum pada Neneknya. Alula dan Gio hanya bisa menyaksikan perasaan hangat Gara pada kedua orang tua itu. Bahkan mereka belum pernah melihat Gara bersikap seperti itu pada Ginanjar.


"Pelayan!"


"Iya, tuan muda."


"Buatkan minuman."


"Baik, tuan."


Setelah pelayan itu pergi, Gara menatap bergantian wajah Kakek dan Neneknya. "Ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada Nenek dan Kakek."


"Hal penting apa?" Kakek mengerutkan sedikit keningnya.


"Pertama, aku ingin mengenalkan kalian pada dia." Gara menunjuk pada Gio. "Dia Gio, orang yang sudah menjaga Alula dan si kembar selama aku belum menemukan mereka. Dia yang selalu ada untuk Alula dan anak-anakku."


"Terima kasih, nak. Kau lelaki yang baik. Terima kasih sudah merawat mereka." Ucap sang Kakek, menepuk pelan pundak Gio yang berada tepat di sampingnya.


"Mereka beruntung bertemu denganmu. Saat ini, sangat sulit menemukan orang baik." Timpal Nenek. Gio hanya membalas ucapan mereka dengan senyuman. Ia seakan tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang penting mengenai Gio yang harus kakek dan nenek ketahui."


"Apa itu?"


"Dia Alex, Nek, Kek. Dia Gio Alexander Grisam, adik aku yang hilang beberapa tahun lalu."


Kakek dan Nenek terkejut mendengar ucapan Gara. Mulut mereka kaku tak mampu berkata. Bahkan untuk mengucapkan satu katapun tidak bisa.


Kakek yang berada tepat di samping Gio langsung menarik Gio dalam pelukannya. Ia begitu bahagia mendengarnya. Kepalanya sedikit menengadah, menahan air matanya agar tak terjatuh. Nenek yang berada di samping Alula, berpindah mendekati Gio. Dia ikut memeluk cucunya itu.


"Ya Tuhan, terima kasih sudah membawanya pulang kembali. Terima kasih sudah memberi kesempatan kami untuk bertemu dengannya." Ujar Kakek.


"Terima kasih Tuhan, Engakau telah melindungi cucuku selama ini. Terima kasih, Engkau telah menjaganya dan menuntunnya kembali ke keluarga kami. Aku bersyukur, Engkau masih memberiku nafas sampai detik ini, hingga memiliki kesempatan bertemu dengannya." Ucap Nenek.


"Nek, Kek," Gio mengubah posisinya menjadi memeluk keduanya.


"Pantas saja aku merasakan perasaan yang begitu dekat saat bertemu denganmu tadi. Aku menemukan kemiripanmu dengan Gara. Dan aku menemukan senyum putriku, Tania saat kau terseyum."


"Aku juga bersyukur Tuhan memberiku kesempatan untuk kembali ke kelurgaku yang sebenarnya. Aku bersyukur kembali hidup di antara kalian." Ucap Gio.


Kakek yang mendengarnya tersenyum. Ia mengusap pelan kepala Gio. Dia lalu menoleh ke arah Gara. "Kenapa kau tidak mengumumkannya, Gara. Adikmu sudah kembali. Semuanya pantas untuk tahu."


"Belum saatnya, Kek. Gara masih menyelidiki pelaku yang menyebabkan Gio hilang. Aku mencurigai orang-orang dari kelurga kita sendiri. Karena itu, tidak banyak yang tahu soal ini. Gara harap, Kakek dan Nenek juga merahasiakan hal ini."


"Baiklah. Kakek percaya padamu."


Seorang pelayan yang diminta membuat minum kembali. Ia meletakkan minuman tersebut di meja.


"Apapun yang kau dengar, jangan sampai didengar juga orang lain! Kau tahu akibatnya melanggar perintahku!" Gara tiba-tiba berucap dingin saat pelayan itu meletakkan minuman untuknya. Matanya menatap dengan tajam, membuat tangan pelayan itu bergetar dengan wajah yang mulai pucat.


"Sa-saya berjanji, tuan muda. Saya tidak akan membocorkan apa yang saya dengar."


"Cepat pergi!"


Pelayan tersebut segera pergi dari ruangan itu. Tangannya menggenggam erat nampan, sekedar mengurangi getaran tangannya.


Aku benar-benar tidak mendengarkan apa-apa selain kalimat "Baiklah. Kakek percaya padamu." Batin pelayan tersebut sambil berjalan ke dapur.


Kakek, Nenek, Alula dan Gio hanya memperhatikan Gara. Wajah lelaki itu seketika berubah lembut kembali. Seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal, ia baru saja mengancam orang dengan raut wajah mematikan.


"Satu lagi hal penting yang ingin aku sampaikan." Ujarnya, membuat Kakek dan Nenek fokus padanya.


"Aku akan menikah dengan Alula minggu depan."


Senyum bahagia muncul begitu saja di wajah kedua orang tua itu. Kebahagiaan seperti datang bertubi-tubi pada mereka hari ini.


"Aku dan Alula meminta restu Kakek dan Nenek." Ucap Gara, sambil melirik Alula.


"Ya Tuhan, aku begitu bahagia mendengar semua ini."


"Ya, Kakek juga bahagia. Restu kami akan selalu menyertai kalian."

__ADS_1


"Terima kasih Nek, Kek." Ucap Alula.


__ADS_2