
Matahari mulai muncul memberikan kehangatan untuk penduduk bumi. Darren dan Darrel sudah bangun dan menatap dua stelan seragam taman kanak-kanak yang entah, sejak kapan sudah ada di kamar mereka.
"Dallen, kita masih di lumah paman kan?"
"Hmmm."
"Telus, kenapa selagam kita ada disini? Bukannya kita tidak membawanya semalam?"
"Pakai saja." Jawab Darren, meraih seragamnya lalu berjalan menuju kamar ganti.
Tak lama, Darren keluar dan giliran Darrel memakai seragamnya. Setelah selesai, Darrel kembali dan duduk bersama Darren di pinggiran ranjang.
"Bagaimana? Tetap lakuin lencana itu?" Tanya Darrel.
"Tapi, aku takut Bu gulu lapol Ibu kalau kita bolos." Sambungnya.
Darren terdiam. Benar yang dikatakan Darrel. Bu guru pasti akan menanyakan mengenai dirinya dan Darrel yang tidak masuk sekolah.
"Aku tahu." Kata Darrel menarik perhatian Darren.
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita menggunakan Ibu untuk minta izin." Ujar Darren.
"Ya, kau benar. Lakukan tugas mu. Selanjutnya, aku yang urus." Ujar Darren, paham dengan ide yang Darrel pikiran.
"Ok." Jawab Darrel dan langsung bergegas keluar. Namun, belum sempat ia memegang gagang pintu, pintu kamar sudah terlebih dulu diketuk.
"Darren. Darrel. Ayo nak, sarapan." Panggil Alula dari luar.
Darrel meraih gagang pintu dan membukanya. "Pagi Bu."
"Pagi sayang. Ayo sarapan. Darren, ayo sayang."
"Iya bu." Balas Darren yang langsung menghampiri Alula.
Di meja makan, sudah ada Gara dan Sekretaris Kenan. Ketiganya pun bergabung untuk sarapan. Alula mengambilkan makanan untuk Darren dan Darrel.
"Paman ganteng, apakah paman yang menyiapkan selagam ini?" Tanya Darrel lalu memasukkan sarapan ke mulutnya.
"Darrel, bukankah Ibu sudah memberi tahu untuk tidak berbicara saat makan."
"Maaf Bu." Balas Darrel, menunduk.
"Iya. Paman yang meminta paman Kenan menyiapkannya untuk kalian." Ucap Gara membuat Darrel kembali mengangkat wajahnya, gembira.
"Terima kasih."
Bukan Darrel yang menjawab, melainkan Darren. Anak laki-laki itu mengucapkan terima kasih dengan wajah tanpa ekspresinya.
Gara dan sekretaris Kenan yang hendak mendaratkan sarapan ke mulut mereka, seketika berhenti dan menatap Darren. Bahkan Alula dan Darrel juga ikut-ikutan menoleh. Sementara Darren hanya acuh dan menyantap makanannya.
***
Alula keluar dari kamar setelah mengambil tas-nya. Tiba-tiba handphonenya berdering.
"Hallo Gio?"
"Hallo Alula."
"Dimana kamu? Aku di depan rumah mu. Tapi, kenapa rumah mu di kunci?"
"A..." belum sempat Alula menjawab, handpohone-nya sudah di rebut oleh Gara. Gara melihat nama penelpon lalu mematikannya.
"Saya, tidak suka ada yang melanggar peraturan di rumah saya." Ujar Gara, kemudian mengembalikan HP Alula dengan melempar. Membuat alula gelagapan menangkapnya.
Peraturan apa? Aku merasa, tidak melanggar apapun. Apa peraturan agar tidak menelpon di pagi hari? Tapi, peraturan macam apa itu. Benar-benar aneh.
"Bu."
Panggilan Darrel membuat Alula tersadar. Perempuan itu menatap Darrel. "Ada apa?" tanya-nya lembut.
"Dallel ingin meminjam hp Ibu."
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Hp Dallel hilang. Dallel lupa menaluhnya dimana setelah main game semalam. Dallel mau menelponnya agal tahu dimana Dallel meletakkannya."
"Baiklah. Ambil ini! Setelah mendapatkannya, tolong antarkan ke ruang kerja paman Gara ya."
"Baik Bu."
Darrel membawa HP Alula menuju kamarnya. Ia memberikan hp ke Darren saat tiba di kamar. Darren meraih dan mencoba membuka pasword hp Ibunya.
"Apa kau tahu?" Tanya Darren, menunjukkan layar hp dengan tombol angka untuk memasukkan pasword.
Darrel menggeleng. "Tapi, coba aku melihatnya."
Darren memberikan hp padanya.
Darrel menatap layar itu dengan teliti, seperti sedang mengamati sesuatu. Kemudian tangannya mengetikkan sesuatu di layar hp tersebut, dan muncullah aplikasi-aplikasi di layar hp tersebut.
"Nih." Darrel menyodorkannya pada Darren.
"Bisa?"
"Tentu."
"Bagaimana bisa?"
"Aku mengamati jejak jali ibu saat mengetik. Semuanya melekat di layar itu, meski hanya samal-samal."
Darren mengangguk, lalu memulai tugasnya. Jarinya mengetik pesan permohonan izin ke Bu guru, dan juga kepala taman kanak-kanak.
Setelah selesai, Darrel mengembalikan hp Alula sesuai yang di perintahkan Alula.
***
Sekretaris Kenan menghentikan mobilnya di depan sekolah Darren dan Darrel. Setelah keduanya turun, sekretaris Kenan melajukan mobilnya menjauh.
"Paman sudah jauh. Ayo kita pelgi."
Darren dan Darrel melangkah keluar gerbang. Mata mereka mengawasi taksi untuk mereka tumpangi.
Pertanyaan itu membuat Darrel berbalik, dan Darren mendengus kesal. Ia mengenal dengan baik suara itu.
"Asya?" Gumam Darrel.
"Apa urusan mu?" Tanya Darren, tidak suka.
"Tidak ada. Tapi, kalian mau kemana?"
"Kita mau bolos." Kata Darrel, jujur.
"Bolos?" Asya terkejut.
"Urus saja urusan mu!" Ujar Darren lalu menarik tangan Darrel.
"Jika tidak memberi tahu ku, aku akan mengatakan pada Bu guru, jika kalian bolos."
Darren dan Darrel yang sudah melangkah, kembali berhenti dan menatap Asya. Darren berjalan ke arah Asya. Tatapannya penuh dengan amarah, membuat Asya takut dan mundur.
"Apa mau mu?" Tanya Darren di depan Asya.
"A-asya gak mau apa-apa. Cuman pengen temanan sama Darren. Asya udah temanan sama Darrel, tapi Darren belum." Ujar Asya.
"Darren jangan marah ya. Asya janji gak bakal aduin Bu guru. Tapi, Asya bolehkan jadi teman Darren."
Darren tak menjawab. Hanya tatapan tajamnya yang terus menatap Asya. Sementara Darrel, ia hanya geleng kepala melihat Asya yang selalu punya cara, agar bisa berteman dengan Darren.
"Darren mau ya?" tanya Asya memaksa Darren untuk menjawab.
"Terserah" Jawab Darren dan langsung menjauh. menghentikan taksi lalu pergi menggunkan taksi bersama Darrel.
***
Taksi yang ditumpangi Darren dan Darrel berhenti di depan rumah sakit. Keduanya memasuki rumah sakit. Langkah mereka melewati lorong rumah sakit yang cukup ramai. Darrel yang berjalan terlebih dahulu, ditarik tangannya oleh Darren dan bersembunyi di balik tembok.
__ADS_1
"Dallen kenapa tal..."
"Ssttt... Diam." Suruh Darren. "Lihat disana!" perintah Darren, menunjuk ke arah dua orang yang sedang berdiri didepan sebuah ruangan.
"Paman sekletalis? Sedang apa dia disana?"
"Entah. Sekarang kita menjauh dulu." Ujar Darren.
Saudara kembar itu bergerak menjauh dari tempat persembunyian mereka.
Keduanya berjalan di taman rumah sakit. Suasananya sepi. Tidak ada satu pun orang di sana. Tanpa sengaja Darrel melihat dua orang sedang berbicara dengan serius. Yang satu adalah seorang dokter, dan yang satu lagi seorang pengunjung rumah sakit. Kedua orang tersebut terlihat sangat mencurigakan.
"Dallen, lihat disana." Panggil Darrel, membuat Darren mengikuti arahannya.
"Meleka sangat menculigakan."
"Hp Rel." Ucap Darren, menadahkan tangannya ke Darrel.
Darrel merogoh tas-nya lalu memberikan hp ke Darrel. Kedua anak tersebut terus memperhatikan mereka sambil merekam apa yang mereka lakukan. Wanita yang terlihat bersama dokter itu mengeluarkan cukup banyak uang dan diberikan pada si dokter.
"Datanglah besok. Bawalah gadis itu untuk melakukan aborsi."
"Baik. Terima kasih dok. Kalau begitu saya permisi." Ujar wanita itu kemudian pergi.
Dokter tersebut tersenyum lalu segera memasuki rumah sakit.
"Tante doktel." Panggilan Darrel menghentikan langkah dokter tersebut.
Deg, dokter itu mematung melihat kedua anak dengan wajah yang begitu mirip dengan pemilik rumah sakit. Tapi, segera ia mendapat kembali kesadarannya.
"Ada apa ya?" Tanya sang dokter, saat Darren dan Darrel berada di hadapannya.
Tak menjawab, Darren langsung menunjukkan rekamannya pada sang dokter.
"Ka-kalian?" Gagap dokter tersebut dengan wajah mulai pucat.
"Kami tidak akan membocorkan rekaman ini, asal tante mau berjanji."
"Kalian mengancam saya? Apa kalian pikir saya tidak bisa merebut hp itu dan menghapusnya."
"Silahkan. Salinannya masih banyak di hp Ibu." Jawab Darren santai, membuat si dokter menggeram kesal dan mengepalkan tangannya.
"Apa mau kalian?"
"Kami hanya ingin, tante membatalkan kelja sama tante doktel sama pelempuan tadi. Dan juga, tante halus membantu kami untuk melakukan tes DNA."
"Tidak-tidak. Saya tidak mau membatalkannya."
"Baiklah. Jangan salahkan kami jika vidio ini tersebar di seluruh negeri ini." Ucap Darren.
"Kau anak kecil. Berani sekali kamu mengancam saya."
"Tidak. Yang Dallen bilang itu benal. Tante kenapa halus melakukan abolsi. Kasian edek bayi-nya."
"Tau apa kamu tentang aborsi?"
"Tau. Sudahlah tante, apa tante tidak takut dosa. Coba tante bayangin kalau itu tante, apa tante tidak sedih kehilangan edek bayi?" Jawab Darrel.
"Tinggal pilih, iya atau tidak." Timpal Darren.
Dokter perempuan itu terdiam. Ia mulai berpikir, jika ia ada di posisi wanita yang di paksa aborsi itu. Ia menarik nafasnya lemah. "Baiklah, saya akan mengembalikan uang bayarannya dan membatalkannya. Tapi, kalian tidak boleh menyebarkan vidio itu."
"Janji." Ucap Darren.
"Tante doktel juga halus bantu kami untuk tes DNA."
"Iya. Ayo ikut saya. Saya akan meminta teman saya untuk membantu."
Darren dan Darrel beserta si dokter berjalan menuju ruangan teman si dokter. Setelah sampai di sana, teman si dokter tak kalah terkejutnya melihat Darren dan Darrel. Si dokter pun menceritakan tujuannya yang sebenarnya.
"Ini tante," Darren menyerahkan helai rambut Gara yang semalam diambilnya. Setelah itu dokter mulai melakukan tes DNA.
"Kapan hasilnya keluar?" Tanya Darren, seusai melakukan tes.
__ADS_1
"Setelah tiga hari, kembalilah kemari."
"Telima kasih tante doktel. Kalau begitu, kami pulang dulu."