Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Jangan Menangis


__ADS_3

Gara melajukan mobilnya menjauh dari caffe xx. Jika ia boleh jujur, dia masih tidak puas menghajar pak Broto. Laki-laki tua itu benar-benar kurang ajar.


Tua bangka sialan.


Bodoh kau Gara. Melindungi Alula saja tidak bisa.


Gara melirik Alula yang terus saja menatap ke luar jendela. Gara menghembuskan nafasnya pelan. Ia benci melihat Alula seperti itu.


"Jangan dipikirkan lagi." Alula menoleh padanya. Namun, hanya sebantar. Ia kembali menatap keluar jendela.


"Mau ikut aku ke suatu tempat?" Tawar Gara.


Hening. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Alula. Menurutnya, menjawab atau tidak hasilnya akan tetap sama. Yaitu tetap mengikuti kemauan Gara.


"Baiklah, diam mu aku anggap setuju." Lanjut Gara, segera membelokkan mobilnya ke arah yang tidak di ketahui Alula.


Mobil Gara berhenti di pesisir pantai. Suasana sore hari di pantai cukup ramai. Banyak pengunjung di tempat itu. Gara mengajak Alula turun. Keduanya berjalan kaki menyusuri bibir pantai. Namun satu hal yang harus diketahui, Gara melepas jas-nya dan menutup kepala Alula. Membuat wajah perempuan itu tak terlihat sepenuhnya.


"Matahari sore tidak baik untuk kulit." Ujar Gara acuh.


Sungguh? Aku baru mengetahuinya.


Sebenarnya itu hanya alasan Gara. Sejak tadi, ia menahan amarahnya saat mendapati beberapa pengunjung lelaki menatap minat Alula.


Gara menghentikan langkahnya, yang otomatis Alula juga berhenti. Di tatapnya matahari yang sebentar lagi akan kembali ke peraduannya.


"Kamu lihat matahari itu. Sebentar lagi ia akan menghilang." Ujar Gara.


Alula menoleh padanya. "Sunset." Gumam Alula.


"Apa kau ingin melihatnya?" Alula mengangguk.


"Sunset sangat indah."


"Seperti dirimu." Gara kelepasan.


"Maksud tuan?"


"Ti-tidak." Jawab Gara, gugup.


"Hahaha..." tawa Alula terdengar.


Hah? Alula tertawa. Syukurlah, semoga dia sudah melupakan kejadian tadi.


"Kenapa tertawa?"


"Tuan sangat lucu saat gugup. Hahaha... ha... maaf." Alula menunduk saat mendapati Gara melihatnya dengan ekspresi datarnya.


"Kenapa berhenti?"


"Hah?" kaget Alula, bingung.


"Kembalilah tertawa. Dan... Jangan menangis." Ujarnya membuat Alula terbungkam. Ia seakan melihat perih itu di mata Gara, saat menyebutkan kata jangan menangis.


Perbincangan mereka terjeda cukup lama. Sampai Gara membuka mulut mengajak Alula pulang.


"Kau sudah melihat sunset-nya. Ayo pulang!"


"Ayo." Jawab Alula, langsung bangun menuju mobil.


***


Ana sejak tadi mondar mandir di depan Darren, Darrel dan Gio. Bagi si kembar bolak baliknya Ana, bukan masalah. Tapi tidak bagi Gio. Lelaki itu sangat risih melihat Ana.


"Kamu bisa diam gak sih?" Tanya Gio, kesal.


"Hah? Bisalah. Masa ngga bisa. Capek dong." Balas Ana, meletakkan sepiring kue kering yang dibawanya dari rumah.


"Kalau bisa, ya udah diam. Gak usah mondar mandir, pusing."


"Pusing ya pulang."


"Enak aja kamu, kamu yang harusnya pulang."


"Nggak! Orang aku dulu yang datang, dari sore aku disini."


"Aku juga gak bakal pulang sampai Alula sampai di rumah."

__ADS_1


"Ya udah. Aku juga gak akan pulang. Orang aku nginap. Iyakan twins?" Darren dan Darrel mengangguk, namun netra mereka fokus pada urusan mereka.


"Aunty sama paman kok libut telus. Dallel pusing, telinga Dallel juga sakit."


"Darrel sakit? Mana yang sakit?" Tanya Ana khawatir.


Darren menarik nafas dan Darrel menatap Ana, bingung. "Bukan benalan sakit aunty, cuman sakit kalau aunty sama paman libut."


"Jadi, aunty gak boleh ngomong?" Ujar Ana, sedih.


"Bukan ngomong aunty, ribut." Sambung Darren dengan mata fokus pada layar iPad. Entah apa yang anak itu lakukan, tidak ada yang tahu.


Deru mobil berhenti di depan rumah membuat Darren dan Darrel menghentikan kegiatan mereka. Darrel membukakan pintu dan langsung berlari menuju Alula.


Mendapati Gara disana, Darrel yang semula ingin memeluk Alula merubah tujuannya. Ia berlari menubruk tubuh kekar Gara. Gara yang melihatnya tersenyum dan langsung menggendong Darrel.


"Kenapa hmm?" Tanya Gara mencium pucuk kepala Darrel dan mengelus rambunya.


"Dallel kangen."


"Kangen? Baru tadi pagi loh kita ketemu. Masa udah kangen?"


"Benalan, Dallel udah kangen." Darrel semakin mengeratkan pelukannya di leher Gara.


Darren yang hanya berjalan pun sampai di depan Gara dan Alula. "selamat malam bu, selamat malam paman." Sapa Darren.


Gara menurunkan Darrel dan beralih menggendong Darren. "Turunkan aku paman."


"Menurunkan mu? Ayolah, paman baru saja menggendong dan ingin mencium rambut harum mu. Apa kau tega menyuruh paman menurunkan mu?" Gara mencoba merayu.


"Cepatlah cium, lalu turunkan aku. Aku bukan bayi yang harus lama-lama di gendong."


"Ck. Kau ini terlalu gengsi. Padahal kau suka kan paman gendong." Ujar Gara, membuat Darren terdiam.


Setelah mencium Darren seperti yang ia lakukan pada Darrel, Gara menurunkannya. Alisnya bertaut, kala tersadar jika ada mobil lain yang terparkir di depan rumah Alula.


"Mobil siapa?" Matanya menatap dengan sorot tanya pada Alula.


"Itu mobil paman Gio. Ada aunty Ana juga di dalam."


"Ada Ana?" Tanya Alula semangat. Namun, seketika senyumannya pudar karena pertanyaan Gara.


"Dia orang yang menolong ku selama ini." Jawab Alula.


"Ayo paman, masuk!" Ajak Darren.


"Ya, paman halus masuk. Aku akan kenalkan paman sama paman Gio dan aunty Ana." Celetuk Darrel, menarik tangan Gara menuju rumah.


Saat Gara memasuki rumah, Ana dan Gio yang sedang bersitegang pun terkejut. Bukan karena mengenal jika itu CEO Grisam Group. Melainkan karena wajah Gara.


Wajahnya sangat mirip Darren dan Darrel. Batin Gio.


Ya Tuhan, dia sangat tampan. Eh, tapi kenapa wajahnya mirip twins. Batin Ana.


"Ayo paman, ini aunty Ana dan ini paman Gio." Gara menjabat tangan Ana yang terulur, kemudian beralih menjabat Gio. Genggaman tangan Gara yang lama dan cukup kuat itu membuat Gio meringis.


Meskipun ia memiliki tubuh yang tak kalah besar dan kekar dari Gara, ia masih merasakan sakit.


Apa-apaan orang ini? Kenapa terlihat sangat tidak suka padaku. Tapi, sepertinya aku tidak asing dengan orang ini. Seru Gio dalam hati.


"Gara." Ujar Gara, mulai mengendorkan pegangannya.


"Gio." Balasnya, menarik cepat tangannya agar terlepas.


Gara duduk saling berhadapan dengan Gio. Tatapan tajamnya masih terarah pada Gio. Bahkan Gio merasa sedang dikuliti oleh tatapan Gara.


"Alula, apakah dia bos mu di perusahaan." Bisik Ana, tidak berani berbicara keras.


"Ya, CEO Grisam Group." Balas Alula, tak kalah berbisik.


"What?" Pekik Ana, membuat Gara, Gio, Darren dan Darrel menoleh.


"Hehehe... Maaf," Ujar Ana sambil mengangangkat dua jarinya.


"Maaf, kami akan membuatkan minum." Ujar Alula langsung menarik Ana menuju dapur.


Ana kembali menatap Alula. "Jadi, dia Gara Emanuel Grisam?"

__ADS_1


"Ya. Tapi, kau tahu?"


"Tentu. Semua orang pasti tahu siapa pemimpin Grisam Group. Tapi, tidak semua orang tahu wajahnya."


"Maksudnya?" Tanya Alula, bingung.


"Hanya sedikit orang yang tahu wajah sang CEO. Dan aku adalah salah satu orang yang beruntung bisa ketemu dia. Lain kali, kalau dia kemari cepat kabari aku."


"Ngapain?"


"Ya, mau menikmati anugerah terindah dari tuhan." Ujar Ana sembari membayangkan wajah Gara.


"Ck, kamu An. Gak pernah berubah."


"Emang aku power rangers bisa berubah?"


"Huh, sudahlah. Ayo." Ajak Alula membawa nampan berisi minuman yang di buatnya.


Sementara di ruang tamu, Gara dan Gio masih bersitegang. Gio tidak peduli jika Gara adalah bos Alula. Gara menatap dengan tatapan permusuhan, dia juga harus membalasnya.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu." Tanya Gio, menatap balik mata Gara.


"Untuk apa kau disini?" Bukannya menjawab, Gara malah memberikan pertanyaan pada Gio.


"Bukan urusan mu." Jawab Gio, tegas.


"Jauhi Alula."


"Untuk apa? Aku lebih dulu mengenal Alula di bandingkan anda."


"Saya tidak peduli."


"Punya hak apa kau mengatur aku?"


Gara yang hendak menjawab mengurungkan niatnya saat Alula dan Ana tiba. Sementara Darren dan Darrel tidak peduli dengan urusan orang dewasa yang ada di depan mereka.


"Silahkan di minum tuan, Gio. Maaf, kuenya sudah dihabiskan Darren dan Darrel." Ucap Alula, meletakkan minuman di atas meja.


"Tidak perlu. Saya akan kembali. Saya permisi." Pamit Gara dan langsung berjalan keluar.


Alula yang merasa tidak enak, segera mengejar Gara di ikuti Darren dan Darrel di belakangnya.


"Tuan!" Gara berhenti. Tangannya yang hampir meraih gagang pintu mobil, ia turunkan kembali.


"Maaf tuan, apa ada sesuatu yang menyinggung tuan?" Tanya Alula, berdiri tepat di samping Gara.


"Tidak."


"Terus, kenapa tuan mendadak pergi?"


"Kau tidak perlu tahu. Saya banyak urusan."


Gara kembali meraih gagang pintu dan memasukinya. Pintu di tutupnya dengan keras.


"Paman." Panggilan itu membuat Gara menurunkan kaca mobilnya.


"Ada apa?" Tanya Gara lembut.


"Paman malah kalena aku dan Dallen sibuk main game, tidak main sama paman?"


"Tidak."


"Kenapa paman pulang?" Timpal Darren.


Gara menarik nafasnya. Membuka pintu mobil dan turun. "Sini!" Tangannya meraih tubuh Darren dan Darrel. Ia berjongkok di depan kedua anak tersebut.


"Dengar, paman banyak urusan yang harus paman selesaikan. Paman tidak marah."


"Huuh..." Darrel menarik nafas lega.


"Ya sudah, paman pulang dulu." Ujar Gara, memeluk keduanya lalu kembali memasuki mobil.


Perlakuan Gara tak terlepas dari perhatian Alula dan juga Gio dan Ana yang berada di ambang pintu rumah.


"Tampan sekali." Gumam Ana yang langsung mendapat tatapan heran dari Gio.


Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. "Gila." Ujarnya lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Ana meliriknya sebentar, mengangkat bahu acuh dan kembali menyenderkan tubuhnya ke pintu. Menunggu Alula, Darren dan Darrel kembali.


__ADS_2