Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Bantuan Untuk Edo.


__ADS_3

Gara memasuki ruangannya dengan hati yang di selimuti kebahagiaan. Perkataan Tari tadi benar-benar membuatnya bahagia.


"Aku sudah membayangkan bagaimana Alula menjadi istri ku. Aku akan membuatnya bahagia. Menebus kesalahan ku padanya, dan juga pada Darren dan Darrel." Gumam Gara, sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Tiba-tiba saja, bunyi notifikasi pesan terdengar dari handphonenya.


Edo


kau masih ingatkan dengan janji mu untuk memberiku hadiah?


^^^Gara^^^


^^^Ya aku mengingatnya^^^


Edo


Tolong bantu aku mencari nya.


Edo mengirimkan foto.


^^^Gara^^^


^^^Irene?^^^


Edo


Kau mengenalnya?


^^^Gara^^^


^^^Ya. Dia pernah ke perusahaan. Sekarang dia berteman dengan Alula^^^


Edo


Sial! Tolong aturkan rencana, agar


aku bisa bertemu dengannya.


^^^Gara^^^


^^^Tentu. Tapi, ada urusan apa^^^


^^^kau dengannya?^^^


Edo


Nanti akan aku ceritakan.


Aku tunggu di caffe biasa, jam istirahat.


Jangan memberi tahu Alula dulu.


^^^Gara^^^


^^^Hmm^^^


Gara menyimpan kembali hpnya setelah mengirimkan pesan pada Edo. Ia menjadi kepikiran, masalah apa yang di hadapi sahabatnya itu sekarang.


Ketukan pintu membuatnya tersadar. "Masuk!" perintahnya.


"Ini tuan, dokumen yang anda minta." Ujar Sekretaris Kenan, meletakkan dokumen tersebut di meja Gara.


"Bagaimana dengan dokumen yang ada pada Alula?"


"Tinggal sedikit lagi, ia akan menyelesaikan nya."


"Baiklah. Kembali ke tempat mu!"

__ADS_1


"Baik tuan. Saya permisi." Sekretaris Kenan keluar dan menuju ruangannya, yang berada di depan ruangan Alula. Tepatnya di sebelah kiri ruangan CEO. Entah sejak kapan ruangan itu dibuat, yang jelas, Gara sudah memerintahkan sekretaris Kenan untuk mengurusnya.


Jarum jam terus berputar. Tiba waktunya makan siang. Sesuai janjinya pada Edo, Gara akan menemuinya di caffe biasa, tempat yang sering mereka gunakan saat membicarakan sesuatu.


"Alula, aku akan menemui Edo di caffe. Kamu tidak perlu memesankan makanan untukku. Pesan saja untukmu sendiri. Dan jangan makan di kantin!" Peringat Gara, membuat kening Alula berkerut dan matanya menyipit.


Ada apa dengan tuan Gara? Kenapa dia jadi larang-larang aku begini?


"Kenan. Awasi Alula! Jangan biarkan ia ke kantin dan bertemu Sadam."


"Baik tuan" Balas Kenan, sedikit membungkuk padanya.


Gara menaiki lift menuju lantai dasar. Setelah lift terhenti, Gara segera keluar dan menuju parkiran. Dinyalakan mobilnya, kemudian melaju ke caffe yang sudah ia janjikan bersama Edo.


Dua puluh menit perjalanan, Gara sampai. Ia menuju meja yang sudah ada Edo disana.


"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Edo dengan wajah yang di tekuk.


"Bukan aku yang lama, kau yang terlalu cepat." Balas Gara, menarik kursi dan duduk di depannya.


"Sudahlah. Bagaimana? Apa Alula tahu tentang masalah ini?"


"Tidak. Aku bukan ember bocor seperti mu."


"Ck. Kau ini!" Decak Edo, menerima saja apa yang Gara katakan.


"Cepat ceritakan! Ada masalah apa kau dengan Irene?" Desak Gara, masih sangat penasaran dengan masalah Edo.


"Aku akan menceritakan nya. Jadi begini, aku..." Edo mulai menceritakan masalahnya dengan Irene.


Flashback On


Setelah seminggu, Edo tidak mendatangi lagi club xx. Ia masih merasa kesal, kenapa tiba-tiba pintu kamar yang berisi gadis itu terkunci. Ia melampiaskan rasa kesalnya dengan tidak mengunjungi club itu lagi.


Malam ini ia akan kembali mengunjungi club xx. Edo mabuk berat malam itu. Ia berjalan sempoyongan menuju mobilnya. Namun, belum sempat ia meraih pintu mobilnya, ia sudah terjatuh.


"Tolong, antarkan aku pulang!" Rancau Edo, menyerahkan kunci mobilnya pada orang itu.


Ingin menolak, tapi ia kasihan. Terpaksa gadis itu yang ternyata adalah Irene, menolongnya dan membawanya pulang.


"Ayo, tuan! Aku akan membantu mu pulang."


Irene membantu Edo masuk ke mobil. Tak berapa lama, mobil milik Edo melaju, meninggalkan club xx.


"Maaf tuan, kemana aku harus membawa mu?" Tanya Irene, masih fokus pada jalanan.


Edo tak menjawab. Ia hanya memberikan kartu namanya, yang di dalamnya sudah tertulis alamat tempat tinggal Edo.


"Apar-te-men lan-tai 20, u-nit 1280." Gumamnya, seakan memberitahi Irene, jika ia tinggal di apartemen.


Irene menghentikan mobil di alamat yang ada di kartu nama Edo. Benar, itu sebuah apartemen. Irene memapahnya keluar mobil. Lalu, ia menaiki lift menuju apartemen milik Edo.


Irene membawa Edo ke unit 1280. Ia merogoh saku celana Edo, mencari access card.


"Maaf tuan, aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya mencari kartu akses mu."


Setelah menemukannya, Irene segera menempelkan katu itu. Kemudian pintu terbuka dan Irene memapah Edo masuk.


Saat hendak membaringkan Edo di kasur, Edo menggeliat. Membuat Irene tidak bisa menopangnya, dan akhirnya terjatuh dengan tubuh Edo menindihnya.


Edo yang saat itu sedang mabuk berat, menjadi gelap mata. Ia mulai bersikap kurang ajar pada Irene.


Gadis itu mencoba melepaskan diri. Namun, tubuh besar Edo tidak sebanding dengannya. Meskipun ia meronta, tetap saja Edo tidak akan membiarkannya pergi.


Flashback Off


"Tapi, meskipun begitu, Irene tetap bisa kabur dariku. Aku sudah berusaha mencarinya, tetap saja sulit untuk di temukan. Makanya, aku meminta bantuan mu."

__ADS_1


"Aku pasti akan bantu. Kita bisa mengajak Alula membantu kita. Dia sekarang berteman dengan Irene. "


"Apa kau yakin Alula tidak akan memberitahu Irene."


"Tenanglah! Kau diam saja. Ini akanenjadi urusan ku." Balas Gara.


Laki-laki itu meraih handphonenya dan mengirimkan pesan pada Kenan. Kemudian ia menyimpan kembali hpnya.


"Aku sudah meminta Kenan membawa Alula kemari."


"Untuk apa?"


"Membantu kita. Alula yang akan membawa kita bertemu Irene di rumah sakit."


"Irene di rumah sakit? Kenapa?"


"Tidak perlu bereaksi seperti itu. Lihat saja di rumah sakit nanti." Balas Gara, datar.


Sekretaris Kenan dan Alula sudah tiba di caffe. Keduanya berjalan beringan, menghamipiri Gara dan Edo.


"Selamat siang, tuan Gara, tuan Edo." Sapa Alula, bersamaan dengan sekretaris Kenan.


"Baguslah kamu sudah datang. Ayo, duduklah." Perintah Gara, membiarkan Alula duduk di sampingnya. Sekretaris Kenan mengambil tempat di meja lain, tak jauh dari meja tuannya.


Gara yang melihat Edo menatap Alula merasa kesal. "Jaga matamu!" Gara membuka jasnya, dan memakaikan ke tubuh Alula.


"Dasar posesif. Aku hanya kagum melihat Alula, yang tetap cantik meski tak berpakaian seperti wanita jaman sekarang." Ucap Edo.


"Kau tidak boleh mengaguminya."


"Apa salahnya? Apa hak mu melarang?"


"Aku Ayah dari anaknya."


"Huh, kau hanya Ayah dari anaknya. Bukan suaminya."


Sekretaris Kenan hanya bisa menahan senyum, melihat tingkah tuannya. Sementara Alula, ia bingung dengan perdebatan dua laki-laki dewasa itu.


"Maaf tuan, Edo. Jika saya di suruh kemari hanya untuk mendengarkan perdebatan kalian, lebih baik saya kembali ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan."


Mendengar ucapan Alula, membuat Gara menoleh tajam. Alula sampai merasa takut dengan tatapan Gara.


"Siapa CEO tempat mu bekerja?" Tanya Gara dengan sorot tajamnya.


"T-tuan."


"Siapa yang boleh memutuskan kerja atau tidak?"


"Tuan."


"Jadi, tetaplah disini!" Ujar Gara, dengan sorot mata yang kembali melembut. Alula hanya bisa mengangguk, tak berani menatap mata Gara.


Edo melirik Gara. Matanya melotot, seperti mengatakan pada Gara, untuk segera melaksanakan rencana mereka. Gara yang paham, langsung mengangguk.


"Alula,"


Wanita itu mendongak. "Iya, tuan?"


"Ayo kita bertemu Irene!"


"Untuk apa?"


"Aku ingin meminta maaf, atas kata-kata kasarku saat di kantor. Sekalian, aku menjenguk Ayahnya. Edo juga akan pergi. Dia mengenal Irene sama seperti ku."


"Apa tanya dulu pada Irene?"


"Tidak perlu. Kami ingin membuat kejutan untuknya." Potong Gara dengan cepat. Jika Alula menelpon Irene, dan keceplosan menyebut nama Edo, rusak sudah rencana mereka.

__ADS_1


Setelah Alula setuju, mereka segera berangkat menuju rumah sakit. Alula bersama Gara, Edo sendiri dan Sekretaris Kenan pun sendiri.


__ADS_2