
Sekretaris Kenan berjalan memasuki ruangan Gara. Bahkan, Alula yang berada di depannya tidak ia hiraukan. Alula yang melihatnya tak ingin ambil pusing. Mungkin Sekretaris Kenan memiliki urusan penting dengan Gara.
"Bagaimana?" Tanya Gara saat sekretaris Kenan berada di depannya.
"Saya sudah mendapatkan informasinya tuan." Ujar sekretaris Kenan. "Sebelum nona ketahuan mengandung, nona memiliki hubungan yang baik dengan Ayahnya. Tapi, hubungan nona dengan Ibu dan kakaknya tidak baik."
"Setelah nona ketahuan mengandung, sikap Ayah nona berubah. Nona di usir dari rumah. Sementara Ibu dan kakak nona masih bersikap sama seperti sebelumnya."
"Hmmm... baiklah. Terima kasih infonya. Saya ada satu tugas lagi untuk mu." Ucap Gara. " Persiapkan privat room di restoran xx besok malam. Saya dan kedua putra saya akan memberi kejutan untuk Alula."
"Baik tuan. Akan saya lakukan."
Setelah menyanggupi tugas yang di berikan Gara, Sekretaris Kenan kembali ke ruangannya. Gara meraih handphonenya dan mengirimkan pesan pada Darren. Semoga besok malam tidak ada hal penting yang ia urus.
^^^Gara^^^
^^^Ayah sudah meminta Kenan mengurusnya. Tugas kalian, mengabari kakek kalian. Acaranya di restoran xx, besok malam. ^^^
Darren
Siap.
Gara mengembalikan ponselnya ke meja. Pikirannya menerawang, mencoba menebak jawaban apa yang akan Alula berikan padanya nanti. Tapi, iya atau tidak jawaban Alula, ia takkan melepaskannya begitu saja.
***
Darren mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Sedangkan Darrel, anak itu memakan bekal yang Alula buatkan untuk mereka. Jam istirahat adalah waktu yang paling ia sukai.
"Kenapa? Apa itu pesan dari Ayah?" Tanya Darrel, menatap Darren.
"Ya. Acaranya besok malam. Ayah meminta kita memberitahu kakek."
"Terus, jawaban mu?"
"Siap. Aku akan mengirimkan pesan pada kakek."
"Baguslah. Sudah! Habiskan bekal mu!"
"Kau saja. Aku sudah memakan setengahnya."
"Banalan?" Darren mengangguk. "Telima kasih. Aku akan makan belsama Asya." Ujar Darrel.
Darrel berjalan mendekati Asya, yang sedang bermain bersama teman perempuannya. Saat melihat Darrel, Asya menghentikannya dan mendekati Darrel. Interaksi keduanya terus di perhatikan Darren.
"Asya, mau makan gak? Tapi, sisanya Dallen. Dia gak bisa habisin. Aku juga gak kuat habisin semuanya." Ujar Darrel, sambil memperlihatkan tiga potong sandwich yang ada di kotak bekal Darren.
"Aku mau, tapi punya kamu aja. Punya Darren kebanyakan. Gak bisa aku habisin." Balas Asya, meraih kotak bekal Darrel, yang berisi sepotong sandwich.
"Kok gitu? Makan baleng aja gimana?"
"Boleh."
Darren yang melihat tak berkomentar apapun. Ia kembali menatap hp di tangannya. Tangannya bergerak mengetikkan pesan untuk kakeknya, Zarfan. Setelah pesannya terkirim, ia kembali ke tempat duduknya yang ada di kelas.
Jam pelajaran berjalan begitu cepat. Tak di sangka, kedua anak itu sudah berada di depan gerbang, menunggu jemputan. Gio sudah berjanji akan menjemput mereka. Lelaki itu bahkan dengan susah payah membujuk Gara.
Sebenarnya, ia bisa langsung menjemput tanpa memberi tahu Gara. Tapi, ia masih sayang nyawanya. Gara diam-diam memerintahkan pengawalnya untuk terus mengikuti Darren dan Darrel.
Pengawal-pengawal tersebut tidak akan segan menyakiti orang asing. Karena Gio belum mereka kenal, jadi lelaki itu meminta izin pada Gara.
__ADS_1
"Paman!" Teriak Darrel, berlari mendekati Gio. Darren juga ikut mendekat.
"Paman sama aunty ya?" Tanya Darrel, memainkan alisnya, berusaha menggoda Gio.
Gio tersenyum. "Anak nakal. Tidak ada aunty. Dia lagi ngurus butik."
"Yah, gak asyik dong kalau gak ada aunty."
"Siapa bilang? Ada paman disini. Paman akan ajak kalian jalan-jalan hari ini." Darrel tersenyum lebar mendengar ucapan Gio.
"Tapi, kali ini tidak ada es krim. Paman tidak ingin kau atau pun Darren sakit."
"Ayolah paman! Dallel sakit bukan kalena makan es klim. Tapi, kena DBD. Iyakan Dallen?" Tanya Darrel, berusaha meyakinkan Gio. Namun, kata-kata nya hanya di balas kedikan bahu oleh Darren.
"Ayo paman, berangkat! Tidak harus ada es krim kalau jalan-jalan." Ujar Darren, dengan acuhnya menaiki mobil Gio.
Gio tersenyum. Sedangkan Darrel, dengan wajah murungnya memasuki mobil, mengikuti Darren.
***
Jarum jam berputar dengan cepat. Waktu yang di tunggu Darren, Darrel dan Gara pun tiba. Sebentar malam, mereka akan memberikan kejutan untuk Alula.
"Alula, kau pulanglah! Biar Kenan yang akan menyelesaikan semuanya." Ujar Gara, berdiri bersender di pintu ruangan Alula.
Alula yang mendengar suara Gara yang tiba-tiba pun terkejut. Ia mendongakkan kepalanya menatap Gara.
"Pulang? Kenapa tuan? Jam kerja ku masih belum selesai."
"Tak perlu kau pusingkan itu. Kenan akan mengurusnya. Pulanglah! Darren mengirimkan pesan agar kau pulang cepat hari ini."
"Darren? Kenapa mengirimkan pesan? Apa terjadi sesuatu dengan mereka?" Tanya Alula, panik.
"Banaran aku di bolehin pulang?" Alula memastikan kembali ucapan Gara.
"Iya. Tapi, aku tidak bisa mengantar mu. Pengawal yang akan mengantar mu."
"Hah? Tidak perlu! Aku akan naik taksi."
"Tidak. Kau akan mereka antar. Tidak ada bantahan." Putus Gara.
Alula menarik nafas. Jika sudah begini, ia tidak bisa membantahnya. Alula mbereskan mejanya lalu meraih tasnya. Sampai di pintu, ia menunduk hormat pada Gara.
"Saya permisi, tuan." Ujar Alula, kemudian pergi setelah mendapat anggukkan dari Gara.
Alula menaiki lift. Tak lama kemudian, lift berhenti dan keluarlah Alula. Ia menuju parkiran. Benar saja, disana sudah ada pengawal Gara yang bertugas menjaganya.
"Maaf. Apa kau orang suruhan tuan Gara?" Tanya Alula, sopan.
"Iya, nona. Mari!" Balas pengawal tersebut, mempersilahkan Alula masuk.
Alula tersenyum menanggapinya. Setelah pintu mobil di buka oleh pengawal tersebut, Alula sedikit membungkukkan badannya. "Terima kasih." Ujar Alula, kemudian memasuki mobil.
Pantas saja tuan sangat mencintainya. Perempuan ini begitu cantik baik paras maupun hatinya. Batin pengawal tersebut.
Pengawal tersebut melajukan mobilnya meninggalkan area perusahaan. Sesekali ia melirik Alula yang sedang menatap keluar jendela, dari kaca mobil.
"Maaf nona." Suara si pengawal, mengalihkan perhatian Alula.
"Ya. Ada apa? Kenapa minta maaf?"
__ADS_1
"Tidak. Saya merasa tidak enak saat nona membungkuk pada saya tadi. Sebaiknya nona tidak melakukannya. Atau saya akan kehilangan pekerjaan saya."
"Kehilangan pekerjaan? Kenapa bisa begitu?"
"Bisa nona. Nona adalah orang yang berarti bagi tuan. Nona secara tidak langsung sudah menjadi atasan saya dan yang lainnya. Tidak sepantasnya nona membungkuk hormat pada saya, atau pengawal tuan Gara lainnya. Jika tuan tahu, kami akan mendapat hukuman darinya."Jelas si pengawal.
Alula seketika diam. Orang yang berarti? Atasan mereka? Apa yang pengawal itu katakan. Apa benar ia berarti bagi Gara. Tapi, ia tidak yakin.
Jujur saja, ia tidak ingin berharap lebih dari Gara. Ia tidak ingin merasakan sakit, sama seperti saat ia berharap pada Rendra. Ia dan Gara sangat berbeda. Gara adalah si penguasa. Sementara dirinya, hanya seorang putri yang tak di anggap oleh orang tuanya.
Mobil yang Alula tumpangi tiba di kontrakannya. Ia sedikit terkejut, saat sadar jika pengawal itu tahu kontrakannya. Tapi, ia kembali ingat. Pengawal itu adalah bawahan Gara. Mereka sudah mengetahui semuanya.
"Silahkan nona!" Pengawal itu mempersilahkan Alula keluar.
"Terima kasih. Saya masuk dulu. Mari!"
Alula segera memasuki kontrakan nya. Tidak ada Darren atau Darrel di ruang tengah. Ia bergegas menuju kamar si kembar.
Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Darren dan Darrel yang sedang tidur siang.
Alula mendekati Darren dan Darrel. Di rabanya kening kedua putranya. Tidak terasa panas. Ia berucap syukur dalam hati. Tidak terjadi apa-apa pada kedua putranya.
Setelah memeriksa, Alula kembali ke kamarnya. Baru pukul dua siang. Ia bisa beristirahat. Setelah bangun, baru ia selesaikan tugasnya.
***
Hari sudah menggelap. Darren dan Darrel yang kini sudah berpakaian rapih segera menuju kamar Alula.
"Bu! Bu! Bangun Bu." Panggil Darrel, sambil mengguncang pelan tubuh Ibunya.
"Emmm... Anak Ibu sudah bangun ya?" Ujar Alula dengan suara serak, khas bangun tidur.
Saat matanya melihat dengan jelas, keningnya seketika mengerut. Dua putranya telah berpakaian rapih.
"Kalian mau ke mana?" Tanya Alula.
"Ke pesta ulang tahun teman." Jawab Darren.
"Ya. Kita dapat undangan dali Ibunya Zul. Orang tua juga di undang supaya temani anaknya. Ini!" Timpal Darrel, menyodorkan undangan pada Alula.
Wanita itu meraih dan membacanya. Kemudian ia mendongak menatap jam yang tertempel di dinding kamarnya.
"Tunggu Ibu sebentar! Ibu akan bersiap."
"Okey." Balas keduanya, bersamaan.
Hampir dua puluh menit menunggu, Alula pun keluar dari kamarnya. Penampilannya sederhana, namun terkesan begitu cantik. Ia tersenyum pada kedua putranya.
"Kenapa menatap Ibu? Ayo berangkat!"
"Ibu sangat cantik." Puji Darrel.
"Ya, Ibu sangat cantik." Darren menimpali.
"Terima kasih. Ayo!" Alula menggandeng tangan Darren dan Darrel. Saat membuka pintu, sebuah taksi sudah terparkir di halaman.
"Aku yang memesannya." Ujar Darren.
"Kau sangat siap." Ucap Alula.
__ADS_1
Semoga Ibu senang dengan kejutan ini. Batin Darren.