
Keadaan mulai berjalan seperti biasanya. Edo, Irene, Ana, Tari dan Sadam tidak percaya dengan berita yang mereka dengar. Gio adalah putra Ginanjar, pewaris kedua keluarga Grisam yang hilang sejak beberapa tahun lalu.
Gara dan Alula sudah mulai bekerja lagi. Hari ini, Gara dan Alula akan berangkat ke kantor bersama Gio. Gara berniat akan mengenalkan adiknya itu pada orang-orang kantor. Semuanya pantas tahu. Bukan hanya melalui media. Tapi, bertemu secara langsung.
"Saya yakin, kalian sudah tahu siapa dia. Saya ingin perkenalkan dia pada kalian secara langsung. Gio, kenalkan dirimu!" Lelaki itu mengangguk.
"Perkenalkan, saya Gio Alexander Grisam. Senang bertemu kalian." Ujarnya.
"Salam kenal tuan. Senang bertemu anda juga." Jawab semua karyawan.
"Kalian bisa memanggilnya Gio atau Alex. Dia juga memiliki hak atas perusahaan ini. Dia tidak ada bedanya denganku. Kalian mengerti?"
"Mengerti, tuan!" Balas semuanya serentak.
"Kembali ke tempat kalian!" Semuanya membungkuk hormat lalu kembali ke tempat masing-masing.
Gara, Alula dan Gio bergegas ke ruangan Gara. Sekretaris Kenan sedang menyelesaikan uruaan di perusahaan cabang. Ketiganya memasuki ruangan Gara.
"Wah, hanya ada tiga ruangan di lantai ini?" Gio memandang kagum pada ruangan Gara.
"Iya. Hanya ada ruangan Gara, aku dan sekretaris Kenan." Jawab Alula.
"Ruanganmu sangat bagus, Kak. Aku menyukainya."
"Kamu akan mendapatkannya juga setelah perusahaan milik Ibu di atas namakan dirimu."
"Aku belum siap, Kak. Perusahaan sebesar itu, aku takut tidak bisa mengurusnya. Cafe ku yang kecil saja sudah membuatku bingung."
"Bisa atau tidak, kamu harus bisa! Perusahaan itu awalnya adalah milikmu. Punyaku hanya sebagian kecil. Lagi pula, Grisam Group memiliki cabang dimana-mana. Aku tidak mungkin mengurus dua perusahaan besar dengan cabang dimana-mana seorang diri. Aku akan meminta orang kepercayaanku mendampingimu dan membimbingmu. Aku tetap memantaumu."
"Kamu memang hebat, Kak. Grisam Group memiliki cabang dimana-mana dan semakin terkenal karena usahamu. Perusahaan milik Ibu juga semakin berkembang dan mendapatkan hati masyarakat juga karena dirimu. Kamu benar-benar hebat. Aku bangga padamu."
"Sekarang tugasmu untuk semakin melambungkan nama Tania Corp."
"Aku akan berusaha. Doa kan aku, Kak, Kakak Ipar."
"Kami akan selalu mendoakan kamu. Juga akan selalu mendukungmu." Ujar Alula.
***
__ADS_1
Darren Darrel menuruni tangga dan langsung menghampiri kedua orang tua mereka yang duduk di ruang keluarga.
"Dimana paman? Aku mendengar sualanya tadi." Darrel duduk di sebelah Alula.
"Paman sudah pergi. Dia menginap di apartemennya malam ini." Jawab Alula.
"Ayah, bisakah kita ke rumah Kakek Zarfan besok?" Ujar Darren. Alula dan Gara saling menatap. Putranya itu jarang sekali meminta sesuatu. Mereka merasa senang mendengar Darren meminta sesuatu pada mereka seperti ini.
"Iya, Yah. Kita sudah cukup lama tidak beltemu Kakek sama Nenek. Sejak pelnikahan, mungkin sudah hampil sebulan. Aku juga mau lihat wajah tante Elisa secala langsung."
"Ya sudah, besok Ayah sama Ibu libur. Setelah pulang sekolah, kita ke rumah Kakek."
"Tidak halus pulang pelgi, Yah. Ayah sama Ibu jemput, dan langsung pelgi."
"Baiklah. Ibu setuju."
"Ayah?"
"Ayah juga setuju."
"Yes." Ujar Darren Darrel bersamaan, membuat pasangan suami istri itu tersenyum.
"Ya sudah, sekarang kalian tidur. Besok, pulang sekolah langsung berangkat."
"Ayo! Si kembar sudah ke kamar dan tidur. Seharusnya kita juga ke kamar." Ujar Gara.
"Aku akan minum air dulu di dapur. Kamu duluan saja." Ujar Alula.
"Aku akan ikut denganmu."
Gara mengikuti Alula menuju dapur. Dia terus memperhatikan istrinya yang sedang membuka pintu kulkas. Alula meraih botol minum dan hendak membukanya. Namun, Gara menahannya.
"Biar aku saja yang membukanya." Alula mengangguk dan mengulurkan botol pada Gara. Gara sedikit mendekat, lalu membuka botolnya. Alula mengulurkan tangannya, namun Gara tak memberikan botol itu pada Alula.
Lelaki itu malah meneguk air yang ada di botol dan menarik tengkuk Alula. Menempelkan bibirnya ke bibir Alula.
Glug... Alula menelan air yang yang diberikan Gara melalui mulutnya. Wajah Alula memerah saat tak sengaja melihat siluet pelayan yang lewat. Namun berbeda dengan Gara. Ia menikmati kegiatannya dan melanjutkannya meskipun air yang ada di mulutnya sudah tertelan habis oleh Alula.
Merasa istrinya sudah sulit bernafas, Gara menghentikannya dan langsung menggendong Alula menaiki tangga menuju kamarnya. Mengabaikan botol air yang sudah tergeletak di lantai dengan air yang tertumpah habis. Biarkan pelayan yang lewat tadi membersihkannya.
__ADS_1
***
Mobil Gara sudah terparkir di depan sekolah Darren Darrel. Kedua anak itu berlari dan mencium tangan kedua orang tua mereka. Kemudian sama-sama masuk mobil. Darrel melambaikan tangannya pada Asya yang sudah menggandeng kedua orang tuanya.
"Ibu bawa makanan. Darren Darrel makan dulu, ya?"
"Iya, Bu!" Gara menghentikan mobilnya sejenak dan membeli minuman. Setelah kedua putranya menghabiskan makanan mereka, ia melajutkan perjalanannya.
30 menit perjalanan, mereka tiba di rumah Zarfan. Rumah terlihat sepi. Hanya seorang penjaga yang membukakan pintu gerbang untuk mobil Gara.
"Pak, Ibu sama Ayah dimana ya? Kok rumahnya sepi?"
"Eh, nona Alula. Tuan sama nyonya ada di dalam. Mungkin lagi di halaman belakang, nona. Kan tidak kedengaran nona kalau di belakang rumah."
"Iya, pak. Terima kasih. Kalau begitu, aku masuk dulu." Alula bergegas menuju pintu rumah bersama Darren Darrel. Gara yang meminta mereka duluan. Ia sedang menurunkan beberapa paper bag untuk diberikan pada mertuanya.
Tok... tok... tok...
"Bu... Ayah..." Satu kali panggilan, pintu langsung terbuka.
"Eh, Alula! Ngapain kamu kisini? Bawa anak haram kamu lagi. Disini tidak menerima perempuan gak benar, sama anak haramnya. Oh ya, aku lupa! Kata Ibu sama Ayah, kamu sudah menikah. Dimana suamimu? Huh, aku rasa dia membuangmu hingga kau kembali ke..."
"Saya disini!" Jawab Gara, memotong ucapan Elisa. Dia menghentikan langkahnya tepat diantara istri dan anaknya.
"ka-kamu..."
"Pelkenalkan tante, ini Ayah Dallel sama Dallen. Namanya Ayah Gala." Ujar Darrel, menggandeng sebelah tangan Ayahnya.
"Siapa Elisa?" Disa dan Zarfan berjalan menuju pintu. "Alula? Ya Tuhan, putri Ibu." Disa memeluk Alula, kemudian melepasnya. Matanya beralih menatap kedua cucunya. "Darren Darrel, cucu Nenek." Disa juga memeluk si kembar.
Alula beralih memeluk Ayahnya. Kemudian Zarfan memeluk kedua cucunya. "Aku melindukan Kakek dan Nenek."
"Kami juga merindukan kalian, Nak." Jawab Zarfan.
"Tuan," Sapanya lalu menunduk pada Gara. Begitupun dengan Disa.
"Aku adalah menantu kalian. Jangan lakukan itu lagi. Anggaplah aku seperti menantu pada umumnya."
"Terima kasih, Nak. Ayo, masuk!" Gara, Alula dan si kembar segera masuk. Sementara Elisa, dia masih berdiri bengong di ambang pintu. Dia masih tidak yakin jika Alula menikah dengan seorang pengusaha muda kaya raya yang terkenal dingin dan kejam itu.
__ADS_1
"Aku tidak percaya jika Alula menikah dengannya. Dia begitu tampan dan sempurna. Dia juga terkenal kejam dan dingin. Bagaimana bisa dia luluh dan memilih Alula menjadi istrinya? Itu tidak mungkin!! Alula pasti sudah menggoda dan menjebaknya."
Elisa menoleh ke arah ruang tamu. Matanya menatap Gara, lalu beralih menatap si kembar. "Kedua putra kembar Alula, begitu mirip dengannya. Apa dulu Alula mengandung anaknya? Jika memang begitu, aku pasti bisa mendapatkan tuan Gara itu dengan mudah. Dia bisa tergoda dengan Alula yang biasa-biasa saja. Pasti aku yang begitu cantik ini, bisa menggodanya dan mendapatkannya." Ujar Elisa, tersenyum licik.