Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Darrel Sakit


__ADS_3

Darrel terus merengek meminta dibelikan es krim. Sudah dua cup yang ia habiskan. Tapi, dia masih merengek meminta lagi.


"Kenapa kau merengek seperti ini?" Darren kesal dengan adik kembarnya itu.


"Tenggolokanku telasa keling. Aku ingin makan atau minum sesuatu yang dingin."


"Ibu. Ayo kita pulang. Jika masih disini, dia akan terus merengek." Alula tersenyum. Baru kali ini Darren terlihat kesal.


Benar-benar mirip tuan. Astaga, apa yang aku pikirkan? Batin Alula.


"Ya, Ibu juga berpikir seperti itu. Lagi pula, sudah semakin gelap. Ayo, pulang!"


Darren berjalan terlebih dulu. Sementara Darrel terlihat engan untuk pulang sekarang.


Darrel berlari terlebih dahulu menuju rumah, saat turun dari taksi. Alula membuka pintu dan membiarkan kedua putranya masuk lebih dulu.


Darren beristirahat di ruang tamu sedangkan Darrel langsung menuju kamar. Beberapa menit kemudian, Darren menyusulnya.


"Darren, Darrel. Ayo makan dulu. Ibu sudah memasak makanan kesukaan kalian." Tidak ada satupun yang menyahut. Hanya ada bunyi pintu yang terbuka.


"Darrel?" Alula mengangkat sebelah alisnya, heran tak melihat Darrel. Biasanya anak itu akan paling cepat jika menyangkut makanan.


"Sudah tidur."


Alula mengangguk. "Ayo makan dulu. Biarkan dia tidur. Dia akan makan setelah bangun."


Darren mengikuti Alula menuju meja makan. Ia dan ibunya makan dalam keheningan. Setelah selesai, Darren menunggu Alula mencuci piring, sambil membantu Ibunya membersihkan meja makan. Meski dilarang, ia tetap melakukannya.


Alula menoleh setelah meletakkan piring pada tempatnya. "Makasih ya, sudah bantu Ibu."


"Tidak masalah."


"Ayo, tidur. Jangan lupa, bangunkan Ibu jika Darrel ingin makan."


"Iya bu." Balas Darren, lalu menuju kamarnya.


Pukul 23:10, Darren terbangun. Darrel yang berada di sampingnya terus bergumam tidak jelas, dengan mata yang masih tertutup.


Darren menyentuh lengannya, berniat untuk membangunkannya.


Astaga, dia panas. Batin Darren.


Darren beralih menyentuh keningnya. Ternyata keningnya juga panas. Tanpa menunggu, Darren segera memanggil Ibunya. Pintu kamar Ibunya di ketuk.


"Bu,"


Alula terbangun dan membukakan pintu. "Iya, nak. Apa Darrel ingin makan?" Tanya Alula dengan suara seraknya.


"Tidak bu. Badannya panas."


"Ayo, kita ke kamar." Kata Alula, langsung menarik Darren bersamanya.


Alula menempelkan telapaknya pada kening Darrel. "Astaga, panasnya tinggi sekali."


"Darren, tolong ambilkan termometer di laci." Darren bergegas mengambilnya.


"Ini bu." Alula meraihnya lalu membangunkan Darrel untuk mengukur suhunya.


"Ayo, buka mulutnya. Ibu mau mengukur suhu tubuhmu." Darrel menurutinya.


Setelah termometer itu berbunyi, Alula mencabutnya. Alula terkejut. Suhu tubuh Darrel 40 derajat celsius.


"Nak, apa kau ingin makan?"


"Tidak bu, aku ingin muntah." Jawab Darrel, lemas.


Mendengar itu, Darren dengan cekatan mengambil ember untuk Darrel muntahkan. Darrel tidak mungkin ke kamar mandi, terlalu jauh. Darren secepat mungkin ke kamar mandi membuang muntah Darrel.


Darren kembali dan memerhatikan adiknya yang terus merengek tidak jelas itu. Matanya menyipit melihat ruam merah di kulit Darrel.


"Bu," panggil Darren menunjuk ke arah ruam merah tersebut.


Alula yang melihatnya langsung merasa panik. Di gendongnya Darrel keluar.


"Ayo, Ren. Kita ke rumah sakit." Darren mengikuti Alula.


Wanita itu terlihat begitu cemas. Ia berjalan menuju kontrakan pak Hadi, untuk meminta tolong mengantarnya menuju rumah sakit.


"Permisi, selamat malam." Ucap Alula. "Pak Hadi, ini Alula pak."


"Bu, mereka pergi sejak kemarin." Ujar Darren yang berdiri di sampingnya.


Alula menarik nafas lemah. Ia kembali sambil menggandeng Darren di tangan sebelahnya. Alula berhenti di depan rumahnya.

__ADS_1


"Darren, tolong pesankan taksi online." Darren segera memesannya.


"Mereka menolaknya Bu." Ujar Darren, saat setiap pesanannya di tolak oleh mereka.


"Bu... Dallel mau ayah bu..." Rancau Darrel dalam gendongan Alula.


"Iya nak, sabar. Ibu akan membawamu ke rumah sakit."


Alula kembali menggandeng Darren menuju depan gang. Saat sampai di depan gang, mereka berpapasan dengan mobil Gara yang hendak berbelok memasuki gang.


Gara memberhentikan mobilnya dan segera turun mengejar Alula yang menarik Darren kembali, menjauh dari Gara.


"Alula, berhenti." Gara menarik tangan Alula, membuatnya berbalik menatapnya.


"Kenapa Darrel?" Tanya Gara, melihat Darrel yang bergumam tak jelas.


"Sakit, Ay... paman." Jawab Darren, hampir memanggil Gara Ayah.


"Ayo, aku antarkan ke rumah sakit."


"Tidak perlu." Alula menolak. Bukan ia tega pada anaknya, ia hanya tidak ingin berhutang pada Gara, yang pada akhirnya akan dimintai imbalan yang tak ia inginkan.


Gara yang mendengarnya menggeram kesal. Di dekatkan kepalanya pada telinga Alula. Lalu membisikkan sesuatu.


"Dia juga anakku. Darren juga anakku. Aku memiliki hak atas mereka." Bisik Gara, membuat Alula mematung.


"Ayo aku antar. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya." Ujar Gara.


Tanpa ada bantahan lagi, Alula memasuki mobil, di ikuti Darren yang duduk di sebelah Gara.


Ya Tuhan, bagaimana dia bisa mengetahuinya? Apa ingatannya sudah kembali?


***


Mobil sampai di rumah sakit. Gara meraih Darrel dari gendongan Alula, berpindah pada dirinya. Beberapa suster yang mendapat shift malam pun, segera menghampirinya.


Dibawanya Darrel ke ruangan IGD, membuat Alula merasa begitu takut terjadi apa-apa pada Darrel.


"Maaf, anda sebaiknya menunggu di luar." Ujar si suster, membuat Alula berhenti di depan pintu ruangan IGD.


"Tenanglah Bu." Darren berusaha menenangkan.


"Tenanglah, Darrel akan baik-baik saja." Ucap Gara.


"Aku sangat takut tuan. Darrel tidak pernah seperti ini sebelumnya."


Alula mengangguk. Saat sadar dia berada di pelukan Gara, ia melepasakan dirinya dengan cepat. Menciptakan kecanggungan di antara mereka.


"Maaf tuan."


"Hmmm." Hanya deheman yang terdengar.


Gara beralih duduk di kursi tunggu. Ditariknya Darrel ke pangkuannya. Anak itu tidak menolak. Berada di pangkuan orang yang begitu dirindukannya selama ini, membuatnya merasa nyaman.


"Apa kau tidak mengantuk?" Tanya Gara.


"Tidak paman."


"Mulai sekarang, panggil aku Ayah. Berhentilah memanggilku paman."


"Baiklah, Ayah."


Gara tersenyum mendengarnya. Tinggal menunggu Darrel siuman dan juga, maaf yang Alula berikan. Jika dia sudah memiliki semuanya, ia tidak akan melepaskan mereka lagi.


"Paman? Paman." Panggilan beserta guncangan di lengannya, menyadarkan ia dari lamuan.


"Kenapa paman melamun?"


"Tidak. Paman hanya memikirkan Darrel." Alibi Gara. Ah, ternyata panggilan Ayah dari Darren tadi hanyalah hayalannya saja.


"Kau tidak boleh begadang. Besok kau sekolah. Tidurlah di pangkuan paman."


"Terima kasih, paman." Balasnya, menyandarkan tubuhnya ke badan atletis Gara.


Alula hanya bisa memperhatikan. Pikirannya kembali teringat pada perkataan Gara. Siapa yang memberi tahunya tentang Darren dan Darrel anaknya.


Suster yang keluar membuat Alula segera menghampirinya. Wajah khawatirnya masih tidak bisa ia ubah. Gara yang sedang memangku Darren yang tertidur hanya bisa melihatnya. Ia tidak ingin Darren terbangun karena ia bergerak.


"Trombosit pasien menurun. Kami membutuhkan donor darah untuk pasien." Ujar suster.


"Ambil darah saya dok. Saya Ibunya." Balas Alula.


"Pasien membutuhkan golongan darah A positif."

__ADS_1


Alula menunduk lemah. Darahnya adalah AB positif.


"Ambil darah saya. Darah saya A positif." Sahut Gara.


"Mari ikut saya." Ucap si suster.


Alula mendekati Gara dan mengambil alih Darren dari pangkuan Gara. Darren terbangun dan menatap Alula.


"Paman mau kemana?" Tanya Darren dengan suara seraknya.


"Paman mau donorin darah buat Darrel. Ayo tidur lagi." Darren kembali memejamkan matanya.


Setelah melakukan transfusi darah, Gara kembali menemui Alula. Dilihatnya Alula yang menggendong Darren. Tangannya terulur memindahkan Darren ke gendongannya.


"Biar aku yang gendong."


"Tapi, tangan tuan?"


"Jangan khawatir."


Alula hanya bisa mengiyakan dan memberikan Darren pada Gara.


Diam-diam Gara tersenyum. Alula mengkhawatirkannya.


Decitan pintu yang terbuka membuat keduanya menoleh. Sama-sama mereka menghampiri dokter yang keluar bersama suster.


Dokter yang melihat Gara di belakang Alula, membungkukkan badannya. Sementara Alula dan sang suster bingung.


"Selamat malam tuan." Ujar sang dokter.


"Hmmm." Dehem Gara.


Tuan? Apakah tuan Gara pemilik rumah sakit ini, sampai di hormati seperti itu. Batin Alula


Apakah dia pemilik rumah sakit? Jika benar, matilah aku sudah berkedip genit padanya tadi. Batin suster.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Alula.


"Anak Ibu terkena demam berdarah dengue. Tapi tenanglah, pasien sudah di tangani. Syukurlah ibu mengenalinya dan membawanya kemari. Jika tidak di tangani segera, akan berakibat fatal."


"Syukurlah. Terima kasih dok."


"Ya. kalau begitu, saya permisi." Ujarnya, lalu membungkuk ke arah Gara. "Saya permisi tuan." sambungnya.


Sang suster yang melihat pun ikut membungkuk menghormati Gara.


"Maaf dok. Siapa lelaki itu tadi?" Bisik suster, setelah cukup jauh dari Gara maupun Alula.


"Dia Gara Emanuel Grisam, pemilik rumah sakit ini." Ujar si dokter.


Gara melirik Alula yang masih terlihat cemas. Ia menarik nafasnya. Di saat ingin merengkuh Darren, Darrel dan Alula dalam pelukannya, dan dengan bahagia mengatakan jika dialah ayah kandung mereka, ia malah mendapati kenyataan jika salah satu putranya sakit.


Alula menguap, menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Jika kau mengantuk, istirahatlah." Alula menoleh, membuat pandangan mereka saling menubruk. Wanita itu memutuskan pandangannya, beralih menatap Darren yang tertidur dalam gendongan Gara.


"Aku tidak mengantuk. Aku akan menjaga Darrel. Tuan pulanglah, biar Darren bersamaku."


"Kau lupa? Aku adalah ayah mereka. Aku tidak akan meninggalkan anak-anakku." Tegas Gara.


Gara merogoh sakunya, mengambil hp. Tangannya mencari nomor ponsel sekretaris Kenan, lalu menghubunginya.


"Kenan, kirimkan beberapa pengawal ke rumah sakit."


"Baik tuan."


Gara kembali memasukkan hp ke saku celananya. Beberapa saat kemudian seorang suster menghampiri mereka.


"Maaf tuan. Jika anda ingin beristirahat, ruangan anda sudah kami siapkan."


"Baiklah." Jawab Gara. "Ayo Lula." Ajak Gara, tapi tak mendapat respon dari Alula. Perempuan itu masih menatap Darrel yang tertidur melalui jendela.


"Dia akan baik-baik saja. Kenan akan membawa beberapa pengawal untuk menjaganya. Kau istirahatlah sebentar bersama Darren. Setelah itu, kau boleh menjaganya." Ucap Gara panjang lebar, membuat sang suster meneguk ludah.


Menurut kabar yang ia dengar, Gara sangat dingin dan irit bicara. Tapi, apa ini. Gara berbicara panjang, membuatnya takut sendiri.


"Tapi, sekretaris Kenan bersama pengawal-pengawal itu belum tiba. Aku tidak ingin pergi."


Gara mendesah lelah. Ternyata susah juga membujuk Alula. Matanya melirik suster, agar memberi penjelasan.


"Yang dikatakan tuan benar. Pasien akan baik-baik saja. Kami akan selalu mengontrol pasien setiap satu jam sekali. Nona juga tidak perlu khawatir, saya akan berada di sini selama pengawal tuan belum datang." Ujar sang suster.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya nona."


Setelah mendengar penjelasan sang suster, Alula pun memutuskan untuk beristirahat bersama Darren.


__ADS_2