Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Ayah


__ADS_3

Alula dan Irene berdiri dengan wakah cemas. Terutama Irene. Wanita itu tidak bisa diam sejak tadi. Wajah cemasnya tak bisa di sembunyikan.


"Jangan khawatir, Ayahmu akan baik-baik saja." Alula berusaha meyakinkan Irene.


"Aku takut Alula," jawab Irene. Matanya berkaca-kaca. Rasa takutnya sangat besar.


Dia sangat menyayangi Ayahnya. Bagaimana keadaan ayah sekarang? Batin Alula, mengingat Ayahnya.


Pintu ruangan operasi terbuka. Seorang dokter keluar, menghampiri Alula dan Irene.


"Operasi pasien berjalan lancar. Nona bisa menemuinya setelah pindah ke ruang rawat." Ucap dokter tersebut.


"Terima kasih Tuhan." Gumam Irene.


"Terima kasih dokter." Ucap Irene pada dokter.


"Ya sama-sama. Kalau begitu, saya permisi." Dokter itu berlalu meninggalkan Alula dan Irene.


"Syukurlah, Ayahmu akan segera sembuh."


"Terima kasih Alula, kau juga sudah membantu ku."


"Tidak masalah."


Alula dan Irene saling melempar senyum. Alula bahagia bisa membantu Irene. Dan Irene, ia bahagia bisa bertemu Alula. Tuhan memberikan jalan untuknya melalui Alula.


"Mama." Panggilan itu membuat Alula dan Irene menoleh bersamaan. Seorang anak perempuan berlari menuju keduanya. Anak itu memeluk Irene.


"Asya?" Suara Alula membuat anak itu menoleh, begitupun dengan Irene.


"Tante," balas Asya.


"Kalian saling kenal?"


Asya mengangguk. "Tante Mamanya Darren sama Darrel, Ma." Jelas Asya.


"Anak kembar itu?" Lagi-lagi Asya mengangguk.


Jadi, anak kembar yang mirip tuan Gara itu, anaknya Alula. Apa jangan-jangan... ah tidak mungkin. Batin Irene.


"Tante, Darrel di rumah sakit ini juga?"


"Iya."


"Aku boleh ya, ketemu Darrel?"


"Boleh dong. Tapi, setelah ketemu kakek kamu di ruang rawat, dan mendapat izin dari Mama." Ujar Alula.


"Ma, bolehkan Asya ikut tante ketemu Darrel?"


"Iya, boleh." Jawab Irene, tersenyum pada Asya.


Beberapa perawat keluar dari ruang operasi, sambil mendorong ayah Irene menuju ruang rawat.

__ADS_1


"Ayo kita ke ruang rawat?!" Ajak Irene yang langsung di setujui Alula dan Asya.


Ketiganya mengikuti perawat-perawat tersebut ke ruang rawat. Irene menatap wajah Ayahnya yang sedang tertidur. Jika Ayahnya terlambat operasi, ia mungkin sudah kehilangan Ayahnya.


***


Alula mendorong pelan pintu ruangan Darrel. Dipikirnya Darrel sedang istirahat. Ternyata tidak. Anak itu sedang bermain game online bersama Darren.


"Hai Darrel," sapa Asya, mengalihkan perhatian Darrel dan Darren dari hp yang mereka pegang. Gara dan sekretaris Kenan pun juga ikut menoleh.


"Asya, kamu kesini?" Sapa balik Darrel. Sementara Darren, dia hanya terdiam. Tiba-tiba ia merasa kesal karena Asya tak menyapanya.


"Darrel udah sembuh? Cepatan dong pulang dari rumah sakitnya. Asya gak punya teman main di sekolah." ujar Asya sambil duduk di samping Darrel.


"Besok Darrel pulang ke rumah."


Gara yang sejak tadi terus memperhatikan Asya beralih menatap Alula. Sorot matanya seperti menanyakan siapa Asya.


"Dia putrinya Irene. Teman satu sekolahannya Darren sama Darrel."


Gara mengangguk, sementara sekretaris Kenan tidak berkomentar apapun.


Asya terus berbincang dengan Darrel. Ia mengabaikan Darren yang duduk di samping Darrel.


Darren pun sama. Ia acuh pada Asya. Meskipun ia merasa kesal karena tidak di anggap Asya, ia tetap terlihat dingin. Tidak mau menunjukkan rasa kesalnya.


Asya menoleh ke arah sofa. Ia baru sadar jika ada dua orang laki-laki dewasa di ruangan itu.


"Emm... paman, maaf ya Asya gak sapa paman berdua. Asya terlalu senang lihat Darrel, jadi gak sadar ada paman disini."


"Tidak apa." Jawab Gara.


Asya berjalan mendekati Gara dan sekretaris Kenan.


"Aku Asya paman. Paman ini yang tungguin Darren di sekolahkan? Pasti pamannya si kembar." Tanya Asya pada sekretaris Kenan.


"Iya Nona." Balas Kenan.


"Kalau paman, pasti Papanya si kembar. Wajahnya mirip banget." Ucap Asya pada Gara.


"Anak pintar. Ayo main lagi sama Darrel!" Balas Gara.


"Iya Paman."


Asya kembali duduk di dekat Darrel. Darrel mengajarinya bermain game online. Keduanya bermain dengan cerianya. Tidak peduli dengan orang-orang di ruangan itu. Sementara Darren, fokus pada layar hp dengan wajah datarnya.


"Asya, ayo pulang nak! Mama mu sudah menunggu." Panggil Alula, merasa Asya sudah terlalu lama di ruangan Darrel. Kasian Irene, tidak ada temannya.


"Iya tante. Darrel aku pulang dulu ya, cepatan masuk sekolah. Paman Asya pulang dulu." Asya berpamitan sambil melambaikan tangannya.


Setelah Asya dan Alula keluar, Gara menatap Darren. "Darren, kamu berantam sama Asya?"


"Tidak." Jawabnya, acuh.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak menyapa mu?"


"Bosan, mungkin."


Gara menarik nafasnya. Berbicara dengan Darren, membutuhkan kesabaran ekstra.


"Kenan, pulanglah! Besok pagi, tidak perlu kemari ataupun ke rumah. Kerjakan tugasmu dari tempat mu."


"Baik tuan. Saya permisi."


***


Alula mengemas barang-barang milik Darrel. Hari ini, Darrel akan pulang ke rumah. Gara dan Darren hanya duduk memperhatikan Alula dari sofa. Sykurlah hari ini hari libur, dan pekerjaannya sudah selesai. Tinggal menunggu email dari sekretaris Kenan, hari ini.


"Ekhem." Dehem Gara, membuat Darren, Darrel dan Alula menoleh.


"Sebelum Darrel pulang hari ini, aku mau mengatakan sesuatu." Kata Gara.


"Darren, Darrel dan kamu Alula, aku minta maaf. aku telah melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan kalian. Aku melakukan tes DNA antara aku, Darren dan Darrel. Hasilnya mengatakan jika aku adalah ayah kandung Darren dan Darrel."


Tidak seperti pemikiran Gara, jika Darren dan Darrel akan kaget. Kedua anak itu terlihat sangat tenang. Alula juga merasa heran.


"Kenapa kalian tidak terkejut?" Pertanyaan bodoh itu, mengalir begitu saja dari mulut Gara. Ia bahkan menutup mulutnya saat sadar apa yang dia katakan. Seakan ia mengharapkan mereka akan terkejut dengan informasi yang ia berikan.


"Kami sudah mengetahuinya." Jawab Darren.


"Kalian sudah tau? Kapan?" Tanya Alula.


"Maafkan kami, bu." ucap Darren.


"Aku dan Dallen melakukan tes DNA. Kita mengambil lambut paman saat tidul di lumah pamam waktu itu." Jelas Darrel, membuat Alula dan Gara terdiam.


*Ternyata mereka menyelidikinya. Batin Alula.


Bagaimana anak kecil bisa melakukannya? anak-anakku memang berbeda. Batin Gara*.


"maafkan aku. aku sudah menelantarkan kalian selama ini."


"tidak perlu minta maaf. aku mengetahui alasan paman tidak bersama kami."


"darimana kau tahu?" Gara penasaran.


"alat penyadap yang ku pasang di hp ibu. Aku tidak benar-benar tidur malam itu." ujar Darren.


Alula segera memeriksa handphonenya. Benar, ada sesuatu di belakang hpnya. selama ini ia tidak menyadarinya.


Darrel tersenyum. Darren memang kakak terbaik baginya. Ia turun dari brankarnya lalu duduk di samping kiri Darren. Tapi, anak laki-laki itu malah berpindah ke samping kiri Darrel. Membuat Darrel duduk di antara dirinya dan Gara.


Gara tersenyum. Darren lebih memahami adiknya.


"Sekarang, kalian sudah tahu, jika aku ayah kandung kalian. Apakah aku boleh mendengar kalian memanggil ku Ayah?"


Darren dan Darrel mengangguk. "Ayah." Panggil mereka bersamaan.

__ADS_1


Gara lagi-lagi tersenyum. Ia begitu bahagia mendengar kata Ayah keluar dari mulut kedua putranya. Matanya mengembun. Sekuat mungkin ia menahan agar air matanya tidak terjatuh. Ia tidak ingin di anggap cengeng oleh kedua putranya.


Di peluknya Darren dan Darrel. Rasa hangat saat memeluk keduanya begitu menenangkan. Hidupnya akan mulai lengkap. Tinggal selangkah lagi. Menaklukkan hati Alula dan membawa mereka berkumpul bersamanya. Mamulai kehidupan indah yang dulunya hanya sekejap ia rasakan.


__ADS_2