
Sebagian siswa yang bersekolah di tempat Darren dan Darrel bersekolah, berdiri menonton seseorang yang berlari mengelilingi lapangan basket.
Sebagian dari mereka lebih di dominasi oleh siswa perempuan. Orang yang mengelilingi lapangan, yang tak lain adalah Darren, hanya mengabaikan teriakan-teriakan dari siswi-siswi tersebut.
"Dia ganteng banget."
"Dia juga keren."
"Dia siswa baru kan?"
"Iya."
"Kalian tahu gak, perusahaan Grisam Group? Kata Mamaku, dia sama kembarannya itu, pewaris Grisam Group."
"Kembaran?"
"Iya. Coba kalian lihat disana! Samakan wajahnya?"
"Iya, benar!"
"Gak cuman dari keluarga Ayah mereka. Keluarga Ibu mereka juga bukan orang biasa. Paman mereka juga memiliki perusahaan yang hampir sebesar Grisam Group, aku lupa apa namanya. Itu warisan dari mendiang Nenek mereka dari pihak Ayah. Kaya banget kan?"
"Wow... Aku tidak bisa membayangkan. Tapi, kenapa kamu tahu semuanya?"
"Mamaku juga bekerja di Grisam Group. Katanya, aku tidak boleh menyinggung mereka. Tuan Gara..."
"Tuan Gara?"
"Iya, Tuan Gara. CEO Grisam Group, ayah mereka. Kata Mama dia sangat kejam. Tapi, dia juga sangat tampan. Kata Mama juga, Ibu dan adik mereka sangat cantik."
"Waahh... Benar-benar mengagumkan."
Siswi-siswi tersebut tak hentinya membicarakan mengenai Darren dan Darrel. Sementara disana, Darren sudah memasuki 97 putaran. Keringat terus bercucuran. Asya, Darrel dan Jiyo yang berdiri di pinggir lapangan terus menatap khawatir.
"Seratus." Gumam Darrel. Mereka langsung berlari menghampiri Darren yang duduk di pinggir lapangan.
"Minun dulu." Asya membukakan tutup botol dan memberikannya pada Darren. Lelaki itu menerimanya dan meneguknya hingga tersisa setengah.
"Handuk, Rel!" Darrel segera menyerahkan handuk pada Asya. Gadis itu mengelap keringat Darren. Sementara Darren, dia terus memperhatikan wajah Asya. Hal itu membuat siswi-siswi yang melihatnya menjerit tertahan.
"Maafin Asya, ya? Asya udah ngerepotin Darren." Ujarnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Gak usah nangis." Ujarnya, masih begitu datar.
"Kamu gak usah ikut kegiatan lagi. Istirahat saja di UKS." Kata Darrel, khawatir dengan kembarannya itu.
"Iya. Sebaiknya kamu istirahat saja." Timpal Jiyo. Belum sempat Darren menjawab, dua orang guru dan kepala sekolah datang bersama ketua osis, Hendra.
"Darren! Kamu gak papa? Apa kamu pusing atau apa?" Tanya kepala sekolah.
"Saya tidak apa-apa."
Kepala sekolah menatap Hendra. "Bapak tahu, kamu ketua osis. Kamu berhak menghukum mereka yang membangkang. Tapi, wajar kamu hukum dia dengan berlari keliling lapangan lima puluh kali?"
__ADS_1
"Bukan lima puluh, Pak. Seratus kali."
"Ck. Ck. Ck. Dimana otak kamu saat memberi hukuman itu? Cepat minta maaf!"
"Gak perlu, Pak! Dia gak perlu minta maaf. Saya tidak ingin karena masalah sekecil ini, Ayah saya juga terseret. Mendapat hukuman saat masa orientasi memang wajar. Tapi, tolong beri batasan untuk ketua osis dalam memberi hukuman. Tidak semua orang bisa menjalankan hukuman." Ujar Darren, datar dan dingin. Dia tidak ingin dianggap memanfaatkan kedudukan Ayahnya dan bersikap semena-mena.
Mengerti dengan apa yang di maksud Darren, kepala sekolah itu mengangguk. "Jika begitu maumu, Bapak akan melakukannya. Kamu boleh istirahat di UKS."
"Bukan hanya saya yang mendapat hukuman. Beberapa siswa lain juga dapat hukuman. Tidak adil jika hanya saya yang beristirahat."
"Kau benar. Kalian yang mendapat hukuman, bisa beristirahat."
"Tidak bisa, pak! Jika setiap memberikan hukuman mereka selalu dibela, setiap siswa akan melakukan kesalahan yang sama." Bantah Hendra.
"Kita hanya akan istirahat setengah jam. Setelah itu, kita kembali sama yang lain." Balas Darrel.
Pak kepala sekolah mengangguk setuju. Setelah itu, dia kembali bersama dua guru yang datang bersamanya dan Hendra. Anak itu telihat masam setelah mendapat keputusan kepala sekolah. Tidak di pungkiri, dalam hatinya merasa begitu kesal pada Darren dan Darrel.
***
Darren langsung berbaring di ranjangnya setelah pulang sekolah. Tak lama, pintu kamarnya diketuk seseorang.
"Kak Darren, ini Alisha. Kakak di suruh Ibu makan siang."
Darren kembali bangkit dari berbaringnya dan langsung membukakan pintu untuk Alisha. "Sebentar. Nanti kakak turun." Ujarnya.
"Cepatan, ya? Kak Darrel udah di bawah."
"Hmmm..."
"Kau lama sekali. Aku hampir selesai." Ujar Darrel, memperlihatkan makanannya yang tersisa sedikit.
"Apa kau..."
"Diamlah, Darrel! Habiskan makananmu!" Balas Darren. Dia tahu, kembarannya itu pasti menanyakan persoalan di sekolah tadi.
"Ck. Kau ini." Darrel berdecak, tapi tak urung, dia tetap melakukan apa yang Darren katakan.
"Ada apa?" Alula datang dan duduk di kursi meja makan bersama kedua putranya.
"Nggak ada apa-apa, Bu." Balas Darren.
"Jangan berbohong, nak. Ibu tahu, kalian menyembunyikan sesuatu."
Darren menatap kembarannya itu. Membuat Darrel mengerti, jika dirinya lah yang harus menjelaskan pada Alula.
"Aku akan menjelaskannya pada Ibu. Tapi, Ibu harus berjanji agar tidak menceritakannya pada Ayah." Ujar Darrel.
"Iya. Ibu janji."
"Baiklah. Di sekolah, aku, Darren, Asya, Jiyo sama teman-teman yang lain mendapat hukuman, karena tidak membawa perlengkapan MOS. Kita di suruh lari keliling lapangan lima puluh kali. Tapi, Darren seratus kali, karena menanggung hukuman Asya. Jadi, aku khawatir sama Darren dan mau memastikan jika dia tidak apa-apa."
Alula menarik nafasnya. Ia menatap bergantian kedua putranya. "Ibu tidak akan memberitahu Ayah."
__ADS_1
"Terima kasih, Bu." Balas Darrel. "Oh ya, Bu. Jam tiga nanti aku ada les melukis. Bolehkan aku menggunakan mobil yang satu."
"Boleh. Tapi, harus hati-hati."
"Siap."
***
Seperti yang di katakanya tadi, Darrel berpamitan pada Ibunya untuk mengikuti les melukis. Sementara Darren, anak itu berdiam diri di tepi kolam halaman belakang.
Gara pulang lebih cepat hari ini. Hingga dia bisa menemani Alisha mengerjakan tugas bersama Alula. Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Pelayan segera membuka pintu, dan ternyata itu adalah Asya.
"Selamat sore, om, tante, Alisha."
"Eh, Asya. Sini, nak!" Panggil Alula.
"Kak Asya," Alisha langsung memeluk gadis itu.
"Kamu sama siapa kesini?" Tanya Gara.
"Diantar supir, om." Balasnya sambil tersenyum. "Oh ya, om, tante, dimana Darren sama Darrel?"
"Darrel lagi les melukis. Kalau Darren, dia di halaman belakang. Di kolam." Ujar Alula.
"Asya ke Darren, ya?" Ujarnya yang dibalas anggukkan Alula dan Gara.
Gadis itu segera melangkah menuju kolam. Bisa ia lihat, Darren yang sedang terduduk di pinggir kolam dengan setengah kakinya dimasukkan ke dalam kolam. Asya berjalan cepat dan langsung duduk di sampingnya. Tapi, Darren tidak bereaksi apa-apa.
"Darren." Darren hanya terdiam. Tidak menoleh atau mengeluarkan sepatah kata pun.
"Darreeen..." Panggil Asya, menarik kaus yang dikenakan Darren sembari merengek pada lelaki itu. Hal tersebut membuat Darren menoleh.
"Ada apa?" Tanyanya. Walaupun terkesan dingin, tapi dia berbicara dengan lembut.
"Aku ada buat cake buat kamu sama Darren. Mau cobain nggak? Sekalian sebagai ucapan terima kasih."
Darren mengangguk, membuat Asya menarik sudut bibirnya, tersenyum. Dia membuka tas yang digunakannya dan mengeluarkan cake yang di simpannya dalam kotak bekal.
"Ini untuk kamu. Yang satu ini, buat Darrel. Terus yang ini buat Alisha."
"Coba ku lihat!" Darren melirik kotak bekal yang disimpan untuk Darrel.
"Isinya sama." Asya tetap membukanya. Darren kembali fokus pada cakenya setelah mengetahui isi kotak milik Darrel. Ia meraihnya dan memasukkannya ke mulutnya.
"Gimana? Enakkan?"
"Hmmm..." Balasnya hanya bergumam.
Setelah beberapa cake yang di lahapnya, Darren kembali mengembalikan kotak bekal itu pada Asya. Suasana menjadi hening sejenak. Tapi, tiba-tiba tangan Darren bergerak hendak melepaskan bajunya, membuat Asya terkejut.
"Eh, kamu mau ngapain?" Suaranya membuat Darren menghentikan gerak tangannya yang hendak melepaskan baju.
"Mau mandi."
__ADS_1
"O-oh... Y-ya udah, aku pulang dulu." Ujar Asya, hendak berdiri tapi di tahan oleh Darren.
"Jangan pulang dulu! Tunggu di ruang tengah." Ujarnya, membuat Asya mengangguk. Darren lalu melepaskan tangannya yang menahan tangan Asya. Membuat gadis itu bergerak cepat, menjauh darinya.