Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Ingatan Gara


__ADS_3

Darren dan Darrel turun dari taksi agak jauh dari gerbang sekolah. Mencari tempat yang cukup aman dari jangkauan Ibu guru. Supir taksi yang melihatnya hanya bisa menggeleng kepala, dan melajukan kembali mobilnya.


Keduanya duduk sambil memperhatikan gerbang sekolah. Beberapa murid taman kanak-kanak mulai berhamburan keluar, menemui orang tua yang menjemput. Darren dan Darrel hanya bisa berdo'a semoga ibu mereka terlambat menjemput. Jika tidak, bisa-bisa mereka ketahuan membajak hp sang Ibu.


"Dallen, semoga Ibu kena macet."


"Ya, semoga."


Setelah seluruh murid TK pulang, Darren dan Darrel lega. Mereka berdiri, menunggu Alula menjemput. Taksi yang berhenti membuat Darrel tersenyum. Keduanya menghampiri Alula.


"Ayo, pulang." Ajak Alula.


"Ayo!" Balas Darrel, semangat.


Pak satpam yang melihat Darren dan Darrel mengerutkan keningnya, heran. Pasalnya, sejak tadi dia tidak melihat keduanya. Saat datang pun, dia tak melihatnya. Ia terus memperhatikan mereka, lalu mengedikkan bahunya acuh.


"Bu, apa yang Ibu lakukan di rumah?" Tanya Darrel, membuat supir taksi di depannya tersenyum. Mungkin teringat anaknya.


"Emm... Ibu menyiram tanaman, beres rumah dan memasak."


"Mendengal Ibu memasak, lasanya aku sangat lapal." Ujar Darrel sambil membayangkan makanan yang di masak Alula.


"Hahaha... Kau ini."


"Tukang makan." Komentar Darren, membuat Darrel menjulurkan lidah ke arahnya.


"Wleekk... Bialin. Olang ibu gak masalah." Balas Darrel.


"Bu, Ibu ada keljaan lagi nggak?" Sambungnya.


Alula menggeleng, "Nggak. Kenapa?"


"Kita jalan-jalan yuk?"


"Emm... Boleh. Nanti sore ya."


"Ok."


***


Setelah mengurusi urusannya, sekretaris Kenan segera menemui Gara. Kebetulan Gara sudah menyelesaikan pekerjaannya juga. Tak harus menunggu, keduanya segera mengunjungi perusahaan C.


"Gara." Panggilan Edo, menghentikan gerak tangan Gara yang hendak membuka pintu.


"Ada apa?"


"Apa kau ingin ke perusahaan C?"


"Ya, kenapa?"


"Tidak, aku hanya mau mengingatkan mu. Malam ini ada acara makan malam di rumah Ayahmu. Dia juga mengundangku."


"Terus, apa hubungannya dengan ku?"


"Ck. Memang susah bicara dengan mu. Lebih baik aku pergi."


"Ya sudah, sana pergi. Kau membuang waktu ku."


"Untung sahabat. Sabar Edo, sabar." Gumam Edo, meneglus dada.


Mobil Gara melaju mengikuti mobil sekretaris Kenan di depannya. Pikirannya masih terarah pada hasil tes DNA tersebut. Ia berdo'a semoga jam cepat berlalu, dan semua jadwalnya hari ini cepat terselesaikan.


Mobil sekretaris Kenan berbelok memasuki perusahaan C, bersama mobil Gara di belakangnya.


"Selamat datang tuan Gara." Sapa seorang wakil direktur di perusahaan C.


Gara tak menjawab, namun sorot matanya menandakan tak suka. Sang wakil direktur pun melirik ke arah sebelah Gara. Terlihat sekretaris Kenan berdiri dengan wajah kakunya.


"Selamat datang tuan Gara, sekretaris Kenan." Sapa ulang si wakil direktur.

__ADS_1


Tak bisa di bohongi, jika tangannya sudah keringat dingin menatap Gara dan sekretaris Kenan di belakangnya.


"Hmmm... " Balas Gara. Sedangkan sekretaris Kenan, ia sedikit membungkukkan badannya, membalas sapaan si wakil direktur.


"Terima kasih telah mengunjungi perusahaan kami yang kecil ini tuan,"


"Dimana pemimpin kalian?" Tanya Gara, tak peduli dengan ucapan terima kasih si wakil direktur.


"D-dia, berada di ruangannya tuan."


"Cih. Dia enak-enakkan di ruangnnya, dan kau menyambutku? Jika begitu, aku akan menolak permintaannya memberi dukungan pada perusahaan ini."


"Ja-jangan tuan. S-saya akan mengantarkan anda bertemu dengannya."


Cih. Jika bukan karena penasaran dengan perilakunya, aku tidak akan merepotkan diriku menemuinya. Batin Gara.


Lelaki sialan. Beraninya dia memeperlakukan tuan seperti ini. Batin Sekretaris Kenan.


Si wakil direktur pun mengajak Gara dan sekretaris Kenan menaiki lift, menuju ruangan direktur. Hatinya sudah tak bisa tenang. Semoga saja direkturnya itu sudah selesai dengan urusannya.


Lift berhenti pada lantai dimana ruangan direktur berada. Saat si wakil direktur hendak mengetuk pintu, sekretaris Kenan menahannya.


Pikirannya semakin kalut, kakinya juga mulai gemetaran. Perubahan gerak tubuhnya ini membuat Gara semakin yakin, jika ada yang salah dengan si direktur.


"Kenan."


"Ya, tuan."


Mengerti dengan maksud Gara, sekretaris Kenan segera mendorong pintu ruangan tersebut. Membuat si pemilik ruangan terlonjak kaget.


"T-tuan Gara?" Kaget sang direktur.


Gara hanya tersenyum sinis, melihat si direktur yang ketiga kancing baju bagian atasnya sudah terbuka, dan seorang perempuan dengan rambut yang acakkan dan juga baju yang sedikit berantakkan.


Sementara sekretaris Kenan, dia hanya mampu mengepalkan tangan. Mata tajamnya menusuk tepat di manik mata si perempuan, membuatnya menunduk tak berani membalas menatap.


"Huh. Ini yang kau kerjakan sebagai direktur?" Sinis Gara. "Saya hanya berpikir, bagaimana reaksi istrimu jika tahu perbuatan suaminya selama bekerja."


"Tuan, saya mohon tuan maafkan saya. Jangan beritahukan istri saya tuan. Saya tidak ingin dia terluka."


Gara lagi-lagi tersenyum mengejek. "Huh, apa kau pikir saya peduli? Kau tidak benar-benar menyayangi istrimu. Kau hanya takut kehilangan kekayaan dan citramu sebagai suami yang baikkan?"


Gara menoleh pada Kenan yang masih menatap perempuan itu penuh amarah. Mendapati perubahan sikap Kenan, Gara pun mengerti.


"Kenan." Panggil Gara, membuatnya menoleh.


"Iya tuan"


Sudah mengerti dengan tujuan Gara memanggilnya, sekretaris Kenan mulai melakukan yang semestinya ia lakukan.


Ditariknya kerah kemeja yang digunakan si direktur, hingga orang itu berdiri. Sekretaris Kenan menghajarnya dengan penuh amarah. Entah hanya karena menjalankan tugas atau karena yang lainnya, ia tak peduli.


"Arrgghhh... Maaf tuan, saya berjanji tidak akan melakukan hal bodoh lagi tuan." Mohon si direktur, namun tak di indahkan sekretaris Kenan.


"Tuan, ampuni saya tuan." Ujarnya lagi, menahan perih di beberapa bagian wajahnya.


"Cukup Kenan." Perintah Gara, menghentikan sekretaris Kenan.


Si direktur sudah berbaring lemah di lantai. Pukulan sekretaris Kenan di beberapa bagian tubuhnya, membuatnya tak berdaya.


"Saya tidak akan memberitahukan istrimu. Kau harus berjanji untuk tidak mengulanginya lagi."


"Baik tuan, saya berjanji."


"Dan kau," ujar Gara, "aku tidak ingin melihat mu menjadi perempuan seperti ini lagi. Jika kau masih melakukannya, ini adalah kali terakhir aku memaafkan mu."


"Kenan, buatlah pernyataan dukungan atas perusahaan ini."


"Baik tuan."

__ADS_1


Gara melenggang pergi dari ruangan tersebut, menyisakan sekretaris Kenan bersama direktur, wakil direktur dan juga perempuan itu. Matanya kembali menatap perempuan tersebut.


"Rapihkan penampilanmu, dan pergi dari sini." Ujar sekretaris Kenan.


Perempuan tersebut menurutinya. Setelah itu ia keluar, melewati sekretaris Kenan yang berdiri tegap tanpa sedikitpun meliriknya.


Sekretaris Kenan mendekati direktur yang terduduk di lantai. "Kau masih selamat kali ini. Jika kau masih menginginkannya, akan ku pastikan kau akan hancur." Ancam Sekretaris Kenan, lalu pergi begitu saja.


***


Mobil Gara dan juga sekretaris Kenan kembali melaju. Setelah mengunjungi perusahaan C dan bertemu klien, mereka akan memenuhi undangan makan malam dari Ginanjar, Ayah Gara.


Kedua mobil itu terparkir di halaman rumah mewah milik Ginanjar. Terlihat, Edo yang sedang berdiri di antara para penjaga.


"Ku pikir kau tidak datang." Celetuk Edo yang tak mendaat respon apapun dari Gara.


"Ayo masuk." Ajak Edo


Di dalam, sudah ada beberapa keluarga dari pihak Ayah Gara dan beberapa teman Ayahnya . Sementara dari pihak Ibunya, hanya ada neneknya seorang. Gara melirik sinis pada Ibu dan adik tirinya. Jika bukan karena neneknya juga ada disini. Dan karena masih ada rasa sayang pada Ayahnya, ia tidak akan kemari.


"Apa kabar nek?" Gara memeluk nenek, erat.


"Cucuku, kau semakin tampan. Nenek baik-baik saja."


Tiba-tiba Ginanjar datang mengundang semuanya untuk segera mencicipi hidangan yang sudah di sediakan. Semuanya beranjak menuju meja makan.


"Apa kabar mu Gara? Kelihatannya kau tidak memerdulikan kami. Hanya ada nenek pihak Ibumu yang kau pedulikan." Ujar paman Gara, sepupu Ginanjar, saat berkumpul di meja makan.


Nenek Rasti hanya bisa tertunduk. Gara merasa kesal dengan pemannya itu. Namun, ia mencoba mengontrol emosinya.


"Saya hanya melakukan apa yang saya anggap benar." Balas Gara, membungkam mulut pamannya itu.


"Apa kabar dengan Grisam Group, Gara?" Ibu tirinya menyela.


"Selama di pegang oleh orang yang benar, Grisam Group selalu aman." Jawabnya, membuat sang Ibu tiri, Laura merasa kesal.


"Bagaimana dengan pasangan hidupmu? Apa kau sudah menemukannya? Adik mu, Viko sudah memilikinya. Tidak baik jika seorang adik melangkahi kakaknya."


"Tunggu saja. Aku akan membawanya kembali." Balas Gara, santai.


Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya dan meneguk air, Gara bangun dari duduknya. Dilihatnya arloji yang menunjukkan pukul 21:45.


"Maaf, saya masih banyak urusan. Saya akan pergi lebih awal." Ujarnya, lalu menatap sang nenek.


"Aku pergi dulu nek. Aku akan mengunjungi nenek nanti." Gara mencium kening neneknya.


"Aku pamit, Yah." Ujar Gara pada Ayahnya, lalu pergi.


Sekretaris Kenan yang sedang berkumpul bersama jajaran sekretaris dan pengawal keluarga Grisam pun, segera menyusul Gara.


"Pulanglah Kenan, aku masih ada urusan."


"Baik tuan." Balas Kenan, patuh.


Setelah mobil Gara melaju, sekretaris Kenan pun mengendarai mobilnya menuju kediamannya.


Mobil Gara melaju dengan kecepatan sedang. Kali ini ia tidak sabar bertemu dengan kedua putranya, Darren dan Darrel. Biarlah Alula sedang marah padanya. Yang terpenting saat ini, Darren dan Darrel harus tahu, jika dia ayah kandung mereka.


Gara membuka laci dashboard mobil untuk mengambil surat hasil tes DNA yang ia letakkan begitu saja di dalamnya. Namun, bukan surat yang ia dapatkan melainkan selembar foto.


Saat ia membalikkan foto tersebut, ia tersentak dan mengerem mobilnya mendadak.


"Alula?" Gumamnya sambil memperhatikan foto tersebut.


"Kenapa fotonya bisa ada di sini?" Gara mulai berpikir.


Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Semua bayang-bayang masa lalu memenuhi otaknya. Bayangan saat ke club, bertemu Edo, sekamar dengan Alula, Menghajar Edo, meminta Edo mencari Alula, laporan dari Edo dan sekretaris Kenan mengenai Alula dan juga saat ia ingin mengunjungi rumah Alula dan berakhir dengan kecelakaan mobil, yang mengakibatkan ia kehilangan ingatannya.


Gara meringis menahan sakit di kepalanya. Saat sakit itu mulai sedikit mereda, Gara tersadar bahwa ingatannya kembali. Ia mengingat semua kejadian itu. Gara menyenderkan tubuhnya, berusaha mengenyahkan rasa sakit itu sepenuhnya.

__ADS_1


Tiga puluh menit terdiam dalam mobil, ia merasakan sakit kepalanya benar-benar hilang. Ia melajukan mobilnya menuju tujuan awalnya tadi, bertemu Darren dan Darrel, dan juga Alula.


__ADS_2