Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Gara VS Darren dan Darrel


__ADS_3

Darren dan Darrel sedang menikmati sepiring mie instan. Sebenarnya, hanya Darrel yang menikmatinya. Sementara Darren, anak itu hanya sesekali memasukkan mie tersebut ke mulutnya. Jika tidak dipaksa Darrel, dia tidak akan mau makan. Perutnya sudah kelewat kenyang.


"Dallen."


"Bukan Dallen!"


Darrel memanyunkan bibirnya. Darren selalu saja mempermasalahkan panggilannya.


"Aku sangat susah menyebut huruf itu." Jujur Darrel membuat Darren menatapnya.


"Usaha."


"Kau ini, tidak pelnah mengelti. Aku sudah belusaha, tetap saja tidak bisa." Kesal Darrel lalu meninggalkan Darren.


"Hei. Habiskan mie-nya." Teriak Darren.


"Makan saja. Aku tidak mau lagi."


Darren menarik nafas. Darrel tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mungkin kali ini ia benar-benar kelewatan. Sampai Darrel merajuk dan kembali ke kamar.


Darrel meraih piring yang berisi sebagian mie yang belum dimakan. Dibawanya ke dapur, kemudian menyusul Darrel ke kamar.


"Maaf." Ujar Darren, duduk di tepi ranjang, tepat di samping Darrel.


Darrel diam dan enggan menjawab Darrel. Dia merasa Darren harus di beri pelajaran.


"jangan ngambek. Kau bukan anak perempuan." Sambungnya dingin.


"Telselah aku dong."


"Aku keluar." Ujar Darren, kemudian bangkit keluar dari kamar.


"Apa itu saja cala kamu minta maaf?" Teriak Darrel, tidak terima dengan sikap dingin Darrel.


"Yang penting sudah." Balas Darren acuh.


Darrel mendengus. Kakak kembarnya itu sungguh tak berperasaan. Apa hanya itu rasa bersalah yang ia tunjukkan.


"Dallen kulkas." Umpat Darrel.


***


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Gara keluar dari ruangannya. Matanya menyipit kala melihat ruangan Alula masih terlihat terang oleh cahaya lampu. Bukankah setengah jam lalu, Alula sudah pulang terlebih dahulu.


Tak menunggu lama, Gara segera menuju ruangan Alula. Betapa terkejutnya Gara, melihat Alula yang duduk sambil meringis memegangi perutnya. Wajah Alula juga terlihat pucat.


"Lula, apa yang terjadi?"


"Sshhh... Per–perut ku sakit tuan."


"Kenapa tak memberi tahu ku?"


"Handphone aku mati tuan." Ujar Alula sambil menahan sakit di perutnya.


"Apa saya jatuh miskin, sampai kamu tidak menggunakan telpon yang ada di meja mu?" Kesal Gara.


Alula hanya menunduk dan terus memegang perutnya. Tak lama, Alula terkejut saat tiba-tiba Gara menggendongnya.


"Tu–tuan?"


"Diamlah!" ujar Gara dan berjalan keluar menuju lift.


Tak sedikit pun niat Gara menurunkan Alula dari gendongannya. Lift berhenti, keluarlah Gara yang langsung mendapat perhatian dari beberapa karyawan yang belum pulang.


Alula yang merasa malu, langsung saja menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gara. Hal itu tak terlepas dari pelihatan Gara.


"Pak Tio." Teriak Gara, saat sampai di parkiran.


"Iya tuan."


"Bukakan pintu!" Pak Tio membukakan pintu mobil Gara. Bisa ia lihat kekhawatiran di wajah Gara.


"Nona Alula kenapa tuan?"


Gara terdiam. Ada rasa kesal saat pak Tio menanyakan Alula. Tiba-tiba saja ia tidak suka jika ada yang mengenal Alula. Terlebih, pak Tio sepertinya cukup mengenal Alula.


"Sakit." Jawab Gara singkat dan langsung memasuki mobilnya.

__ADS_1


Mobil Gara melaju dengan cepat. Alula yang berada di samping Gara hanya meringis menahan sakit.


"Tenanglah! Aku akan mengantar mu ke rumah sakit." Ucap Gara, mengganti panggilannya menggunakan aku.


"Tidak perlu. Tolong antarkan aku ke rumah saja."


Gara melotot. Kemudian menatap lembut lagi saat Alula menundukkan kepalanya takut.


"Baiklah. Aku akan mengantar mu ke rumah." Ujar Gara.


"Tapi, kenapa perut mu sakit?"


"Aku punya penyakit mag." Jawab Alula, jujur.


"Apa yang kamu makan tadi?"


"Emm... Ak-aku meminum kopi yang terakhir aku bawa ke ruangan tuan."


Gara terkejut. Di rem-nya mobil secara mendadak, kemudian menatap Alula. Gara kembali melajukan mobilnya.


"Apa kau bodoh? Untuk apa kau meminumnya? Kau lupa jika itu berdampak buruk untuk orang yang memiliki mag seperti mu?" Kata Gara sedikit emosi dengan Alula.


Alula hanya terdiam. Semua ucapan Gara itu benar. Dia memang bodoh. Empat cangkir kopi tidak akan membuat Gara bangkrut.


Mobil Gara berhenti di depan rumah Alula. Terlihat, Darren dan Darrel berdiri di depan pintu.


Keduanya menghampiri Gara saat melihat Alula keluar sambil meringis.


"Ibu kenapa?" Tanya Darrel.


Gara yang hendak membopong Alula, ditahan Darren. "Biar kami." Ujar Darren.


"Anak tampan, kamu terlalu kecil membopong Ibu mu." Balas Gara, langsung membopong Alula masuk.


"Ayo." Ujar Darrel, menarik tangan Darren untuk segera menyusul Ibunya. Lupa sudah rasa kesalnya terhadap Darren tadi.


Gara membaringkan tubuh Alula di kasur. Wajah pucat Alula membuatnya khawatir.


"Tolong, ambilkan aku air." Gara hendak mengambil, tapi Darren sudah terlebih dulu. Anak itu meminumkannya pada Alula.


Alula menggeleng. "Tidak perlu. Obat ku ada di laci."


"Akan aku amb..."


"Ini Bu, ayo minum." Ujar Darrel, memberikan obat dan air.


Alula bangun dan meminumnya. Sementara Gara, ia merasa aura lain dari kedua anak itu. Sepertinya mereka sengaja membuat Gara merasa tak di butuhkan.


"Aku akan memesan makanan." Ujar Gara.


Gara menyalakan handphone nya dan memesan makanan. Tak lama, pintu rumah di ketuk.


Gara melirik Darren dan Darrel, berharap dua anak itu keluar mengambil pesanannya. Namun, tidak ada satupun di antara keduanya yang keluar. Terpaksa, Gara sendiri yang menemui orang itu.


Kepergian Gara adalah kesempatan Darren dan Darrel untuk mencari tahu, kenapa mag Ibunya kambuh. Padahal Ibunya sudah baik-baik saja selama ini.


"Kenapa mag ibu bisa kambuh?" Tanya Darrel.


"Tidak kenapa-kenapa."


"Jujur Bu!" Tekan Darren.


Alula membuang nafas pelan. "Ibu tadi meminum kopi." Ujar Alula, lirih.


"Apa paman itu yang menyuruh."


Alula terdiam, lalu hendak menjawab. Namun, Gara keburu datang membuat Alula mengurungkannya.


"Ayo makan. Alula, aku sudah memesan bubur untuk mu."


"Makanlah paman. Kami belum lapel." Ujar Darrel.


"Biar aku yang suap." Seru Darren, mengambil bubur dari Gara, dan menyuapkannya pada Alula.


Gara hanya membiarkannya. Entahlah, tidak ada rasa ingin marah pada kedua bocah, yang bisa di bilang cukup kurang ajar pada-nya itu.


Gara meraih makanan untuknya, Darren dan Darrel. Dibawanya makanan itu keluar.

__ADS_1


Alula yang melihat itu merasa tidak enak. Ada rasa bersalah dan takut jika Gara akan marah pada kedua putranya. Ia akui, kedua putranya sudah kelewatan.


Gara kembali ke kamar Alula, membawakan segelas air. Setelah Alula selesai, ketiga orang itu keluar dari kamar Alula.


"Aku ingin bicara, paman." Ujar Darren, dingin.


Gara hanya menurut. Ia merasa, jika Darren begitu mirip dengannya waktu kecil dulu.


Gara, Darren dan Darrel duduk di sofa ruangan tengah. Darren dan Darrel menatap tajam Gara.


"Apa paman yang buat Ibu ku sepelti itu?" Tanya Darrel.


"Bukan aku."


"Jujurlah paman." Timpal Darren.


"Dengar! Benar, Aku yang memintanya membuatkan kopi. Tapi aku tidak menyuruhnya minum kopi." Darren dan Darrel terdiam.


Gara menarik nafasnya. "Baiklah. Itu salah ku." Aku Gara, pasrah.


"Maaf paman." Ujar Darrel.


"Maaf." Ujar Darren.


"Ibu sangat belhalga untuk aku dan Dallen. Kami hanya tidak ingin Ibu sakit." Jelas Darrel.


Gara terenyuh. Kedua anak itu terlihat sangat sedih melihat Ibu mereka. Gara bangun dan berpindah, duduk diantara keduanya. Dibawanya Darrel dan Darren ke dekapannya.


"Paman sudah memaafkan kalian."


Nyaman sekali. Batin Darren


Aku sepelti memeluk ayah. Darrel.


Aku rasa, aku menyayangi kalian. Gara.


Gara mengurai pelukannya. Otaknya tertuju pada Ayah Darren dan Darrel. Sejak tadi, ia tak menemukan ayah kedua anak itu. Bahkan foto pun tak ia temui juga.


"Apa paman boleh bertanya?" Keduanya mengangguk.


"Dimana ayah kalian?"


"Tidak ada." Jawab Darren cepat.


"Kata ibu, ayah kelja di tempat jauh. Disana juga tidak ada sinyal. Susah untuk di telpon."


Gara mengangguk. "Ya sudah. Ayo makan." Kata Gara. "Tapi, tunggu dulu." Tahan Gara.


"Kenapa paman?" Tanya Darrel.


"Apa kalian makan mie instan tadi?"


Darren dan Darrel mengangguk. "Iya paman." Jawab keduanya serantak.


"Lain kali jangan lagi. Jika lapar, pesan saja. Katakan pada kurirnya masukkan tagihan pembayarannya ke tagihan paman. Sebut saja, Gara Grisam. Oke?" Ujar Gara panjang lebar yang langsung mendapat anggukkan keduanya.


"Baik paman." Jawab keduanya.


Setelah makan, Gara berpamitan pada Darren dan Darrel. Tak lupa ia juga berpamitan pada Alula.


Gara membuka pintu kamar Alula, pelan. Terlihat, Alula yang sedang tertidur. Gara melangkah mendekatinya. Tangannya terulur mengusap kepala Alula.


"Em... Tuan?" Sadar Alula, membuat Gara segera menarik tangannya.


"M-maaf. Aku mau pulang." Ujar Gara gugup.


"Ya. Terima kasih, maaf sudah merepotkan mu."


"Ya," ujar Gara. "Istirhatlah. Kamu tidak perlu bekerja besok."


"Tidak apa-apa tuan. Aku sudah membaik."


"Terserah! Aku pulang." Ketus Gara dan langsung keluar.


Alula mengerutkan keningnya. "Apa tuan Gara marah?" Gumam Alula.


Tak lama, terdengar deru mobil yang mulai menjauh dari rumah.

__ADS_1


__ADS_2