
Gara mendekat ke meja Zarfan, Alula dan Darren. Sementara Darrel, anak itu memeluk manja dalam gendongan Gara.
"Se-selamat malam tuan." Ujar Zarfan, membungkuk pada Gara.
"Tegakkan badan mu!" Ujar Gara. "Apa kau mengenal ku?" Lanjut Gara, saat Zarfan menegakkan kembali tubuhnya.
"Aku mengenali mu tuan. Kita pernah bertemu saat rapat pemegang saham di perusahaan A."
"Aku tidak mengingatnya." Balas Gara.
Zarfan hanya tersenyum maklum. Itulah sifat Gara yang sering ia dengar dari orang-orang yang mengetahui tentang Gara.
Gara menarik kursi tepat di samping Alula. Zarfan dan Alula yang berdiri, juga ikut duduk.
"Aku ingin minta maaf pada mu." Ujar Gara, membuat Zarfan membulatkan matanya.
Dia minta maaf pada Ayah? Batin Alula.
Apakah ini benar tuan Gara? Dia meminta maaf pada ku. Batin Zarfan.
"Jangan terkejut seperti itu. Aku tahu, kalian heran aku meminta maaf. Rumor tentangku semakin melekat di kehidupan masyarakat. Lagi pula, tadi aku juga mengucapkan maaf."
Satu hal lagi, membuat Zarfan sedikit tidak percaya dengan rumor yang beredar. Gara yang ia dengar, adalah seorang yang irit bicara. Sedangkan Gara di depannya, berbicara panjang.
"Tuan tidak memiliki salah pada saya. Tidak perlu minta maaf." Ujar Zarfan.
Gara melihat Alula di sampingnya. Kemudian, ia kembali menatap Zarfan. "Saya memiliki kesalahan yang begitu besar. Jika saya tidak kehilangan Alula malam itu, Alula tidak akan berakhir di usir dari rumah mu." Ujar Gara.
Alula dan Zarfan sama-sama mendongak menatap Gara. Keduanya sama-sama terkejut dengan ucapan Gara. Lelaki itu tahu tentang Alula yang di usir.
"Apa tuan yang melakukan hal itu pada anak saya?" Tanya Zarfan, yang mulai bisa memahami ucapan Gara.
"Ya, aku yang melakukannya. Aku terbawa ***** dan malah merusak Alula."
Deg. Jantung Alula memompa dengan cepat. Gara mengakui jika ia yang bersalah dalam hal tersebut. Padahal, jika di pikir, kesalahan bersumber dari dirinya sendiri, yang salah memilih tempat untuk melampiaskan rasa sakitnya.
D-dia mengakuinya. Seharusnya itu adalah kesalahan ku. Jika bukan karena bantuannya, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan.
"Apa benar-benar anda yang melakukannya?" Raut wajah Zarfan kini berubah. Ada amarah saat mendengar ucapan Gara. Matanya beralih menatap Darren dan Darrel. Dan sekarang, ia baru sadar jika anak kembar yang duduk di depannya itu sangat mirip dengan Gara.
"Benar. Jadi, anda salah dalam menilai putri anda. Anda tidak mengenal baik putri anda. Anda lebih menuruti emosi anda, dibandingkan mendengar penjelasan Alula."
__ADS_1
Seketika, amarah Zarfan padam oleh ucapan Gara. Dia juga bersalah dalam hal itu. Apa ia pantas memarahi Gara.
"Ya, aku juga bersalah." Ujar Zarfan.
"Sebenarnya, aku ingin memberi pelajaran untuk keluarga anda yang berani mengusir Alula. Membuat Alula terlantar, begitupun dengan anak-anak saya yang ada dalam kandungannya. Kalian membuat saya semakin jauh dari mereka."
"Tapi, melihat kebahagiaan di wajah Alula saat bertemu anda, saya tidak ingin merusaknya." Lanjut Gara. Kini wajahnya beralih menatap Alula. Wanita itu juga balas menatapnya.
Ada sesuatu yang berdesir dalam hatinya, kala mendengar semua ucapan Gara. Lelaki itu, setiap pengakuannya tidak ada kata yang bermakna menyalahkan Alula. Dia begitu melindungi nama baik Alula di depan Ayah Alula sendiri.
Gara terus menatap Alula. Meskipun dengan dandanan sederhana, wanitanya itu terlihat begitu cantik. Wanitanya? Ya, Gara telah lama mengklaim Alula sebagai wanitanya. Entah Alula suka atau tidak, ia tak peduli.
"Saya minta maaf, jika perbuatan saya membuat tuan jauh dari Alula. Membuat anak-anak tuan terlantar. Tapi, saya ingin bertanya, kenapa tuan melakukan hal itu pada putri saya. Saat itu dia baru saja lulus dari sekolah menengah atasnya. Apa alasan tuan merusak putri saya." Pertanyaan Zarfan beruntun. Namun tak membuat Gara merasa terpojok.
"Saya jatuh dalam pesona putri anda saat pertama bertemu. Jujur saja, saya tidak tahu bagaimana cara meluluhkan hati wanita. Alula adalah wanita pertama saya. Saya berpikir, jika Alula mengandung anak saya, dia tidak akan terlepas dari saya. Dan jalan itulah yang saya ambil."
Alula lagi-lagi meneguk ludah atas penjelasan Gara. Semuanya sangat melenceng dari cerita sebenarnya. Apa Gara benar-benar sedang melindungi harga dirinya di mata Ayahnya.
"Apa tuan dan Alula sudah menikah?" Tanya Zarfan. Ia sungguh tidak tahu mengenai kehidupan putrinya.
"Kami belum menikah."
"Apa hingga saat ini tuan masih menginginkan putri saya?"
Alula memandang Gara yang kebetulan juga memandang ke arahnya. Matanya mencoba mencari kebohongan dari mata Gara. Namun, ia tak menemukan kebohongan itu.
Zarfan menarik nafasnya. Jawaban Gara, sudah cukup membuatnya merasa tenang. Putrinya berada pada orang yang tepat.
"Jika tuan benar-benar menginginkan putri saya, nikahi dia!" Ujar Zarfan yang seketika menarik Alula menatapnya.
"Saya sedang berusaha meluluhkan hatinya." Jawab Gara.
Alula, Darren dan Darrel hanya bisa menjadi pendengar. Perbincangan dua lelaki dewasa itu membuat mereka bertiga bungkam.
Setelah melewati obrolan panjangnya dengan Gara, dan juga obat rindu untuk putrinya Alula, Zarfan berpamit pulang. Begitupun dengan Keempat orang tersebut. Setelah kepergian Zarfan, mereka juga menaiki mobil Gara untuk pulang.
Perjalanan menuju kontrakan terasa begitu hening. Kedua bocah itu sudah terlelap. Darren yang tertidur sambil bersender di bahu Alula. Dan Darrel yang menjadikan paha Alula sebagai bantalnya.
"Emmm... tuan!" Panggil Alula, memulai pembicaraan.
"Hmmm..." Hanya deheman yang terdengar. Gara masih terus fokus pada jalanan.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mempertemukan saya dengan Ayah saya."
"Hanya itu ucapan terima kasih mu?" Balasan Gara memunculkan kerutan di kening Alula. Wanita itu tidak mengerti dengan maksud Gara.
"Maksud tuan?"
"Berikan aku hadiah sebagai bentuk rasa terima kasih mu."
"Kau memiliki semuanya tuan. Apa yang kau inginkan pasti akan di penuhi. Kenapa harus minta pada saya?"
"Panggil aku Gara saja! Itu hadiah yang ku minta."
"Tapi..."
"Jika kau menolak, kau adalah manusia yang tak tahu cara berterima kasih. Lagi pula, apa susahnya memanggil dengan nama ku saja? Kau bisa memanggil Edo atau Gio dengan lugas. Kenapa saat aku yang memintanya, kau menolak."
Alula terdiam sejenak dan menunduk. Ia tidak tahu cara menghadapi Gara. Meski hanya melalui kaca depan mobil, tatapan Gara benar-benar membuatnya tak berkutik.
"Kenapa menunduk?"
"Ti-tidak tu... maksud saya G-Gara."
Gara menyunggingkan senyum mendengar Alula menyebut namanya. Hatinya bergetar hebat hanya karena Alula menyebut namanya.
"Berusahalah agar lebih terbiasa memanggilku Gara." Ucap Gara, dengan senyum yang tak pernah luntur.
Babarapa saat kemudian, mobil Gara tiba di kontrakan Alula. Alula masih terdiam di mobil karena tubuhnya yang di apit Darren dan Darrel. Gara turun dan membuka pintu mobil. Ia mengulurkan tangannya, menggendong Darrel.
"Ayo turun!" Ujar Gara, masih berdiri di samping pintu mobil, menunggu Alula turun.
Wanita itu turun sambil menggendong Darren. Kemudian Keduanya jalan beriringan menuju rumah.
Gara membaringkan Darrel, lalu di ikuti Alula yang membaringkan Darren tepat di samping Darrel.
"Besok aku akan kemari lagi. Berikan keputusan terbaik mu. Aku menunggu jawaban itu." Ujar Gara, lalu berjalan mendekati Alula.
Dengan penuh kelembutan, Gara mengecup kening Alula sedikit lama. Tubuh Alula menegang. Darahnya berdesir hebat saat bibir Gara menyentuh keningnya. Tubuhnya terpaku. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Yang jelas, tubuhnya tak menolak perlakuan Gara.
"Aku pulang dulu. Istirahatlah!"
Gara keluar dari kamar si kembar dan langsung menuju halaman depan, dimana mobilnya terparkir. Tanpa Gara sadari, Alula mengikutinya dan memerhatikannya dari balik gorden.
__ADS_1
"Hati-hati... Gara." Gumam Alula, menatap mobil Gara yang mulai menjauh.