Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Hasil Tes DNA Gio


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat. Gara semakin banyak mendapatkan bukti mengenai pelaku penculikan Alex atau Gio dulu.


Sekretaris Kenan yang baru saja keluar dari ruangan Gara, kembali masuk ke ruangan itu.


"Ada apa?"


"Maaf tuan, saya mengganggu. Kerja sama dengan perusahaan milik Rendra berjalan lancar. CEO perusahaan meminta agar bisa bertemu dengan tuan. Dia sungguh penasaran dengan sosok tuan."


"Atur waktu untuk bertemu dengannya."


"Baik, tuan."


"Bagaimana dengan rencananya?"


"Semua sudah beres tuan. Dokumen aslinya ada pada saya. Perusahaan itu sudah menjadi milik tuan. Kita bisa memperlihatkannya nanti."


"Bagus. Kau selalu bisa menyelesaikannya."


"Terima kasih, tuan. Kalau begitu, saya permisi."


"Ya."


Gara meraih sebuah dokumen dan menandatanginya. Tatapannya teralih menuju handphonenya yang berdering. Tertera nama Gio disana.


"Hallo, Gara." Sapa Gio dari seberang sana.


"Hmmm..." Gara hanya berdehem. Jawaban andalan miliknya.


"Ck. Seharusnya kau sopan sedikit padaku."


"Bukannya kau yang harus sopan padaku?"


"Sudahlah. Aku tidak mau memperpanjangnya. Aku hanya ingin memberitahumu, aku dan paman sudah di rumah sakit."


"Kau masih memanggil Ayahmu paman?"


"Ayolah. Aku tidak ingin ribut denganmu."


"Ya, ya. Aku akan kesitu bersama Alula."


Gara memutuskan sambungannya dan bergegas menuju ruangan Alula. Diruangannya, Alula terus fokus pada layar komputer.


"Ehem." Dehemnya membuat Alula beralih menatapnya.


"Selamat pagi, tuan." Ucap Alula, berdiri dan sedikit membungkuk pada Gara.


"Kenapa seperti itu? Bersikap biasalah. Kenan bukan orang asing."


"Tapi, ini masih di jam kantor."


"Apa masalahnya? Ayo kita ke rumah sakit. Ayah sama Gio sudah menunggu kita disana."


"Baiklah."

__ADS_1


Gara dan Alula segera keluar dari ruangan tersebut dan menuju lift. Sebelumnya mereka berhenti di ruangan sekretaris Kenan dan memberitahunya.


Lift berhenti di lantai dasar perusahaan tersebut. Banyak pasang mata yang menatap Alula dan Gara. Sebagian dari mereka menatap dengan penuh kebencian ke arah Alula. Tuduhan jika Alula menggoda Gara sudah beredar di kalangan mereka. Sekretaris Kenan maupun Gara sudah mengetahuinya. Tapi Gara masih bungkam. Dia ingin menuntaskan persoalan Gio dulu. Setelah itu, dia sendiri yang mengurus mereka.


Yang terpenting Alula tidak mengetahuinya. Dan mereka tidak menyakiti Alula. Jika mereka mengetahui hubungan Alula dan Gara, apa mereka masih bisa menggosipi Alula. Seandainya Alula tak memintanya untuk merahasiakan hubungan mereka, mungkin karyawan-karyawan itu akan membungkuk setiap bertemu Alula.


"Kamu kenapa?" Tanya Gara saat mobilnya sudah melaju meninggalkan area perusahaan.


"Tidak." Jawabnya dan setelah itu suasana menjadi hening.


Setelah 20 menit, mereka tiba di rumah sakit. Gara dan Alula berjalan beriringan menemui Ginanjar dan Gio.


"Bagaimana, Yah?" Tanya Gara setelah bertemu Ayahnya.


"Dokternya sedang memeriksa pasien. Kita tunggu saja. Mungkin sebentar lagi selesai." Jawab Gio.


Gara mengangguk dan duduk di sebelah Gio, diikuti Alula disampingnya.


Tak lama, seorang wanita keluar bersama seorang dokter di belakangnya. Dokter tersebut menghampiri keempat orang tersebut.


"Maaf membuat anda menunggu, tuan." Ucap sang dokter sedikit membungkuk.


"Tidak masalah. Saya ingin segera melihat hasilnya."


"Ya. Mari tuan, ke ruangan saya."


Mereka berjalan beriringan menuju ruangan dokter. Dokter tersebut mengeluarkan lembaran hasil tes DNA, dan memberikannya pada Ginanjar.


Dengan jantung yang berdebar, lelaki itu membuka dan membaca isi lembaran tersebut.


Gara meraih lembaran tersebut dari tangan Ayahnya. Ia tersenyum membacanya dan langsung memeluk Alula. "Dia benar-benar Alex. Dia sudah kembali."


"Aku turut bahagia." Balas Alula.


Gio yang juga ingin melihat hasil yang tertulis di lembaran itupun sedikit melonggarkan pelukan Ginanjar. "Paman..."


"Berhentilah memanggilku paman! Aku ini Ayahmu bukan pamanmu." Tegas Ginanjar.


"Baiklah. Ayah, bolehkan Ayah melepaskan pelukan Ayah? Aku ingin melihat hasilnya. Ayah boleh memelukku lagi nanti."


"Untuk apa melihatnya lagi? Kau sudah tahu hasilnya."


"Ya, aku tahu. Tapi aku hanya ingin memastikannya."


"Baiklah." Ginanjar pun melepaskan pelukannya. Gara menyerahkan lembaran tersebut pada Gio. Ia dengan sangat serius memperhatikan lembaran tersebut.


"Ternyata aku benar anak Pam... Eh maksudku Ayah." Ujarnya membuat mereka tersenyum.


Tania, dia benar-benar Alex, anak kita. Batin Ginanjar.


***


Sudah tiba waktunya pulang sekolah. Alula dan Gara memutuskan untuk menjemput Darren Darrel di sekolahnya. Gio dan Ginanjar dibiarkan pulang terlebih dahulu dan menunggu mereka di rumah.

__ADS_1


"Aku benar-benar bahagia. Sumber kebahagiaanku sudah lengkap."


"Aku juga ikut senang. Gio orang baik. Dia pantas mendapatkan semua ini setelah apa yang ia lalui selama ini."


"Ya. Aku hidup dengan segala kebutuhan yang terpenuhi. Sementara Gio, dia hidup dengan bersusah payah. Kakak macam apa aku ini?"


"Jangan menyalahkan dirimu. Kamu adalah kakak terbaik. Jika kamu bukan kakak yang baik, kamu tidak akan berusaha mencari keberadaannya. Kamu tidak akan merindukannya dan mengingat semua tentangnya. Usahamu selama ini sudah membuktikan jika kamu adalah kakak yang baik."


Gara tersenyum dan menggenggam tangan Alula lalu mengecupnya. "Terima kasih." Ujarnya yang dibalas senyuman oleh Alula.


Mobil yang Gara kendarai berhenti tepat di depan sekolah si kembar. Kedua anak itu sudah menunggu ditemani Asya dan Edo.


"Kau lama sekali menjemput mereka. Biasanya supir kalian yang jemput." Ucap Edo saat Gara dan Alula berada di antara mereka.


"Bukan urusanmu."


"Ck. Kau selalu seperti itu padaku." Balasnya. Mata Edo beralih menatap Alula. "Alula, aku sarankan kau untuk selalu berhati-hati jika bersama Gara. Dia bisa berubah dengan cepat. Jangan sampai kau di terkamnya sebelum waktunya." Lanjutnya, berucap serius pada Alula.


"Maksud..."


"Jangan menganggu calon istriku, Edo. Atau, kau ingin merasakan amukan Irene?"


"Hehehe... Aku hanya bercanda. Kau ini, serius sekali."


"Huh, bercanda. Ayo twin kita pulang. Jangan dengarkan pak tua itu. Dia sudah pikun. Suka sembarangan kalau ngomong." Ujar Gara sambil menggandeng si kembar menuju mobil.


"Hei, apa yang kau katakan? Aku ini masih muda. Masih semuda daun yang baru tumbuh." Teriak Edo yang tak di pedulikan Gara.


"Dadah Asya... Aku pulang dulu." Ujar Darrel yang juga tak peduli dengan wajah kesal Edo terhadap Ayahnya.


Asya juga balas melambaikan tangannya. Sementara Darren, ia hanya melirik sebentar dan kembali fokus ke depan.


Alula yang melihat tingkah Edo, mengulum senyumnya. Ia masih berdiri di tempatnya sambil menahan tawa.


"Emang gak ada baik-baiknya Gara sama sahabat sendiri." Ujar Edo.


"Maafkan dia." Ujar Alula dengan senyumannya.


"Aku selalu memaafkan dia. Aku juga selalu baik padanya. Dia saja yang kelewat kurang ajar."


"Alula! Ayo cepat. Jangan berbicara dengan orang tua sepertinya. Nanti kamu ketularan pikun." Teriak Gara dari mobil.


Alula lagi-lagi mengulum senyum melihat ekspresi kesal Edo. "Aku pergi dulu. Terima kasih sudah menemani Darren Darrel." Ujaranya. Kemudian mata Alula menatap Asya yang berdiri di samping Edo.


"Tante pulang dulu ya, Asya cantik. Kapan-kapan main ke rumah ya?"


"Siap tante. Hati-hati." Jawab Gadis kecil tersebut.


Setelah berpamitan, Alula segera menuju mobil. Ia duduk di samping kemudi, sebelah Gara. Bisa ia lihat dengan jelas wajah masam Gara.


"Kamu marah?" Tanyanya, menggenggam tangan Gara.


"Tidak." Jawabnya lalu melajukan mobilnya menjauh.

__ADS_1


Alula hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia tidak tahu bagaimana cara merayu Gara saat marah padanya. Tapi dia akan mencobanya saat sampai rumah nanti.


__ADS_2