Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Liburan 1


__ADS_3

Alula bersama beberapa pelayan rumah sedang berberes di dapur. Beberapa pelayan sudah melarangnya untuk tidak perlu bekerja. Namun, Alula tetap saja keras kepala dan terus memaksa agar mereka membiarkannya. Saat sedang mencuci piring kotor, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


"Kenapa kamu yang mencucinya?" Gara menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Alula. Menghirup aroma yang bagaikan candu untuknya.


"Gara, jangan seperti ini. Banyak pelayan yang melihat kita." Ujaranya, tersenyum canggung pada pelayan yang tak sengaja melewati mereka.


"Aku tidak peduli pada mereka. Aku sangat lelah setelah mengatar putra kita ke sekolah. Ayo, temani aku istirahat."


Kening wanita itu mengerut. Barusan dia mendengar suaminya itu mengatakan jika dirinya lelah setelah mengatar si kembar. Ia berbalik dan berhadapan dengan Gara. "Lelah? Aku rasa, kamu mengantar mereka menggunakan mobil. Bagaimana bisa lelah?"


"Sayang, apa kamu pikir, mengendarai mobil tidak lelah? Tanganku pegal mengendarai mobil. Ayolah!"


"Baiklah. Tapi, aku selesaikan pekerjaanku dulu."


"Tidak perlu. Biarkan pelayan yang melanjutkannya."


Alula menarik nafasnya. Sungguh sangat susah membujuk Gara. "Baiklah, ayo!"


Keduanya sama-sama menuju kamar. Menaiki satu persatu undakan tangga. Gara mendorong pintu tanpa melepaskan tautan tangannya bersama Alula. Ia menggiring Alula menuju sofa, dan sama-sama duduk di sana.


Gara membaringkan tubuhnya dengan paha Alula sebagai bantalnya. "Cantik sekali istriku." Ujarnya. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang yang menepel di wajah Alula. Alula hanya membalasnya dengan tersenyum. Ia mengusap pelan rambut Gara.


"Sayang,"


"Apa?"


"Aku udah suruh Kenan cari tempat liburan."


"Liburan? Untuk apa?"


" Untuk liburan. Sekalian untuk bulan madu kita." Jawabnya. "Aku tidak bisa meninggalkan Darren Darrel disini hanya untuk bulan madu kita. Jadi, aku mengubahnya menjadi liburan. Darren Darrel akan ikut bersama kita."


Hati Alula menghangat mendengar ucapan Gara. Lelaki itu begitu menyayangi kedua putranya. Ia tersenyum dan mengecup singkat bibir Gara. "Terima kasih sudah melakukan yang terbaik untuk mereka." Ujarnya setelah menjauhkan wajahnya dari wajah Gara.


Gara hanya menatap tak percaya, hingga beberapa detik kemudian ia tersenyum. Wanitanya berinisiatif untuk menciumnya terlebih dulu. Suatu kemajuan baginya. "Itu adalah kewajibanku sebagai Ayah. Kamu tidak perlu berterima kasih." Ujarnya lalu sedikit terbangun dan mengecup bibir Alula.


"Kamu sudah mencuri ciuman dariku. Jadi, aku mengambilnya kembali." Lanjutnya sambil tersenyum manis.


"Oh ya, katamu, kita akan liburan. Bagaimana dengan sekolah si kembar? Sebentar lagi, mereka akan masuk sekolah dasar. Apa tidak masalah jika mereka tidak masuk?"


"Kenapa kamu mengkhawatirkan itu? Kedua putra kita bahkan bisa mengerjakan soal anak SD disaat mereka di taman kanak-kanak." Jawabnya. "Dengar! Jika kamu masih ragu, aku akan minta Kenan mengurus guru mereka untuk mengajar daring sesuai waktu yang ditentukan sekolahnya. Gimana?"


"Emm... Aku setuju. Bagaimana jika kita saja yang berbicara dengan gurunya saat menjemput mereka nanti? Tidak perlu merepotkan sekretaris Kenan. Dia mungkin sangat sibuk dengan urusan kantor."


"Baiklah, aku menurutmu saja nyonya." Balas Gara dengan ekspresi yang dibuat lucu, membuat Alula terkekeh melihatnya.

__ADS_1


"Ya sudah, kita siapin kebutuhan kita selama liburan. Setelah itu, kita jemput si kembar."


Alula mengangguk. Keduanya segera berbenah, menyiapkan kebutuhan mereka berempat selama berada di tempat liburan nanti.


Ketika hampir jam sepuluh, Gara dan Alula bergegas menjemput si kembar. Sekalian membicarakan usulan Gara pada guru dan kepala taman kanak-kanak, tempat si kembar bersekolah.


***


Ruang guru terasa mencekam saat Gara bersama Alula dan si kembar masuk. Aura kejam Gara lah yang membuat tiga guru yang berada di ruangan tersebut tegang dan tidak berani mengangkat wajah mereka, meskipun yang datang adalah makhluk tampan yang begitu menarik perhatian. Namun, guru yang mengajar kelas Darren Darrel pun terpaksa harus tetap menghadapinya. Bagaimanapun, tidak baik mengabaikan wali murid.


"Bagaimana? Apa Ibu bisa mengajar daring kedua putra saya saat kami liburan?"


"Ma-maaf, tuan. Bukannya saya tidak ingin mengajar. Tapi, Darren dan Darrel sudah menyelesaikan semua materi pelajaran yang harus saya ajarkan. Tidak ada yang harus saya ajarkan lagi untuk keduanya. Mereka sangat cerdas. Mereka mendatangi saya saat waktu senggang. Tugas saya sekarang, melanjutkan pada teman-teman sekelasnya. Mereka cukup mengulangi apa yang mereka pelajari, agar tidak segera lupa." Jelas bu guru.


Gara tersenyum bangga sambil menatap kedua putranya. Ia mengusap lembut kepala Darren Darrel, kemudian menatap Alula. "Aku sudah mengatakannya. Dan kamu lihat, mereka sudah lebih selangkah dari kita." Ujar Gara.


"Kalau begitu, terima kasih ya, Bu." Alula tersenyum pada bu guru.


"Sama-sama, nona." Jawabnya.


Gara dan Alula beserta si kembar berpamitan. Urusan mengenai izin sekolah Darren Darrel sudah selesai. Tinggal kembali ke rumah dan bersiap untuk berangkat ke tempat liburan.


"Aku rasa, Ibunya Darren Darrel memiliki kemiripan dengan tuan Zarfan, donatur sekolah kita." Ujar guru si kembar.


"Astaga... dia memiliki wajah yang sama dengan Ibu si kembar." Pekik seorang guru yang berada di samping guru si kembar. "Siapa nama Ibu mereka?"


"Alula Sadewa."


"Ya Tuhan, dia benar-benar putri dari tuan Zarfan. Dan si kembar adalah cucunya."


"Iya. Kita bahkan tidak sadar jika mereka memiliki nama marga yang sama."


***


Gara bersama Alula menggandeng kedua putranya menaiki jet pribadinya. Darrel tak henti-hentinya berdecak kagum melihat jet pribadi milik Ayahnya itu.


"Ayah, kenapa tidak ada olang lagi disini? Apa hanya kita yang akan naik pesawat ini?" Darrel terus mengedarkan pandangannya.


"Ayo, duduk dulu! Dengar, tidak ada orang lagi selain kita dan beberapa orang lagi untuk menjalankan jet ini. Ini jet ini milik Ayah."


"Benalkah? Ayah sangat kelen. Jadi, jika kita ingin kelual negeli, bisa menggunakan ini?"


"Iya."


"Untuk apa kau keluar negeri?" Darren menimpali.

__ADS_1


"Aku ingin belajal melukis disana."


"Apa kamu sungguh-sungguh? Apa kamu akan meninggalkan Ibu disini?"


"Ibuu, Dallel akan seling-seling menelpon Ibu nanti." Jawabnya yang hanya dibalas dengan senyuman. Apapun keinginan putra-putranya, selama tidak merugikan diri mereka sendiri, ia akan selalu mendukungnya. Kebahagiaan mereka adalah hal terpenting untuknya.


Jet yang ditumpangi mereka mulai terbang dan membawa mereka ke tempat liburan. Dengan fasilitas jaringan internet nirkabel yang tersedia, kedua anak kembar itu tidak merasa bosan. Mereka memainkan game kesukaan mereka. Hingga tak terasa, mereka tiba di kota, tempat dimana mereka akan berlibur.


"Ayah, apa kita sudah sampai?" Darrel berjalan keluar sambil menggandeng tangan Ayahnya.


"Ya. Kali ini, kita berlibur di luar kota. Lain kali, Ayah akan membawa kalian keluar negeri."


Keempat orang itu keluar dan langsung menuju mobil yang sudah menanti mereka. Setelah memasuki mobil, kendaraan itu melaju menuju tempat yang akan mereka tempati.


"Apa kita akan menginap di hotel?" Darren bersuara sambil memerhatikan jalanan yang mereka lewati.


"Kita akan menginap di villa."


Mobil berbelok ke arah villa. Alula, Darren dan Darrel kembali dibuat kagum dengan bangunan di depan mereka. Sebuah villa yang bisa dikatakan sangat mewah untuk mereka.


"Apa ini juga milikmu?" Alula menolehkan wajahnya pada Gara. Lelaki itu tersenyum padanya.


"Milik kita." Jawabnya.


Beberapa pelayan yang bertugas merawat villa menghampiri mereka. Mereka menunduk hormat pada Gara dan keluarga kecilnya.


"Selamat datang, tuan, nyonya, tuan muda." Ujar mereka bersamaan.


"Terima kasih," Balas Alula dan Darrel. Sementara Gara, dia hanya berdehem. Dan Darren, hanya wajah tanpa ekspresi yang ia tunjukkan, tanpa sedikitpun niat menjawab mereka.


"Bawakan semua barang-barang itu masuk. Lakukan pekerjaan kalian dengan baik. Istri dan anak-anakku, layani mereka dengan baik."


"Baik, tuan."


Gara dan kedua putranya segera berjalan masuk. Sedangkan Alula, ia malah masih berdiri menatap beberapa pelayan tersebut.


"Jangan terlalu serius menanggapinya. Bersikap biasalah padaku dan kedua putraku."


"Ini adalah perintah tuan, nyonya. Kami tidak bisa melanggarnya."


"Lakukanlah saat ada dirinya. Tapi bersikap biasalah jika tidak ada dirinya." Ujaranya, namum tidak ada yang bersuara menanggapinya.


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Oh ya, aku Alula. Salam kenal untuk kalian semua."


"Salam kenal, nyonya." Jawab mereka, lalu satu persatu mulai memperkenalkan diri mereka.

__ADS_1


__ADS_2