
Alula menggeliat pelan saat merasakan dirinya sedikit sulit bernafas. Perlahan matanya terbuka dan Gara berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Gar...hmmm..." Lelaki itu kembali mencium Alula dengan menggebu. Hingga Alula kesulitan menghirup oksigen dan memukul pelan dada Gara.
"Hah... hah... apa yang kamu lakukan... hah?" Ujar Alula sambil tersengal. Gara hanya mengusap pelan bibir Alula sambil tersenyum.
"Aku sedang menciummu. Apa kamu tidak tahu? Aku akan mengajarimu." Gara kembali mendekatkan wajahnya sebelum Alula berhasil menahannya.
"Tidak-tidak!"
"Kenapa? Apa kamu lupa janjimu tadi siang? Kamu sudah tidur cukup lama. Sedangkan aku, tidak bisa tidur setelah masuk kamar ini. Aku terus terbayang dengan janjimu. Jadi, ku biarkan kamu istirahat sejenak dan akan membangunkanmu lagi."
"Sudah jam berapa sekarang?"
"Jam dua pagi."
"Belehkah lain kali?" Alula mencoba menghindar.
"Tidak ada penolakan, sayang." Gara langsung kembali mencium bibir Alula. Tubuhnya berpindah ke atas tubuh Alula. Mengambil janji yang sudah Alula ucapkan untuknya. Alula hanya bisa pasrah dibawah tubuh Gara. Membiarkan lelaki itu menuntaskan urusannya.
Gara mengecup pelan perut Alula. "Semoga cepat tumbuh jadi anak Ayah." Ujarnya lalu berbaring di samping Alula dan meluknya. "Terima kasih, sayang."
"Sudah kewajibanku. Tidurlah! Kamu belum tidur sejak tadi." Gara menyusupkan wajahnya di dada Alula. Memeluknya erat sambil memejamkan mata. Menikmati usapan lebut Alula di kepalanya. Hingga tak tersadar, keduanya sama-sama kembali ke alam mimpi.
***
Semuanya sudah bersiap untuk jalan-jalan hari ini. Gara dengan stelan casual dan kacamata hitam yang membingkai wajahnya semakin menambah ketampanannya.
Alula dan kedua putranya seolah tersihir dengan penampilan Gara. Mereka hanya menatap tanpa bersuara. Darren Darrel cepat tersadar saat Gara melewati mereka dan berdiri tegap di depan Alula.
"Cantik." Pujinya tanpa melapas pandangan dari wajah cantik Alula. Alula yang mendengarnya tersadar dan salah tingkah.
Gara mengulas senyum melihat ekspresi sang istri yang menggemaskan. "Aku suka kamu menatapku seperti itu. Apa aku begitu berarti di hidupmu, hmm?" Ujar Gara, semakin mendekatkan wajahnya.
"Gara, ada anak-anak disini."
"Tidak masalah. Mau ku tunjukkan yang lain?" Tanpa memberi jeda Alula untuk menjawabnya, Gara langsung mengecup bibir Alula, dan berlalu begitu saja.
"Ayo twins, kita pergi!" Ujarnya, lalu menggandeng kedua anaknya keluar.
"Astaga, Gara!" Gumam Alula, lalu berjalan mengikuti mereka sambil menggeleng.
Gara membuka pintu mobil dan membiarkan Darren Darrel masuk. Ia lalu berjalan dan duduk di bagian kemudi.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan pada Ibu tadi?" Tanya Darrel. Anak itu selalu ingin tahu tentang sesuatu.
"Yang tadi? Itu tanda jika Ibu adalah milik Ayah."
__ADS_1
Tak berselang lama, Alula datang dan mengambil tempat di samping kursi pengemudi. Wajahnya masih terlihat cemberut.
"Kamu marah?" Alula tak menjawabnya.
"Kamu begitu cantik. Aku tidak ta..."
"Ayolah, jangan bahas itu lagi. Aku sudah tidak marah lagi."
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita berangkat!" Gara segera melaju menuju tempat yang akan mereka tuju hari ini. Mereka akan mengunjugi pasar tradisional yang menjual banyak kerajinan khas kota tersebut. Itu adalah permintaan Alula. Kemudian mendatangi tempat yang menjual makanan khas daerah tersebut. Setelah itu, mereka akan pergi ke taman bermain.
Gara memarkirkan mobilnya saat tiba di pasar. Mereka berempat berjalan beriringan dengan si kembar berada di tengah-tengah antara Gara dan Alula. Pasarnya cukup luas. Ada beberapa stand yang menjual kerajinan, dari kerajinan yang berukuran kecil, hingga berukuran besar.
"Wah, ini sangat indah." Alula terpukau dengan berbagai macam kerajinan yang terbuat dari kayu. Ia memegang beberapa alat makan yang terbuat dari bahan itu. Kemudian beralih pada lampu hias dan juga miniatur-miniatur yang begitu indah.
"Kamu menyukainya?"
"Ya, aku sangat menyukainya."
"Kita akan membelinya."
"Bisakah membelinya lebih banyak? Aku ingin membagikan pada pelayan di villa dan di rumah nanti. Juga pada teman-temanku."
"Ambil saja sebanyak yang kamu mau." Alula tersenyum girang.
Sementara itu, Darren Darrel sibuk dengan beberapa benda-benda kecil yang menggantung. Benda-benda tersebut juga terbuat dari kayu. Terlihat sangat lucu.
"Aku ingin membelinya. Aku akan membagikannya pada teman-teman dan bu gulu." Ujar Darrel, meraih berbagai gantungan kunci yang berbentuk bebagai karakter kesukaan anak-anak, dan salah satu kerajinan yang dikhususkan untuk Ibu gurunya.
"Ayah, Dallel mau semua ini." Darrel menunjuk semua barang yang dipilihnya.
"Pak, tolong kemaskan!" Ujar Gara yang mendapat anggukkan dari si penjual.
"Darren?"
"Aku hanya mengambil satu. Akan ku bayarkan sendiri." Ucap anak itu.
Keempat orang tersebut kembali menyusuri pasar dan membiarkan barang-barang di tempat mereka membelinya. Gara sudah menelpon orang-orangnya untuk mengambil barang-barang tersebut. Mereka kembali terhenti di tempat penjulan kain tradisional daerah. Alula juga membeli beberapa.
"Lihatlah, pria itu sangat tampan." Ujar seorang wanita pada temannya.
"Ya, kau benar. Lihatlah kedua anak yang di gandengnya. Ketampanan mereka sudah terpancar sejak kecil. Bagaimana jadinya saat besar nanti. Aku tidak bisa membayangkan, setampan apa mereka nanti."
"Aku belum memikirkan hal itu. Yang ku pikirkan sekarang adalah Ayah mereka. Dia sangat menggoda."
Alula yang tak sengaja mendengarnya tak terima. Ia berjalan mendekat dan bergelayut di lengan Gara. "Sayang, aku sudah memilih dan membayarnya. Ayo kita pergi. Pengawalmu akan mengambilnya kan?"
Gara sempat terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu, apa yang membuat Alula memanggilnya sayang. Tapi, ia tak peduli. Yang jelas ia sangat senang.
__ADS_1
"Tentu saja mereka mengambilnya. Kalau begitu, ayo kita pergi!" Mereka segera meninggalkan tempat itu dan bergegas menuju mobil yang terpakir.
"Astaga, dia memiliki istri."
"Ya. Dan istrinya sangat cantik. Pantas saja anak-anaknya sangat tampan. Sungguh beruntung wanita itu."
***
Gara kembali memarkirkan mobilnya di parkiran restoran yang menyediakan makanan khas kota tersebut. Jika soal makanan, Darrel lah yang paling bersemangat. Anak itu menarik tangan kembarannya agar berjalan cepat.
"Permisi tuan, nona. Silakan dilihat dulu menunya." Seorang pelayan memberikan buku menu pada pasangan suami istri tersebut.
"Saya memesan menu 1, 2, dan 4. Bagaimana dengamu, sayang?" Gara menatap istrinya.
"Aku ikut kamu saja."
"Twins?"
"Samakan saja, Yah." Jawab Darren Darrel serentak. Pelayan itu tersenyum sambil melirik si kembar. Jika tidak ada orang tua mereka, sudah ia pastikan akan mencubit gemas kedua bocah tersebut.
"Kalau begitu, saya akan menyiapkannya tuan, nona." Wanita itu berlalu sambil melirik gemas pada Darren Darrel. Hingga tiba-tiba, ia tanpa sengaja menabrak seorang pelanggan restoran.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriakan itu tertuju untuk pelayan tersebut. Wanita itu hanya mampu meminta maaf. Namun, pelanggan itu membuang muka dan tak mau memaafkannya. Padahal, tidak ada yang lecet sedikitpun pada tubuh atupun baju pelanggan tersebut.
Sang manajer yang melihatnya langsung menghampiri dan memarahinya. "Apa yang kau pikirkan saat bekerja, hah?!" Bentak sang manajer.
"Maaf, pak. Saya tidak memperhatikan dengan benar."
"Apa yang kau perhatikan? Aku lihat kau terus melirik meja nomor dua. Apa kau selingkuhan pria itu?"
Keberadaan yang tak jauh dari meja Gara dan keluarga, membuat mereka mendengarnya dengan jelas. Darren dengan cepat berdiri dan menatap dingin pada manajer tersebut.
"Ayah saya tidak memiliki selingkuhan!" Tegasnya.
Si manajer sempat tertegun melihat ekspresi anak itu. Ia seperti mengenali wajah tersebut. Ia menggeleng. Namun, sepersekian detik kemudian tubuhnya berkeringat dingin dan langsung menunduk hormat.
"Salam tuan Gara. Maafkan saya, tuan. Saya sembarang menuduh tuan." Tak ada jawaban, membuat manajer tersebut tak berani menegakkan badannya.
Pengunjung-pengunjung restoran mulai sadar jika itu adalah Gara. Wajah lelaki itu sangat jarang terpampang di media masa maupun media sosial. Bahkan di acara pernikahnnya, wajah istri dan anaknya tidak di sorot. Wajahnya juga hanya sesekali di tampilkan.
Jadi, dia adalah tuan Gara? Pengusaha kaya yang di rumorkan sangat dingin dan kejam itu. Untung aku tidak benar-benar mencubit putranya. Bisa-bisa, habislah hidupku. Batin si pelayan.
"Saya bisa meratakan restoran ini 20 menit lagi, jika kau masih menyalahkannya." Ujar Gara.
"Ma-maafkan saya, tuan. Saya tidak akan melakukannya."
"Baguslah! Cepat siapkan pesanan saya!" Gara kembali ke kursinya sambil menggandeng Darren bersamanya. Mengabaikan berbagai tatapan yang tertuju untuknya dan sang putra.
__ADS_1
Usai dari restoran, Gara memesan kamar hotel yang tak jauh dari restoran untuk mereka istirahat sejenak. Hanya satu kamar, sesuai permintaan Alula dan kedua putranya.
Saat sore hari, mereka menuju taman bermain. Kedua anak itu bermain sesuka hati. Mencoba berbagai wahana yang tersedia disana, di temani Alula dan Gara. Hingga tak terasa, gelap mulai menyelimuti langit dan mereka pun kembali ke villa.