
Darrel terus fokus dengan lukisannya. Bahkan pintu ruangan yang terbuka, tak membuatnya berbalik.
Darren masuk dan duduk tak jauh dari Darrel. Ia mengeluarkan iPad miliknya, lalu memainkan game online.
Bu guru sudah mengirimkan pesan pada Alula, jika kedua putranya akan pulang terlambat. Ia juga memberitahukan alasannya.
"Asya sudah pulang?" Tanya Darrel, tanpa mengalihkan pandangannya pada Darren.
"Aku tidak tahu." Jawab Darren, terus fokus pada game online nya.
Darrel berdecak. Ia menghentikan sementara kegiatan melukisnya, kemudian menoleh pada Bu guru.
"Bu gulu, apa ibu sudah membelitahukan Ibu?"
"Iya, Ibu sudah memberitahukan Ibu mu."
Anak itu kembali menoleh dan mulai lanjut melukis. Sementara Darren, melirik adiknya sejenak, lalu kembali fokus pada iPad-nya.
Di kantor, Alula yang sejak tadi di tahan Gara di ruangannya terlihat tidak suka. Wajahnya terus saja di tekuk. Entahlah, ia merasa takut jika hanya berduaan dengan Gara.
Handphone bergetar membuat Alula meraihnya. Pesan dari Bu guru segera di bacanya.
"Dari siapa?" Tanya Gara dengan tampang dinginnya.
"Dari Bu gurunya Darren Darrel." Jawab Alula tanpa menoleh pada Gara.
"Aku bertanya dengan mulut dan mata yang melihat ke arah mu. Kenapa kau hanya menjawab dengan mulut mu, tapi mata mu tak melihat ku?" Tanya Gara, kesal. Ia ingin Alula menatapnya. Jika tidak ingat sedang dalam tahap meluluhkan hati Alula, mungkin ia sudah merebut hp itu dan membuangnya.
Mendengar itu, membuat Alula menunduk. "Maafkan saya tuan." Alula mendongak, menatap dengan mata yang penuh ketakutan.
Gara menarik nafasnya. "Huufth... sudah, lupakan! Katakan, apa yang Bu guru itu kirimkan?"
"Pesan jika Darren dan Darrel akan pulang telat hari ini."
"Alasannya?"
"Dia meminta Darrel melukis, untuk cenderamata donatur sekolah yang datang besok."
Gara menggeram kesal, mendengar anaknya disuruh melakukan hal di luar pelajaran sekolah.
"Siapa mereka? Berani-berani nya menyuruh anakku? Ini tidak bisa di biarkan. Ayo Alula, kita ke sekolahan si kembar! Aku harus menjemput mereka. Ini sudah lewat waktu pulang sekolah." Ujar Gara, sambil menarik tangan Alula.
Wanita itu mengikuti tarikan Gara. Saat hampir samai di pintu ruangan, Alula memegang lembut tangan Gara yang menariknya. Hal itu membuat Gara menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Alula.
"Sa-saya bisa jalan sendiri tuan." Gara melepaskan tangannya, lalu berjalan sejajar dengan Alula.
Setelah sampai di parkiran dan menaiki mobil, Alula dan Gara segera menuju sekolahan Darren dan Darrel.
Alula menoleh pada Gara. Wajah laki-laki itu masih menunjukkan kemarahan.
Kenapa dia terlihat sangat marah?
Dengan perasaan takut, Alula membuka suaranya. "T-tuan."
Gara menoleh. Tatapan dinginnya berubah melembut saat melihat wajah ketakutan Alula. Ia tidak ingin Alula semakin ingin menjauh darinya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyanya dengan suara lebih lembut, namun masih terdengar dingin di telinga Alula.
"Aku mohon jangan marah! Jangan meributkan hal ini. Melukis adalah keahlian sekaligus cita-cita Darrel. Jangan mematahkannya. Aku yakin, jika Darrel juga menginginkannya. Jika tidak, dia akan menolak. Disana juga ada Darren. Anak itu tahu yang di inginkan adiknya. Dia akan melarang Darrel, jika itu tidak baik bagi Darrel."
Gara menarik nafas. Seulas senyum muncul di bibir Gara, membuat jantung Alula berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Gara meraih tangan Alula dan menggenggam nya.
"Aku tidak akan marah, dan tidak akan mengacaukannya." Ujar Gara, tersenyum lalu kembali memerhatikan jalanan.
Mobil Gara tiba di sekolah. Pagar sekolah tidak di kunci. Masih banyak siswa sekolah dasar yang sedang belajar.
"Selamat pagi Bu Alula, Pak." Sapa satpam sekolah yang langsung membuat Gara menggenggam posesif tangan Alula.
Gara dengan sedikit lebih cepat menarik Alula. Ia tidak rela jika satpam tersebut menatap Alula lebih lama.
"Permisi Bu, saya ingin menemui anak saya, Darren dan Darrel." Kata Alula pada seorang Bu guru sekolah dasar. Ia yakin, Bu guru itu tahu mengenai kunjungan donatur sekolah.
"Oh, si kembar? Mereka lagi di ruangan menggambar." Ujar Bu guru, sambil tersenyum genit pada Gara. Membuat Gara menatapnya dengan tatapan tak suka.
Apa-apaan wanita ini? Jika tidak ingat dengan ucapanku pada Alula tadi, sudah ku beri pelajaran padanya.
"Mari, saya tunjukkan ruangannya." Ucap si Bu guru.
Alula dan Gara mengikuti Ibu guru menuju ruang gambar. Pintu di dorong begitu saja oleh bu guru. Membuat orang yang ada dalam ruangan menoleh, kecuali Darrel. Anak itu sudah pindah ke tempat dekat jendela karena gerah.
"Ayah? Ibu?" Ucap Darren mengernyitkan keningnya.
"Selamat siang Bu Alula, selamat siang pak." Sapa Bu guru yang mengawasi Darrel.
Bu kepala sekolah yang berniat melihat lukisan Darrel, berhenti dan langsung menunduk hormat.
*T-tuan Gara? Apa dia tuan Gara pemilik Grisam Group? Batin Bu guru yang mengawasi Darrel melukis.
Jika benar dia tuan Gara Emanuel Grisam, maka habislah aku sudah berbuat genit padanya. Batin Bu guru satunya*.
"Saya ingin menjemput anak saya."
"Maaf tuan, bukan maksud kami menyuruh anank tu..."
"Sudahlah! Tidak perlu membahasnya. Cepat carikan kursi untuk saya dan istri saya duduk."
Alula yang mendengarnya bersemu merah. Bagaimana bisa Gara mengatakan ia adalah istrinya dengan setenang itu. Padahal di antara mereka tidak ada hubungan apa pun kecuali mengenai anak.
"Mari tuan! Beristirahat lah sejenak di ruangan saya."
"Benar Ayah. Sedikit lagi Darrel selesai." Timpal Darren, mengarahkan pandangannya pada Darrel yang sedang serius.
Alula mengulas senyum. Anaknya itu selalu lupa akan sekitarnya jika di hadapkan dengan lukisan. Tapi, Alula penasaran dengan wajah donatur sekolah itu.
***
Jarum jam terus berjalan. Persiapan sekolah dalam menyambut donatur terbesar di sekolah itu, sudah mencapai seratus persen.
Hari ini, anak-anak di kumpulkan di aula sekolah, untuk bertemu langsung dan mendengarkan sambutan donatur sekolah.
Darren, Darrel dan Asya duduk di barisan ke empat dari depan. Mata mereka sama-sama menatap ke arah panggung, bersiap menyaksikan donatur sekolah memberikan sambutannya.
__ADS_1
"Selamat pagi," suara berat itu menggema di aula sekolah. Membuat semua yang hadir membalas sapaan nya.
Ia memberikan sepatah dua patah kata. Memberikan nasihat dan juga harapannya untuk sekolah.
"Saya berharap, sekolah ini akan menjadi lebih baik lagi. Dan, terima kasih untuk cenderamata nya. Saya sangat menyukainya. Lukisannya sangat menakjubkan. Saya terlihat lebih muda dari usia saya." Ujar pak Zarfan, si donatur sekolah, di selingi candaan membuat yang hadir terkekeh.
"Seandainya ada pelukisnya disini, saya ingin berterima kasih langsung pada orang itu." Lanjutnya bersungguh-sungguh.
Seorang laki-laki bertubuh sedikit kurus berjalan mendekati pak Zarfan. Ia membisikkan sesuatu pada pak Zarfan. Membuat lelaki yang hampir berusia enam puluh tahun itu mengangguk.
"Saya mendapatkan informasi, jika pelukisnya ada disini. Dengan rasa hormat, saya mengundang nya untuk berdiri disini bersama saya."
Mendengarnya, beberapa orang yang tahu mengenai lukisan tersebut langsung menatap Darrel. Anak itu bangun dan berjalan menuju panggung. Menyisakan kursi kosong diantara Darren dan Asya.
Asya menatap Darrel dengan pandangan takjub. Sementara Darren, ia menoleh pada Asya. Asya sudah tidak pernah menyapanya lagi. Di mata Darren, gadis kecil itu hanya melihat Darrel, bukan dirinya.
Dengan segala sifat dinginnya, Darren berpindah duduk di tempat Darrel. Tepatnya di samping Asya. Berharap agar anak perempuan itu mau menyapanya.
Darrel berjalan mendekati pak Zarfan. Lelaki tua itu terkejut melihat seorang anak kecil yang menemuinya. Dalam pikirannya, pelukis itu adalah seorang lelaki atau perempuan dewasa. Ternyata ia salah.
"Selamat pagi." Ujar Darrel, membungkukkan badannya. Pak Zarfan juga balas membungkuk. Saat kembali mendongak, matanya bertubruk dengan mata Darrel.
Deg.
Ma-matanya mengingatkan ku pada Alula. Batin pak Zarfan. Dan perasaan apa ini? Aku merasakan kehangatan saat menatapnya.
"Tuan?" Panggilan Darrel membuyarkan pikirannya.
"Jangan memanggil ku tuan. Panggil aku Kakek!" Ujar pak Zarfan. "Siapa nama mu nak?"
"Dallel." Jawab Darrel.
"Dallel?" Ulang pak Zarfan.
"Bukan Dallel tapi Dallel." Ulang Darrel. Yang hadir di aula, terkekeh menyaksikan pemandangan di depan mereka. Pemandangan pak Zarfan yang terlihat bingung dengan nama Darrel.
"Maaf tuan, namanya Darrel." Ujar lelaki bertubuh kurus pada pak Zarfan.
"Oh Darrel. Maafkan aku. Jadi, kau tidak bisa mengucapkan huruf R?" Darrel mengangguk. Pak Zarfan tersenyum padanya.
"Terima kasih sudah melukis wajah ku dengan sangat baik. Lukisan mu sangat sempurna. Jujur saja, aku berpikir jika yang melukis ini adalah seorang laki-laki atau perempuan dewasa. Ternyata aku salah. Kau masih sangat muda untuk melukis sebagus ini." Ujar pak Zarfan.
"Terima kasih, Kakek."
Setelah ucapan terima kasih dan sambutan dari pak Zarfan, acara di lanjutkan hingga selesai. Orang-orang yang hadir perlahan meninggalkan aula.
"Darrel!" Panggilan itu menghentikan langkah Darrel dan Darren. Pak Zarfan yang memanggilnya, kembali terkejut melihat seorang lagi yang mirip Darrel.
"Kakek. Pelkenalkan, ini kakak kembal Dallel. Namanya Dallen." Ujar Darrel.
"Salam kenal. Saya Darren, Kek." Ujar Darren, membungkuk.
"Salam kenal, juga." Balas pak Zarfan.
Pak Zarfan sedikit bertanya-tanya pada Darren dan Darrel. Setelah itu, mereka berpisah saat mobil Pak Zarfan tiba. Tak lama, Darren dan Darrel di jemput Gio.
__ADS_1