Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Susah Tidur


__ADS_3

Makan siang telah usai satu jam yang lalu. Kini Alula berada di kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Kamar yang ia tempati terlihat begitu luas. Kasurnya juga berbeda dengan miliknya di kontrakan.


Tiba-tiba ia penasaran dengan baju-baju yang kata Gara, sudah ia persiapkan untuknya. Ia berjalan menuju lemari. Saat pintu lemari terbuka, Alula hanya bisa terpaku menatap baju-baju tersebut.


"Semua ini terliahat mahal. Bagaimana bisa ia menyiapkan untukku? Ini terlalu berlebihan." Ucap Alula.


"Semuanya tidak berlebihan." Ujar seseorang dari belakangnya.


Alula segera berbalik. Disana Gara sedang berdiri di ambang pintu dengan menenteng sebuah tas. Gara bergerak mendekat.


"Aku membelikan semuanya untukmu. Jadi, jangan anggap ini berlebihan. Kamu pantas mendapatkannya." Ujaranya. Langkahnya berhenti di dekat ranjang. Ia meletakkan tas yang ia bawa di atas ranjang.


"Kamu melupakan ini di mobil." Ujarnya. "Aku akan keluar. Istirahatlah!"


Gara menutup pelan pintu, membuat Alula menghembuskan nafas lega. Sejak mendapati Gara di pintu kamarnya, jantung Alula tiba-tiba berdetak cepat. Entah apa yang terjadi, ia tak mengerti.


Alula beranjak menuju kamar mandi. Tubuhnya sangat gerah. Ia tak sempat mandi sejak tadi. Darrel selalu memaksanya untuk menemani.


Lima belas menit, Alula keluar dari kamar mandi. Ia meraih baju yang ada di lemari, lalu kembali ke kamar ganti. Setelah usai, Alula merebahkan tubuhnya di kasur. Ia merasa lebih baik dari sebelumnya.


***


Ketukan pintu membuat Alula terbagun dari tidurnya. Dengan langkah sempoyongan, Alula membuka pintu.


"Ayo Bu! Sudah waktunya makan malam."


Ucapan Darrel membuat Alula terkejut. "Apa? Makan malam?" Anak itu hanya mengangguk kecil, menjawab pertanyaan Alula.


"Ya ampuun. Berapa lama aku tidur? Kenapa bisa sampai malam begini? Apa aku sangat lelah? Atau karena kamarnya yang terlalu nyaman?" Gumam Alula.


"Kenapa Bu?"


"Hah? Ti-tidak. Kau duluan saja ke meja makan. Ibu ingin mencuci muka dulu. Nanti Ibu akan menyusul."


"Baiklah."


Alula segera mencuci muka dan menuju meja makan. Di tariknya kursi yang berada di samping Darrel, tepat menghadap Gara.


"Sepertinya kau sangat lelah. Aku sudah mengetuknya berkali-kali, tapi tetap saja tak ada jawaban."


Alula hanya menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya. Dia sangat malu. Kenapa ia bisa terlambat bangun saat hari pertamanya tinggal di rumah itu. Benar-benar memalukan.


"Ibu. Kenapa menunduk?" Tanya Darren.


"I-ibu..." Alula tidak bisa menjawab lagi. Otaknya tumpul untuk memberikan alasan.

__ADS_1


Perilaku Alula tak lepas dari pandangan Gara. Lelaki itu tersenyum melihat Alula yang salah tingkah.


"Jangan di bahas lagi. Ayo makan!" Ujar Gara, menyelematkan Alula dari rasa malunya.


Semuanya makan dalam diam. Lima belas menit berlalu, mereka pun selesai. Darren dan Darrel sudah terlebih dulu ke ruang keluarga. Sekarang tersisa Gara dan Alula. Alula yang terbiasa membereskan meja makan seusai makan pun mulai melakukannya. Namun tangan Gara menahannya memegang piring kotor.


"Apa yang kau lakukan?"


"Mengangkat piring kotor."


"Untuk apa? Biarkan mereka yang mengerjakannya."


"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini."


Tatapan Gara tiba-tiba mendingin. Tangannya yang sudah terlepas, kembali menggenggam tangan Alula. "Jangan membantah Alula! Ayo susul si kembar!" Ucapnya dingin tapi menakutkan.


Jika sudah seperti ini, Alula hanya menurut. Ia mengikuti tarikan lembut Gara menuju si kembar.


"Ayah, kenapa Ibu di gandeng." Pertanyaan Darrel membuat Alula berusaha melepaskan tangannya. Namun, genggaman Gara malah semakin susah di lepas.


"Ibu baru disini. Ayah takut ia tersesat." Alasan Gara membuat Darrel terdiam. Anak itu kembali melanjutkan belajarnya. Tapi jika di lihat, ia tidak sedang belajar. Ia sedang menghitung sesuatu di kalender kecil.


"Kau sedang apa?" Gara duduk tepat di samping Darrel. Alula sudah ia lepaskan. Membiarkan wanita itu duduk di sisi Darren.


"25 juli kan?" Darrel mengangguk antusias.


"Tinggal Satu bulan lima hari." Celetuk Darren tanpa memperdulikan mereka.


Darrel mengangguk. "Ya. Kau benal."


Darrel tiba-tiba menggeser tempat duduknya lebih dekat pada Darren. Si anak dingin yang sedang fokus belajar tersebut menoleh dengan mata yang memicing.


"Apa?"


"Hehehe... Hadiah apa yang akan kau belikan untukku?" Ucap Darrel menampilkan senyum manisnya, membuat Alula dan Gara ikut tersenyum. Sementara Darren, tidak ada senyum sedikitpun di wajahnya.


"Aku akan memberikannya saat kau sudah bisa menyebut huruf R."


Darrel membulatkan mata. Syarat itu sangat sulit. "Kenapa begitu?" Ucapnya tak terima.


"Berlatihlah mulai sekarang." Balas Darren yang mulai fokus lagi belajar.


"Darren! Ayaaah..." Darrel merengek pada Ayahnya, yang hanya di balas usapan di kepala.


"Sudah! Nanti Ibu bantu ya?" Alula menimpali. Dia begitu kenal Darrel. Anak itu sangat menyukai kado yang Darren berikan. Entah kadonya bagus atau tidak, tetap saja pemberian Darren yang terbaik. Ia akan menangis jika Darren tak memberikannya. Seperti ulang tahunnya dua tahun lalu. Ia menangis karena Darren tak mau memberikannya kado. Padahal, Darren hanya sedang dalam mood bagus untuk mengerjainya.

__ADS_1


"Benalan Ibu bantu ya?" Alula tersenyum dan mengangguk.


Cukup lama mereka bersama di ruang keluarga, mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Sejak tinggal di rumah Gara, Darrel tidak meminta di dongengkan lagi.


Ketukan di pintu kamar Alula terdengar beberapa kali. Alula yang baru saja keluar dari kamar mandi pun segera membukanya.


"Ada apa?" Tanya Alula sedikit terkejut melihat Gara di depan pintu.


"Aku hanya mengambil flashdisk yang tertinggal di laci." Jawab Gara, menunjuk laci nakas di samping ranjang kamar Alula.


Alula hanya mengangguk. Ia ingat, jika kamar yang ia tempati adalah kamar yang sama Gara tempati saat pertama kali ia ke rumah Gara.


"Sudah?" Tanya Alula ketika Gara beranjak dari nakas.


"Ya."


Gara pergi begitu saja tanpa pamit. Alula hanya bisa menatapnya yang mulai menjauh. Di acuhkan seperti ini, benar-benar menyakitkan.


Sesampainya di kamar, Gara menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Mengambil flashdisk hanyalah alasannya saja. Dia ingin memastikan jika Alula nyaman dengan semua yang ia berikan.


"Kenapa aku malah deg-degan gini? Ini bukan pertama kalinya aku bersama Alula di satu ruangan. Malah di kantor sering. Tapi, rasanya ini sangat berbeda." Gumam Gara sambil menatap langit-langit kamar.


Jarum jam menunjuk ke angka 12. Tapi Gara masih saja terjaga. Matanya sulit untuk terpejam. Semua laporan yang ia minta sekretaris Kenan bawa, sudah ia cek dan tandatangani.


"Kenapa jadi susah tidur begini?"


Gara meninggalkan laporan-laporan tersebut dan beranjak ke lantai bawah, menuju ruang kerjanya. Mungkin dengan menetap disana dan membaca sesuatu, ia bisa merasa ngantuk.


Gara meraih salah satu buku yang ada di rak, dan membacanya. Sepuluh menit, dua puluh menit, ia belum juga merasa ngantuk. Di letakkannya kembali buku tersebut dan keluar dari ruang kerja. Kakinya melangkah menuju kamar Alula.


"Alula! Apa kau sudah tidur?" Panggil Gara sambil mengetuk pintu kamar.


Gara sekali lagi mengetuk dan hasilnya masih sama, tidak ada jawaban. Saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu, pintu terbuka. Alula berdiri di depannya dengan mata sayu menahan ngantuk.


"Ada apa?" Tanya Alula dengan suara serak khas bangun tidur.


"Emm... Aku tidak bisa tidur."


"Kenapa?"


"Entahlah. Aku tidak tahu kenapa aku jadi susah tidur." Jawab Gara.


Alula menutup mulutnya menguap. Ia benar-benar sangat mengantuk.


"Kau tidur saja lagi! Aku akan kembali." Tanpa menjawab, Alula berbalik dan menutup pintu. Gara hanya bisa menarik nafas. Untuk apa ia datang ke Alula karena susah tidur. Seharusnya ia mencari kesibukan yang bisa membuatnya mengantuk.

__ADS_1


__ADS_2