Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Keputusan Gara


__ADS_3

Pagi ini terlihat sangat berbeda. Gara selalu mengumbar senyum bahkan pada pelayan-pelayannya. Ia menjawab ucapan selamat pagi dari setiap pelayan yang menyapanya. Biasanya hanya deheman yang terdengar. Tapi kali ini berbeda.


Lain halnya dengan Alula. Ia merasa malu bertemu pelayan-pelayan rumah hari ini. Ia berpikir adegan Gara memeluk dan menciumnya semalam, bisa saja di lihat oleh beberapa pelayan. Dan itu membuatnya malu.


"Pagi Jagoan kembar Ayah." Gara tersenyum pada kedua putranya lalu duduk di tempatnya. Keningnya berkerut saat tak melihat Alula di ruang makan.


"Dimana ibu kalian?"


"Ibu masih di kamal."


"Kalian sudah meminta pelayan memanggilnya?"


"Aku sendiri yang memanggilnya. Ibu sedang mandi." Jawab Darren.


"Ayah akan memanggilnya lagi." Gara bangun dan menuju kamar Alula.


Darren Darrel saling memandang. Ayah mereka terlihat sangat senang hari ini.


"Ada apa ya sama Ayah?"


Darren si irit bicara itu hanya mengedikkan bahu menjawab pertanyaan Darrel.


***


Tok... Tok... Tok...


"Alula, kau sudah selesai mandi?"


Alula yang sedang terduduk di pinggir ranjang terkejut mendengar suara Gara.


"Hah? Itu suara Gara. Kenapa dia yang kemari?" Gumam Alula, tidak tahu harus berbuat apa. Ia memutuskan untuk diam saja, tak menjawab pertanyaan Gara.


"Aku masuk ya?"


"Jangan!" Spontan Alula berteriak.


"Kau sudah selesai mandi?" Mengulang pertanyaannya setelah mendengar suara Alula.


Kenapa kau tidak bisa diam? Batin Alula menyalahkan mulutnya yang reflek berteriak.


"Y-ya, aku sudah selesai. Ka-kau pergi saja aku akan menyusul."


"Baiklah. Cepatlah sedikit, Darren Darrel sudah menunggu."


"Ya."


Gara segera menjauh dari kamar Alula sambil bergumam heran. "Ada apa sebenarnya? Kenapa suara Alula terdengar gugup?"


"Gimana Yah?" Pertanyaan itu yang ia dengar saat tiba di meja makan.


"Sebentar lagi."


Darrel yang memang selalu tidak tahan melihat makanan, memakan makanannya terlebih dulu. Darren hanya menggeleng memperhatikan kembarannya itu.


"Sebulan lagi tubuhmu akan lebih besar dari Ayah."


Ucapan Darren membuat Darrel menghentikan makannya sejenak. Anak itu menatap kesal ke arah Darren.


"Bialin. Aku jadi olang dewasa lebih dulu dalipada kamu."


Darren tersenyum miring. "Gak ada orang dewasa yang gak bisa sebut R."


"Iihh... Ayaaaahhh. Dallen ngeselin."


"Darreeen."


"Sekali-kali Yah, godain Darrel." Balas anak itu santai.


Darren sangat bahagia hari ini. Sebenarnya ia tahu alasan Ayahnya tersenyum cerah pagi ini. Ia mendengar semua percakapan kedua orang tuanya semalam. Alat penyadap yang ia pasangkan di hp Alula belum ia lepaskan. Dan mungkin hari ini akan ia lepaskan. Ia tidak membutuhkannya lagi.


"Selamt pagi," Suara lembut Alula menusuk indra pendengaran ketiga lelaki yang ada di meja makan. Semuanya menoleh ke arah Alula.


"Selamat pagi." Balas ketiganya bersamaan.

__ADS_1


"Ibu kenapa lama sekali?" Baru saja ia menempati tempat duduknya, Darrel sudah melemparkan pertanyaan.


"Benarkah Ibu lama?" Tanya Alula, tak mampu memberikan alasan pada Darrel.


"Ya."


"Maafkan Ibu. Ayo makan sekarang! Nanti kalian telat ke sekolah."


Mereka meraih makanan masing-masing. Semuanya memakan makanan mereka dalam keadaan hening. Tidak ada satu suara pun yang terdengar.


***


Gara dan Alula mengantarkan Darren Darrel ke pintu gerbang ketika tiba di sekolah. Kedua anak lelaki tersebut mengulurkan tangan dan mencium tangan Alula dan Gara.


"Belajar yang rajin ya," pesan Alula pada kedua putranya dan dibalas anggukkan keduanya.


"Jangan nakal, okey?"


"Gak janji, Yah." Balas Darrel yang langsung mendapat pelototan kaget Gara.


"Hehehe... Belcanda Yah."


"Ya udah sana ke kelas. Titip salam ya buat Asya."


"Okey, Bu." Darrel segera berlari kecil menuju kelasnya.


Darren yang masih berdiri menatap kedua orang tuanya. Anak itu berjalan mendekati Gara. Ia menginstruksikan Gara agar menunduk.


"Selamat buat Ayah. Jangan bikin Ibu nangis kayak semalam. Atau aku akan meminta Ibu tinggalin Ayah." Bisik Darren diselingi ancaman kecilnya.


Gara tersenyum dan mengacak pelan rambut Darren.


"Jangan di acak, Yah!" Serunya dengan nada dingin.


"Hahaha... Ya ya, maaf. Ayah janji tidak akan mengulanginya lagi." Gara mendekatkan kelingkingnya ke arah Darren, berharap anak itu akan menautkan kelingkingnya.


"Aku tidak butuh itu. Ayah hanya perlu menepatinya." Ujarnya. "Bu, aku masuk dulu." lanjutnya berjalan meninggalkan Gara dan Alula.


Alula dan Gara segera menuju kantor. Perjalanan memang terasa hening. Tapi ada sesuatu yang tidak biasa. Alula sejak tadi memperhatikannya yang sedang menyetir.


Alula tersentak, sedikit kaget mendengar ucapan Gara. Apa benar ini Gara? Kenapa dia menjadi narsis.


"Kenapa diam? Benarkan aku tampan?"


Alula tersenyum paksa dan mengangguk. "Ya, kamu tampan." Ucapnya kemudian menoleh ke arah lain.


Kenapa Gara jadi narsis begini?


Mobil berhenti di halte sebelum masuk area perusahaan. Itu adalah permintaan Alula semalam. Gara tidak mudah meyetujuinya. Dia memberikan syarat jika Alula akan diantar dari halte ke kantor oleh orang suruhannya.


Wanita itu hanya bisa mengangguk. Demi menghindari gosip-gosip aneh yang akan muncul, lebih baik ia menyetujui syarat Gara.


Alula yang hendak membuka pintu mobil ditahan Gara.


"Apa apa?"


"Kamu harus terbiasa dengan ini." Gara mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Alula.


"Udah. Sana, dia akan mengantarmu." Ujar Gara begitu lembut.


Alula mengangguk dengan pipi yang sudah semerah tomat. Ia keluar tergesa menuju orang suruhan Gara.


Gara menjentikkan jarinya pada tukag ojek suruhan. Memeberikan perintah agar ia mendekat.


"Kau membonceng wanitaku. Jangan sampai bersentuhan dengannya. Aku memerhatikanmu dari belakang."


Lelaki dengan jaket hitam itu hanya bisa mengangguk dengan menahan nafas. Bagaimana bisa ia berboncengan tanpa menyentuh milik tuannya itu. Perintah macam apa ini.


"Sana pergi!"


Lelaki itu menunduk hormat dan kembali ke tempatnya. Ia menyerahkan helm pada Alula, lalu memboncengnya.


"Nona, bisakah anda sedikit memberi jarak?"

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah penumpang selalu duduk seperti ini?"


Kumohon nona, menurutlah. Bisa-bisa aku akan dihajar tuan Gara.


"Itu..."


"Oh aku tahu, pasti istrimu yang memintanya kan? Banar-benar suami yang baik. Aku akan bergeser. Tapi, jangan ngebut ya."


"Baik nona."


Syukurlah anda sangat pengertian. Kau menyelamatkan ku nona.


Gara terus mengikuti Alula dan tukang ojek. Ia jadi kesal sendiri melihat Alula yang tak sedikitpun menoleh ke arah mobilnya yang berada tepat di belakang.


Motor yang Alula tumpangi berhenti di depan perusahaan. Ia mengembalikan helm dan tersenyum hangat pada lelaki paruh baya tersebut.


"Ini." Alula menyodorkan selembar uang.


"Tidak perlu nona. Tuan sudah mengurus semua itu."


"Oh begitu. Baiklah. Terima kasih, pak. Salam untuk istri anda."


"Akan saya sampaikan." Lelaki itu menunduk hormat kemudian melajukan motornya menjauh.


Setelah Alula berjalan masuk, di ikuti mobil Gara di belakangnya. Lelaki itu memarkirkan mobilnya dan berjalan menyusul Alula.


"Gunakan lift khusus." Bisik Gara, yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Alula.


Alula langsung mengubah arah menuju lift khusus. Semua mata karyawan di pagi itu tertuju pada Alula. Namun tak ada yang berani membuka suara.


"Kamu terlihat memandang ke depan terus saat naik ojek tadi. Apa lelaki itu sangat menarik untuk dilihat?"


Alula mengernyit mendapatkan pertanyaan seperti itu. Kenapa bertanya seperti itu? Apa dia sedang cemburu.


"Aku selalu seperti itu saat naik ojek. Memperhatikan jalanan di depan."


"Besok kamu tidak perlu naik ojek lagi. Biar diantar supir."


"Untuk apa? Halte sama kantor cukup dekat. Lebih baik naik ojek."


"Jadi, kamu lebih suka barengan pak tua itu?"


"Astagaa... Kenapa kamu berpikiran begitu? Tapi tunggu! Apa kamu yang meminta orang itu untuk menjaga jarak dariku?"


Gara melangkah keluar dari lift, tak berniat menjawab pertanyaan Alula.


"Hei! Kenapa diam?"


Sekretaris Kenan yang memang sudah ada di kantor sejak sepeluh menit, memperhatikan mereka. Seulas senyum muncul saat menyaksikan Alula yang terus mengikuti Gara dan mendesaknya untuk mengatakan sesuatu.


"Ayo dong, jawab." Desak Alula.


Gara menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Alula. Wanita itu mendongak dengan mata yang mengerjab kaget.


"Iya. Aku yang memintanya."


"Ke-kenapa?" Ucapnya terbata. Gara terlalu dekat dengannya.


"Aku tidak suka kamu berdekatan dengan orang lain."


"Biasanya naik ojek seperti itu, harus berdekatan."


"Ya, aku tahu. Tapi untukmu, tidak boleh. Besok supir yang akan mengantarmu. Itu keputusanku."


"Huuuhh... baiklah." Ujar Alula dan langsung menuju ruangannya. Percuma ia membantah, Gara tidak akan mengubah keputusannya.


Sekretaris Kenan yang melihat pertengkaran kecil itu tak henti-hentinya tersenyum. Tuannya sudah memulai kehidupannya sebenarnya. Menemukan bagian lain dari hidupnya yang akan membuat hidupnya utuh.


"Selamat pagi, tuan."


Gara berhenti tepat di depan Kenan. "Selamat pagi. Bagaimana kerja samanya?"


"Semuanya berjalan baik. Dia sudah menandatangani kontraknya."

__ADS_1


"Baguslah. Lanjutkan rencananya." Ucap Gara sedikit berbisik.


"Baik tuan."


__ADS_2