
Ginanjar tersenyum manis pada Darrel yang ada dalam gendongannya. Dan Gio, dia menggandeng Darren sambil berjalan memasuki lift. Zarfan dan Disa pun berbarengan mereka menaiki lift menuju lantai dimana terdapat kamar yang akan mereka tempati.
"Darrel barengan kakek ya, tidurnya?" Ujar Ginanjar, sambil menyusuri lorong, mencari nomor kamarnya.
"Dallel kan bisa tidul sama Ibu sama Ayah, kek."
"Yakin gak mau ikut Kakek? Nanti ngga dapat adek bayi lho dari Ayah sama Ibu. Darren Darrel maukan punya adek?" Timpal Zarfan, membuat kedua anak itu menoleh padanya.
"Emang kalau aku sama Dallen gak tidul sama Ayah sama Ibu, kita bisa dapat adek bayi?"
"Bisa, dong." Jawab Ginanjar, cepat. Gio dan Disa hanya bisa menggeleng melihat tingkah kedua lelaki yang sudah dipanggil Kakek oleh si kembar.
"Darren maunya adek perempuan." Seru Darren.
"Ya... itu tergantung. Kalian berdoa saja semoga dapatnya adek perempuan."
"Ya sudah, Dallel tidul baleng Kakek aja." Ujar Darrel, memeluk leher Ginanjar.
"Darren sama Nenek sama Kakek, ya?" Seru Bu Disa sambil mengusap rambut Darren.
"Ya," Balasnya.
"Kalian semuanya tidur bersama. Bagaimana denganku?" Protes Gio.
"Paman seperti anak kecil saja!" Darren berkata datar pada pamannya.
"Kalau begitu, paman ikut aku sama Kakek saja." Usul Darrel.
"Hehehe, paman hanya bercanda. Kamu sama Kakek saja. Paman sudah besar, bisa tidur sendiri." Balas Gio sambil terkekeh, membuat Darrel, Ginanjar, Zarfan dan Disa juga ikut terkekeh. Dan Darren, seperti biasa, bertahan dengan wajah datarnya.
***
Alula menaiki lift bersama Gara menuju lantai dimana kamar mereka berada. Lift yang hanya berisi mereka berdua membuat Alula merasa canggung. Ditambah, Gara terus menatapnya sejak tadi.
"Ap-apa... ada sesuatu di wajahku?" Tanya Alula tanpa menatap Gara. Bola matanya bergerak kesana-sini, mengalihkan rasa gugupnya.
"Tidak ada." Gara masih terus menatap wajah Alula. Sedetik pun ia tidak ingin berpaling dari wajah cantik wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"La-lalu, ke-kenapa terus menatapku?"
"Apa salah aku memandang istriku sendiri?" Ujarnya. Gara meraih kedua bahu Alula, membuat wanita itu mendongak menatapnya. "Kenapa kamu menjadi gugup seperti ini?"
"Ti-tidak."
"Apanya yang tidak, hmm?" Gara semakin mendekatkan wajahnya. Saat hampir saja bibirnya menyentuh bibir Alula, lift berhenti dan pintunya terbuka. Alula yang kaget, dengan cepat mendorong Gara menjauh. Ia hendak berjalan keluar terlebih dahulu. Namun, Gara dengan sigap meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Kita ke kamar bersama." Ujar Gara, keluar lift tanpa melepaskan tautan tangan mereka.
Alula mengedarkan pandangannya sembari terus berjalan ke arah kamar. Hanya terdapat tiga pintu kamar di lantai itu. Membuatnya heran dan penasaran.
"Gara..."
"Suami, sayang." Potong Gara, menoleh sambil tersenyum manis pada Alula. Pipi Alula langsung merona mendengar ucapan Gara.
"Kenapa diam?" Gara berhenti di depan pintu kamarnya dan berbalik saling berhadapan dengan Alula.
"Aku hanya ingin bertanya padamu."
"Ya, tanyakan saja. Tapi, gunakan panggilan sayang atau suami. Kita sudah menikah, sangat tak enak jika memanggil dengan menyebut nama."
"Ba-baiklah. Aku ingin bertanya, kenapa di lantai ini hanya ada tiga kamar? Lantai ini sangat luas. Mungkin bisa digunakan untuk membuat beberapa kamar lagi.
"Sayang, dengar! Lantai ini hanya di khususkan untuk orang-orang tertentu. Hanya ada tiga kamar dan tidak akan ditambah lagi. Karena aku tidak ingin diganggu orang lain, aku berpesan agar tidak ada yang menggunakan kamar di lantai ini."
Alula hanya mengangguk mengerti. Gara mendorong pintu dan membiarkan Alula masuk. Wanita itu memerhatikan seisi kamar tersebut. Hingga tiba-tiba, Gara memeluknya dari belakang, dan menyandarkan kepalanya di pundak Alula.
"Sayang," Gara mengecup pelan pipi Alula.
"Gara..."
"Gara..."
"Berikan aku satu putri cantik," Bisiknya parau, kemudian langsung menggendong Alula dan membaringkannya di ranjang. Gara memulai apa yang seharusnya dilakukan di malam awal pernikahan. Menghabiskan malam bersama dalam penerangan yang redup. Melupakan semua rasa lelah saat menghadapi tamu undangan pernikahan mereka. Meneguk kenikmatan hasil dari kesabarannya selama ini. Berharap akan ada satu lagi yang tumbuh dan hidup dalam keluarga kecinya.
Tubuh Gara tumbang di samping Alula setelah melewati malam panjang mereka. Ditariknya Alula yang dipenuhi peluh di sekujur tubuhnya kedalam dekapannya. Gara mengecup keningnya berkali-kali sambil terus membisikkan kata-kata cinta padanya.
"Aku mencintaimu, Alula. Sangat mencintaimu. Kini, nanti dan selamanya, aku akan terus mencintaimu." Ujarnya dan kembali mengecup kening Alula.
"Aku juga mencintaimu, sekarang dan selamanya." Balas Alula begitu pelan. Tubuhnya begitu lelah, bahkan untuk bersuara lebih keras lagi, ia tak mampu.
Perlahan, mata Alula mulai terpejam. Hingga tak sadar, ia tertidur lelap dalam pelukan Gara. Lelaki itu tersenyum melihatnya. Di usapnya keringat yang masih tersisa di kening Alula. Ia kembali mengecupnya dan semakin memeluk erat Alula. Hingga tak sadar, ia juga mulai terlelap.
***
Gara terbangun dari tidurnya dan mendapati Alula balas memeluknya. Satu senyuman terukir di bibirnya. Ia memandang Alula begitu lekat. Wanita didepannya ini sudah menjadi istrinya. Matanya sejenak teralih pada jam dinding yang menggantung. Pukul sepuluh pagi, dan Alula masih terlelap.
Senyum kembali menghiasi wajahnya saat memikirkan malam pertamanya bersama Alula semalam. Dia terlalu bersemangat hingga lupa waktu. Wanita itu baru bisa tidur tenang setelah jam empat pagi.
Gara bangun dan bergegas ke kamar mandi. Menyirami tubuhnya agar kembali segar. Setelah beberapa menit, ia keluar dan mengenakan jubah mandinya. Baru beberapa langkah Gara mendekati ranjang, pintu kamarnya diketuk.
Gara berbalik dan membuka pintu. Terlihat, Laura berdiri dengan pakaian seksinya sambil membawa makanan.
__ADS_1
"Untuk apa kau kesini?" Wajah Gara terlihat semakin dingin menatapnya.
"Aku Ibumu..."
"Kau bukan Ibuku. Jangan samakan beliau denganmu!" Tegasnya, namun tak membuat Laura menyerah.
"Lupakan! Aku membawa sarapan untukmu. Kamu belum turun sejak tadi. Aku yakin kamu belum sarapan."
Gara tersenyum sinis, lalu mendekatinya. "Siapa bilang aku belum sarapan? Aku sudah sarapan dengan tubuh istriku. Dan kau tahu, rasanya lebih nikmat dibandingkan makanan yang kau bawa." Bisiknya, kemudian menjauh dan menunutup pintu dengan kasar.
Braakk
Wajah Laura merah padam mendengar ucapan Gara. Ia tak terima jika Gara menghabiskan malamnya bersama Alula, dan memberikan tubuhnya untuk Alula. Jika bukan karena adik tiri Ginanjar yang tidak tahu malu itu semalam, mungkin dia akan menggagalkan malam pertama mereka. Juga, tidak akan ada malam selanjutnya, dan hilangnya hari-hari Alula bersama Gara. Dia akan memastikan Gara menjadi miliknya sepenuhnya.
Sementara di dalam, Gara segera menaiki ranjang dan berbaring sambil menatap Alula. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum manis. "Kamu sangat lelah, hingga suara pintu yang begitu keras tak mampu membangunkan mu." Gumamnya, mengusap pelan wajah Alula dan menghujaninya dengan kecupan di bibir.
Alula menggeliat merasakan seauatu menyentuh bibirnya. Matanya mengerjab pelan dan langsung terbelalak saat melihat wajah Gara yang begitu dekat dengannya.
"Astaga!" Alula segera menjauhkan wajahnya dari Gara. "Apa yang kamu..." Ucapan Alula terhenti saat bayangan kebersamaannya bersama Gara semalam kembali berputar di otaknya. Seketika wajahnya berubah merona.
"Kenapa merona, hmm?" Tanya Gara, sambil menaikkan alisnya, menggoda Alula.
"Jangan menggodaku." Alula memalingkan wajahnya.
Gara menggeser tubuhnya agar lebih dekat. "Sini, aku peluk." Alula bergeming dengan wajah yang masih ia palingkan. Membuat Gara semakin mendekat dan menariknya dalam pelukannya.
"Gara,"
"Ada apa, hmm?"
"Lain kali jangan seperti semalam. Aku sangat lelah."
Gara tersenyum, "hahaha maaf. Aku terlalu bersemangat. Tapi, aku tidak bisa berjanji untuk itu."
Alula merengut kesal dalam pelukan Gara. "Nyebelin." Ucapnya.
"Tidak masalah mengatai diriku nyebelin. Untuk yang satu itu aku tidak bisa bernegosiasi." Uajarnya. "Ayo, mandi! Sudah pukul sepuluh. Kita sudah melewatkan waktu sarapan." Lanjut Gara, sedikit merenggangkan pelukannya.
Alula menjuhkan dirinya dari pelukan Gara. selimut yang membalut tubuhnya dipegangnya begitu kuat.
"Aku tidak akan menariknya lepas." Ujar Gara. "Apa masih lemas? Aku akan menggendongmu ke kamar mandi." Gara terbangun dan segera menuju sisi ranjang, dimana Alula terduduk.
"Ti-tidak, aku masih kuat berjalan."
"Sudahlah! Ayo, aku antar ke kamar mandi." Gara langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.
__ADS_1